Mengikat Ingatan Lepas Soal Laut

“Naik ke laut. Siapkan perahu. Dayung dan ingatan pasti ‘kan bicara.”

Holaspica (Petikan lagu Naik ke Laut)

Lagu Holaspica yang berjudul Naik ke Laut, diawali dengan deburan ombak. Deburan yang menghantar debar menghadapi laut yang luas dan lepas. Laut yang lepas dari mata orang-orang yang berpaling memunggungi laut, atau dari mereka yang melepas ingatannya tentang biru laut berwarna dalam.

Mengapa orang-orang memunggungi laut? Satu hal yang perlu kita tilik bersama, mengingat kita adalah bangsa maritim. Ada beberapa hal yang barangkali bisa menjelaskan hal itu. Trauma, misalnya. Dalam film Walt Disney, Moana (nama yang dalam bahasa Polynesia berarti laut), kita melihat bagaimana suku Motunui menaruh ‘rasa takut’ berlebih pada laut, sampai pada titik memasukkan kapal-kapal pendahulunya itu ke dalam sebuah gua.

Laut dalam film Moana digambarkan sebagai sosok yang hidup. Ia memanggil, membantu, bahkan digambarkan sebagai penyanyi yang bisa membuat nenek Moana melenggangkan badannya di pinggir laut. Sosok yang bisa diajak berkomunikasi. Ia mendengar dan berbicara dengan suara dan berbentuk ombak. Dua hal yang pada akhirnya menjadi hal yang menakutkan bagi orang-orang yang mengalami kebalikan dari apa yang dicitrakan laut pada film Moana.

Ketakutan-ketakutan dalam film Moana, bisa dibaca sebagai trauma. Untuk melihat dampaknya, dalam artikel yang ditulis oleh Andisa Sabrina (2018) berjudul Dampak Trauma Pada Wanita dan Pria Ternyata Beda (Lebih Parah Mana?):

“Post traumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan kecemasan yang dipicu oleh pengalaman traumatis di masa lalu, seperti kecelakaan yang mengancam nyawa atau tindak kekerasan dalam keluarga. Mengalami kejadian traumatis adalah hal yang berat untuk siapa saja… Beberapa gejala PTSD yang paling umum adalah muncul flashback atau kilas balik soal kejadian traumatis yang dialami secara tiba-tiba atau kalau ada pemicu yang sangat mirip dengan traumanya. Selain itu, orang dengan PTSD mungkin kesulitan menjalin relasi dengan orang terdekat, susah tidur, dan terus-terusan merasa bersalah.”[1]

Ada yang lepas. Jangkar ingatan kita pada laut yang indah dan, luas, dalam, dan pengalaman menyenangkan tentang apa saja yang pernah dialami dilaut. Avianti Armand (2017:9) menulis dalam buku Arsitektur yang Lain:

“Mungkin kita perlu jangkar: momen-momen, benda-benda, orang-orang—yang bisa mengikat ingatan lepas dan mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah dan memberi makna. Mungkin juga cinta.”

Jangkar ingatan kita tentang momen, benda, atau apa saja yang intim dari laut, lepas oleh bencana alam, misalnya. Pengalaman traumatis yang dialami memicu rasa takut yang berkepanjangan. Memang tidak mudah menyembuhkan trauma. Memang tidak mudah menaruh kembali jangkar ingatan kita yang lepas tentang laut. Tetapi dengan keterbukaan, segala sesuatu bisa saja terjadi. Termasuk sembuh dari trauma. Bisa dilakukan dengan cara mengalami ‘laut’ kembali sebagai sesuatu yang diciptakan Tuhan bukan untuk dipunggungi.

Trauma dan perlakuan mungkin berjahitan pada satu garis kondisi yang bertemu pada titik subjek dan objek. Seseorang yang trauma pada laut. Garis itu membentang panjang dengan ketakutan sebagai ujungnya. Sehingga, bertemu laut, adalah mengalami rasa takut, lagi. Sehingga laku yang berujung ke laut bagi orang trauma adalah takut.

Kemudian, ada juga bentuk perlakuan pada laut yang tidak dibentuk karena trauma. Kita kehilangan ‘rasa memiliki’ terhadap sesuatu. Kita menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir. Belum diketahui pasti, ‘komederenan’ seperti apa yang menjauhkan kita dari laut. Padahal, menurut hipotesis bernama biofilia yang dikemukakan Edward O. Wilson (1984), sesungguhnya kita dari lahir memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk berhubungan dengan alam.

Pada tahun 2017, sepanjang Januari sampai bulan Juni, saya memotret sampah yang ditemukan di Pantai Nabire, untuk melihat kemungkinan pemetaan sampah itu. Ada televisi, sepatu, botol air mineral, tulang hewan, boneka, buah-buahan seperti singkong, jeruk, dan jagung, ada ban mobil truck, mainan anak-anak, juga sampah rumah tangga yang begitu mudah ditemukan. Laut kemudian menjelma tempat pembuangan akhir yang luas dan dalam. Tetapi tidak pernah tenggelam. sampah-sampah itu hanya terombang-ambing di tepi pantai, menumpuk dan semakin banyak.

Untuk perlakuan kedua, barangkali ini butuh kolaborasi yang dapat mengembalikan citra laut menjadi bahari, lagi. Bisa dengan membuat narasi posotif yang menumbuhkan energi positif tentang laut. Atau barangkali dengan cara membuat narasi mitos. Seperti yang nenek moyang kita lakukan, agar kita menjaga laut seperti menjaga diri kita sendiri dari banyak ancaman.

Persoalan trauma, saya pernah mengikuti pelatihan Basic Trauma Healing Skill yang dibawakan oleh Alifah Bachmid, yang diinisiasi oleh Koalisi Solidaritas 14 Gerakan Untuk Sulteng Bangkit, Rabu, 10 Oktober 2018, di Café Baca Ruang Ide. Pelatihan ini dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga relawan yang ikut berpartisipasi dalam proses pemulihan trauma korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.

Dalam penjelasannya, memulihkan orang yang trauma, tidak boleh mengikat energi negatif pada perkataan dan tindakan kita. Untuk itu, Alifah Bachmid menyarankan untuk melakukan terapi trauma healing kepada diri sendiri terlebih dahulu. Menghilangkan energi-energi negatif, sehingga hanya energi positif turut menyertai kita.

Misalnya, dalam proses Set Up pada proses trauma healing—SEFT (Spiritual Emotional Freedom Theraphy), narasi yang dicontohkan:

“Ya Allah meskipun saya merasa… (titik-titik diisi dengan hal-hal negatif), saya ikhlas dan menerima keadaan ini dan saya pasrahkan ‘hilangnya energi negatif tersebut’ dan… (titik-titik diisi dengan hal-hal positif) padamu Ya Allah. (Diulang tiga kali).”

Narasi yang ditawarkan Alifah, adalah tidak mengisi titik-titik dengan elemen negatif lagi. Misalnya, ketika kita menyebut ‘malas’ pada hal negatif kita, kita harus merelakan dan pasrahkan energi positif tersebut menjadi kebalikannya. Misalnya, dari malas menjadi rajin. Bukan dari malas, menjadi tidak malas. Sebab, kata Alifah, menggunakan kata tidak malas masih menggunakan sisi negatif pada hal-hal yang positif.

Alifah kemudian mencontohkan, “Coba kalian tutup mata.” Ketika semua orang menutup matanya, ia menyebut, “Jangan pikirkan gajah. Jangan pikirkan jangan gajah pakai celana.” Tetapi, gambaran gajah tetap saja ada di kepala saya. Saya mencoba memikirkan semut memaki celana, tetapi tidak bisa. Inilah yang Alifah maksud sebagai energi positif untuk pemulihan dengan cara sugesti.

Dalam melakukan terapi trauma healing pun, Alifah menganjurkan untuk tidak mengikat ‘masa lalu’ jika orang yang diterapi belum siap. Misalnya, jika kita datang seminggu atau bisa jadi sebulan setelah bencana, bisa jadi ada orang yang belum siap mengingat masa lalunya soal trauma yang ia alami. Sebab ada energi-energi negatif yang mengikat pada masa lalunya, yang perlu dipulihkan dengan energi-energi positif. Sebenarnya, tidak mengulik masa lalu, kata Alifah, bukan anjuran untuk melakukan terapi. Tetapi, ini menghindari kemungkinan yang lain. Juga menstimulus terapi trauma healing yang kita lakukan dengan cepat.

Tetapi, ada beberapa hal besar yang harus kita lawan bersama. Misalnya paradigma ’bad news is good news’ selalu menggembor lewat narasi negatif tentang sisi buruk sebuah peristiwa. Ini adalah hal yang barangkali dimaksud Alifah dengan sugesti negatif. Mengikat ingatan lepas soal laut, barangkali dengan sugesti-sugesti positif yang tersebar secara massif, trauma healing bisa dilakukan dengan cara yang lain. Misalnya tadi, dengan cara menyebarluaskan narasi-narasi positif.

Seperti penggalan lirik lagu Holaspica dalam Naik ke Laut, “Bila yang baik tak mau bicara, yang buruk tertawa melihat semua. Bila yang baik tak turun ke bawah, siapa buktikan, siapa mendengar?”[]

Catatan kaki:

[1] Andisa Sabrina, https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/perbedaan-dampak-trauma-pada-otak/, diakses pada 15 Oktober 2018, 16.12 WITA.

Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java.

Kalau diingat-ingat, perkenalanku dengan Riki bisa dikatakan ‘iseng-iseng berhadiah’. Kala itu saya sedang asyik melihat-lihat story Instagram (IG) followers-ku. Karena suntuk, saya coba mengetik sebuah nama di bilah pencari. Nama yang kuketik ialah ‘Riki’. Yap, lelaki yang kelak menjadi kekasihku itu.

“Oke juga nih,” sahutku kemudian mencoba melihat dengan seksama story-story Instagram serta time-line IG-nya, kulihat Riki nampaknya gandrung akan sastra dan alam. Ia sangat senang membuat caption tentang senja, hujan, hutan, lembah, dan kesemuanya dimuarakan pada satu kata “cinta”. Salah satu caption IG-nya yang menurutku begitu menyentuh ialah sebuah pemandangan lembah yang diselimuti guyuran hujan. Di situ, ia menuliskan caption seperti ini : aku ingin menjadi hujan, agar jatuh di hatimu dan kau tak bisa mengelak.

Dari situlah saya mulai mem-follow IG Riki dan memerhatikan setiap captionnya. Oh iya, bicara permasalahan wajah?! Riki boleh dikata punya rupa yang lumayan, mengingatkanku pada artis Korea, kalau tak salah namanya Jimin, salah seorang pentolan Bangtangboys.

Seperti kata pepatah Jawa waitingtresno jalane soko kulino yang artinya cinta datang karena terbiasa. Perasaan itu mulai bertambat di hatiku kala saya terbiasa melihat-lihat hasil jepretan dan caption yang wau di IG-nya. Olehnya itulah kuberanikan diri untuk mengirimkan pesan via chat-IG.

“Hai, perkenalkan, nama saya Faradiba. Saya suka dengan foto dan caption di IG-mu.”

Begitulah chat pembukaku padanya, seperti gayung bersambut, Riki membalas pesanku

“Oh iya. Salam kenal, namaku Riki dan terimakasih atas apresiasinya.”

Hanya mendapat balasan dari Riki entah kenapa saya menjadi senang. Mungkin di luar nalar saya bisa jatuh hati dengannya—hanya lantaran caption dan jepretan—tapi begitulah kenyataannya. Lalu saya dan Riki mulai intens saling bertukar kabar, mulai dari sekadar “say hello” , “udah makan belum?”, hingga menjerumus ke hal-hal yang cukup pribadi. Tak puas dengan berkirim pesan, kami pun mulai saling teleponan via Whatsapp (WA), lalu mengobrol lewat video call di WA. Bahkan, pernah di beranda rumahku kutemukan tergeletak kartu pos bergambarkan pemandangan Kota Bandung di subuh hari, tentunya sebuah untaian kata indah tersematkan di balik kartu pos itu. Hingga pada satu hari, melalui pesan WA, dia menanyakan alamat rumahku.

“Faradiba, kalau berkenan, boleh nggak aku minta alamat rumahmu?!” Tanya Riki melalui pesan WA.

“Untuk apa?!” tanyaku seolah jual mahal, padahal senangnya bukan kepalang.

“Ada deh….!” Jawabnya singkat. Dan saya pun mengirimkan alamat rumahku.

Yah tanpa dinaya, Riki datang mengunjungiku, langsung dari Bandung. Di Bandara Internasional Hasanuddin ia mengabari kedatangannya, seolah tak percaya saya hanya menimpali dengan kata, “kalau Riki benar di Makassar, coba nampakkan batang hidungmu di depan rumahku? Bukankah pernah kukirimkan alamat kepadamu?!.

Yah seperti sinema di teve ia sungguh datang ke rumahku. Saya masih ingat kala itu rembulan telah mendekap malam, mungkin sekitar pukul 20.00 pintu rumahku diketuk kemudian disusul ucapan salam beberapa menit setelahnya.

Waalaikumsalam, ya tunggu,” sahutku singkat. Kemudian pintu kubuka dan nampaklah sesosok pria dengan tinggi 177 sentimeter mengenakan blazer biru gelap dan celana cino hitam, wajahnya putih cerah, lelaki itu mengulas senyuman sembari berkata “Faradiba yah?! Saya Riki….”

***

Malam semakin larut, kedai kopi yang kukunjungi semakin ramai. Beberapa pemuda-pemudi sedang asyik bercengkramah satu sama lain. Yah sekira duabelas pasang lah. Wah ramai juga yah. Mungkin karena malam ini malam minggu.

Oh iya, saya lupa memberitahukan kepadamu. Saat Riki datang kala itu sontak saja, saya menutup mulutku dengan kedua tangan, seolah tak percaya bahwa lelaki di depanku adalah Riki, lelaki yang diam-diam kukagumi dan you know-lah what I mean. Dan kamu mungkin tak percaya, bahwa ia lebih tampan tinimbang di foto-foto IG-nya. Singkat kata hubungan kami saat itu semakin akrab dan hangat. Ia juga menyatakan perasaannya padaku. Tentu saja perasaan itu kuterima dengan hati berbunga-bunga. Kurang lebih ia seminggu berada di Makassar dan selama itu pula tercipta kenangan yang begitu manis. Setelah itu? Yah seperti yang telah kujelaskan kepadamu, long distance realionsip. Hubungan itu berlangsung hingga setahun lebih.

“Sudah lama menunggu?” sahut seorang lelaki yang membuyarkan lamunanku. Sontak saya menoleh ke sumber suara. Rupanya ialah Riki, lelaki yang kuceritakan kepadamu.

“Oh Riki?!” sahutku kemudian berdiri menjabat tangannya.

Lelaki itu kemudian mengambil posisi duduk di hadapnku. Wajahnya masih seperti yang dulu, tetap memesona. Kulihat Riki hanya mengulas senyuman mendengarkan penuturanku, sesekali sepasang bola matanya menuding pada sebuah undangan pernikahan, yah undangan perniakahan yang kita alamatkan kepadanya……

Sunggguminasa, di Kantin Sekolah 13 Oktober 2018

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/drawrepulser/art/Afternoon-Cafe-748905730

Pergulatan Tanpa Henti

Sejenak memanggul renung selepas malam menggelinding dan hujan menempias di balik pucuk pohon yang tumbuh di halaman. Mozaik hening mengisah ngilu serta setumpuk pertanyaan di kepala dan juga harapan yang timpah-penimpah.

Gemuruh di luar kian menjadi. Arakan hujan menggedor atap rumahku. Namun, mataku tetap lena pada banjaran aksara, hendak mengemasi cerita tentang padi dan sawah di kaki Bukit Sandapang dan sekelompok manusia penggenggam arit, di pedalam Bagian Barat Sulawesi.

Tetapi tiba-tiba aku melenguh, mengingat jiwa-jiwa yang runtuh dihajar banjir, pagi kemarin. Dalam hati kecilku ada doa semoga huja malam ini tak lagi berbuah banjir.

Seketika kutingalkan bukit Sandapang, kuhadirkan kembali seraut wajah di balik reruntuhan tembok dihimpit mobil sedan. Istrinya mencubiti tubuhnya yang ambruk, sambil berteriak memelas iba pada sosok yang lalu lalang. Tetapi, siapa yang peduli, para tentangga juga tengah kelimpungan mencari bantuan sambil memunguti sisah hartanya yang mengapung.

Cukup lama wanita berwajah kelam itu menuntun suaminya agar mengusai diri. Dia seperti hendak mengutuk waktu yang tak kunjung memulihkan kesadaran suaminya. Tetapi hingga para medis datang dan membawa suaminya ke rumah sakit, kesadaran itu tak kunjung tandang.

Esok, ketika matahari rebah di ufuk barat, kabar duka datang. Suaminya telah meregang nyawa di salah satu ruang perawatan rumah sakit di bagian Selatan Sulawesi. Ternyata rumah sakit di pusat pemerintahan bagian Barat Sulawesi, tak mampu menangani lelaki yang datang dari reruntuhan itu. Hanya memasangkan infus lalu merujuknya ke luar kota.

Pemerintah nampaknya kurang serius pada hal-hal elementer berbau kebutuhan manusia. Barangkali perlu membaca filsafat manusia untuk memahami hakikat kebutuhan manusia, atau menelaah psikologi humanistik sekedar memahami lima hirarki kebutuhan manusia ala Abraham Harold Maslow.

Dan di dalam hujan yang lebat, kisah itu mengabil ruang dalam tutur batinku. Pikiranku tertuju pada tiga orang anaknya yang masih sangat kecil, menyaksikan bapaknya yang mangkat seketika.

Betapa tak padu kata pepatah bahwa seseorang yang berani melewati hujan badai akan berpeluang besar menyaksikan indahnya pelangi. Itu tak berlaku bagi ayah dari tiga anak itu. Betapa ia berani melewati hujan badai dan menerobos banjir. Namun, pada akhirnya tak berkesempatan menyaksikan indahnya pelangi -entah di alam lain-.

Dia adalah sosok bernasib nahas dari antara 3.315 jiwa. Drama ini akan terus berulang mengesah haru biru dari mulut-mulut yang memberang. Membaur rintih, lantaran tak mampu membendung nafsu menggagahi alam. Hebatnya lagi, sebab para pejantan alam tak pernah ikut menelan duka.

Mereka baru akan muncul ketika langit memancarkan indah pelangi, biduk yang nyaris karam kembali ke muara dengan gemulai menawan dan para pengguna seragam keki ngaceng, menenteng payung sekedar mengusir sangka untuk tak disebut khianat.

Mereka tak membiarkan noda menggenang bercak biru dan ambigu dan tak bisa membayangkan jika namanya tak menemu jalan pulang, ke kampung nurani khalayak.

Karena itu meraka datang, ngeceng meski berpayung. Hendak memberi ruang lapang pada cakrawala sang korban, menyibak getir walau sekedar omong kosong. Seolah-olah mengatakan -aku ikut merasakan apa yang kalian rasakan, juga sakit atas apa yang kalian derita. Meminjam bait terakhir puisi “Satu” karya Sutardji Calzoum Bachri “yang tertusuk padamu berdarah padaku”. Tetapi sekali lagi, itu hanya omong kosong.

Ketika hari-hari lindap dalam segala sibuk dan hiruk pikuk, semua akan menjadi lupa. Ambisi kembali memainkan peran tanpa peduli akan akibat yang diterakan, juga tidak mau tahu segores luka di hati yang dalam. Baginya, luka bukanlah hal penting untuk dipikirkan sebab telah terjatuh dalam kubang hasrat dan memiliki memori yang pendek, mereka mudah lupa. Seperti yang ditulis Afifah Afra “Aku tersenyum menang, tak ada lagi pembangkangan karena aku sudah punya status, punya identitas, sebuah harga diri. Aku puas”.

Terpenting kemudian, nantinya bisa ngaceng lagi jika musibah menyapu jalan raya. Para penjaga hasrat akan bergerak di atas pick up berisi kardus-kardus mieintan dan popok bayi, juga pakaian bekas yang menahun dalam gudang.

Tetapi, itu lumrah saja sesungguhnya sebab di dalam risalah filosofis yang disebut postmodernisme, hadir pula sesuatu yang disebut masyarakat konsumtif, sebuah ruang identifikasi yang imaginer tentang diri. Tidak sekedar mengakumulasi benda atau barang material, melainkan halusinasi tentang citra diri dan makna simbolik.

Ketika fajar menyingsing di ufuk timur, mesin-mesin bertenaga raksasa kembali menderu menggerayangi sungai, menggagahi pepohonan dan mencungkil bebukitan untuk dipindahkan ke laut. Sebuah penegasan akan kepemilikan dan penguasaan dan saat sakramen pertemuan ombak dan muara membuncah, abrasi dan banjir terjadi lagi. Terus berulang disusul korban-korbannya.

Demikian itulah hasrat, sebuah pergulatan tanpa henti yang menghadirkan eskapisme hingga manusia bermain-main dengan ambisi tanpa batas. Pemuasan hasrat buas atas tubuh, dalam filsafat sosial disebut hedonisme. Namun, sebaiknya para pemerkosa alam melakukan sakramen taubat sebagai pengakuan, agar tak lebih lama bergumul dalam kemunafikan menyembunyikan noda hitam diri.

Kutundukan kepala, kuresapi suara hujan yang menggedor kian keras. Rasa khawatir masih bersarang di dada, membayangkan orang-orang yang lena dan banjir menjemputnya di kamar tidur. (**)

Bonus Demografi 2020, Siapkah Kita?

Sumpah pemuda merupakan hasil rumusan para pemuda yang berkumpul dari berbagai daerah di seluruh nusantara. Sejak dulu, pemuda merupakan motor penggerak yang menancapkan tonggak–tonggak perjuangan bangsa ini. Mereka berkumpul demi satu tujuan, yaitu memerdekakan Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi 90 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928. Hasil deklarasi rumusan sumpah pemuda menjadi cikal bakal terbentuknya gerakan pemuda yang lain.

Pemuda sejatinya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Seperti yang dikatakan sang founder father Indonesia, Bung Karno pada pidatonya yang terkenal dengan istilah JAS MERAH. Dia mengatakan  “beri aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”.

Soekarno tak serta merta mengatakan hal tersebut, beliau melihat bahwa pemuda memiliki peran yang teramat penting bagi kemajuan suatu bangsa, bahwa salah satu pilar utama dalam kesuksesan suatu bangsa yaitu pemuda yang berkualitas dan berdaya saing.

Indonesia tiga tahun lagi akan memasuki era bonus demografi. Pada tahun 2020, Indonesia diprediksi mengalami fenomena langka yang hanya terjadi sekali selama berdirinya suatu bangsa. Bonus demografi yaitu masa dimana penduduk produktif (usia 15-64 tahun) lebih banyak dibanding penduduk yang tidak produktif (dibawah 15 tahun atau diatas 64 tahun).

Berdasarkan data dari BKKBN, proyeksi usia penduduk produktif pada tahun 2020 akan mencapai 180 juta jiwa, sementara penduduk yang berusia nonproduktif mengalami penurunan, hanya sekitar 60 juta jiwa. Hal ini berarti Indonesia akan mendapatkan surplus penduduk usia produktif hingga 70% dari total penduduk Indonesia atau 100 penduduk usia produktif hanya akan menanggung 44 orang nonproduktif pada tahun tersebut.

Lebih banyak penduduk berusia produktif, berarti lebih besar pula kesempatan untuk meningkatkan perekonomian negara, karena jumlah angkatan kerja lebih banyak.

Pemuda merupakan roda penggerak pembangunan dan sebagai pemegang kendali kelangsungan suatu negara. Apalagi, bonus demografi 2020 akan didominasi oleh generasi z dan milenial yang terkenal kreatif dan inovatif, serta cakap teknologi.

Namun disisi lain, bonus demografi bagaikan pedang bermata dua. Dimana bisa saja mendatangkan bonus atau malapetaka. Penduduk usia produktif  lebih banyak, sehingga angkatan kerja pun akan semakin melimpah menyebabkan persaingan akan semakin meningkat. Apabila mereka tidak berbekal skill yang mumpuni, mereka hanya akan menjadi beban bagi negara. Oleh karena itu, mulai sekarang berbagai persiapan perlu dibenahi agar di masa yang akan datang kita dapat memajukan bangsa Indonesia dan tidak menjadi beban.

Menurut menteri keuangan Sri Mulyani, ada tiga hal utama yang harus diperhatikan untuk memaksimalkan potensi pemuda menghadapi bonus demografi. Ketiga hal tersebut dikenal dengan 3E (education, employment dan engagement). Ada apa dengan ketiga perihal tersebut? Ketiganya merupakan hal utama yang dapat mendorong terciptanya generasi muda yang kreatif, inovatif, dan produktif.

Pertama yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan sarana mencetak generasi yang berkualitas. Kita sebagai generasi muda dituntut untuk menjadi generasi yang mumpuni di berbagai bidang. Pemuda yang menguasai hard skill, yaitu kemampuan untuk mengaplikasikan suatu ilmu pengetahuan dimana Indonesia sangat kekurangan, khususnya di bidang teknologi digital.

Itulah mengapa Indonesia sering kali menggunakan tenaga kerja asing, dikarenakan skill tenaga kerja Indonesia sangat tidak mumpuni. Seperti pernyataan Kemenaker, bahwa lulusan sarjana Indonesia tidak siap pakai.

Selain itu, Soft skill terkait komunikasi, critical thinking, kreativitas, kolaborasi, dan entrepreneurship juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Soft skill bagaikan batin dalam tubuh manusia yang mengontrol keberlangsungan kehidupan. Dalam hal ini terkait hard skill.

Kedua yaitu angkatan kerja. Tenaga kerja produktif di era bonus demografi sangat melimpah, oleh karenanya untuk mengantisipasi adanya pengangguran maka pemuda sekarang dituntut untuk berjiwa entrepreneur yang berdampak positif bagi masyarakat atau biasa dikenal dengan sociopreneur. Lapangan pekerjan merupakan wadah untuk mengimplementasikan skill yang diperoleh dari bangku instansi.

Selanjutnya yaitu engagement atau partisipasi. Partisipasi pemuda pada tahun 1928 untuk mendeklarasikan sumpah pemuda merupakan landasan munculnya tonggak perjuangan pemuda hingga sekarang. Peran pemuda untuk ikut serta memajukan bangsa ini, sangatlah dibutuhkan.

So, what we can do for Indonesia? Sekarang saatnya kita mengambil peran untuk memaksimalkan bonus demografi yang sudah di depan mata. Menghidupkan kembali semangat sumpah semuda melalui prestasi dan kegiatan bermanfaat. Selain itu, peran dari pemerintah juga sangat dibutuhkan sebagai otak penggerak berbagai sektor bagi kemajuan Indonesia.

Tapi, kita juga harus terus melakukan usaha yang serupa, meningkatkan skill dan terus berinovasi sesuai dengan bidang dan bakat. Kita sebagai pemuda jangan takut untuk menjadi agent of change. Bergerak bersama sebagai bagian dari perubahan, melalui kegiatan yang bermanfaat. Mari kita berpartisipasi menyongsong bonus demografi untuk Indonesia yang lebih gemilang.


sumber gambar: Hipwee.com

Bencana dan Tuduhan-Tuduhan

Sesaat setelah gempa dan tsunami mengguncang Palu dan Donggala, ruang-ruang sosial media kita kembali riuh dipenuhi prasangka dan justifikasi politis mengenai penyebab gempa dan tsunami Palu yang sangat tidak substantif.

Terhitung ada dua topik yang paling menyedot perhatian dunia maya. Yang pertama yakni status seorang wanita yang diketahui merupakan warga palu yang menuliskan status di laman facebooknya “Biar gempa mogoyang palu, eykeer tetap pilih Pa dee”. Topik yang kedua yakni penetapan tersangkanya seorang Sugik Nur atau yang sering disebut Cak Nur atau Gus Nur.

Topik yang pertama tentunya akan sangat debatable bila ditampung pada ruang-ruang linguistik dan keilmuan lainnya. Namun bila dihadapkan pada ruang-ruang politis, maka pemaknaan itu pun akan langsung terpolarisasi pada pemahaman bahwa wanita tersebut tak akan surut dukungannya pada paslon tertentu meskipun bumi diguncang gempa.

Bahkan secara sempit akan ada dua variabel yang menjadi sasaran justifikasi sepihak para netizen kubu tertentu. Yang pertama pada term “Biar gempa mogoyang Palu” yang kedua pada terma “Tetap pilih Pa dee atau pak Dhe”. Pada term pertama, wajar bila terjadi silang pendapat apakah istilah ini merupakan bentuk kiasan keteguhan hati terkait dukungan politik seperti pada lirik lagu Kebyar-kebyar yang juga mengatakan “Biarpun bumi bergoncang kau tetap Indonesiaku” atau apakah memang term ini sebagai bentuk tantangan agar diturunkan gempa olehNya? Term pertama ini sangatlah debatable.

Yang menjadi keheranan adalah ketika term pertama ini dikaitkan dengan sosok pada term kedua yakni “Pak Dhe” yang  merupakan salah satu paslon capres dan kemudian dijustifikasi bahwa dukungan pada diri dan rezimnya adalah sumber bencana.

Pada topik yang kedua, penetapan status tersangka pada Sugi Nur yang oleh salah satu organisasi dijadikan sebuah landasan pokok bahwa hal inilah yang dijadikan dasar oleh Allah menurunkan gempa dan tsunaminya di Palu.

Melihat topik yang kedua ini, wajarlah kita cenderung khawatir dengan semakin maraknya politisasi bencana oleh beberapa oknum yang pada hakikatnya telah mengubah esensi dari bencana yang merupakan peringatan Allah kepada manusia yang hikmahnya dikembalikan pada diri pribadi dan masyarakat kita.

Namun itu kini menjadi sebuah alat legtimasi untuk menjustifikasi bahwa kubu tertentu diisi oleh orang-orang suci yang mutlak benar dan kubu yang lainnya diisi oleh orang-orang jahat, mutlak salah dan sumber bencana. Kedua topik diatas telah menggambarkan perilaku politik sebagian oknum yang cenderung semakin beringas dan abai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Yang menambah kemirisan kita adalah kedua topik diatas seolah diamini oleh banyak warganet dan alhasil ruang sosial media kita pun dipenuhi oleh banyak orang yang tiba-tiba menjadi wakil Tuhan untuk mengumumkan kepada segenap umat manusia bahwa karena si Fulan inilah dan si Fulan itulah Tuhan turunkan bencana di bumi ini.

Berlepas dari topik-topik diatas, kita juga patut mengamati bahwa setelah gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, muncul pula beberapa argumen yang seolah-olah mencari-cari keburukan dan dosa-dosa yang dilakukan oleh orang-orang Palu.

Isu pesta LGBT hingga festival adat dan budaya yang oleh sebagian pihak disebut sebagai sumber kemusyrikan dianggap menjadi pemicu kemarahan Tuhan kepada warga Palu. Di sini seolah-olah Palu dan warganya didudukkan sebagai subjek sekaligus objek utama penyebab bencana yang terjadi.

Sebagai seorang yang beragama yang betul-betul percaya terhadap hak prerogatif Tuhan dalam menurunkan bencana bagi mereka yang lupa jalan-Nya, kita patut meyakini bahwa memang dosa-dosa dan kemaksiatan kitalah yang turut mengundang bencana, namun apabila kita menjadikan kedua isu tersebut sebagai justifikasi keburukan orang-orang Palu semata, dan mengabaikan keburukan dan kemaksiatan di sekitar daerah kita sendiri.

Nampaknya ada sebuah justifikasi sepihak di situ. Maka kemudian, dalam hal ini saya cenderung lebih memilih untuk berhudznushan (berprasangka baik) bahwa orang-orang Palu adalah orang yang baik dan dekat dengan Tuhan. Ia menurunkan bencananya di Palu sebagai bentuk sampel teguran bagi kita semua di daerah-daerah lain yang cenderung masih aman, namun enggan untuk semakin dekat kepada-Nya.

Tuhan mungkin memilih Palu karena Tuhan tahu mereka adalah orang-orang yang tabah. Maka mungkin kita bisa menganggap bahwa saudara-saudara kita di Palu adalah para martir yang menjadi wakil dalam menanggung dosa-dosa kita semua.

Terakhir, ketimbang menganggap bencana ini sebagai hukuman bagi orang-orang Palu, saya secara pribadi lebih melihat bahwa bencana ini adalah bentuk teguran Tuhan bagi kita semua di Indonesia terkait bagaimana kita menggunakan anugerah ilmu dan pengetahuan yang diberikan Allah untuk kita. Karena penting untuk diketahui bahwa sejak 1927, tercatat bahwa sebenarnya daerah Sulawesi Tengah sudah mengalami 11 kali bencana gempa dan tsunami, bahkan pada 14 Agustus 1938, tsunami setinggi 8-10 meter pernah menerjang Teluk Bambu, Kecamatan Balaesang, Donggala yang menelan 200 korban jiwa yang pada saat itu merupakan jumlah yang sangat besar  mengingat masih rendahnya tingkat kepadatan penduduk.

Bahkan pada tahun 2012 lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalu Badan Geologi sudah mempublikasikan riset mengenai potensi likuifaksi di daerah Palu yang ajaibnya justeru diabaikan oleh pihak pemerintah yang malah menjadikan daerah-daerah yang terdeteksi sebagai area likuifaksi ini sebagai area pemukiman padat penduduk yang dari sisi investasi memang sangat menggoda.

Maka lagi-lagi, daripada sekedar melihat semua bencana ini sebagai satu tuduhan sepihak saja mengenai dosa-dosa orang-orang Palu, saya lebih cenderung untuk melihat bahwa Tuhan mungkin marah dengan abainya kita terhadap berbagai peringatan yang telah diturunkannya sejak 1927.

Tuhan mungkin kecewa melihat betapa kita menyia-nyiakan anugerah ilmu pengetahuan mengenai lempeng, sesar, patahan, gempa, tsunami dan likuifaksi yang diturunkannya pada kita semua. Kita terkesan hanya membangun unuk kembali menghancurkannya kelak di kemudian hari.

Maka sungguh tidak bijak, bila semua bencana ini hanya selalu berhenti pada sisi teologis saja, sementara Tuhan pun dalam kitab sucinya pertama kali memerintahkan kita untuk iqra, membaca dan menggunakan semua ilmu dan pengetahuan kita untuk berjalan selaras dengan alam.

Ilustrasi: http://makassar.tribunnews.com/2015/07/06

Metamorfosis Ibu: Merumahkan Ide melalui Literasi Parenting

Yang unik dari buku ini adalah semuanya lahir dari keluarga. Yang menulis, menyunting, sampai ilustratornya.

Tema-temanya digali dari pengalaman keluarga. Entah dari mengasuh anak hingga mengasah anak. Dan juga mengasihi anak. Bisa dibilang dari saling asuh, asah, dan asih inilah buku ini menopangkan dirinya.

Di tulisan yang sedang eike persiapkan untuk buku ini, ada satu peran utama yang menjadi benang merah dari esai-esai literasi parenting ini: ibu.

Ya, dari pengalaman seorang ibu-lah buku ini akhirnya bisa sampai ke tangan pembaca. Tentu perlu digarisbawahi, kata pengalaman yang eike maksud di sini adalah jenis pengalaman yang betul-betul pengalaman. Suatu tindakan yang terlibat dan dilibati lingkungannya. Pengalaman yang mengikutkan rasa, pikiran, emosi, dan intuisi seorang ibu.

Dengan kata lain, suatu pengalaman yang lahir dari dalam. Yang memangkas jarak dan waktu. Yang intim sekaligus fenomenologis.

Itulah mengapa, esai parenting ini begitu hidup dan gamblang. Ia lahir dari orang pertama. Dari pelaku langsung.

Seorang ibu, kiwari agaknya dinilai sebelah mata. Dia hanyalah elemen masyarakat nomor dua. Sebagai perempuan ia dipandang tidak memiliki sumbangsih apa-apa. Ia pasif dan bukan sebagai agen perubahan.

Bahkan banyak fenomena memperlihatkan komunitas ibu-ibu yang berkumpul hanya untuk bersenang-senang. Berbelanja dan bergosip secara berjamaah. Kadang, di akhir pekan mereka bertemu hanya sebagai ajang katarsis. Hanya bersuara akibat menjadi “korban” dunia laki-laki.

Yang paling fenomenal adalah dieksploitasinya dunia ibu-ibu oleh tarik ulur politik. Di kancah nasional ada salah satu capres memanfaatkan emak-emak sebagai kekuatan politiknya. Nampak dari permukaan ini seolah-olah kekuatan baru dalam kancah perpolitikan. Tapi sebenarnya fenomena itu tetap saja menjadi bamper politik.

Kaum perempuan atau ibu-ibu tetap saja masih diimajinasikan melalui kebutuhan laki-laki.

Semua fenomena itu terjadi karena perempuan tidak mampu mendayagunakan protein bahasanya. Saking lemahnya, protein bahasa yang memproduksi kata-kata hanya dimanfaatkan untuk mewacanakan hal-hal di seputar dunia belanja, dapur, dan kasur. Kata-kata perempuan hanya tercecer di pelataran gosip belaka.

Tapi buku ini sebaliknya. Melalui kata-kata (hasil penelitian ahli linguistik menyebutkan perempuan menghasilkan 20.000 kata perharinya dan kaum lelaki hanya 7000 kata saja perhari) seorang ibu malah berjuang dari dalam, dari ruang domestiknya dengan menulis. Suatu pekerjaan para begawan kebudayaan.

Dengan kata lain, dari ruang domestiknya perempuan sebenarnya adalah benteng terakhir peradaban. Di ruang domestiknyalah ia semestinya juga dapat mengembangkan peran sosialnya. Melibatkan diri dari balik pintu rumah ikut membentuk masyarakatnya.

Berbeda dari cara pandang Barat meletakkan peran perempuan dalam skema dinamika masyarakatnya. Perempuan-perempuan Timur dengan adat budayanya justru banyak mendayagunakan ruang keluarganya sebagai basis perubahan. Dengan cara mendidik anak-anak menyiapkan pelanjut-pelanjut generasi bangsanya.

Itulah sebabnya perlu kaca mata lain untuk melihat kebiasan perempuan-perempuan Timur dalam konteks gendernya. Bagi Barat perempuan mesti menerobos dinding domestiknya untuk berperan di ranah publik. Itu adalah cara mereka mengekspresikan kebebasan dan perannya.

Sementara perempuan-perempuan Timur, tidak ada distingsi antara ruang domestik dan ruang publik. Tidak ada pemisahan antara rumah dan masyarakatnya. Meski demikian berjarak dari segi ekonomi dan politik, namun dari segi budaya, dua ranah ini adalah satu kesatuan. Dia berbagi dimensi yang sama.

Di masyarakat Bugis-Makassar, misalnya, di balik kepemimpinan seorang laki-laki justru dilegitimasi oleh keberadaan seorang perempuan. Ada anekdot lucu untuk menggambarkan kedudukan perempuan di masyarakat Bugis: jika gagal memengaruhi pendirian seorang pemimpin, maka cobalah datang melalui ibu atau istrinya. Niscaya melalui pengaruh “di balik layar”, permintaan halus seorang ibu atau istri kepada pemimpin laki-laki akan mengubah keputusannya.

Demikian sentralnya peran perempuan, masih dari tanah Bugis-Makassar, jika ada permintaan atas sesuatu yang sifatnya umum kadang dimediasi melalui datang bertandang langsung ke rumah sang pemimpin. Di rumah, sang pemimpin laki-laki, akan turut ikut kepada kemauan sang istri atau ibunya. Di rumah, sang perempuanlah pemimpinnya.

Buku ini adalah salah satu contoh bagaimana perempuan mengelola rumah tangganya dengan protein bahasanya. Mengumpulkan dan menjadikannya sebagai benda budaya. Sebuah buku untuk disejajarkan sebagai pekerjaan pemberdayaan masyarakat. Terutama bagi ranah sel terkecil masyarakat: keluarga.

Islam menyebut masyarakat atau bangsa dengan istilah khas: umat. Sepadan dengan kata asalnya, “um” yang membentuk kata “umi” atau ibu. Kata umat dari kata “amma-yaummu” yang berarti “menuju”, “menumpu”, “meneladani”.

Kata “imam” juga mengasalkan akar katanya dari asal yang sama dengan kata “umat” dan “umi”. Seorang imam mesti memiliki sifat-sifat seorang ibu: menjaga, mengasihi, mengayomi, melestarikan….

Bahkan, seorang ibu adalah imam. Seorang pemimpin.

Buku ini merekam jejak kepemimpinan seorang ibu. Lebih jauh lagi menunjukkan bagaimana seorang ibu memimpin masyarakatnya. Dari rumah sekalipun.

Data buku:

Judul Buku                      : Metamorfosis Ibu, Sehimpunan Literasi Parenting

Penulis                             : Mauliah Mulkin

Penyunting                     : Sulhan Yusuf

Ilustrasi isi                     : Nabila Azzahra

Desain sampul               : Ambena Akkin

Penerbit                          : Liblitera

Tahun terbit                   : Agustus 2018

Tebal halaman              : 270 halaman

 

 

Dialog Imajiner Heraclitus dengan Daeng Pete-pete

Ada yang terasa berbeda tempo hari, sepanjang perjalanan, Daeng sopir pete-pete sepi penumpang. Daeng memalingkan kepala ke kanan ke kiri, tatapan yang presisi ke setiap sudut jalan, berharap ada penumpang yang tampak dan terlihat. Malang benar, hampir sampai pada titik akhir terminal kota, tak satu pun penumpang yang bertambah, hanya aku seorang yang ada dalam pete-pete di sepanjang perjalanan.

***

Situasi di atas kontras sekali dengan pemandangan 5-10 tahun yang lalu. Saya telah menjadi pelanggan setia pete-pete sejak SD di Bone. Jarak dari rumah saya ke sekolah sekitar 9 km, butuh jasa pete-pete untuk “memanjangkan” kaki saya sampai di sekolah. Masa SMP – SMA. Saya pindah ke Bantaeng, tepatnya di Kelurahan Tanah Loe. Jarak rumah ke sekolah berkisar 14 km. Lagi-lagi butuh jasa pete-pete untuk memudahkan akselerasi saya. Bahkan awal-awal mau kuliah di Makassar pun, saya masih sempat menikmati jasa pete-pete.

Kala itu, Daeng pete-pete berada di puncak kejayaan, kita anak sekolahan kadang kala dicuekin sama daeng pete-pete, gara-gara bayarnya dikit dibandingkan orang dewasa. Daeng pete-pete kadang seenaknya menurunkan saya dan penumpang lainnya di jalan, walaupun belum sampai ke tempat tujuan, karena ingin berbalik arah dengan penumpang yang lebih banyak. Tapi ada suatu hal yang membanggakan bagi saya.

Daeng pete-pete waktu itu sering kali mendapat posisi yang terhormat. Tak jarang banyak Daeng yang mendapatkan bunga desa, karena pada waktu itu, memiliki menantu Daeng Pete-pete adalah sebuah kebangaan. Tapi itu dulu, entah apa gerangan, puncak kejayaan itu perlahan-lahan runtuh dan luntur, daeng pete-pete kadang meringis tidak mendapatkan penumpang.

***

Sekitar 2 km lagi akan sampai di terminal kota. Di depan ada persinggahan. Daeng pete-pete’ mampir sejenak untuk sekadar merokok, sambil berharap ada penumpang yang datang. Waktu itu tiba, ada penumpang yang naik dan langsung duduk di bagian depan, pas di samping Daeng pete-pete, tiba-tiba orang itu nyeletuk. ”Hai, Daeng, namaku Heraclitus, saya tinggal di Bisappu,” ucapnya. Senyum si Daeng tampak merekah, sambil berucap “Iye’ Hera, mau ke terminal jiki’ toh?” Heraclitus merespons dengan hanya menaikkan keningnya.

Sepanjang perjalanan terjadi percakapan yang intens anatara Heraclitus dan Daeng pete-pete.

Daeng: Di mana ki’ di Bissappu, Pak? Jarang-jarang ki’ kulihat, padahal saya sering antar penumpang di sana.

Hera: Baru ka’ memang lagi sekarang di Bisappu, saya dulu lama ka’ di Epheus, Turki, sekitar 2000 tahun yang lalu.”

Daeng: Terlalu tongi becandanya ini Bapak, di mana sedeng dibilang Epheus, di sebelah mananya Makassar? Dari 2000 tahun lalui bede’ di sana, jangan ki’ terlalu kalau bercanda, Pak!

Hera cuma meresponsnya sambil tertawa, dan melanjutkan percakapan.

Hera: Kenapa sedikit sekali penumpang ta’, Pak? Dua orang ji ini di dalam pete-pete.

Daeng: Sepi sekali penumpang sekarang … (ucapnya lirih). Tidak sama mi beberapa tahun yang lalu, susah mi dapat penumpang, ada semua mi motornya orang, ada mi juga ojek online, mobil online, banyak mi macam-macamnya, ndak kutahu kenapa bisa begini sekarang!

Hera: Bagaimana memang waktu jaman jaman dulu, Daeng?

Daeng: Dulu, penumpang di mana-mana, keluar ta’ kasi’ jalan mobil banyak mi penumpang, dulu anak sekolah ndak mau jiki’ ambil i, ka sedikit ji na-bayar, sekarang di tunggu i mi anak sekolah di depan gerbangnya, kayak jadi miki’ sopir pribadinya anak sekolah, ka dia mami bisa diangkut, yang lainnya, ada semua mi motornya masing-masing. (Sambil menghel napas, si Daeng melanjutkan pembicaraan). Dulu, Mama’ na, Mama’nya anak-anak, gadis tercantik di desanya, sekali tunjuk ji mau mi sama saya, saking berkharismanya Daeng Pete-pete  waktu itu.

Hera: Kenapa memang sekarang, Daeng?

Daeng: Sekarang, mustahil mi Daeng Pete-pete dapat bunga desa, mustahil mentong mi. Sekarang serba susah mi Pak Hera, kurang sekali mi penumpang. Dulu, kalau penumpang turun dari pete pete, tidak lupa I bilang “Terima kasih, Daeng”, sekarang tidak ada mi, biar terima kasih susah tong mi didapat.

Sambil tertawa pak Hera, menaikkan kaki pada jok mobil, kali ini dia tampak angkuh sekali.

Hera: Eee Daeng! Kita lihat ji air yang mengalir di bawah jembatan Lamalaka? Hari ini, coba kau lompat di situ, besoknya coba kau lompat lagi, apakah air yang membasahi tubuhmu hari ini sama dengan air yang membasahi mu besok? Begitu tong ji juga dengan kehidupan, lain dulu lain sekarang, lain bolu lain cakalang  (dia berucap sambil tertawa).

Daeng: Nassami tidak iya, Pak Hera, tapi sopan-sopan tong miki’ kalau ngomong ki’  (Si Daeng kelihatan murka).

Walaupun agak jengkel dengan sikap Pak Hera, si Daeng tampak penasaran dengan Pak Hera

Daeng: Bagaimana mi pale saya ini, Pak Hera? harus ka’ demo ke Pak Bupati soal itu ojek online supaya nabuatkan ki’ aturan, ka bagus tongi kalau banyak penumpang bela.

Hera: (Sambil tertawa menepuk kaca jendela mobil). Daeng, hidup itu adalah perang, alias assibakjiang, dan pertentangan itu ada di kehidupan dan sebuah keniscayaan, pertentangan- pertentangan inilah yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berguna.

Daeng: (Dengan nada heran si Daeng menatap Pak Hera) Gila alias pongoro’ mi anne Pak Hera, mana ada perang dan pertentangan membuat sesuatu tumbuh dan berguna?!

Hera: (Mata Pak Hera melotot memandang si Daeng) Perang kebaikan dan keburukan itu adalah pertentangan, tapi satu kesatuan. Sebagai contoh, kalau robek jidat ta’, pergi ki’ ke dokter untuk nasembuhkan ki’, caranya dengan nabuat ki’ sakit, najahit dan nabedah kepala ta’, namintaki ki’ lagi uang upah, itu semua nabuat ki’ sakit, tapi ada akhirnya nasembuhkan jiki’. Satu lagi contoh. BPJS, itu mempunyai dua sisi, kebaikan dan keburukan, kebaikannya adalah bisa ki’ berobat pada saat sakit berat maupun ringan, tapi di saat yang sama keburukannya adalah harus ki’ membayar tiap bulan untuk biaya asuransinya! Tapi… satu ji yang ingin kusamapikan Daeng, pertentangan itu hadir untuk memberikan harmoni, jadi santai miki’, dunia ji ini!”

Daeng: Bingung ma juga mau bagaimana Pak Hera, setiap malam berdoa ma sama Dewata e, bagaimana supaya dimudahkan ini hidupku kodong, Tapi… dibalas dengan Tuhan dengan kondisi seperti ini ji…. (berucap dengan nada lirih).

Hera: (Si Hera cuma tertawa ke arah si Daeng, tak nampak sekali ada rasa sedih atau iba mendengar curhatan si Daeng) Ee Daeng, Tuhan menghargai manusia yang bertarung dalam kehidupannya. Bagi kita melihat perang ini adalah sesuatu yang tidak wajar, tapi bagi Tuhan mungkin tidak seperti itu, ini dispensasi atas segala kejadian, dan menghasilkannya sebagai suatu harmoni.

Daeng hanya mengangguk, entah dia bingung atau mengerti.

Hera: Beberapa abad yang lalu, manusia bertarung untuk mengisi perutnya, kebanyakan orang-orang kelaparan, tapi lihatlah manusia modern sekarang, mereka bertarung melawan kegemukan, itu contoh pertentangan! Beberapa tahun silam sebelum dokar, bendi, yang biasa mengantarkan para ibu ke pasar, dengan kehadiran pete-pete, berhasil menggilas dokar-dokar itu, lalu mengapa kau mengeluh dengan apa yang terjadi pada dirimu saat ini? Dulu kamu menggilas  dokar-dokar itu, sekarang kamu digilas dengan ojek online dengan teknologi yang mumpuni itu. Pertentangan itu hal yang lumrah terjadi di bumi ini, Daeng. Apa yang perlu kau ratapi?

Daeng: Iye’, iye’… Jadi, sampai berapa lama mi ojek teknologi itu akan bertahan di puncak singgasana?

Hera: (Tampak serius menjawab pertanyaan si Daeng) Hidup itu mengalir seperti sungai, lihat ojek online itu, dia menjemput pelanggan di mana pun dengan titik presisi yang tinggi, bahkan kalau bisa, menjemputmu tepat di depan kamarmu, orang-orang di Indonesia itu miskin dan malas untuk bergerak, tempo hari ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang Indonesia itu sebagai orang yang malas bergerak, dan itu bisa berefek pada metabolisme kesehatan tubuh, mencetak orang-orang gemuk dan penyakitan, saya meprediksi, ke depannya akan mucul pete-pete dengan fasilitas fitness di dalamnya” (setelah berucap dia tertawa).

Daeng: Mau miki sampai di terminal kota ini Pak Hera, kalau bisa ki’ bayar lebih supaya ada pembeli bensinku kodong.

Hera: Sorry mami ini Daeng, tidak ada uangku ini, tapi ada ji ini oleh-oleh mau kukasikan ki (Sambil menarik dua lembar kertas dari tasnya, ia nampak menulis sesuatu). Ini ada jimat, satu lipatan kertas ini untuk kamu, dan satunya lagi untuk istrimu di rumah. Ini mi baca saja terus yakin ka akan nada nanti sesuatu yang besar dalam hidupmu datang.

Setelah memberikan dua pucuk lipatan kertas, Pak Hera beranjak dan meninggalkan pete-pete itu, entah ke mana dia akan melangkah setelahnya.

Sementara Daeng tampak berhati-hati membuka surat itu, dia tampak penasaran sekali tentang isi lembaran kertas itu, maka dibacanya lah “The hidden harmony is better than visible”. Si Daeng tampak bingung.

Daeng: Baca-baca dari mana mi ini, tareka’ dari mana mi ini Pak Hera, kenapa barusannya ada baca-baca susah sekali diucapkan.

Tak lama di Terminal Kota, si Daeng langsung beranjak kerumahnya, ia ingin langsung menemui istrinya dan menceritakan pengalamannya bertemu dengan pak Heraclitus. Amanah berupa sepucuk lembaran kertas, tak lupa diberikan untuk istrinya. Walaupun minim pemasukan hari ini, pertemuannya dengan pak Heraclitus tetap merupakan sebuah berkah baginya. Setelah sampai, sepucuk kertas itu diberikan, dengan penasaran istrinya membuka kertas itu dan membacanya “Immortals are mortals, mortals are immortals, living their death, dying their life”. Setelah membacanya, sang Istri tampak cemberut dan merobek kertas itu sambil berkata, “Tidak butuh ja’ kertas kertas begini, apa lagi baca baca (mantra), mana uang mu sekarang!, mauka’ beli ikan!”

Luka Daur Ulang; Puisi atau Berita?

Wacana daur ulang, kadang riuh kadang senyap. Daur ulang, biasanya bermisi mengontrol lonjakan jumlah barang tak terpakai. Lewat kreatifitas kerajinan tangan, sampah misalnya, sanggup bertransformasi dari barang tak layak konsumsi menjadi barang ekonomis. Jumlah sampah jadi berkurang. Sampah pun bisa jadi pangkal mata pencaharian.

Di dimensi lain, ternyata, tak hanya sampah atau benda saja bisa didaur ulang. Fauzan Al-Ayyubi, lewat seikat puisi, melahirkan buku bertitel Luka Daur Ulang (2016). Buku puisi menghimpun 70 puisi. Pejumpaan awal dengan buku bikin dahi pembaca mengernyit. Pembaca bertanya, bagaimana produk dari sebuah luka daur ulang?

Fauzan mengolah puisi dari luka; cinta, kenangan, permasalahan kota, dan perenungannya atas hidup. Tema-tema itu membentuk sebuah jejaring raksasa. Saling terhubung, lalu memadat, menyatu, dan berhilir pada sebuah buku kumpulan puisi.

Namun luka akan seperti sampah. Mengeluarkan aroma busuk. Mencemari lingkungan. Dan pada satu waktu, mampu menggoda munculnya sebuah bencana. Maka, luka pun perlu didaur ulang. Didekonstruksi. Agar tak jadi benalu. Tak mengganggu.

Saking semangatnya mendaur ulang, Fauzan bisa memproduksi 8 puisi dalam satu hari. Puisi berjudul “Menjadi Dua”, “Sekali Lagi”, “Bunuh Diri”, “Belanja”, “Si Cantik dan Pemuja Kecepatan”, “Buku dan Jalanan”, “Perang dan Agama”, “Taman, Senja dan Pemakaannya”, bertitimangsa 19 Februari 2016. Sungguh sebuah pencapaian luar biasa. Hanya orang berstamina prima bisa melakukannya. Barangkali, Fauzan tak ingin kehilangan momen. Ia mencatat lewat puisi, semua gambar dalam imajinya sehabis menyaksikan fenomena-fenomena ganjil.

Sebuah karya, susah untuk bisa betul-betul berjarak dari penulisnya, entah itu dari segi ciri khas memadu komposisi bentuk atau gagasan. Selalu ada ekspresi alter-ego penulis atau ciri khas di dalam karya ciptaanya. Hal itu bisa kita simak pada potongan puisi Fauzan: Bahwa kecantikan adalah perangkap kesombongan! Petikan puisi itu, setidaknya memuat dua kemungkinan mengapa si penulis mencatat demikian. Pertama, ia pernah naksir, dan ditolak mentah-mentah atau dicampakkan oleh seorang perempuan mengklaim dirinya cantik. Duh. Sehingga puisi itu lahir dari luka.

Dari kekesalan penulis dengan perempuan berpredikat cantik sekaligus sombong. Padahal cantik itu sementara. Tak kekal dan abadi. Kedua, Fauzan hendak mengkritik budaya konsumerisme pemuja iklan kecantikan. Banyak orang takut pada kulit keriput. Paranoid pada penuaan dini, gugup saat berat badan naik dan lemak menggelambir. Atau takut “tak tahan lama” saat memadu cinta dengan kekasih. Cantik tereduksi pada sekadar imaji perempuan banal dalam iklan-iklan kosmetik. Perempuan itu takut kehilangan stempel “cantik”. Namun, tak takut kehilangan akal sehat dan akhlak terpuji. Siapa perempuan dalam puisi itu, hanya Fauzan mengetahuinya.

Pastinya, perempuan cantik dan sombong itu, bukanlah Isma Aryani. Fauzan menulis 3 puisi ditujukan untuk Isma. Tentu saja Isma perempuan spesial. Karena dalam puisi Luka Daur Ulang, tak ada nama-nama lain, hanya Isma seorang. Puisi-puisi Fauzan tentang Isma, tak bermuatan kritik atau sindiran. Puisi bergelimang kata-kata cinta. Berlimpah pemujaan pada kekasih, amsal Qais si Majenun tatkala bersyair untuk pujaan hatinya, si Laila.

Kita tilik puisi Fauzan: Aku tak punya hari esok jika bukan untuk melengkunkan senyummu./ Sebab sungguh mati, kesedihanmu seperti melihat ratu tanpa mahkota/ dan/ Kau tahu, mahkota itu senyummu./ Aku tak ingin hilang dari wajahmu. Fauzan betul-betul tenggelam dalam kubangan cinta saat menulis tentang kisahnya dengan Isma, meski sedang terluka. Ia hilang kesadaran. Fana dalam istilah sufistik. Hidup mati Fauzan bergantung pada senyum manis di wajah kekasih.

Tetapi, seperti halnya Qais, ekspresi kecintaan Fauzan pada Isma mendapat percik-percik kendala. Tak mengalir lancar. Ada pesan tak sampai. Akhirnya, cinta berjalan terbata-bata. Tak tuntas. Keraguan menjadikan cinta runtuh berkeping-keping. Atau kau tak pernah tau tentangku?/ :menunggumu, ragu Fauzan. Keraguan bukan menu baik bagi pertalian dua sejoli. Cinta pun usai. Menyisakan kenangan, luka, dan nelangsa.

Puisi atau Berita

Puisi-puisi Fauzan lahir dari mendaur ulang kesedihan akibat peliknya pengalaman hidup. Namun, luka ketika didaur ulang, tetaplah berwujud sebuah luka. Barangkali puisi luka, bukan puisi bahagia. Fauzan hanya berputar-putar dengan lukanya sendiri. Ia tak menunjukkan perlawanan. Ia malah menikmati dan semakin pasrah dalam lubang rasa sakit tak terperi. Fauzan –umpama seseorang dalam lagu “Butiran Debu”- terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.

Buku Luka Daur Ulang merupakan rekonstruksi atas suatu kejadian, lalu hasilnya dipahat dalam puisi. Tak ada tawaran untuk sebuah kemungkinan lain. Puisi jadi cermin realitas. Kita menemukan pembenaran itu dalam kata pengantar buku, “Puisi adalah salah satu cara untuk mengabadikan kejadian yang tak sempat terekam”. Puisi jadi mirip dengan berita-berita surat kabar.

Sebenarnya, saya cukup teganggu, ketika Fauzan mengkritik percepatan. Kritik hanya berlaku untuk orang lain, tapi kebal pada dirinya sendiri. Bukankah ia juga melakukan percepatan tatkala menulis 8 puisi dalam satu hari? Saya, sebelumnya tak pernah menemukan seorang penyair bisa menulis 8 puisi dalam satu hari. Bahkan, untuk 1 puisi, beberapa penyair, kadang butuh berhari-hari untuk mengedit dan mencari kepaduan komposisi puitik.

Puisi Fauzan terkesan ditulis dengan terburu-buru. Pada akhirnya puisi jadi semacam catatan jurnalistik. Banyak berkutat pada kulit luar, lupa menyentuh jantung kedalaman bahasa. Puisi lebih menyerupai kalimat-kalimat koran. Bermandikan fakta, namun susah dijumpai metafora. Dan dengan begitu, mungkin, Fauzan perlu mendaur ulang (luka) puisinya agar bisa utuh berwujud “puisi”.

Judul : Luka Daur Ulang

Penulis : Fauzan Al-Ayyubi

Penerbit : SIGn

Cetak : Pertama, 2016

Tebal : xiv + 112 hlm

ISBN : 978 602 72706 2 6

 

Jalan Raya: Alas Pijak Kapitalisme Global

DI ABAD modern,  sejarah jalan raya adalah sejarah modernisasi itu sendiri.  Tanpa jalan raya, percepatan modernisasi berupa perpindahan penduduk, pergerakan arus transporatasi, pembangunan infrastruktur, terbentuknya kawasan perkotaan, dan pergerakan komoditas  akan sulit terealisasi.

Jalan raya adalah tulang punggung yang  menjadi alas sekaligus penghubung beragam penanda modernitas di atas dapat mengalami ekspansi geografis seperti yang dirasakan seperti sekarang ini.

Dengan kata lain, basis utama dari modernisasi (yang dalam kajian kritis adalah juga kapitalisme itu sendiri) adalah jalan raya yang menjadi saluran pembuluh saraf, yang menghubungkan titik-titik terpencar dari aktivitas produksi kapital menjadi lebih terhubung dan lebih gampang terkoordinasi.

Pernyataan ini setidaknya menandai telah terjadi peralihan yang semula dapat disaksikan di tanah air sendiri berkaitan dengan pembangunan jalan-jalan raya di masa silam.

Di tanah air, jika ingin menandai kapan modernisasi pertama kali terjadi akan ditemukan dua peristiwa yang berkaitan kembali dengan sarana transportasi: pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS)  dan megaproyek jalan raya dari  Anyer hingga ujung jawa Bayuwangi berupa pembangunan yang dikenal sebagai jalan raya Pos.

Pembangunan yang pertama bermaksud untuk mengangkut hasil-hasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem cultuur stelsel (tanam paksa). Sementara yang kedua  –selain karena alasan perdagangan—juga dipakai sebagai cara pemerintah Hindia Belanda  mengontrol pergerakan  dan pemberontakan pribumi-pribumi melalui patroli-patroli militer yang mengandalkan akses informasi yang cepat.

Dari kedua peristiwa di atas jalan raya menjadi jauh lebih penting dari masa sebelumnya.  Di era penjajahan jalan raya bukan saja sebagai cara pemerintah Hindia Belanda agar lebih mudah menggerakkan alat-alat militernya, melainkan lebih dari itu yakni sebagai sarana menggerakkan hasil-hasil bumi.

Di masa sekarang, aktivitas di atas jalan raya tidak serta merta difungsikan sebagai sarana transportasi belaka, melainkan juga masih mempertahan cara yang sama seperti di masa penjajahan dahulu: perdagangan.

Namun sayangnya, dari semua itu, betapa fundamentalnya peran dan kedudukkan jalan raya dalam skema pembangunan hari ini, sejauh penulis ketahui belum ada karya pikiran yang khusus mengkaji jalan raya sebagai objek perhatiannya. Padahal jika melihat peran strategisnya menghubungkan lokasi-lokasi sumber daya, dan keberadaannya yang  sangat trategis bagi percepatan pembangunan, jalan raya patut ditelaah secara kritis.

Di tengah kekosongan –dan juga luput dari perhatian–kajian kritis tentang jalan raya, beberapa waktu lalu terbit buku “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik” karya Muhammad Ridha, seorang aktivis cum dosen sosiologi UIN Alauddin yang setidaknya mengisi satu titik kosong di dalam perbincangan berkaitan dengan tema kritik ideologi kapitalisme.

Hendro Sangkoyo dalam kata pengantarnya di buku ini, diasalkan kepada satu pertanyaan mendasar: untuk apa jalan raya dibuat? Melalui pertanyaan utama  inilah analisis-analisis Muhammad Ridha dikembangkan dengan cara menelusuri di mulai dari sejarah jalan raya dan bagaimana posisinya hingga sekarang terutama ketika di dudukkan ke dalam format ideologi pembangunan di tanah air dan  masyarakat kapitalisme global.

Yang paling menarik dari itu, demi menguatkan tesisnya, Ridha menggunakan pendekatan studi ekonomi politik khas Marxian melalui dedah teori ruang yang diperkenalkan seorang Marxis Henri Lefebvre dan David Harvey di dalam melihat jalan raya.

Melalui pendakuan-pendakuan teoritik kedua tokoh inilah, Ridha meneropong  jalan raya dari sisi ekonomi-politik dalam struktur kepentingan kapitalisme global.

Jalan raya dalam imajinasi kapitalisme

Untuk mengemukakan penjelasan dari pernyataan di atas, Ridho memperjelasnya dari pendakuan konsepsional Hendri Lefebvre berkaitan dengan ruang. Bagi Lefebvre, jalan raya sebagai ruang tidak sekadar hanya sebagai spasio-temporal yang sangat harfiah dan tidak memiliki sangkut pautnya dengan representasi struktur sosial tertentu.

Menurut Lefebvre, seperti dikemukakan Ridho, ruang dalam hal ini jalan raya adalah medan yang sudah sebelumnya dikonstruksi elit masyarakat tertentu. (hal.24)

Dalam hal ini kontruksi jalan raya tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan-pertanyaan Ridha untuk menguji keberadaan jalan raya dari sisi politisnya, semisal yang berkaitan dengan siapa yang mengkontruksi jalan raya? Bagaimana ia diproduksi? Apa yang ingin ditunjukkan di atasnya? Untuk apa jalan raya dibangun? Siapa yang diuntungkan dari pembangunan jalan raya, dan siapa yang dirugikan? (hal.23)

Dengan kata lain, konsepsi ruang dalam hal ini juga adalah  jalan raya senantiasa berkaitan dengan eksposisi-eksposisi yang diajukan pertanyaan kritis Ridha di atas.

Sebagaimana dijelaskan menurut logika Lefebvre,  dalam masyarakat kapitalis jalan raya menjadi begitu sentral untuk menjalankan suatu pendekatan yang memeragakan tindakan produksi sekaligus menjadi arena bagi subjek tertentu menjalankan dominasinya.

Jalan raya dalam hal ini tidak terhindarkan dari praktik-praktik representasi melalui beragam subjek yang berbaur di dalamnya. Dia menjadi arena pertarungan untuk mengukuhkan suatu kecenderungan dominasi atas posisi kelas tertentu.

“Masalah terbesarnya adalah representasi ruang elit terlalu mendominasi praktik spasial dan ruang representasional sehari-hari” (hal.25)

Mengikuti pemikiran Lefebvre, dalam struktur dan praktik sosialnya, jalan raya senantiasa dihadirkan berdasarkan logika ruang kelas pemodal demi efisiensi dan efektifitas produksinya. Dalam hal ini ruang atau jalan raya didudukkan berdasarkan kebutuhan kelas pemodal dengan pertimbangan jalan raya mesti memudahkan sirkulasi dan peredaran komoditi, dan bahkan menjadi ruang produksi itu sendiri.

Namun bagaimana sebenarnya ruang atau jalan raya berperan menjadi seperti yang dikatakan di atas sebagai “pembuluh saraf” yang menghubungkan pelbagai titik-titik sumber daya untuk mensirkulasikan pergerakan komoditas dan modal?

Di sinilah peran penjelasan David Harvey dikemukakan mengenai apa yang disebut dengan ekonomi ruang (space economy) dan spatio temporal –fixed. Kedua konsep ini pada dasarnya merujuk kepada strategi kapitalisme  untuk mengektifkan dan mengefesienkan kerja produksi dan sirkulasi komoditi  sekaligus memperluas cakupan dan modus operasionalnya demi menunda krisis yang terjadi dalam dirinya. Hal ini dilakukan dengan pergerakan menemukan dan membuka ruang baru agar terjadi perluasan dan peningkatan surplus modal dapat terus terjadi.

Dua konsep kunci inilah yang menjelaskan mengapa kapitalisme dengan cepat dapat memperluas cakupan pasar dan investasinya kepada proyek-proyek jangka panjang melalui pembangunan-pembangunan infrastruktur berskala global.

Seperti dikemukakan Ridha “di Jawa masa kolonial hingga orde baru ketika jalan berperan khusus memberikan suatu model kompresi ruang dan waktu. Jalan raya pos mengurangi waktu tempuh dan Batavia ke Surabaya yang tadinya bulanan menjadi hanya seminggu, begitu juga jaringan kereta api di Jawa yang menyebabkan pergerakan barang dan orang semakin cepat dari sebelumnya” (hal. 32)

Yang tersingkir dari pembangunan Infrastruktur

Secara kasat mata, di mana pun terjadi perluasan pembangunan infrastruktur, di situ dengan gamblang terjadi juga aktivitas penyingkiran bagi masyarakat sekitar. Pemandangan ini jamak ditemukan di bukan saja di kota-kota besar, melainkan ikut merembes ke wilayah pedalaman sesuai kebutuhan investasi pembangunan.

Menurut liputan Tirto.id tertanggal 24 November 2016 di bawah rezim Jokowi-JK  saat ini tercatat tujuh kasus yang ditimbulkan akibat pembangunan infratruktur berskala nasional.  Dimulai dari proyek pembangunan jalan tol di Kuala Namu, Sumatera Utara, Pembangunan PLTA Waduk Cirata di Purwakarta Jawa Barat, Bandara Internasional di Yogyakarta,  Pembangkit listrik panas bumi di NTT,  Perluasan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, hingga pembangunan BandaraDominique Edward Osok, Sorong Papua.

Sementara Berdasarkan Perpres Nomor 58 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, tercatat ada 248 proyek infrastruktur strategis nasional di berbagai wilayah Indonesia mulai dari jalan tol, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, rusun, kilang minyak, Terminal LPG, SPAM, bendungan dan irigasi, peningkatan jangkauan broadband, techno park, Kawasan Ekonomi Khusus, smalter, dan pembangkit listrik.

Tidak sedikit dari pembangunan infrastruktur berskala nasional di atas menimbulkan banyak korban. Sudah barang pasti proyek pembangunan infrastruktur  di atas banyak mengubah lanskap kehidupan sosial-ekonomi-budaya masayarakat setempat. Bukan saja kehilangan nyawa, tempat tinggal, lapangan pekerjaan, melainkan juga kebiasaan-kebiasaan yang menjadi tradisi dan dasar interaksi masyarakat di dalamnya.

***

AWALNYA seperti dikatakan Ridha buku ini akan diberi judul “Merebut Kembali Jalan Raya Studi Ekonomi Politik”, namun setelah diberikan usulan oleh Eko Prasetyo buku ini sampai ke hadapan pembaca dengan judul cukup menantang: “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik”. Dengan melihat perubahan itu buku ini memiliki motivasi bukan saja sekadar hanya menjadi “imajinasi bagi pembaca”, seperti disebutkan Ridha dalam kata pengantarnya, melainkan sebenarnya sebuah kritik bagi ideologi pembangunan yang dianut pemerintah saat ini.

Itulah sebabnya, barangkali buku ini terkhusus ditujukan kepada mahasiswa, elemen sosial yang paling politis menggunakan jalan raya. Elemen gerakan mahasiswa seperti diketahui, seringkali menggunakan jalan raya sebagai medan terbuka melancarkan kritik-kritiknya terhadap rezim pemerintahan yang dinilai tidak adil dan demokratis.

Memang bagi kelas masyarakat tertentu, aktivitas politik mahasiswa di jalan raya ketika melakukan hajatan aksi demonstrasi, dianggap mengganggu laju lalu lalang sirkulasi transportasi. Ketika mahasiswa turun ke jalan sebagai satuan gerakan, waktu dan ruang gerak bagi pengguna jalan banyak tersita dan terbuang percuma. Karena inilah, acap kali mahasiswa dengan tradisi berlawanan demikian dinilai negatif dan terbelakang.

Namun, ketika pandangan negatif semacam selama ini dikembalikan kepada dalil teoritik dalam buku ini berkaitan dengan jalan raya sebagai ruang konstestasi dalam semesta kepentingan kapitalisme global, keresahan-keresahan berkaitan dengan aktivisme mahasiswa di jalan raya dengan sendirinya akan tertolak.

Di akhir-akhir bagian buku ini juga akan kelihatan dengan terang “semangat awal” dari Ridha ketika meletakkan keperpihakkannya kepada aktivisme kritis mahasiswa yang kerap menjadikan ruang publik sebagai medan pergerakannya. “…tepat pada logika semacam inilah tulisan  ini ingin menjadi pembelaan bagi seluruh aksi-aksi jalanan yang dilakukan oleh kaum miskin, mahasiswa dan elemen sosial lainnya yang merasa bahwa jalan bisa menjadi ruang untuk mempertaruhkan hidup dan masa depan kehidupan mereka”.

Akhirnya, buku ini –sekali lagi—patut diapresiasi tinggi disebabkan memberikan analisis mendalam tentang kedudukan jalan raya di dalam semesta kapitalisme global. Juga  seperti ujaran Martin Suryajaya, buku ini menambah daftar tematik di dalam mendalami kajian-kajian tentang aktivitas produkis kapitalisme yang hanya berfokus di ranah kerja dan produksi belaka.

Data buku:

Judul Buku                : Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik

Penulis                        : Muhammad Ridha

Penerbit                      : Carabaca Makassar dan Social Movement Institute Yogyakarta

Tahun terbit               : Agustus 2018

Tebal halaman           : XXIII + 156 halaman.

Dari Calistung ke Literasi

Literasi, apa sih itu? Kok begitu santer didengungkan dan digaungkan, sekarang ini? Apatah lagi, pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui permendikbud tentang gerakan literasi ini. Ada, Gerakan Literasi Nasional ( GLN) Gerakan Literasi Sekolah ( GLS), Gerakan Literasi Masyarakat ( GLM) dan Gerakan Literasi Keluarga (GLK). Selengkapnya bisa dibaca pada permendikbud nomor 23 tahun 2015. Tentang penumbuhan budi pekerti.

Apa? Literasi itu berkenaan dengan huruf, baca, dan tulis? Ya, memang arti sederhanya seperti itu, literasi, berarti melek huruf, suka membaca dan menulis.

Lha, kan selama ini sudah ada program pemberantasan buta aksara. Yaitu program pemberantasan buta huruf masyarakat. Agar bisa membaca, menulis dan berhitung. Jika dengan demikian, buat apa lagi, ada program gerakan literasi. Program pemerintah yang lalu itu, tidak berhasil, atau supaya tampak lebih keren ya? Makanya istilah yang dipakai juga berubah.

Tunggu dulu. Jangan berpikiran negatif dulu lah. Program gerakan literasi ini hadir, memang bukan tanpa sebab. Di antaranya, hasil survey yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga survey, menyatakan bahwa, bangsa Indonesia, minat baca tulisnya masih sangat rendah. Jika dipersandingkan dengan negara-negara lain. Misalnya, Finlandia, Jepang, atau Malaysia. Sementara, salah satu kategori, sebuah bangsa atau negara dianggap sudah maju, jika literasinya juga sudah meningkat dan maju.

Terus bagaimana dengan program pemberantasan Buta Aksara?

Nah, program itu, sudah dianggap berhasil. Pemerintah dianggap berhasil menekan angka masyarakat yang buta huruf. Oleh karena itu, program ini perlu ditingkatkan lagi. Terlebih tantangan kehidupan, juga semakin banyak dan beragam. Itulah sebabnya, kebijakan yang diambil adalah dengan program gerakan literasi ini.

Hah? Sesederhana itu kah? Apa hubungannya, literasi dengan pemecahan masalah kehidupan?

Sabar ya, akan diperjelas dengan lebih sederhana. Pada intinya, pengetahuan yang diperoleh harus bisa berguna, berfungsi dalam kehidupan kita. Demikian pula halnya, pengetahuan calistung, yang dianggap menjadi syarat seseorang dianggap sudah bebas buta aksara.

Nah setelah mengetahui calistung, seseorang bisa memanfaatkannya, menggunakannya dalam kehidupan sehari-harinya. Atau dengan kata lain, ketika kita sudah membaca buku, ada pelajaran atau hikmah yang bisa kita jadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Baik secara teoritis maupun teknis. Baik langsung maupun tidak langsung.

Karena seringnya kita bersentuhan dengan buku, lalu membacanya. Maka, makin kayalah kita dengan jalan keluar yang bisa diambil. Atau lebih sederhananya. Bila ilmu itu tidak dipakai, tidak difungsikan. Ibarat pohon yang tanpa buah.

Terlebih lagi, bahwa literasi sekarang ini banyak ragamnya. Bahkan menulis dan membaca hanyalah salah satu bagian dari literasi yang lainnya. Literasi baca tulis ini, merupakan pintu pertama memasuki dan mengenali jenis literasi lainnya.

Lalu mengapa perlu ada GLS? Bukankah memang demikian lembaga pendidikan, menjadi tempat berpijaknya literasi?

Inilah yang jadi problem pendidikan kita saat ini. Memang di sekolah, peserta didik setiap hari di sekolah bergaul dengan huruf-huruf, angka-angka, buku-buku dan pena. Tetapi itu belum bisa dianggap sebagai tanda kemelekan literasi.

Apalagi, jika belajar hanya untuk dapat nilai raport dan ijazah. Belajar melum menjadi kebutuhan pokok bagi jiwa atau rohani. Belajar baru menjadi sebatas kewajiban yang harus digugurkan.  Tak heran bila belajar dilakukan dengan tanpa kenikmatan dan kekhusyukan. Pembelajaran belum memiliki makna, yang bisa menjadi solusi dan pembuka jalan bagi problem yang terjadi.

Pun, paradigma pendidikan kita masih parsial, terkotak-kotak belum terintegrasi, universal dan holistik.

Lihatlah misalnya, pemilihan jurusan eksakta lebih diminati oleh peserta didik dibanding ilmu-ilmu sosial. Padahal paradigma yang dikotomi tersebut, sudah harus ditanggalkan dan dibuang jauh. Setiap cabang keilmuan bisa dimainkan perannya masing-masing, tanpa melihat dan memandang, bahwa jurusan yang satu lebih superior dibanding jurusan yang lainnya.

Fenomena lain, adalah menurunnya minat dan daya baca peserta didik terhadap buku. Hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah siswa yang berkunjung ke perpustakaan sekolah. Atau siswa yang membaca buku saat jam istirahat, saat gurunya berhalangan mengisi jam mengajar. Lebih banyak siswa senang ke kantin, nongkrong dengan  HP, atau bergosip.

Siswa mau menyentuh buku, saat belajar di kelas. Itupun yang dibaca hanya buku teks mata pelajaran. Sementara buku nonteks, buku pengayaan, novel, puisi dan yang lainnya, bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Jika tak mau mengiyakan istilah yang dipakai, bapak Taufiq Ismail, tragedi nol buku.

Tetapi, fenomena “negatif” saya sebutkan di atas, tidak seharusnya dan semestinya ditimpakan seluruhnya pada siswa, peserta didik.

Jika peserta didik atau kaum pelajar ini lebih tertarik ke kantin, nongkrong dengan HP, tinimbang berkunjung ke perpustakaan, berarti kantin dan hp lebih menarik daripada perpustakaan atau membaca buku.

Jadi solusinya, bagaimana?

Waduh, kalau soal solusi, berarti sudah masuk ke inti dan pembicaraan pamungkas ya.

Hadirnya gerakan literasi ke sekolah, ke masyarakat, ke keluarga adalah salah satu upaya untuk merevitalisasi kesukaan kita pada buku, pada membaca atau menulis. Demikian pula, dengan menjadikan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan yang dapat diaktualisasikan delam kehidupan sehari-hari. Kata para filosof, dari mengada lalu menjadi.

Seluruh stakeholder mulai dari bawah sampai atas, atau sebaliknya. Perlu memikirkan dan membuat sebuah terobosan yang bisa membuat anak-anak kembali berminat dengan buku.

Membuat fasilitas perpustakaan yang menarik dikunjungi, penataan buku yang lebih fresh dan gaul. Pun isi perpustakaan, perlu diperhatikan.

Jangan sampai kita berpikir dan memvonis anak-anak tidak suka membaca, padahal ketersediaan buku, dan fasilitas yang memang tidak membuat mereka tertarik untuk membaca. Atau bahkan buku yang mau dibaca, masih minim.

Kegiatan kepustakawanan juga perlu lebih variatif. melibatkan mereka, sebagai salah satu bagian dari subjek pendidikan. Misalnya membuat lomba yang bernuansa buku. Buat kegiatan pengembangan diri di perpustakaan, berdiskusi, membuat kreasi, kerajinan tangan, atau apa pun itu. Yang bisa membuat mereka tertarik dan nyaman berada di lingkungan tersebut. Atau dengan kata lain, program yang edukatif-rekreatif. Belajar yang menyenangkan.

Akses buku di tengah-tengah masyarakat juga harus dipermudah dan didekatkan aksesnya. Urusan pengadministrasian, boleh diperlonggar sedikit, jika hal yang berbau administrasi, dianggap menghambat, masyarakat mendekat merapat dengan buku.

Jika kita mengeluhkan anak-anak kita malas membaca saat di rumah, maka perlu dilihat, apakah di rumah kita ada perpustakaan keluarga? Atau rak buku yang berisi buku-buku yang menarik untuk dibaca?

 

Ilustrasi: https://ru.kisspng.com/kisspng-nlde5c/preview.html

 

Kelas Literasi Paradigma Institute