Beribu Cinta Untukmu

Menyambut maulid Nabi

 Bak kulihat cahayamu di matahari menerangi semesta. Membasuh wajah-wajah lugu bersahaja hingga melek hidup, membasuh batin-batin letih para pencari cinta ke ruang dan waktu tak berbatas. Membasuh laku kasar penduduk sahara menuai santun. Semesta mewujud cinta dari perangaimu yang indah. Engkau hadir di remah hidup kaum tak berpunya, mengasihi mereka yang memusuhimu.

Menyelimuti cinta dan kasih semesta dan paradaban. Para penyair tak habis kalimat mengukir keindahanmu. Pena-pena para cerdik pandai tak hentinya menggores kebajikan yang engkau jejakkan. Jadi, bila mencintaimu dengan beragam ekspresi budaya, merindukanmu dengan berbagai laku yang kami jejakkan, lalu kami dituduh berlaku bid’ah dhalalah, tak mengapa,  sebab semuanya hanya sezarra ekspresi cinta kami dari gundukan semesta ini. read more

Melihat Orang Gila dari Dekat

Erich Fromm, dalam hidupnya, pernah menyimpan sebuah pertanyaan besar. Pertanyaan itu kira-kira berbunyi, bagaimana mungkin? Perjumpaan dia dengan pertanyaan itu berasal dari sebuah peristiwa yang pertama kali mengguncang rasa kemanusiaan Fromm sendiri. Erich Fromm saat itu berusia dua belas tahun. Di usia seperti itu, dia mengenal seorang perempuan muda, teman keluarganya.

Si perempuan itu cantik, menarik, dan terlebih lagi, ia juga seorang pelukis. Sayangnya, perempuan muda itu sudah bertunangan. Dalam ingatan Fromm, perempuan itu hampir selalu menemani ayahnya yang telah menduda. Seorang laki-laki tua yang tidak menarik, yang juga tidak berpenampilan menarik. Fromm mengakui penilaian ini dilandasi dengan rasa cemburu. read more

Memaknai Hari Pahlawan Melalui Memperkaya Wawasan Sejarah

Di saat memperingati hari pahlawan, kita selalu disuguhi dengan kisa-kisah heroik perjuangan para pahlawan kita dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama masa kolonial sejak berdirinya VOC, pemerintahan Hindia-Belanda hingga pendudukan Jepang, bangsa kita memang sudah mengalami begitu banyak perjuangan fisik yang memakan ribuan korban jiwa. Dimulai sejak perjuangan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang berujuang membebaskan diri dari praktik culas VOC dalam memonopoli perdagangan, ketimpangan sosial di masa Hindia-Belanda, kekejaman Romusha di masa pendudukan Jepang, serta perjuangan berdarah-darah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di perjuangan yang terakhir inilah, di perjuangan mempertahankan kemerdekaan, bisa dicatat sebagai perjuangan revolusi fisik yang paling menguras banyak tenaga, dana hingga nyawa. Banyak di antara kita yang tidak terlalu intens dalam membaca literatur-literatur sejarah malah kadang berfikir bahwa istilah-stilah atau peristiwa bersejarah seperti Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api, Pertempuran Surabaya, Palagan Ambarawa hingga peristiwa-peristiwa sejarah di kampung kelahiran kita seperti Korban 40.000 Jiwa dan nama-nama besar di dalamnya seperti Wolter Monginsidi dan Emy Saelan adalah bagian dari perjuangan merebut kemerdekaan sebelum 17 Agustus 1945. Nyatanya, perjuangan terberat dan paling mematikan justru terjadi di masa-masa setelah proklamasi kemerdekaan kita. Jangan membayangkan sebuah kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan setelah kita memproklamasikan kemerdekaan kita dari penjajahan. read more

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan makhluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more

Change you Words Change you World

Kata dan pikiran ialah elemen yang saling mengandaikan. Kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Melalui elemen kata, pikiran dapat diakses sedemikian rupa: melacaknya, menelusurinya, menggeledahnya, menunjuknya… kepada sesuatu titik, entah konsep, ide, atau gagasan.

Tapi juga kata sebaliknya cangkang yang demikian purna menyembunyikan pikiran: membungkusnya, menutupinya, melindunginya… ke dalam suatu maksud, entah berupa niat, kemauan, atau kehendak. read more

Antara Demigod dan Yunani : Percy Jackson

Bagaimana jika ternyata kita bukan manusia biasa? Setengah dewa misalnya. Mungkin kalimat “tidak percaya” merupakan kalimat pertama yang terucap. Bagaimana mungkin ada manusia setengah dewa? Itulah yang dirasakan oleh Percy Jackson, karakter utama dalam cerita yang tertuang dalam buku Percy Jackson: The Lightning Thief. Seorang anak yang kehidupannya seperti manusia biasa pada umumnya. Bahkan jauh lebih buruk. Percy selalu membuat masalah di sekolah sehingga dia masuk ke asrama Akademi Yancy, sekolah swasta untuk anak bermasalah di New York Utara. Masalahnya adalah dia tidak bermaksud untuk bermasalah. Itu bukan kesalahannya meski memang itu adalah kesalahan dari dirinya. Bertahun-tahun dia harus melewati harinya dengan menyandang status anak paling bermasalah. Bahkan terkadang dia tak dapat membaca. Hal ini dikarenakan dia menderita disleksia. Usut punya usut, ternyata semua kejadian itu berakar oleh sebuah fakta. Fakta bahwa Percy adalah Demigod, sebutan bagi manusia setengah dewa. Setelah melalui berbagai macam kejadian yang menegangkan, ia akhirnya masuk ke perkemahan musim panas yang berisi anak sepertinya. Namun bukan itu pula permasalahan utamanya. Ia telah dituduh mencuri petir asali milik Dewa Zeus. Hal ini membuat Percy dan kawan-kawannya mesti mengembalikan barang yang bahkan membayangkannya pun tak pernah. Pengalaman-pengalaman baru kian menanti Percy serta kawan-kawannya. Menegangkan mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan pengalaman Percy. Buku ini merupakan buku pertama dari lima serial Percy Jackson and The Olympians. Setiap seri bukunya akan mengantarkan kita ke puncak permasalahan yang terdapat di buku terakhir, dan setiap serinya akan menyajikan berbagai peristiwa serta fakta menarik. Pengalaman-pengalaman serta pengetahuan baru mengenai Yunani Kuno disajikan begitu apik setiap seri bukunya. Hal inilah yang membuat saya terus membaca hingga buku terakhir dari serial Percy Jackson and The Olympians. Rasa penasaran terus menerus menggerogoti tubuh saya. Satu hal saya suka dalam buku ini adalah gaya bahasa sang penulis, Rick Riordan. Gaya bahasanya sebagai sudut pandang orang pertama benar-benar membuat kita merasakan apa yang dirasakan oleh Percy. Selain itu, Rick Riordan juga mendeskripsikan segala hal secara rinci sehingga kita mesti beradu dengan imajinasi sendiri. Penggambaran dewa-dewi Yunani Kuno yang begitu deskriptif membuat saya berpikir bahwa mereka benar-benar ada. Sungguh mendetail. Bahkan watak mereka pun digambarkan dengan sangat baik olehnya. Di dalam buku ini, disediakan berbagai macam peristiwa di luar nalar kita. Selain itu, protagonis dan antagonis dalam buku ini terkadang tidak jelas, tapi kadang pula disebut secara gamblang. Sehingga alurnya begitu mengalir dan begitu nyata. Tidak dibuat-buat dan dipaksakan. Pendapat saya mengenai isi buku ini hanya dua kata. Luar biasa! Dengan membaca buku ini saya mengetahui semua hal yang berbau Yunani dan Romawi Kuno. Terkadang saat sedang membaca, saya mesti menyediakan smartphone untuk siap mencari kata-kata baru dan berbau Yunani, atau sekadar mencari gambar sesuatu. Dengan begitu saya bisa lebih menghayati buku ini dan memahami apa yang dimaksud oleh penulis. Akan tetapi hal itu dapat menjadi kekurangan buku ini. Begitu banyak kata-kata yang berbau Yunani yang tidak saya ketahui. Mungkin untuk kasus saya, akan terselesaikan dengan bantuan dari mesin pencarian. Namun bagaimana dengan orang lain, mungkin saja mereka terlalu malas untuk mencari arti kata tersebut, sehingga mereka memakai prinsip “nanti juga paham” yang membuat mereka membaca buku ini tanpa mengerti arti kata tersebut. Hal ini dapat mengurangi keapikan buku ini, karena saya merasa kita mesti memahami setiap butir kalimatnya agar dapat menghayati cerita yang disajikan oleh sang penulis. Jadi saya sangat merekomendasikan smartphone selalu siap sedia jika buku ini sedang di baca agar lebih memudahkan untuk mencari kata-kata baru. Setelah sukses besar dengan bukunya, akhirnya Percy Jackson: The Lightning Thief diangkat ke layar lebar. Awalnya saya sangat antusias. Membayangkan bagaimana keseruan filmnya. Saya pun sempat teringat oleh seri buku Harry Potter yang diangkat ke layar lebar, buku dan filmnya benar-benar membuat mind blowing (luar bisa, red). Namun sayangnya saya mesti menerima kenyataan pahit. Film yang disajikan benar-benar membuat saya kecewa. Dari editannya mungkin sudah memenuhi standar. Namun, apa yang saya imajinasikan pada bukunya begitu berbanding terbalik. Mungkin hal ini bukan kesalahan dari pembuat filmnya. Namun tetap saja saya merasa kecewa. Selain itu penggambaran tokoh Percy Jackson sebagai anak berusia 12 tahun diperankan oleh Logan Lerman. Dan jelas Logan Lerman bukan anak berusia 12 tahun, atau sekitar 12 tahun. Inilah salah satu kekecewaan terbesar saya. Penggambaran Percy Jackson sebagai seorang anak 12 tahun tidak digambarkan dengan baik. Padahal penokohan peran utama merupakan sesuatu yang sakral, dan sutradaranya tidak mengindahkan hal ini. Akan tetapi, meski filmnya tidak sesuai dengan harapan saya, saya masih tetap menyukai buku ini. Buku ini merupakan buku favorit saya. Dan saya sangat merekomendasikan buku ini bagi kalian yang ingin mengetahui hal-hal mengenai mitologi Yunani Kuno dengan cara yang menyenangkan. Selain itu, buku ini merupakan buku wajib bagi kalian yang menyukai genre fantasy. read more

Intelektual Muda yang Redup

Pada masa-masa awal perintisan bangsa Indonesia, pemuda menjadi bagian integral narasi perjuangan kemerdekaan. Elan vital intelektual muda yang menyala-nyala dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, menerangi Nusantara yang telah lama berkubang dalam kegelapan. Suara mereka menggema di pelosok desa dan pesisir pantai terjajah. Membangkitkan semangat juang para petani untuk mengangkat senjata merebut tanah yang telah dirampas. Membakar api semangat para nelayan mengusir perompak dari bumi pertiwi. Dan momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, merupakan wujud kristalisasi semangat kemerdekaan tersebut. Semangat yang didorong rasa senasib dan sepenanggungan, sebagai bangsa yang telah disakiti dan dikebiri hak-haknya. read more

Jangan Terlalu Cinta Membaca

Sewaktu hujan sedang melepas rindu dengan bumi. Saya masih sibuk bertatap muka dengan butirnya. Membasuhi separuh tubuhku di jalan. Di tengah derasnya hujan, saya masih memaksa motor tua yang tak bisa dipaksakan lagi itu, menebas rintik-rintik hujan bermata peluru – Seperti itulah kira-kira penggambaran singkatnya – ditemani tubuhku yang kecil dan kurus.

Sepuluh menit di jalan. Tapi tidak dengan isi kepalaku. Sudah gentayangan di tempat berteduh. Bagian depan kemeja biru dan celana cokelat serta sepatuku jadi basah. Buatku geram. Semakin ingin cepat sampai. Sementara baju dan celana bagian belakang, untungnya hanya kena cipratan air sedikit saja. Begitupun tas hitam tipis, yang bisa dibilang tidak terlalu parah, sehingga harus membasahi seperangkat alat tulis dan laptop di dalamnya. read more

Asa di Jinjingan

Anak itu hadir bersama tanda waktu yang sedang resah di Mamuju. Tanah Manurung dirundung murung oleh tiupan musim yang bonsai. Di ambang gelap  ia menjadi kisah.

***

Ia meniti tanggul yang memanjang seratus meter di depan rumah adat. Tanggul yang tak pernah sepi di senja hari, oleh muda mudi. Ada yang menggandeng pacar, ada pula yang merenungi sapaan angin dan ombak yang tak henti menampar tepi tanggul.

Pada sudut lain, gadis belia tertunduk tanpa ekspresi menatap kosong ke Pulau Karampuang yang beku, jauh dilepasan pantai Manakarra. Mungkin sedang patah hati. Ada juga yang sibuk bersolek, bergaya bak model tabloid dewasa Korea dan seorang karibnya bersiap merapatkan mata ke camera DSLR. read more

Filsafat Kebahagiaan Platon

Sejak dahulu, pembahasan mengenai pertentangan internal dalam diri manusia antara hasrat (nafsu) dan akal budi telah menjadi tema penting dalam ajaran kearifan dan agama-agama kuno. Sanatana Dharma dalam ajaran Hindu mengajarkan memperoleh kebijaksanaan abadi dengan mengendalikan nafsu yang kerap menghambat jalan dharma. Ajaran Buddhis lebih ekstrem dengan menegaskan bahwa sumber penderitaan adalah hasrat, dan untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan membebaskan jiwa dari penjara hasrat melalui 8 jalan. Ajaran kearifan Timur tersebut mengingatkan akan bahayanya nafsu bagi pencapaian kebahagiaan sejati manusia. read more

Kelas Literasi Paradigma Institute