Sang Sendu dan Para Pendosa

Mengapa bayi menangis ketika dilahirkan?

Satu hal yang mesti kita sadari dalam hidup ini adalah kehadiran Sang Sendu. Ia telah menyertai kita sejak mula kelahiran. Sang Sendulah yang pertama kali menyapa kita. Ia juga satu-satunya yang mengerti apa yang kita rasakan. Di saat semua orang mendendangkan kebahagiaan, menyambut calon pendosa baru, Sendu senantiasa merangkul dan memeluk kita. Namun, mengapa terkadang kita tak menghargai Sendu? Berharap ia tak menghampiri kita. Lupakah kita akan kehadirannya dulu? read more

Sempurnanya Kawan-Kawan Disabilitas

Asian Para Games yang baru saja diselesaikan beberapa bulan yang lalu menujukkan semangat kebersamaan yang luar biasa. Selain karena Indonesia berhasil meraih prestasi yang membanggakan, kita juga dibuat terenyuh dengan pemberian jumlah honor yang sama dengan yang diraih oleh atlet Asian Games sebelumnya.  Hal ini menunjukkan bahwa kita sudah melakukan satu lompatan besar di bidang olahraga bagi kaum disablitas. Kita memberikan perlakuan yang adil dengan menunjukkan bahwa tidak ada lagi harga keringat dan air mata perjuangan yang murah hanya karena berasal dari kaum disabilitas. read more

Muasal Jagung, dari Milho ke Milu

Perjalananku kali ini melintasi negeri nyiur melambai ditemani gerimis hujan sore hari. Senja hanya nampak sebagian karena sebagiannya sedang bertirai gerimis. Suasananya sedikit romantis, perpaduan gerimis hujan dan senja memerah saga. Dalam suasana seperti itu, kenangku berkelebat jauh ke masa-masa kala masih kanak di Kota Makassar. Waktu itu, kondisi negeri ini sedang tak berdaya, daya beli masyarakat sedang anjlok hingga ke titik nadir. Antrian panjang untuk mendapatkan beberapa bahan pokok seperti minyak tanah, beras, dll., itu kita dapati di mana-mana khususnya di sekitar mukimku di sebuah pasar tua di Makassar. read more

Ketemu Hujan Jangan Melepas Kemarau

Api-api yang membentang di langit biru. Membakar hutan belantara, rumput-rumput, sawah-sawah, dan batang tubuh para petani. Kemarau sepertinya bermukim begitu lama. Tumbuhan gersang, sungai-sungai mengering, bahkan sumur dalam mendangkal ke dasarnya.

Petani siapa yang tak luka? Sawah-sawahnya yang kering, air bersih yang tentu menjadi kebutuhan hidup, sulit tersediakan. Desa-desa terpencil, jalannya masih tergenangi lumpur-lumpur. Tak hanya luluk ketika musim hujan datang, tetapi jalan-jalan yang berdebu beterbangan bersama jerami-jerami, menandakan tak pernah terlirik panasnya hawa aspal, tak seperti di desa seberang. Namun, tak ada sedih yang terucap kepada pejabat-pejabat pemerintah, menandakan petani-petani cukup berdamai dengan nasibnya. read more

Narasi Cinta dan Puisi-puisi Lainnya

Narasi Cinta (1)

Aku menikmati cinta yang sunyi
Tanpa kata
tanpa kalimat

Aku menikmati cinta
yang hening
tanpa suara
tanpa nada

Cinta kubiarkan tumbuh di selasar ruang sepi

Mengamati setiap inci dirimu
Memikatmu dengan laku

Etah engkau bagaimana
Tapi tatapmu punya isyarat
Senyummu mengandung sajak-sajak rindu

Ataukah ini hanya tafsirku
Yang pasti
di sini ada cinta yang memilihmu
sedang beranjak
bergegas menujuhmu

Narasi Cinta (2)

Aku tahu mencintaimu memiliki konsekuensi begitu berat

Ada terjal
Ada pengasiangan
Ada kutuk tak berakhir read more

Menanti Presiden Pemberani untuk Indonesia Baru

Memimpin adalah jalan derita (prinsip H. Agus Salim)

Mengawali tulisan ini, penulis mengutip falsafah penantian sosiolog dan cendekiawan muslim Iran, Ali Syariati. Dalam buku yang berjudul Para Pemimpin Mustadhafin: Sejarah Panjang Perjuangan Melawan Penindasan dan Kezaliman (2001), ia menjelaskan, penantian adalah sintesis dari dua prinsip yang bertentangan yakni kebenaran dan kenyataan. Penantian merupakan jalan untuk mengatakan tidak terhadap realitas (yang timpang dan kontradiksi dengan kebenaran). Seseorang yang sedang menanti adalah bentuk sanggahan atas kondisi yang ada sekarang. Lanjut Ali Syariati:Orang yang menanti memiliki harapan dan orang yang berharap adalah hidup. Penantian adalah keyakinan pada masa depan, dengan maksud menolak masa kini. Orang yang puas dengan masa kini tidaklah menanti. Sebaliknya, ia konservatif. Ia takut akan masa depan, ia khawatir terhadap segala peristiwa. Ia menyukai status quo dan mencoba untuk mempertahankannya. Berangkat dari uraian tersebut, setidaknya bangsa ini menanti dua hal: Presiden pemberani dan Indonesia baru. read more

Mawar Hitam dan Puisi-puisi Lainnya

Mawar Hitam 

Mawar hitam..

Kau pernah hidup dalam imajinasi,

Kini telah tumbuh dengan liar di kejauhan sana

Berkembanglah, kujaga engkau dari kejauhan sini.

Terjagalah dalam sujud dan mekarlah bersama doa.

Mawar hitam..

Tetaplah menjadi dirimu yang liar dalam pusaran arus Globalisasi

Alam

Alam mengisyaratkan setiap ummat untuk beranjak dari keterpurukan,

Ia pun mengabarkan deritanya melalui Isyarat.

Alam mampu menembus setiap jiwa dalam dimensi yang berbeda-beda.

Alam mampu menggelisahkan, juga mampu menggetarkan. read more

Perpustakaan yang Seperti Rumah Hantu dan Sebuah Renungan

Alkisah di suatu pagi yang cerah. Seperti biasa, mukimku diliputi nuansa alami khas pedesaan. Angin yang sejuk, burung berkicau, embun yang menetes dari dedaunan, dan para peternak bersama sapi-sapi gemuknya yang merumput. Rutinitas sama seperti pagi-pagi lainnya, menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa yang hendak berangkat sekolah. Meminta mereka bergegas mandi, memakai seragam dengan rapi, salat dhuha berjamaah, lalu sarapan pagi bersama.

Aku duduk di meja makan menikmati kebiasaan-kebiasan itu. Menjadi seperti bapak bagi anak-anak, dan terkadang menjadi seorang ibu. Kadang menjadi guru yang berceloteh, sesekali menjadi seorang murid yang sibuk mendengar keluhan mereka. Kuseruput kopiku sembari tetap bercengkrama dengan “sahabatku”. Saat itulah urita gembira datang lewat pesan WA, “Tolong hadiri kegiatan literasi di gedung Balai Keprajuritan Manunggal Makassar!” Kira-kira seperti itu inti pesannya. read more

Bagai Paus 52-Hz

Satu dua katak melompat dari tepi sungai. Gesekan ranting dan dedaunan pohon serta deru air yang jernih membuat satu melodi indah. Sebotol susu dan sekotak roti menemaniku menikmati kedamaian alam. Sambil memandangi hamparan sawah dan jejeran-jejeran gunung. Sudah 15 tahun aku tak pernah berkunjung ke sini, wajar saja tak banyak orang yang kukenal. Hanya karena kakek tak kuat lagi mengunjungiku di kota, maka aku yang harus mengunjunginya di desa. Tak banyak memori tentang tempat ini, aku bahkan belum menemukan teman selama di sini. Sudah 3 hari aku duduk di bawah pohon dengan sebuah buku. read more

Manakala Sekaum Anak-Remaja Sua Bupati

“Bersikap rendah hati, menyadari bahwa masih banyak kekurangan adalah satu syarat penting lainnya dalam belajar.”  (Gobind Vashdev, Happiness Inside, hal. 19)

Entah kenapa, saya terjebak dalam  salah perkiraan. Ini semata, karena rutinitas yang telah menerungku sekian lama, tetiba bergeser waktunya. Saya mengira bahwa para pegiat Forum Anak Butta Toa Bantaeng (FABT) akan bersua dengan Bupati Bantaeng, Ilham Azikin,  di hari Sabtu, 24 November 2018, tempatnya di arena Lapak Baca, Taman Bermain dan Sport Centre Seruni Bantaeng. Nantilah seorang  pegiat memberitahukan, sekaligus mengirimkan gambarnya, mengkonfirmasi acara jatuh pada esok harinya, Ahad, pukul 15.30. read more

Kelas Literasi Paradigma Institute