1920 dan Puisi-puisi Lainnya

1920

Keramaian doa di sebuah stasiun kereta menuju langit
Tiba-tiba saja merah. Semua tahu warna doa
: putih. Suci di bibir seorang pendeta
Sedang bertarung dengan makna-makna yang berdarah

Seluruhnya patuh menyaksikan debat
Orang-orang gempal bertopi coklat
Menikmati wangi asap dari pabrik dan pajak.
Kakinya disilangkan, seperti mendengarkan sajak

Teriakan demi teriakan menyemat di telinga takdir
Jiwa-jiwa merah-berdarah-darah terlentang di sepanjang relnya
Beberapa orang bersenggama seperti ibadah
Percaya bahwa Tuhan lupa membawa kunci gereja

Kerajaan surga telah digambar di atas sebuah kanvas
Oleh anak albino kecil yang kehilangan kaki kanannya
Ia menggambar dengan kebebasan dan persamaan,
Sebelum ia sadar, ukuran kanvasnya tak sepadan

Daun-daun kering patah di atas sebuah pohon
Akasia yang mencuri segala yang masih bisa diteguk
Orang-orang naik kereta. Orang-orang berjejer di relnya
: Tuhan lupa membuat kunci kereta.

2017

 

Manuskrip Beda

Sebening rasa
Seputih jatuh cinta
Sedalam luka
Sejauh berpisah

Tuhan menciptakan kita
Di rahim berbeda
Kau berjalan, aku juga
Terluka pada banyak hal
Di dunia

Umpama kata
Kita makna yang dibelah
Dalam kerongkongan puisi
Sebelum mulut-mulut berbisik

Dan aku mendengarmu, kau juga
Lalu kita saling menemukan,
Saling menyembuhkan.

2017

 

Menjawab Pertanyaan Sendiri

Apa rupa sepi di tubuh sendiri
: aku mencintaimu

Aku menyelam ke dalam matamu
Mencari senyumku sendiri
Tak pernah mencari senyummu
Yang sejak lama telah hilang dari dirimu

Apa rupa sendiri di tubuh sepi
: aku mencintaiku

Aku tidak mencintaimu
Aku mencintaiku, yang mencintaimu
Di tubuh sepi, bibirmu masuk sebagai tamu
Kulumat ia hingga kau tak mencintai dirimu

Apa rupa tubuh di sepi sendiri?
: kita tidak saling mencintai

Aku memilikiku, begitupun sebaliknya
Kita memiliki sepi sendiri-sendiri
Mengikat lirih pada tubuh kita dengan senyum
Hingga sepiku dan sepimu, beriringan di tubuh cinta

2017

The following two tabs change content below.

Fauzan Al Ayyuby

Suka makan, nulis, ngopi, dan penyuka jendela. Belajar dan berhalaman rumah di Tanahindie. Nongkrong di Yayasan Sabtu Malam (Yassalam).

Latest posts by Fauzan Al Ayyuby (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *