Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Catatan KLPI Pekan 9

Parasnya lelah. Mukanya sendu, keringatnya cucur. Di penghujung pukul sembilan malam suaranya berubah parau. Awalnya, perempuan ini bersemangat memimpin forum. Namun, waktu berderap, energi banyak dikuras, forum masih panjang. Di waktu penghabisan, Hajrah merapal karya tulisnya. Kali ini gilirannya.

Satu persatu huruf diejanya. Tulisannya agak panjang. Kali ini dia menyoal masyarakat tanpa kelas perspektif Marx. Yang unik dia menyemat Rasul Muhammad sebagai tokoh lain. Di tulisannya, dua orang beda zaman, disandingkan. Lamatlamat, forum berubah khusyuk. Suaranya akhirnya mulai stabil.

Kalau mau dibilang, Hajrah menulis ulang isi suatu buku. Semacam resume. Hajrah bilang, awalnya dia mau menulis resensi. Cuman, dia agak ragu. Makanya dia mengulas tema umum buku yang sudah dibacanya, soal segregasi masyarakat. Nampaknya, tulisan itu bikin polemik. Di kelas, dari beberapa diksi dipakai Hajrah akhirnya jadi esensil, jadi soal.

Perkara itu dimulai Sandra dan Arhie. Perdebatan menyoal kata ganti “beliau” yang dinisbahkan kepada anak Abdullah bin abdul Muthalib. Sandra bilang, kata ganti “beliau”, yang merujuk kepada Rasulullah, dalam teks tidak sepadan. Asumsinya, sembari menyitir ilmu tafsir, “beliau” bukanlah diksi yang layak disemat kepada Muhammad saw. “Beliau”, sejauh jelajah literatur Sandra, belum ditemukan mengganti Rasulullah sebagai kata ganti. Bagi Sandra, ini bukan soal perkara diksi belaka. Ini soal hubungan penanda dan tinanda.

Arhi justru punya asumsi lain. “Beliau” bukan soal karena mengandung makna penghormatan. Artinya, jika dipakai merujuk kepada Muhammad nabi terakhir, itu boleh saja. Hubungan penanda dan tinanda di situ tak jadi soal. “Beliau” sebagai kata pengganti, sebagai penanda, dan “Muhammad” orang yang jadi tinanda, secara semiotik bisa dibenarkan sejauh itu merujuk kepada hal yang sama. Arhi, karena itu bilang, “Beliau”, sama halnya julukan Muhammad yang lain, bisa dipakai sebagai kata ganti.

Soal lain yakni diksi “pemikir” yang ditulis Hajrah. Konteksnya, Muhammad dan Karl Marx disebut “pemikir” besar yang punya pengaruh. Di sini, saya nyatakan, perlu kehatihatian jika mau menyebut  Muhammad “pemikir”. Karl Marx punya gagasan sosialisme ilmiah, dia berpikir soal nasib buruh. Dia bersama Enggels merumuskan Manifesto Komunis. Syahdan, Marx adalah orang yang memacu intelektualitasnya dengan berpikir di batasbatas keilmiahan. Sedangkan Muhammad seorang nabi. Dia kalau mau dibilang tidak punya “orisinalitas” pemikiran. Muhammad, orang yang menerima wahyu, dia seorang pembawa pesan.

Soal ini akhirnya jadi esensil. Banyak kemungkinankemungkinan terbuka. Kalau Muhammad seorang “pemikir” maka dia orang yang punya ruang otonomi menggunakan rasio. “Pemikir” apalagi dalam konteks modern, merupakan antitesa dari cakrawala bathin abad pertengahan. “Pemikir” dan seperti intelektualitas abad pertengahan “Perenung”, dua soal yang berbeda tolak ukur. “Pemikir” akibatnya adalah suatu “pemberontakan” terhadap otoritas wahyu yang menjadi sistem pengetahuan sebelum abad modern.

***

Kelas dimulai sekira pukul dua. Kawankawan agak telat. Saya dan Hajir, seperti biasa pergi menggandakan Kala. Selebaran ini sudah masuk bulan ketiga. Di edisi akhir Maret, Kala punya kolom baru; “Unjuk Rasa“.

Kolom ini sudah jadi “milik” Sulhan Yusuf. Nampaknya, dia sudah ditakdirkan menulis di sana, halaman terakhir KalaKalabukanlah media berita yang punya nama. Dan, memang Kalabukan media berita. Kala hanyalah mini buletin yang terbit setiap akhir pekan. Tapi, kolom “Unjuk Rasa” yang baru di Kala jadi semacam nilai jual. Pasalnya, di situ Sulhan Yusuf melahirkan ideidenya tiap akhir pekan. Di situ, kita bisa berjumpa “Sulhan Yusuf” yang lain.

Saya kira, di beberapa komunitas, Sulhan Yusuf bukan asing. Dia orang yang gampang dikenali. Ciri khas yang lekat dari beliau adalah kepala yang plontos. Kalau mau dibilang, hidup pria penggila Arsenal ini adalah dunia literasi. Dari mahasiswa hingga sekarang, hanya satu semesta tempat Sulhan menyatakan diri; dunia aktivisme. Makanya, contoh vulgar kayak bagaimana aktivispar excellence, Sulhan Yusuflah orangnya.

Aktivisme itulah yang dia niatkan untuk Kala. Dia sudah dibaptis untuk mengakar diri di kolom “Unjuk Rasa“.  Di tulisan perdananya, dia bilang ini jalan literasi yang bakal ditempuh. Kolom “Unjuk Rasa” sebidang rumah tempat dia datang karena merasa terpanggil. Menulis, bilangnya, adalah panggilan jiwa.

Karena itulah, di kolom itu kita bakal bertemu “Sulhan Yusuf” yang lain. Di situ bukan Sulhan Yusuf penggila Arsenal, bukan Sulhan Yusuf yang kerap jadi “murid” Guru Han, juga bukan seorang pimpinan Paradigma Institute. Di situ, “Sulhan Yusuf” sudah jadi pemikiran, ujud yang dirundung kenyataan, ditimpa soalsoal dan kembali bersuara, berunjuk rasa.

Makanya bisa dua hal terjadi di sana, di kolom “Unjuk Rasa“. Pertama, dari mata bulat Sulhan Yusuf, dia bisa memapar beragam kejadian. Dari matanya, dia bisa mewakili mata objektif orangorang. Menulis atas orangorang, juga merasai seperti orang kebanyakan. Matanya, atau perspektifnya adalah pengamatan yang berusaha masuk dalam dunia orangorang. Akibatnya, Sulhan harus jadi “orangorang kebanyakan”, dia harus objektif.

Atau, yang kedua, dari ruang bathin yang subjektif. Di sini, kemungkinannya jadi lain, di sini dunia objektif jadi surut. Di ruang bathin, Sulhan berlaku subjektif. Di ruang ini, Sulhan memiliki kemerdekaan berbuat apa saja. Tak ada yang punya hak intervensi di situ. Di dalam dimensi subjektifitas, Sulhan bisa menulis apa saja, mulai dari perkara pribadi sampai ihwal masyarakat. Mata bathinnya bisa berlaku surut atau maju menyoal masa silam atau masa depan. Karena itulah disebut unjuk rasa; menyuarakan segala soal dari dalam kepada khalayak. Suatu pernyataan sikap.

Di dua kemungkinan itulah kita bakal menjumpai “Sulhan Yusuf” yang lain. Dia bakal bergerak di antara suara orangorang banyak atau seorang yang mengambil suatu sudut di antara banyak orang. Dia bakal bermain di batas dua dunia, dunia subjektif, juga dunia objektif. Dia bakal menulis khalayak ramai faktafakta atau ihwal sunyi permenungan suatu jiwa.

***

Akhir Maret pekan yang terik. Kelas menulis PI ramai dengan pekik suarasuara. Kadang gema bibir kala gema aksara. Dari situ tulisan dibaca satusatu. Ini metode pertama kali dipakai. Mekanismenya, tulisan yang dibawa dibacakan sendiri untuk dikritik. Satu tulisan dibaca, satu tulisan dikritik.

Gema itu salah satunya datang dari dua tulisan; Arhi dan Heri. Mereka menyoal dua kasus berbeda, tapi siapapun membacanya pasti tahu, mereka sebenarnya sedang protes. Barangkali “protes” itulah benang merahnya. Sadar atau tidak, mereka jadi dua orang yang bersuara paling lantang atas tulisannya. Mereka sedang memprotes dunia “orangorang suci”; dunia pendidikan.

Arhi menyoal kebijakan pemerintah yang dianggap meliberalkan pendidikan. Atas itu dia tulis lengkap sejumlah aturanaturan. Mulai undangundang sampai peraturan presiden. Dari BHP sampai BLU. Di situ Arhi menulis sejumlah alasanalasan mengapa BLU perlu ditolak, selain karena privatisasi, juga liberalisasi. Arhi tulis “bolehkah kami bertanya, kapan kampus lebih baik dari peternakan anjing? Lebih baik dari pembuangan sampah? Tidak kebanjiran ketika hujan, dan tidak berdebu ketika kemarau? Tidak kepanasan ketika kuliah? Kapan biaya kuliah kami murah? Kenapa kami harus bayar mahal, tapi fasilitasnya tidak layak?

Heri, yang juga seorang mahasiswa, mengungkap faktafakta ganjil penyelenggaraan pendidikan di almamaternya. Dia bilang banyak bentuk diskriminasi dilakukan di sana. Dan, juga yang dia sebut ganjil adalah soal pungutan liar.  Jadi kasusnya soal sebentuk kegiatan yang dilakukan oleh pihak kampus kepada mahasiswa UKT. Sesuai aturan Pemendikbud No. 55 Tahun 2013, tidak ada lagi pungutan biaya bagi penyelenggaraan akademik berbasis uang kuliah tungal. Namun sayang, kegiatan itu membebankan sejumlah pungutan kepada mahasiswa UKT demi berlangsungnya kegiatan. Heri menulis, “hal ini musti dikritisi dan mendapat respon yang baik bagi kalangan mahasiswa sendiri, menyatukan suara dan berteriak tolak pungli.” Di akhir tulisannya dia menutupnya “Namun kita haris yakin bahwa penindas, cepat atau lambat akan binasa”.

Sebelumnya, Salman sudah dahulu bersuara. Dia tulis soal perilaku manusia yang merusak alam. Tulisannya mirip suara koor yang berteriak dibelakang panggung, bahwa aktivitas moralis pecinta alam, justru punya maksud lain. Atau digeser dengan maksud lain. Dia singgung soal brandbrand terkenal yang menciptakan trend mencintai alam, namun justru kental dengan unsurunsur kepentingan kapital. Mahasiswa alumni fakultas pendidikan ini, juga  sedikit menyinggung soal etika komunitas alam yang dinilai ambivalen dengan semangat ekologis yang sering jadi jargon.

Tapi, juga ada suara gema yang lain. Semacam kabar bahwa dunia bukan medan yang lurus, melainkan dunia yang landai, curam. Vivi, dengan prosa lirisnya bersuara soal peralihan perempuan muda yang secara transfiguratif menjadi seorang ibu rumah tangga. Fifi, menulis kesankesan peralihan dari seorang perempuan muda yang tibatiba mengemban suatu tanggung jawab keluarga. Dia mengungkap dunia kejiwaan perempuan yang beralih dunia. Perasaanperasaannya. Pekerjaannya kala sendiri mengurusi keluarga. Dan, di situlah kekuatannya, dia mengungkap sisi “keterasingan” seorang istri dari seorang suami yang sibuk dalam dunia kerja.

Retno Sari dan juga Marwa, merekam gema soal suara seorang perempuan yang tersakiti. Retno menulis deskripsi perempuan dengan analogi bungabunga. Di saat dia membaca tulisannya, implisit di situ parau suara perempuan yang bangkit dari semacam pengalaman traumatis. Retno bilang, dia sering mendengar curahan hati perempuanperempuan sekitarnya. Soal bagaimana suatu pengalaman kelam tidak membuat perempuan mendendam dan tersakiti, malah bangkit dan menjalani kehidupan selayaknya kehidupan normal. Suara semacam itulah yang dia tulis, dengan analogi bungabunga.

Marwa, perempuan yang mengemas suaranya lewat fiksi. Teksnya adalah kritisisme perempuan atas idealisme intelektual. Dia nyatakan ambivalensi yang dia rekam. Di kampus, tempat kala menara ilmu jadi tinggi, idealisme sudah jadi barang usang. Idealisme hanya jadi bahasa lantai, atau bahasa jalan raya yang diinjak dan berlalu begitu saja. Kampus, hanya kumpulan suarasuara tengik omong kosong. Di sana, idealisme, entah di atas mejameja birokrat, atau di bukubuku mahasiswa hanya kecerdasan yang disembelih oleh sikap amoralis.

Tapi, di baitbait puisinya, Marwah masih menaruh harap. Terutama kepada orangorang yang harus tercaci maki. Orangorang yang menempuh jalan kecil. Orangorang yang mungkin cuman seorang dua orang, orangorang yang hanya dihitung jari. Orangorang yang punya mimpi besar, dengan gagasan besar. Orang “yang menempuh jalan yang kecil meskipun harus tercaci maki.”

***

Muhajir memacu motornya. Suara knalpot setengah bocor itu membelah jalan Pabbentengang. Saya sedari awal yang diboncengnya duduk memegang selebaran Kala. Kami memang sudah dua minggu ke tempat yang sama menggandakan Kala. Di siang itu, dengan Kala yang tintanya belum kering betul, melaju ke tempat kelas literasi PI digelar; TB Paradigma Ilmu. Di situ kami yakin sudah ada kawankawan menunggu.

Hajir menarik tali gasnya panjangpanjang. Motornya meraungraung. Dan, siang masih terik. Ini hari yang bakal panjang.

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).