Hari minggu, umumnya kota-kota di Sulawesi Utara sepi nyaris senyap. Demikianlah, suatu pagi sekira matahari sudah mulai menanjak ke perempat depah. Lambungku mulai minta dijamah penganan untuk melanjutkan kehidupan. Jalan-jalan kususuri di kota mungil tempatku bermukim secara tidak menetap. Setelah berkeliling beberapa saat dalam sepi, aku menemukan sebuah warung yang berukuran relatif mungil pula. Kendaraan kutepikan tak jauh dari warung yang hendak kutuju.

Ruang kecil berukuran sekira tiga kali dua setengah meter. Hanya dimuati tiga buah meja plus bangku kayu yang masing-masing hanya memuat dua orang pengunjung. Jadi, paling banter hanya bisa memuat pelanggan atawa pengunjung sebanyak enam orang. Seorang ibu berusia senja menyambutku dengan senyum super ramah. Rona wajahnya menampakkan kebajikan dan bening matanya mengundang kasih.

Setelah kupelototi rupa-rupa penganan yang tersaji di warung ini, aku memilih nasi putih, sayur pakis atawa sayur paku, ikan cakalang rica dan ikan tude masakan woku khas Sulawesi Utara. Sembari menikmati sarapan pagi sekaligus makan siang, aku berbincang panjang lebar dengan pemilik warung. Dengan senyum yang terus mengembang, ibu yang bernama lengkap Maemuna Tololiu, disapa bunda Mun, bercerita bila warung mungilnya ini telah dikelolanya selama berpuluh tahun. “Warung kecil inilah yang menghidupi kami selama ini. Bahkan, alhamdulillah telah membawaku ke tanah suci tiga kali, sekali pada tahun 2011 aku diberi rezki oleh Tuhan lewat warung ini dengan menabung sedikit demi sedikit untuk menunaikan ibadah Haji, dan dua kali Umroh pada tahun 2012 dan tahun 2013 berturut-turut,” dakunya.

Di matanya nampak kebahagiaan yang memancar mewarnai seluruh geraknya. Perempuan sederhana yang telah lama ditinggal suami tercinta, dan hidup sebagai single parent, manafkahi putra-putrinya bersama seorang “pembantunya” yang menemaninya sekian lama di warung pembawa berkah itu. Putra putrinya tiga orang. Yang sulung telah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di kota Manado sebagai arsitektur, yang menamatkan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi di kota tempatnya bekerja kini. Putra yang kedua sedang kuliah di kota kelahiran ibunya, di kota Makassar, sedang yang ketiga masih duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota kelahirnya sendiri.

“Hidup ini harus kita jejaki dengan jujur, sederhana, berpikir positif, selalu menghargai orang tanpa pamrih, berlaku baik dan bajik pada sesama. Insha Allah hidup kita akan mabbarakka’ (berkah)”, ujarnya, pun sederhana. Melalui kalimat-kalimat pendek dan sederhana yang disampaikan, Ibu Maemuna Tololiu mengingatkan kita pada pesan-pesan para bijak bestari, pada zaman kala hidup belum sesemrawut seperti saat ini. Kala media sosial belum segencar sekarang. Di mana caci maki atas nama agama, politik, dan intrik ekonomi lainnya bak nyanyian bulu perindu yang senantiasa mengundang gundah. Bagai candu yang mengasyikkan, bila tak memaki dan mencaci terasa ada yang kurang dalam hidup kita. Penghasilan pun kita raih seolah tanpa tahu dari mana asalnya, ia bajik atau tak. Atau paling tidak kita tahu bila sumbernya “abu-abu” namun kita pun berpura-pura tidak tahu.

Ibu Maemuna, tidak tamat dari sekolah rakyat di tahun lima puluhan, namun ia dapat memahami arti hidup secara substansial. Bahwa hidup ini mesti memberi manfaat yang baik kepada orang di luar diri kita. Paling tidak pada keluarga secara bertanggung jawab. Sebab, sekecil apapun laku kita akan berpengaruh secara psikologis dan sosiologis pada orang-orang dan alam di sekitar kita. Tengoklah negeri ini, bagaimana rakyat secara masif melakukan replikasi laku dari para “petinggi”. Ibarat kata pepatah yang telah hampir usang karena seringnya di pakai, “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Bagaimana laku korupsi direplikasi dari atas ke bawah. Bahkan di bidang-bidang tertentu di pemerintahan, bawahan harus menyerahkan setoran pada atasan. Tanpa sadar kita pun menyuguhkan rezki yang tak bajik pada keturunan dan generasi pelanjut kita. Bagaimana mungkin generasi pelanjut ini bisa berkembang dengan psikologi yang bajik bila sumber-sumber benih telah diracuni sejak dini.

Berbahagialah, Bunda Mun. Sebab sekecil apa pun jasamu pada negeri ini dan mungkin tak ada yang menghitungnya, tapi engkau telah menghidupi anak-anak dengan jalan bajik dengan jalan yang sangat sederhana. Menghidupi anak-anak dengan rezki halalan toyyibah. Rezki yang halal dan baik. Engkau telah memahamkan ke kami bila hidup ini tak terlampau panjang. Kata para pejalan di jalan sufi, “hidup ini, ibarat berteduh sejenak di bawah pohon dari mentari yang menyengat, setelahnya kita berangkat berpulang”. Sangat sejenak, dan terlupakan secara masif pula.

Sebelum aku meninggalkan warung Bu Maemuna, kusempatkan mengamati beliau dalam melayani pelanggannya. Mulai dari tutur kata hingga gerak gestur tubuhnya yang telah menua nampak sangat santun dan ramah. Jauh dari kepura-puraan sebagai pelaku bisnis yang sekadar ingin nampak ramah agar menarik pelanggan dan mempertahankannya.

Hidup ini mabbarakka’ bila dilakoni apa adanya. Tarik menarik antara kebajikan dan keburukan akan berlangsung terus menerus hingga jasad dan ruh terpisah di ujung kehidupan seseorang. Kata para bijak, di situlah letak proses kontemplasi dan muhasabah kita lakukan dalam menegakkan sholat lima waktu dengan waktu yang sangat rigit. Bila momen ini dapat dikelola dengan baik maka jejak-jejak yang kita toreh secara alamiah terdedahkan pada niat, ucapan, sikap dan laku yang pun, akan memberkahi bukan hanya diri kita tapi juga keluarga dan sekeliling kita. Kata Imam Al Gazali, Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan.

Jadi, mulailah kebajikan dari hal-hal kecil dari diri kita sendiri. Jangan menunggu orang lain dan sekitarmu. Bila laku-laku bajik walaupun kecil terejawantah pada setiap jejak kita, benih-benih kebajikan akan menyemai pada setiap jejak yang kita toreh sepanjang usia kita yang tersisa. Filosof China, Lao Tze berpesan, “Perjalanan seribu langkah dimulai dari satu langkah kecil”.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *