Boleh dikata, sekarang semua mata dan telinga tertuju pada Pilkada Jakarta. Dari media cetak sampai ke media sosial. Berbagai macam berita, wacana, analisis, ataupun status (cerdas dan culas) mengisi lembaran kertas pemberitaan dan layar kaca. Jadilah Jakarta sebagai pusat pergumulan politik negeri ini. Dari banjir hingga label kafir. Dari puisi hingga analisis mimik wajah. Dari kuli gerobak sampah sampai gosip keluarga. Pokoknya semua dihubung-hubungkan. Dan hampir kita semua membingkainya dalam wajah politik. Entah kita paham atau tidak. Soalnya tak pernah jelas, kita tak pernah benar-benar selesai dalam diskursus politik. Apa yang sampai di kepala kita hanyalah jejak-jejak yang ditinggalkannya. Mungkin saja kan?

Dengan demikian, politik senantiasa adalah laku yang muncul secara spontan dalam arena pertarungan calon pemimpin negeri ini. Laku inilah yang menjadi penanda bahwa kita sebenarnya telah jatuh dalam genangan dunia politik kaum elit. Tanpa definisi, apalagi motif politik, pokoknya kita ikut saja dalam bingar dan meriah yang lahir dari gelanggang politik. Segala receh dan ocehan pun lahir. Maka benarlah perkataan teman saya, bahwa manusia memang adalah homo politicus.

Takalar, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, juga akan melakukan pemilihan kepala daerah pada 2017 mendatang. Meskipun tak seramai Jakarta, saya kira, penting untuk memberikan secuil ‘sentuhan’ politik untuk kemeriahan daerah ini. Hitung-hitung jadi ‘arena’ yang sehat dan laboratorium sederhana untuk anak-anak muda pemilih awal ‘menimbang sedikit perspektif’ (dan para politikus muda) yang dengan begitu saja terjun tanpa kendali.

***

Kemarin aku diberi buku oleh seorang senior. Buku esai politik karangan Hersri Setiawan yang berjudul ‘Aku Eks Tapol’ (dengan warna merah pada ‘Aku Eks’ dan warna kuning pada ‘Tapol’). Sepintas, warna itu hendak menggambarkan sedikit isi buku itu, di mana pertarungan antara PKI atau partai yang berhaluan paling ‘kiri’ dalam sejarah perpolitikan di Indonesia, dan kuning sebagai wajah Golkar atau partai yang ditunggangi oleh orde baru yang militeristik.

Senior saya menyarankan membaca buku tersebut, mungkin karena penulisnya punya gaya menulis esai yang unik. Dan memang betul. Si Hersri cukup lihai dalam membungkus esainya. Misalnya pada esai pertama berjudul ‘Ajo Bung’. Dia dengan luwes bercerita tentang pengalaman belajar di sekolahnya dengan bicara tentang sejarah politik Bung Karno. Bagaimana seorang anak muda ‘berpolitik’.

Saya menangkap, seorang anak muda seperti Soekarno, dalam tulisan ini, adalah seorang yang sedang mereproduksi makna kata dan menciptakan istilah-istilah baru dalam perbendaharaan kata di Indonesia. Bagaimana dia memberi makna pada sebuah istilah yang punya muatan politik sosial. Bagaimana segala imajinasi politiknya adalah semata-mata memperjuangkan kemerdekaan bagi rakyat tertindas.

Istilah ‘Bung’ yang selalu melekat di depan nama ‘Karno’, dalam sejarah Indonesia, sangat jarang tertulis pada zaman muda-mudi Budi Utomo. Sebutlah pada beberapa tokoh sejarah Suwardi-Cipto-Douwes Dekker, dan juga tidak pernah terlihat tersemat pada nama-nama para pemimpin komunis seperti Semaun, Darsono, ataupun Tan Malaka. Istilah itu hanya menjadi ciri khas dan mendapatkan muatan maknanya pada ‘Bung Karno’.

Menurut Setiawan, di dalam kata ‘Bung’ terkandung arti dan seruan semangat persaudaraan, persamaan, dan kemerdekaan. Dengan tampil sebagai ‘Bung’ ia menjembatani jarak yang terentang antara Soekarno yang insinyur dengan ‘marhaen’ yang petani gurem. Hal serupa juga dilakukan Soekarno dalam menjelmakan istilah lain seperti ‘marhaen’, ‘Pancasila’, ataupun ‘merdeka’. Semua istilah itu masing-masing punya makna dan muatan politis yang hidup dalam kehidupan rakyat Indonesia.

Saya tak tahu pasti, apakah Soekarno muda membaca pikiran-pikiran Schleiermacher (1768-1834) yang mendasarkan pemahaman sebagai upaya ‘berempati’, dengan demikian peduli pada realitas sosial. Pemikir romantisme Jerman ini senang bermain-main dengan teks-teks kitab suci, hukum, dan filologi. Berharap menghadirkan kondisi psikologis penulis daripada sekadar makna harfiah teksnya. Secara sepintas, seperti tokoh hermeneutika di atas, kegiatan interpretasi teks oleh Soekarno dimaksudkan untuk melampaui literalisme. Bagaimana dia mereproduksi makna dan mengabaikan makna harfiah sebuah teks, sehingga dengan berlebihan dianggap merampas makna teks oleh para budayawan orde baru.

Tentu saja pikiran Karl Marx dan marxisme tidak bisa dipisahkan dari pribadi anak muda Soekarno. Jadi tidak ada salahnya dong, kalau ada yang ngaku politikus, berkorbanlah sedikit untuk membeli Das Capital. Atau kalau kepala puyeng hanya dengan melihat ketebalan dan analisis ilmiah di dalamnya, paling tidak membaca Manifesto Komunis saja. Tipis. Karangan Karl Marx dan Friedrich Engels. Artikel singkat ini sama nilainya dengan berjilid tebal utuh, yang menurut Lenin, semangatnya mengilhami dan menggerakkan proletariat yang terorganisasi dan berjuang di seluruh dunia beradab. Tebalnya 23 halaman. Terbit pada tahun 1848.

Kegiatan berpolitik Soekarno muda juga adalah kegiatan menghimpun kawan-kawan dalam pusaran intelektual. Bagaimana mereka berproses. Bagaimana mereka membaca dan menerjemahkan pikiran-pikirannya dalam realitas politik. Tengoklah bagaimana dia dan beberapa sahabatnya merumuskan ‘Ajo, Boeng!’ yang pada waktu itu menjadi ikon pada awal revolusi pemuda. Resobowo, yang diceritakan kembali oleh Setiawan, Soekarno hanya bilang pada sahabatnya, S. Sudjojono, ‘Buatlah satu poster yang sederhana, tapi kuat, untuk membangkitkan semangat pemuda’. Lalu pesan itupun disampaikan kepada Affandi yang kemudian diterjemahkan di atas kanvas dengan lukisan ‘satu tinju menghadap ke atas’. Kemudian datang Chairil Anwar, yang baru saja pulang dari Pasar Senen. Chairil diminta memberikan semacam kata-kata yang bisa menguatkan makna dari gambar tersebut sebagai captionnya. Dan dengan spontan saja, dari mulut Chairil keluar kata-kata ‘Ajo, Boeng’.

Dengan demikian, kegiatan berpolitik yang dihadirkan Soekarno adalah samacam laku intelektual yang hampir keseluruhan isinya adalah proses panjang. Proses yang melibatkan intensi pengetahuan dan persahabatan yang juga dibangun di atas fondasi kuat imajinasi politik. Bagaimana mereka menerjemahkan suasana psikologis dan sosial masyarakatnya pada waktu itu. Bagaimana mereka menangkap suara hati bangsa dan tanah airnya. Bagaimana cinta ditumbuhkan dengan kerja-kerja yang nyata, yang punya proyeksi masa depan.

***

Anak muda Takalar, yang kebetulan akan terlibat dalam arena politik Pilkada Takalar, adakah yang seperti Soekarno dan kawan-kawannya? Terutama anak muda yang juga kebetulan terlibat pada partai politik ataupun yang mencita-citakan aktivitas politik yang sehat. Aktivitas yang memungkinkan dirinya bergumul secara intens di masyarakat. Anak muda yang banyak terlibat pada gerakan pencerdasan masyarakatnya.

Atau mungkin, politik yang dihadirkan adalah wajah politik musiman. Di mana politik adalah ‘kerja untuk atasan’. Politik adalah bagaimana saling mengadu domba dan menyebar fitnah yang memuat kebencian. Atau politik yang mencari cara memenangkan proyek dan tender program pemerintah. Politik yang menjelmakan ‘persahabatan’ hanya sebatas segelas kopi atau sebungkus rokok. Kita bicara seberapa banyak uang. Seberapa banyak suara. Itukah wajah politik kita wahai anak muda?

ditulis oleh

Syahrul Alfarabi

Pernah Aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah Takalar. Laki-laki penyuka kopi dan buku.