Gerilyawan pemberontak memasuki desa itu pagi-pagi sekali. Mereka membawa senjata, juga wajah yang murka. Langkah mereka tergesa menuju area persawahan. Di sana penduduk tengah menggelar upacara turun sawah, pertanda dimulainya musim tanam. Kali ini upacara digelar alakadarnya, lantaran sebelumnya telah ada perintah disertai ancaman dari gerilyawan untuk tidak menggelar upacara semacam itu. Gerilyawan menyebut ritual tersebut sebagai “upacara sesat” yang bertentangan dengan ajaran agama. Para gerilyawan memang mendaku diri sebagai pejuang agama.

“Upacara itu dimaksudkan untuk memuliakan padi, agar padi juga memuliakan manusia,” kata Kepala Kampung. “Padi adalah makhluk Tuhan yang penuh manfaat. Memuliakannya merupakan wujud kesyukuran kita pada-Nya yang telah menciptakan padi.”

“Tapi kenapa gerilyawan melarang dan malah menyebutnya sesat?”

“Itu karena ilmu mereka tak menjangkaunya, sementara mereka mendaulat dirinya sendiri sebagai penguasa kebenaran.”

Tahun ini, Kepala Kampung ingin upacara digelar secara sembunyi-sembunyi di suatu tempat yang kira-kira tak bisa diendus para gerilyawan. Namun, sejumlah penduduk keberatan. Mereka nekat melanggar perintah gerilyawan, apapun resikonya.

“Hanya pencuri yang melakukan pekerjaannya dengan sembunyi-sembunyi. Dan kita bukan pencuri, bukan?” kata lelaki satu yang didukung oleh yang lain.

“Tapi itu berarti nyawa kita berada di ujung peluru gerilyawan,” sela Kepala Kampung.

“Apa yang sudah diberikan para gerilyawan itu kepada kita selain kematian? Sementara, padi-padi itu telah mempersembahkan kehidupan bagi kita,” kata seorang perempuan.

“Betul!” seru lelaki dua, “Mengikuti kehendak gerilyawan sama saja kita memuliakan kematian. Sementara menggelar upacara berarti kita memuliakan kehidupan.”

Si Kepala Kampung akhirnya tak berdaya mencegah keinginan penduduk. Tapi ia menegaskan hanya mau memimpin upacara asalkan dengan sejumlah syarat.

“Pertama, cukup kaum lelaki yang boleh hadir, itu pun jumlahnya dibatasi. Kedua, kita menggelar upacara dengan sederhana, tanpa tari-tarian, tanpa tabuhan gendang, sebagaimana biasanya. Nyanyian dan doa hanya boleh diucapkan dengan suara perlahan. Dan ketiga, upacara kali ini kita gelar di awal pagi setelah sembahyang subuh.”

Begitulah akhirnya upacara diselenggarakan. Bersahaja, tak meriah, namun penuh hikmat. Benih pun ditaburkan ke persemaian, doa-doa dipanjatkan, nyanyian dilantunkan:

 

O induk padi

Pada rahimmu kami menitip harapan

Kiranya anakmu tumbuh rupawan

O induk padi

Jangan biarkan anakmu terlantar dan penyakitan

 

Dan ketika nyanyian itu usai didendangkan, tetiba saja terdengar salakan senjata disertai langkah menderu ke arah hadirin. Sejumlah hadirin yang panik dan berupaya melarikan diri, seketika itu juga terhenti langkahnya oleh terjangan peluru, yang membuat hadirin lain membatalkan niatnya untuk kabur. Lima hadirin tertembak di bagian kepala, seorang di bagian leher, dan tiga lainnya di bagian dada. Semuanya tewas seketika.

Hadirin yang masih selamat, lantas digiring ke halaman langgar di tengah perkampungan. Benih-benih padi di persemaian dihancurkan oleh gerilyawan, sementara tiga gubuk sawah yang berdiri di sekitar situ dibakar. Komandan gerilyawan membanting segenggam benih ke wajah seorang hadirin yang telah menjadi mayat. Dengan laras penuh lumpur, sang Komandan menginjak-injak benih itu di atas mulut si mayat lantas menimpalinya dengan ludah dan umpatan:

“Makan itu di neraka sampai perutmu kenyang!”

Gerilyawan mendobrak pintu rumah-rumah penduduk dan memaksa penghuninya keluar dan berkumpul di halaman langgar. Di tempat itulah para gerilyawan menyiksa hadirin upacara dengan pukulan dan sepakan. Si Kepala Kampung yang tadi memimpin upacara, digantung dengan posisi terbalik. Tubuhnya dihujani cambukan rotan, disemprot dengan makian “murtad” dan “kafir”, sementara mulutnya disumpal benih hingga sesak. Siksaan kepada orang tua itu baru dihentikan ketika nyawanya hanya tersisa kira-kira sepuluh persen.

***

Hama mengganas. Tikus, babi, serangga, dan ulat, menghancurkan segalanya. Gagal panen berlangsung di mana-mana. Bencana kelaparan datang, menimpa tidak hanya penduduk di desa-desa, tetapi juga para gerilyawan yang bersembunyi dalam belantara. Para gerilyawan terpaksa memakan dedaunan dan umbi-umbi liar di dalam hutan.

“Betapa celakanya kita kalau akhirnya mati karena kelaparan, bukan lantaran bertempur,” kata sang Komandan.

“Kita tak akan mati kelaparan, Komandan, sepanjang sawah-sawah di desa kaum murtad itu tetap makmur.”

“Ya. Tapi itu pulalah yang kini mengganggu pikiranku.”

“Ada masalah apa, Komandan?”

“Gagal panen melanda seluruh desa, kecuali desa itu. Kau tahu kenapa?”

“Kenapa, Komandan?”

“Upacara sesat yang mereka gelar diam-diam itu sudah pasti menyenangkan hati iblis. Si iblis menerima dengan bahagia permohonan dan sesembahan mereka. Sebagai balasannya, iblis melindungi sawah mereka dari hama.”

“Terkutuklah!”

“Padi yang mereka panen itu tumbuh dan dirawat oleh tangan kotor iblis.”

“Padi terkutuk!”

“Ya, benar. Hanya saja—”

“Hanya saja apa, Komandan?”

“Padi terkutuk itu dibutuhkan oleh pasukan kita supaya kuat bertempur.”

“Sialan!”

Keduanya hening sejenak.

“Namun, bukankah yang terkutuk bisa menjadi suci kalau situasinya darurat?”

“Setuju, Komandan!”

Demikianlah, dan pada suatu malam yang gulita para gerilyawan menyerbu desa itu. Tapi kali ini aksi mereka tak berlangsung mulus lantaran penduduk telah siap sedia. Penduduk yakin betul gerilyawan yang kelaparan itu sekali tempo akan menyerbu desa mereka demi menjarah hasil panen. Karena itu, jauh-jauh hari penduduk telah mempersiapkan senjata, mendirikan menara-menara pemanah, dan membuat parit-parit jebakan yang dipasangi ranjau bambu runcing.

Sungguh, para gerilyawan tak menyana akan mendapat sambutan sedahsyat itu. Keadaan bertambah genting bagi gerilyawan setelah sepasukan tentara pemerintah tetiba saja muncul. Komandan gerilyawan lekas memutar otak. Dalam keadaan terdesak, ia memerintahkan sebagian anak buahnya bergegas melarikan karung-karung beras atau apa saja yang bisa dirampas, sementara yang lain melayani gempuran musuh.

Serangan yang membabi buta membuat pasukan gerilyawan tewas satu per satu. Beberapa yang coba melarikan karung beras juga tak luput dari terjangan peluru yang membuatnya tersungkur bersimbah darah sementara karung beras menindihnya. Pada akhirnya, tiada pilihan paling masuk akal bagi sang Komandan selain berteriak: “Munduuuuuur!”

***

Sang Komandan tak bisa menyembunyikan kesedihannya mendapati pasukannya telah berkurang separuhnya. Sebagian tewas, sebagian yang lain tertangkap. Ini adalah rekor paling buruk bagi sang Komandan selama memimpin operasi tempur. Lelaki itu terus tertunduk sementara airmatanya berjatuhan.

“Aku tak pernah sesial ini.”

“Makanlah dulu, Komandan, supaya tenaga Anda pulih kembali.”

“Pantang lidahku menyentuh makanan sampai airmataku yang paling sedih keluar bercucuran.”

“Aku baru tahu kalau ada airmata semacam itu, Komandan.”

“Itu karena kau terlalu lama dalam hutan. Dasar bodoh!”

Dari penyerangan tadi, gerilyawan tidak hanya membawa kabur lima karung beras dan dua karung jagung, tapi juga sempat menggondol dua puluh satu ekor ayam, tiga belas ekor itik, dua kantong besar ikan kering, dan seekor kambing. Beberapa saat setelah tiba di tempat yang aman, para juru masak lekas memasak hasil rampasan. Kekalahan telak dalam pertempuran barusan kelihatannya juga akibat perut pasukan yang keroncongan. Rasa lapar yang tiada terperi membuat mereka makan begitu rakus. Nasi hangat yang wangi serta kambing guling yang menggoda membuat mereka sejenak melupakan kesedihan ditinggal pergi kawan seperjuangan.

Setelah merasa airmatanya yang paling sedih telah tumpah, dengan langkah malas sang Komandan menghampiri makanan yang telah disiapkan untuknya. Ia menyantap makanan itu dengan tanpa gairah. Wajah anak buahnya yang telah tiada hadir satu per satu dalam renungannya. Ia merindukan si anu yang kepalanya busuk penuh kutu, juga si anu yang pandai membual, juga si anu yang pendiam tapi berani, juga si anu, juga si anu, juga si anu. Ah!

Teringat akan itu semua membuat airmata yang paling sedih kembali membasahi pipi sang Komandan. Mendadak tangannya bergetar dan sejurus kemudian membanting piring berisi nasi dan kambing guling. Lelaki itu lantas berdiri, kemudian bergegas menuju periuk berisi nasi, lalu menendang periuk itu sekuat tenaga, sambil memaki: “Terkutuklah!” Periuk melayang jauh sebelum akhirnya membentur sebatang pohon, sementara nasi di dalamnya berhamburan.

***

Malam itu sang Komandan mendadak sakit perut. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mengiris-iris lambung dan ususnya. Anak buahnya lekas membuat ramuan obat dari pucuk daun jambu batu liar. Untuk beberapa saat perut sang Komandan menjadi enteng. Tapi tak lama setelah itu, sang Komandan meringis lagi sambil berguling memegangi perutnya. Buru-buru ia minta dipapah menuju semak belukar. Sesuatu hendak muntah dari duburnya.

Tiga hari tiga malam sang Komandan disiksa oleh mencret. Ia nampak kehilangan tenaga. Bibirnya pucat, matanya cekung. Apapun yang masuk ke dalam perutnya akan segera keluar menjadi berak encer. Ramuan daun jambu batu tiada faedahnya, juga ramuan kunyit putih, pun ramuan yang lain. Hari keempat, sang Komandan hilang kesadaran dan dikira ajalnya sudah datang. Ayat suci dibacakan menyambut kehadiran malaikat maut. Tapi menjelang tengah hari, ia mendadak siuman dan dengan suara pelan ia berkata: “Bawa guruku ke mari.” Usai mengatakan itu, ia pingsan kembali.

Tanpa buang-buang waktu, lima anak buahnya bergegas ke desa itu, bermaksud membawa guru sang Komandan yang tiada lain adalah si Kepala Kampung. Sang Komandan dulunya murid si Kepala Kampung mengaji agama di langgar. Semenjak bergabung dengan kaum gerilyawan, sang Komandan berbalik membenci gurunya. Ia menuding gurunya bertanggungjawab atas tetap lestarinya kepercayaan nenek moyang yang mencemari ajaran agama.

Ketika lima gerilyawan itu datang, si Kepala Kampung tengah duduk sendirian di gubuk sawahnya. Seorang dari gerilyawan mengutarakan maksud kedatangan mereka dengan penjelasan yang padat tanpa menyia-nyiakan tempo, dan selepas itu melanjutkannya dengan berkata:

“Kami memintamu dengan baik-baik untuk ikut, dan kalau kau tak bersedia, maka kami harus membawamu dengan paksa.”

“Sudah kegemaran kalian memaksa-maksa orang. Tapi, ya, sudah. Aku bersedia ikut. Namun sebelum berangkat, tolong ambilkan tujuh batang padi muda itu,” kata si Kepala Kampung.

“Kau jangan bercanda, Orang Tua. Di dalam belantara tak ada sawah buat ketujuh batang padi itu.”

“Aku tak sebodoh yang kau sangka, Anak Muda. Ketujuh batang padi itu buat ramuan obat. Ambil dan bawalah, atau sejarah akan mencatat komandan kalian tewas karena mencret.” []

Makassar, 20 September 2016

The following two tabs change content below.

Alto Makmuralto

Bergiat sebagai penulis, aktivis, dan entrepreneur. Ketua Umum PB HMI (MPO) tahun 2011-2013

Latest posts by Alto Makmuralto (see all)

Alto Makmuralto

Bergiat sebagai penulis, aktivis, dan entrepreneur. Ketua Umum PB HMI (MPO) tahun 2011-2013

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *