Dia perempuan tua, di belantara sunyi. Dia tinggal di sebuah rumah yang lebih mirip kubus dari tumpukan batu bata. Dalam rumah tersebut, dia bersama dua anak lelakinya, dan seorang anak perempuan. Hampir setiap hari, dia hanya duduk-duduk pada satu-satunya kursi rotan di halaman rumahnya. Dua anak lelakinya datang begitu saja, setelah mereka lari dari rumah ayahnya yang memiliki istri muda, terlunta di jalan, barulah mengingat perempuan yang telah melahirkannya. Sementara, seorang lagi anak perempuan yang baru berusia 10 tahun. Dia masih terlalu kecil, dan nyaris tak tahu apa-apa selain berlarian telanjang dada kala hujan menitik satu-satu, lalu membentuk genangan coklat, bersama teman-teman sebayanya.

Tak ada yang tahu pasti, siapa laki-laki yang menjadi ayah ketiga anak tadi, dan alasan mereka pisah atap. Para tetangga sepertinya enggan membicarakan hal tersebut. Mereka lebih tertarik pada tanggal jatuh tempo setiap utang yang mereka peroleh dari perempuan tua ini. Dia memang terkenal sebagai satu-satunya tempat pulang saat para warga kampung, dililit utang. Orang-orang terlanjur disibukkan mengumpulkan uang dan segera menyetornya agar tak ditimpa denda seberat tangga. Pun kedua anak lelakinya. Aso, anak tertua yang menurut desas-desus pernah seatap dengan ayahnya, lebih memilih bungkam jika ditanya. “Pintarja cari uang biar tidak ada bapakku.” Demikian dia berkilah.

Sementara Naba, putra keduanya tergolong susah diajak komunikasi. Hidupnya bagai kalong. Siang dihabiskan berpeluk bantal guling, dan malam diisi dengan mabuk-mabukan. Beserta mata memerah, dan kata-kata yang melesat bak peluru, dia kerap kali berbuat onar. Telah banyak warung kelontong warga dirusak, dan kaca-kaca rumah akan pecah jika ada yang berani menegur dirinya. Pun jika kedapatan mencuri barang-barang warga untuk dijual, semua bungkam saja. Dalam benak kebanyakan warga, ada Daeng Baji, ibunya yang siap menanggulangi semuanya.

Selain meminjamkan dan membungakan uang, Daeng Baji terkenal pula karena anak keduanya ini. Warga yang merasa dirugikan oleh kelakuan Naba, selalu akan meminta ganti rugi padanya. Menurutnya, selama para warga masih berutang padanya, maka dia bisa saling memotong saja kerugian tersebut saat utang warga jatuh tempo. Baginya, yang semacam itu terbilang sebagai penolak bala, atas sikap anak keduanya tersebut. Dia mengandaikan semacam cuci tangan di pancuran sehabis menyentuh kotoran sapi.

Tiga pekan terakhir ini, nama Daeng Baji naik daun lagi. Hal ini bermula dari desas-desus yang merembes di bibir tetangga dekatnya bahwa dia akan menikah lagi. Informasi ini berkejaran sangat cepat sampai ke warga terjauh. Orang-orang mulai bertanya-tanya perihal lelaki yang akan menikahi Daeng Baji di usia yang tidak muda lagi. Akhirnya tersiar kabar, calon suaminya adalah seorang pemuda yang sedang digandrungi gadis-gadis muda. Pemuda ini pernah bekerja di rumah Daeng Baji sekitar seminggu, memperbaiki atap dan tembok rumah yang bocor. Diam-diam Daeng Baji menaruh perasaan yang dalam pada pemuda tersebut. Dibuktikan dengan perhatiannya untuk hal-hal sepele semisal menyiapkan makan siang, dan membekali pemuda ini makan malam jika waktu kerja usai. Sering pula, dia mencucikan baju kerja yang ditinggalnya menggantung di belakang pintu, walau kotornya berlapis-lapis.

Awalnya, anak-anak Daeng Baji menganggap ini sebuah suguhan melankolik seorang yang terpantik naluri keibuannya saja. Tetapi, lama-kelamaan, Naba merasa ini tak wajar. Sebab ibunya lebih sering menjadikan pemuda ini buah bibir, ketimbang dirinya, kendati keonarannya dibuat melangit. Pun dengan Aso. Dia merasa iri, gara-gara sedari awal dia telah unjuk diri sanggup memperbaiki atap dan dinding bocor asal dibayar, tetapi ibunya menolak. Daeng Baji telah beberapa kali ditipu oleh anak pertamanya ini, itulah alasan terkuatnya menolak kesanggupan Aso. Kekesalan Aso, menjadi-jadi melihat ibunya sangat perhatian pada pemuda tadi. Inilah kali pertama Aso dan Naba bekerja sama mengatur siasat mengusir pemuda itu dari rumahnya. Lain halnya Lala. Justru dialah yang menjadi kurir untuk persoalan hati ibunya, seperti mencari tahu apakah Si Pemuda telah berberes pulang saat sore, dan Daeng Baji akan bergegas pula menyalin baju, memoles wajah dengan bubuk bedak putih, dan berbasa-basi dengan pemuda tadi sebelum beranjak pulang. Dia masih terlalu muda untuk paham persoalan rasa yang merekah di taman hati ibunya. Tetapi sudah sangat cekatan jika ditugasi ini itu.

Daeng Baji dari awal telah memperkirakan, Aso dan Naba pasti akan kesal jika mereka tahu duduk persoalannya. Namun karena rasa yang membelukar itu, dia tak ambil pusing. Malah, sekarang dia mencari jalan untuk mendapatkan pemuda tersebut. Sebab kesimpulan awalnya, pemuda itu memandangnya tak lebih dari seorang perempuan tua, seusia ibunya. Dan mengingat hal tersebut, serasa ada sebiji salak mengganjal di tenggorokannya. Meski begitu, cintanya telah sedemikian menyala.

Lantaran rindu yang basah, dan pemuda itu tak bekerja lagi di rumahnya karena ulah kedua anak laki-lakinya, dia jatuh sakit. Mengigau hampir sepanjang hari. Di waktu semua yang datang menjenguknya mengatakan dia sekarat, dia akhirnya mengajukan satu permintaan. Daeng Baji ingin pemuda itu datang menjenguknya. Orang-orang yang kasihan padanya akhirnya mencari pemuda tersebut.

Dia datang di suatu sore, saat hanya ada Aso, Naba, dan Lala di sampingnya. Melihat kehadiran pemuda ini, Daeng Baji tiba-tiba bugar. Dia menyuruh pemuda tersebut duduk di salah satu sudut pembaringannya, sementara dia menopang punggungnya dengan beberapa bantal yang disusun merapat ke dinding. Lama mereka saling terdiam.

“Ayo kita menikah!!!” Demikianlah Daeng Baji memecah sunyi.

Pemuda tersebut tergagap mendapat serangan tiba-tiba. Saat perasaannya telah terkendali, dia lantas menolak. Tetapi Daeng Baji telah mempersiapkan segalanya. Dia mengambil sebilah pisau yang disembunyikan di balik bantalnya, dan mengancam akan bunuh diri jika tak dinikahi. Melihat kondisi tersebut, pemuda ini tak punya pilihan lain. Dia akan menikah dengan perempuan seumuran ibunya. Untuk peristiwa ini, Aso dan Naba mengutuk keras perbuatan dan keputusan ibunya. Sejak hari itu, kembali Aso dan Naba meninggalkan rumah. Perihal siapa lelaki yang akan dinikahi Daeng Baji, maka orang yang mengantarkan pemuda inilah yang membocorkan semuanya.

***

Hari ini adalah pernikahannya. Orang-orang berkumpul di rumah Daeng Baji yang telah direnovasi dan diperbesar. Dindingnya dipenuhi dekorasi bunga-bunga, dan lantainya dilapisi keramik bermotif biru langit. Di situlah orang-orang duduk melingkar, menyaksikan akad nikah yang dipimpin seorang imam masjid. Semua biaya pernikahan ditanggung Daeng Baji. Mereka berpesta selama dua hari, dan warga kampung tak ada yang kelaparan. Meski demikian, Daeng Baji kembali diperbincangkan. Banyak yang menyangsikan ketulusan pemuda tersebut. Sebagian lagi terang-terangan berkata bahwa pemuda itu mengincar harta Daeng Baji. Hanya sedikit yang membela pemuda ini, bahwa tak ada pernikahan tanpa dilandasi cinta, dan pemuda ini pastinya telah dibuat jatuh cinta oleh perhatian Daeng Baji.

Tepat saat seluruh prosesi pesta usai. Aso dan Naba datang, mengejutkan penghuni rumah. “Kami akan tinggal lagi di sini,” putus Aso.

Disebabkan kebahagiaan yang menari, Daeng Baji tak merisaukan kedatangan kedua anak lelakinya. Mereka telah bersepakat, setelah menikah akan merantau ke kota seberang agar mereka tak mendengar nyanyian-nyanyian sumbang orang-orang di sekitar. Kehadiran Aso dan Naba justru memudahkannya mengatur tanggung jawab pada anak-anaknya perihal penjagaan rumah. Meski dia tak begitu yakin pada kedua anak lelakinya, pun pada Lala yang baru menginjak usia remaja, namun inilah pilihannya untuk melunasi cintanya pada pemuda yang telah menjadi suaminya.

***

Dia duduk di kursi rotannya. Satu-satunya tempat di rumah kubus itu untuk mengakurkan persoalan dalam renungan yang nyaman. Selebihnya, hanyalah jajaran batu dan semen yang menyerupai cakar ayam. Masih ada Naba yang menatap kosong, dan Aso menanti kelahiran anaknya, berkumpul dalam sempit dan temaran bola lampu bulat 5 watt. Rumah besar Daeng Baji yang ditinggal pergi, telah terjual untuk membebaskan Naba dari tahanan karena terlibat perkelahian, lalu menikam dua orang hingga tewas. Sisanya, dipakai Aso meminang anak gadis yang telah dibuatnya berbadan dua.

Satu-satunya yang tersisa adalah Lala yang sebentar lagi akan berseragam putih biru. Daeng Baji butuh sejumlah uang perihal ini. Tetapi tak satu pun orang mau meminjamkannya meski dia telah mengetuk banyak pintu warga, tak kecuali orang-orang yang pernah berhutang padanya. Tak ada yang bisa dijaminkan darinya, karenanya tak ada pula orang yang mau menolongnya, sementara hari tersisa sepenggal esok.

Dia menyesali banyak hal dalam hidupnya. Tetapi dia masih bisa berangin-angin oleh keputusannya, melepaskan suami keduanya pergi, menyusuri jalan cinta yang telah dirampasnya. Cintanya telah memenjarakan pemuda tersebut pada dunia yang tak semestinya. Sungguh pun kesadarannya datang terlambat, namun cinta tak mengenal itu sebab cinta bukanlah jarum jam yang mematung pada deretan angka-angka. Dan Daeng Baji menyadari bahwa tak semuanya bisa ditukar dengan uang, tak terkecuali cinta.

ditulis oleh

Muchniart AZ

Lahir 35 tahun silam. Punya dua jagoan andalan, Za dan Ken. Senang pinjam buku dan minum kopi hitam.