Di sepetak ladang milik Bu Tani, di antara rumpun pohon bambu yang meliuk ketika angin bertiup, di bawah rumpun tanaman semak, di antara ranting-ranting rapuh perdu-perduan. Tinggallah keluarga besar Butterfly.

Papi Utter dan Mami Erly adalah sepasang kupu-kupu kebun berwarna putih bersih dengan corak elips hitam mirip bola mata di kedua sayap belakangnya. Keduanya adalah sepasang kupu-kupu bahagia yang tinggal di atas mahkota bunga-bunga putih dan ungu, bersama keempat anak-anak mereka. Willow, Spring, Guntur, serta Lail.

Masing-masing anak diberi nama sesuai suasana pada saat ia berhasil keluar dari kepompong. Willow, anak perempuan tertua lahir pada saat semak rumah mereka baru berupa rumput-rumput pendek. Spring lahir ketika bunga-bunga di seluruh semak mekar serempak. Guntur dan Lail, dua putra kembar mereka lahir pada malam berhujan disertai guntur menyalak-nyalak.

Keluarga Butterfly selalu bangun di awal hari. Memulai pagi dengan teriakan dari Mami Erly yang menyebut nama anak-anaknya secara berurutan dari yang paling tua hingga yang termuda. Lalu mereka bersama-sama melakukan peregangan sayap dengan terbang rendah mengelilingi batang utama rumah perdu mereka. Khidmat sekali menyaksikan enam pasang sayap kupu-kupu berwarna putih terbang berkeliling tujuh putaran mengitari rumah mereka.

Setelah ritual peregangan sayap usai. Papi Utter akan mengambil alih untuk memimpin ritual pagi kedua keluarga Butterfly. Sarapan bersama.

Ritual sarapan bersama selalu menyenangkan, anak-anak selalu bersemangat menyambutnya. Sebab ritual sarapan bersama keluarga Butterfly berbeda. Mereka tidak sarapan di meja dan kursi berbentuk bunga dengan sepiring nektar di hadapan masing-masing. Tetapi mereka sarapan di tanah lapang dan ladang penuh bunga-bunga, menghisap nektar langsung dari kuncup bunga yang baru saja mekar.

Mami Erly mendapat posisi terdepan pada formasi penerbangan, di belakangnya Guntur dan Lail, diikuti Willow dan Spring. Posisi paling akhir ditempati Papi Utter yang bertugas menjaga dan melindungi seluruh anggota keluarga.

Mereka berenam terbang dengan gembira. Willow dan Spring bernyanyi riang sepanjang perjalanan, Guntur dan Lail sekali dua kali saling balapan siapa yang terbang lebih cepat, Papi Utter waspada mengawasi sekeliling. Tujuan penerbangan kali ini adalah kebun sawi di ladang sebelah yang bunganya sedang mekar, berwarna kuning cerah memikat dari jauh.

“Tetap dalam formasi penerbangan semula. Jangan dahului mami kalian anak-anak!” Papi Utter berseru mengingatkan anggota keluarga ketika mereka telah sampai di atas hamparan kuning bunga sawi.

Papi Utter bergegas turun, terbang rendah mengitari bunga. Mencium aromanya, lalu mencicipi nektar bunga sawi tersebut. Apakah aman atau malah beracun.

“Oh common! Get your breakfast kids, seru Papi Utter.

Seruan Papi Utter disambut sukacita oleh seluruh anggota keluarga. Mereka sarapan dengan gembira, tidak saling berebutan satu sama lain. Mami Erly menyanyi riang. Lagu wajib keluarga Butterfly.

Butterfly. Butterfly

Susah senang selalu bersama

Butterfly. Butterfly

Kita pergi untuk pulang ke rumah

Papi Utter ikut bernyanyi. Willow dan Spring tidak mau kalah. Sedangkan Guntur dan Lail bersorak-sorak sesuka hati mereka. Jadilah sarapan pagi itu sarapan paling menyenangkan sepanjang ingatan mereka.

***

Rombongan keluarga Butterfly beralih ke tepi telaga begitu matahari telah condong empat puluh lima derajat di arah timur. Seluruh anggota keluarga haus setelah menyeruput nektar bunga yang manis sepanjang sisa pagi.

“Minumlah anak-anak! Setelah itu kita pulang,” terdengar seruan Papi Utter dari belakang.

Itu telaga yang indah dan ramai. Puluhan keluarga kupu-kupu tinggal di sekitarnya. Kawanan belalang, semut, dan capung membangun rumah berdampingan. Mereka mencari makan tanpa saling ganggu.

Lima menit kemudian keluarga Butterfly sudah terlihat terbang menjauhi telaga. Sambil sepanjang jalan saling meenyapa keluarga kupu-kupu lain yang mereka lewati sepanjang jalan pulang.

Tidak berapa lama keluarga Butterfly tiba di ladang perdu di mana rumah mereka berada. Hari sudah terlalu siang bagi Willow, Spring, Guntur dan Lail untuk bermain di permukaan rumpun perdu. Sinar matahari sangat terik, jadi mereka memutuskan untuk menghabiskan siang hari di dalam rumah. Mami Erly biasanya punya banyak kisah untuk diceritakan.

“Mami, kenapa kita tidak bisa membuat madu seperti Tuan Lebah?” tiba-tiba Lail nyeletuk. “Padahal makanan kita sama-sama nektar bunga.”

“Setiap makhluk punya tugas masing-masing Lail. Contohnya Mami dan Papi bertugas menjaga seluruh anggota keluarga dan memastikan kalian tumbuh dengan baik. Kakak willow dan Kakak Spring bertugas membantu Mami dan Papi.”

“Sementara Guntur dan Lail tugasnya mengacaukan segala hal,” Spring memotong ceramah Maminya, menggoda Guntur dan Lail yang sedang serius mendengarkan.

Guntur dan Lail meleletkan lidah tidak peduli ke arah Spring. Mereka berdua sedang serius mendengar ceramah Mami Erly.

“Nak, tugas kita sebagai kupu-kupu ialah menyerbuki bunga. Sebab kalau bunga tidak diserbuki maka pohon-pohon dan seluruh tanaman yang ditanam Bu Tani tidak akan berbuah,” sahut Mami Erly menutup penjelasan.

“Jadi kita ini penghulu para bunga ya, Mi?” timpal Guntur menyimpulkan.

Mami Erly mengangguk.

Sementara itu terdengar raungan panjang dari atas perdu. Suaranya mirip dengung kawanan lebah, hanya saja yang ini sepuluh kali lipat lebih menggelegar. Pastinya bukan guntur, sebab langit begitu terik dan hujan tidak turun. Lalu apa?

Papi dan Mami saling pandang, sementara suara meraung itu semakin dekat.

“Lari Tuan Utter!!!” Itu suara Tuan Belalang yang berteriak di antara semak. Dari jauh tubuh hijau panjangnya kepayahan terbang patah-patah di antara semak perdu.

“Formasi sarapan anak-anak! Kita terbang ke permukaan,” Papi Utter berseru panik.

Mami Erly terbang memimpin dengan cepat, anak-anak terbang berdampingan mengikut di belakang. Papi Utter seperti biasa menjaga di barisan paling belakang. Keterkejutan dan kecemasan masih bertengger di wajah masing-masing.

Setidaknya mereka bisa menyaksikan semuanya dengan jelas dari atas. Dari mana asal suara raungan yang menyebarkan kepanikan begini cepat. Dari atas, keluarga Butterfly bisa menyaksikan seluruh semak perdu rebah sebaris demi sebaris sesuai alur dari alat yang raungannya mirip kawanan lebah hanya sepuluh kali lebih dasyat.

Itu mesin pemotong rumput paling mutakhir yang pernah mereka saksikan. Willow dan Spring tersedu-sedu menyaksikan rumah mereka terpotong, rebah tak berdaya. Guntur dan Lail saling berpelukan, mereka ketakutan. Raungan alat itu lebih mengerikan daripada gemuruh Guntur di malam berhujan. Papi Utter dan Mami Erly hanya mampu memandang getir ke arah pemilik tangan yang menggerakkan mesin pemotong rumput itu.

“Ayo anak-anak, kita terbang ke tepi telaga,” sahut Papi Utter lesu.

Perjalanan ke Telaga kali ini adalah perjalanan paling sunyi. Tidak ada sebait nyanyian pun yang keluar dari mulut Mami Erly. Willow dan Spring juga bungkam. Guntur dan Lail kehilangan selera untuk balapan. Papi Utter prihatin melihat kondisi anggota keluarganya.

Semoga keluarga di tepi telaga berbaik hati membantu kita. Harap Papi Utter.

Alangkah malang. Ternyata keadaan di tepi telaga tidak jauh lebih baik. Seluruh rerumputan dan semak tempat berlindung telah terpotong, rebah, rata dengan tanah. Tempat itu lengang.

Mami Erly lunglai, ia hampir saja jatuh seandainya Guntur tidak bertindak cepat.

“Itu Flo!” seru Willow sambil menunjuk ke arah tiga kupu-kupu kuning di ujung jalan setapak menuju telaga.

Flo adalah kupu-kupu kuning sepupu mereka. Dua kupu-kupu lain yang bersamanya adalah Om Tito dan Tante Ella, orangtua Flo.

Mendengar seruan Willow, rombongan keluarga Butterfly segera terbang ke arah keluarga Tito.

“Kami baru saja kembali dari pertemuan,” sahut Om Tito.

“Apakah kalian baik-baik saja?” Tante Ella bertanya khawatir.

“Kami baik-baik saja. Tetapi rumah kami porak-poranda,” Papi Utter yang menjawab.

“Seluruh tepi telaga juga porak-poranda, rumah kami tidak luput,” Om Tito menimpali. “Di pertemuan tadi, seluruh kawanan kupu-kupu memutuskan untuk pindah. Kita akan bermigrasi besar-besaran ke Bantimurung. Pimpinan kawanan mengatakan ada kerajaan kupu-kupu di sana.”

“Tapi Bantimurung amat jauh dari tempat kita. Perjalanan menuju kerajaan itu adalah perjalanan panjang penuh bahaya,” Papi Utter memperingatkan.

Sementara para orangtua berunding. Kelima anak-anak menyingkir ke tempat lain. Mereka berlomba menceritakan kejadian barusan. Tentang suara raungan yang mengerikan itu. Tentang rumah-rumah mereka yang rebah. Tentang makhluk yang menggerakkan mesin pemotong rumput itu.

“Siapa makhluk yang merusak rumah kita?” Seperti biasa Lail nyeletuk ingin tahu.

“Itu namanya manusia, Lail,” jawab Flo berbisik, seolah takut ada yang mendengar.

“Oh, jadi tugas manusia itu memotong rumah kita ya?” tambah Lail polos.

“Sstt! Lail, jangan keras-keras,” sahut Flo memperingati.

***

Hari itu senja seharusnya indah. Matahari bersinar hangat, bias jingganya terpantul di atas permukaan telaga yang datar dan jernih. Bau rumput baru dipotong menyeruak, jangkrik berderik, kawanan burung putih di langit terbang berkelompok pulang ke sarang.

Hari itu senja seharusnya indah. Tapi tidak bagi keluarga Butterfly. Sebab sore itu mereka sedang berunding apakah akan ikut bermigrasi ke Bantimurung atau tetaptinggal di ladang. Keputusan tersebut harus bulat sore itu juga, sebab besok pagi-pagi sekali kawanan migrasi kupu-kupu sudah akan berangkat.

“Di sana kita akan hidup damai, tidak akan ada yang mengganggu rumah kita lagi. Sebab Bantimurung adalah kerajaan kupu-kupu,” Papi Utter mengakhiri pidatonya.

“Tapi Bantimurung empat puluh kilometer jauhnya dari sini, Pi. Mami takut anak-anak tidak sanggup terbang sejauh itu. Apalagi Guntur dan Lail masih kecil,” protes Mami Erly cemas.

“Kita akan terbang bahu-membahu dan saling menjaga seperti biasa, Mi. Itu selalu berhasil. Di sini kita akan tinggal di mana? Om Tito bilang nanti setelah kita mati, tubuh indah kita akan diabadikan dalam kotak kaca yang bagus,” sahut Papi Utter tidak menyerah.

Willow jengah mendengar Papi dan Maminya nyaris bertengkar. Ini bukan perundingan, ini pertengkaran.

“Willow tidak ingin ikut bermigrasi. Willow tidak tertarik melakukan perjalanan sejuh itu hanya untuk diabadikan dalam kotakkaca yang bagus. Di sini lebih baik,meskipun Willow harus tidur di atas rumput,” sahut Willow tegas, pilihannya tidak dapat ditawar.

Spring sepakat pada pilihan kakaknya.

“Guntur juga memilih tetap di sini. Rumah bukan sebatas perdu dan semak. Tapi tempat kita pulang dan merasa nyaman. Kalau kita semua bersama-sama, Guntur yakin keluarga kita bisa membangun rumah di mana saja.”

Kata-kata Guntur membuat Mami Erly terharu. Tidak sia-sia namanya Guntur, sebab kata-katanya bisa menggetarkan hati siapa saja. Termasuk hati Papi Utter luluh juga dibuatnya.

“Pi, yang jadi raja di Bantimurung itu siapa sih?” si bungsu Lail tiba-tiba bertanya.

Papi Utter terhenyak mendengar pertanyaan bungsunya. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Papi Utter tahu. Sangat tahu.

“Manusia, Nak,” jawab Papi Utter lirih.

Mengapa ia keliru? Bagaimana bisa Utter keliru menilai? Pertanyaan bungsunya membuatnya sadarbahwa perlindungan dan keamanan keluarganya adalah tanggung jawabnya, tanggung jawab mereka bersama. Bagaimana ia begitu bodoh hendak menyerahkan nasib keluarganya ketangan makhluk yang tidak tahu apa yang keluarganya butuhkan?

“Baiklah. Kita akan tetap tinggal di sini,” seru Papi Utter yakin.

Willow dan Spring menari-nari riang, Guntur dan Lail berpelukan, Mami Erly kembali bernyanyi. Mereka berenam terbang rendah dalam formasi lingkaran di atas potongan rumput.

Butterfly. Butterfly

Susah senang selalu bersama

Butterfly. Butterfly

Kita pergi untuk pulang ke rumah

The following two tabs change content below.

Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.

Latest posts by Fatmawati Liliasari (see all)

Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *