Sorak-sorai teman-temannya membuat suasana kelas menjadi gaduh. Pak Bato mengetuk meja berulang kali sembari menyeru, “Anak-anak mohon tenang!” Keributan itu bermula ketika Pak Bato, wali kelas tiga sekaligus guru sejarah di SD itu, menanyakan Danu tentang impian dan cita-citanya. Danu awalnya menolak untuk menjawab pertanyaan gurunya. Sebab, ia menilai ada yang aneh dengan impain dan cita-citanya. Berbeda dengan teman-teman kelasnya yang lain: ada yang ingin jadi dokter agar bisa menolong orang sakit, ada yang ingin jadi tentara agar bisa berperang seperti jagoan di film-film, ada yang ingin jadi guru agar bisa menjewer telinga siswa yang tidak buat tugas, ada yang ingin jadi imam masjid agar selalu mendapat undangan tahlilan dan membawa pulang banyak kue. Yang terakhir itu impian dan cita-cita Icak, teman sebangkunya.

Dalam kondisi duduk terdiam di kursinya, bocah lelaki itu terus mendebati pikirannya, “Bagaimana cara mewujudkan impian dan cita-citaku?” tanyanya dalam hati. “Apa impian dan cita-citaku bisa terwujud?” ia semakin larut dalam pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Kalau impian dan cita-cita seperti teman-temannya yang lain, mungkin saja bisa terwujud. Dengan sekolah setinggi-tingginya, semua itu akan digapai. Kecuali impian dan cita-cita Icak, karena tak perlu menjadi imam untuk mewujudkan cita-citanya, sebab hanya kue yang jadi tujuannya.

“Apa impian dan cita-citamu Danu?” Pak Bato kembali bertanya.

Kali ini ia tak bisa lagi menghindar dengan terus terdiam. Pak Bato terus-terus bertanya hingga membuatnya terpojok, diperparah dengan tatapan semua teman-teman kelasnya yang tertuju padanya.

“Bilang! Apa impian dan cita-citamu? Semua anak harus punya impian dan cita-cita,” kata Pak Bato yang berdiri di samping mejanya.

“Kamu mau jadi polisi?” tanya Pak Bato sembari menatap Danu yang tertunduk.

Bocah itu menggeleng kepala.

“Jadi presiden?”

Kembali ia menggeleng kepala.

“Lalu kamu mau jadi apa?”

Danu mengeluarkan bekas kaleng mentega yang dilubangi bagian tutupnya menyerupai celengan dan memperlihatkannya pada Pak Bato. Melihat hal itu, seisi kelas menjadi gaduh dengan tawa dan sorak teman-temannya yang mencibir. Pak Bato pun tak mampu menahan hatinya yang tergelitik dengan kejanggalan itu, dan segaris tawa pun lepas dari wajahnya yang mulai keriput.

Danu tertunduk malu karena ditertawai teman-temannya. Tak lepas, Icak pun ikut tertawa.

Pak Bato segera menenangkan suasana kelas, dan kembali menatap Danu dengan sisa tawa di wajahnya.

“Maksud kamu apa Danu dengan celengan itu?” tanya Pak Bato.

Danu membenam wajahnya, kepalanya tertunduk di atas lipatan kedua tangannya, matanya menekur sepatunya yang menggesek-gesek lantai di kolong mejanya.

“Tak apa, setiap anak boleh memiliki impian dan cita-citanya sendiri. Terserah! Apa saja,” kata Pak Bato membujuk sembari mengelus-elus punggungnya.

Pak Bato terus membujuk Danu agar mau menjelaskan mengenai celengan yang di perlihatkannya. Selain ia harus membuat setiap siswanya mampu menjelaskan impian dan cita-cita mereka sesuai dengan indikator pembelajaran, ia pun penasaran dengan maksud celengan yang diperlihatkan Danu.

Akhirnya Danu pun berhasil dibujuknya, dan perlahan bocah lelaki itu mengangkat kepalanya memandangi teman-temannya yang menatapnya bingung, ada juga yang menatapnya dengan senyum menahan tawa. Kemudian ia menatap wajah Pak Bato dengan wajahnya yang malu-malu.

“Apa Nak? Bilang! Tidak apa-apa,” ucap Pak Bato meyakinkan Danu yang terlihat hendak bicara namun ragu-ragu.

“Impian dan cita-citaku ada dalam celengan ini, aku menulisnya di kertas dan memasukannya ke dalam celengan,” kata Danu menjelaskan dengan suara sedikit gemetar.

“Oh…” Seru Pak Bato.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Pak Bato menggali lebih dalam, berusaha membuat Danu menjelaskan alasannya.

“Karena cita-cita itu tak boleh diucapkan,”

“Kenapa?”

“Karena kalau diucapkan, nanti iblis dengar, dan iblis akan menggagalkannya,” jelas Danu

“Siapa yang bilang begitu?” tanya Pak Bato.

“Ibuku,” jawab Danu datar.

***

Danu dan ibunya tinggal di sebuah rumah di batas desa, dekat lapang sepak bola. Rumah itu dibeli ibunya dari seorang pensiunan PNS yang pindah ke kota, dengan uang tabungan dari hasil usaha jahitannya.

Rumah berarsitek tahun 90an itu memiliki dua kamar. Kamar tengah, sebagai kamar tidur Danu dan ibunya, sementara kamar depan di jadikan tempat usaha jahitan oleh ibunya. Rumah itu hanya dihuni Danu dan ibunya, sedangkan ayahnya entah di mana? Siapa dia pun Danu tak tahu. Di beranda depan, ada dua kursi santai dan meja kayu berwana cokelat di antaranya, bunga-bunga yang bermekaran dalam pot yang tertata rapi di sana, satu pohon cermai yang tumbuh dekat pintu pagar. Di sanalah bisanya Danu bermain saat sore hari. Kadang duduk di kursi sambil melihat orang-orang bermain bola di lapangan. Kadang juga termenung di sana melihat sepasang orangtua membawa anak mereka bermain di lapangan itu, dan itu membuat Danu iri.

Hingga suatu hari datang seseorang mencari ibunya. Dari wajahnya, lelaki itu usianya tak beda jauh dengan ibunya. Sepertinya, ibunya mengenal lelaki itu dengan baik. Karena setelah ibunya membukakan pintu untuk lelaki itu, ibunya sempat kaget melihat orang itu, dan kemudian berbicara dengannya seperti tak asing. Setelah memberikan sepucuk surat yang terbungkus dalam amplop, lelaki itu lalu pergi.

Danu yang sedari tadi mengintip dari balik tirai pintu antara ruang tamu dan ruang keluarga, mendekati ibunya. Didapati ibunya sedang membaca isi surat tadi yang diberikan lelaki itu. Pipinya lembap, matanya berkaca-kaca, jari telunjuk tangan kanannya menyeka tetesan air mata di ujung matanya, “Ibu kenapa?” tanya Danu sembari membenam wajahnya dalam pelukan ibunya.

“Siapkan barang-barangmu Nak, kita pergi!” kata ibunya dengan suara isak.

“Kita mau ke mana?” tanya Danu heran-heran

“Siapkan saja barang-barangmu, besok Ibu ke sekolah meminta surat pindahmu”.

***

Pagi itu, setelah menemui kepala sekolah untuk memintah surat pindah Danu, ibunya pun menemui Pak Bato. Namun beliau tak ditemui di ruangannya, “Silakan duduk dulu Bu, saya panggil dulu Pak Bato, seperinya sedang mengajar di kelas,” kata seorang guru, dan mempersilahkan ibunya duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Pak Barto.

Beberapa menit kemudian, terdengar seseorang mengucap salam dari arah pintu ruangan itu. Ibunya pun sekonyong-konyong membalas salam itu, dan memalingkan kepala ke arah orang itu. Seketika perempuan itu kaget, sekelabatan ia berdiri dari tempat duduknya, “Ilyas!” serunya sembari menatap heran-heran lelaki yang berdiri di hadapanya. Keningnya mengkerut-kerut, tatapannya tajam, binar matanya seolah menyelidiki. Lelaki itu juga kaget melihat perempuan di hadapannya, “Maya!” serunya sembari menunjuk perempuan itu. “Kok kamu di sini?” tanya lelaki itu. Sekilas keduanya beradu pandang. Kemudian lelaki itu melangkah masuk dan duduk di kursinya dan mempersilahkan perempuan itu kembali duduk.

“Oh! Jadi kamu yang dibilang Pak Bato?” kata Maya.

“Itu nama asliku,” jawab Ilyas atau yang biasa disapa Pak Bato.

“Hmmm, jadi Ilyas itu nama samaranmu?”

Lelaki itu hanya mengangguk.

“Kamu belum jawab pertanyaanku, kok kamu bisa ada di sini?” tanya lelaki itu.

“Ceritanya panjang,” jawab Maya datar.

“Dulu aku dengar dari teman angkatanmu, bahwa kamu tiba-tiba menghilang dari kampus dan tidak melanjutkan kuliahmu,” ucap Ilyas

“Itu semua karena ini!” perempuan itu membanting celengan bekas kaleng mentega itu di atas meja di hadapannya dengan keras, hingga lelaki itu dibuat kaget dengan suara dentumannya.

“Apa ini?” spontan Ilyas kaget.

“Itu titipan anakmu! Dia memintamu membaca tulisan-tulisan yang ada di dalam celengan itu pada teman-teman kelasnya,” jelas maya

“Haaa! Maksud kamu?” seru Ilyas heran-heran.

“Kamu masih ingat saat malam pesta di acara wisudamu?” suara Maya sedikit sinis.

Lelaki itu hanya menatapnya heran-heran degan mulut menganga.

“Tiga bulan setelah kejadian malam itu, aku memberanikan diri periksa ke rumah sakit dan hasilnya positif aku hamil. Kehamilanku dengan cepat diketahui ibuku. Aku sempat mencarimu ke kontrakanmu, tapi kata pemilik kontrakan kamu sudah pulang kampung, dan aku tak tahu bagaimana cara menghubungimu. Hingga usia kehamilanku memasuki tujuh bulan, ayahku mengetahui keadaanku. Dia marah sekali, aku nyaris dibunuhnya, karena dianggap membuat malu keluarga. Aku lantas diusirnya dari rumah. Ibuku yang tak tega dengan kondisiku, diam-diam meminta pembantu di rumah kami saat itu untuk membawaku ke kampungnya, berikut segala biaya hidup hingga biaya persalinanku dititipkan padanya. Maka sampailah aku di sini. Hingga kemarin sore, datang sopir ayahku membawa surat dari ibu dan memberi tahuku bahwa ayahku meninggal tiga hari yang lalu, dan ibu memintaku kembali ke kota karena ibu sendiri di rumah, dengan membawa serta Danu. Danu akan sekolah di sana. Untuk itu, aku datang menemui kepala sekolah meminta surat pindahnya, dan memberikan titipan celengan itu untukmu,” terang Maya.

Ilyas hanya termenung memandangi Maya—mantan kekasihnya. Pikirannya melayang menembus waktu yang telah bertahun-tahun berlalu.

“Aku sudah Sembilan tahun tinggal di desa ini, baru hari ini aku bertemu denganmu,” kata mantan kekasihnya itu mengagetkannya.

“Haaa! Aku baru dipindah tugas di sekolah ini Tiga bulan yang lalu,” jelas Ilyas

Maya kemudian pamit pulang, meninggalkan Ilyas sendiri di ruang itu dengan renungan atas apa yang diungkapnya.

Ilyas lalu membongkar isi celengan yang berisi carik-carik kertas itu, ke atas mejanya. Jumlah kertas itu sebanyak berapa kali ia meminta siswanya menceritakan tentang impian dan cita-cita mereka. Karena setiap ia bertanya tentang impian dan cita-cita, Danu selalu menuliskan impian dan cita-citanya pada secarik kertas lalu memasukannya ke dalam celengan tersebut. Tulisan di carik-carik kertas itu semuanya sama, “Aku ingin punya seorang ayah, agar dapat mengajaknya main bola bersama setiap sore di depan rumah”. Tanpa sadar air mata Ilyas jatuh dari kelopak matanya membasahi tulisan di secarik kertas yang sedang di bacanya.

Sumber gambar: http://dhffy.deviantart.com/art/A-child-night-dream-276839367

The following two tabs change content below.

Syarif Lahmady

Lahir di Ambon 01 Juni 1992, suka kopi dan rokok, senang menggosip Tuhan dan perempuan, pegiat literasi di Paradigma Institute Makassar.

Latest posts by Syarif Lahmady (see all)

Syarif Lahmady

Lahir di Ambon 01 Juni 1992, suka kopi dan rokok, senang menggosip Tuhan dan perempuan, pegiat literasi di Paradigma Institute Makassar.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *