Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa manusia terdiri dua unsur, jiwa dan raga. Setiap dari keduanya, masing-masing punya cara untuk merawatnya. Waima perawatannya berbeda, namun keduanya saling memengaruhi. Jiwa bisa mendikte raga, sebaliknya pun demikian, raga bisa mengarahkan jiwa. Relasi antara jiwa dan raga, tidak sepi dari perdebatan, amat bergantung pada pandangan dunia yang mengawalnya. Perdebatan tentang persetubuhan jiwa dan raga, telah menjadi santapan empuk, berbagai disiplin pengetahuan: filsafat, psikologi, agama, dan lainnya.

Yang jelas, bila ingin mewarat raga, maka sederet resep pengetahuan akan mengemuka. Misalnya, memakan makanan yang sehat dan bergizi, yang disimpulkan dalam satu semboyan, empat sehat lima sempurna. Pun, harus ditambah olah raga yang teratur dan istirahat yang cukup. Semua itu mesti dipatuhi, bila raga ingin sehat. Sebab, seperti diktum populer, yang dihafal di luar kepala, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Meski diktum ini, dalam dimensi kekinian memicu persilatan pikiran.

Injeksi pengetahuan demikian, tentang pentingnya mengurus raga, untuk mendapatkan tubuh yang sehat, maka setiap orang nyaris berlomba dalam memenuhinya. Dan, lebih dari itu, pengetahuan sertaan pun dikemukakan, bahwa selaian mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, serta olah raga plus istirahat yang memadai, haruslah pula menghindari makanan-makanan yang tidak sehat. Apakah itu karena bahan bakunya, kesegaran materialnya dan pengolahannya, agar terbebas dari racun. Pasalnya, bila dilanggar, otomatis raga berpotensi sakit, seperti penyakit-penyakit raga yang tak terhitung jumlahnya saat ini.

Sayangnya, pengetahuan yang mumpuni tentang raga dan cara pemenuhannya, yang begitu massif pemenuhannya, tidak dibarengi dengan usaha yang sama dalam memenuhi tuntutan jiwa, amat sibuk memoles raga tinimbang jiwa. Padahal, sebagaimana raga, jiwa pun mesti dirawat, diberi makanan yang sehat dan bergizi, serta olah jiwa. Demikian pula, jiwa mesti dijauhkan dari petaka yang bisa mematikannya, dan dibebaskan dari racun yang menggerogotinya. Karena bila luput, maka jiwa pun akan terpuruk, yang pada tahapan berikutnya akan mati, meski raga masih melata.

Pada konteks inilah, mendesak untuk menegaskan kembali, penabalan dari para pendiri bangsa Indonesia, yang terpahat dalam lagu nasionalnya, Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,” yang mengedepankan sisi jiwa terlebih dahulu,ketimbang raga, ditilik lagi. Soalnya, bulan-bulan, pekan-pekan, hari-hari di era kiwari ini, sepertinya, aura jiwa kebangsaan negeri ini, tercemari oleh polusi, saling menohokkan kebencian, saling meneriakkan permusuhan dan saling meniadakan keberadaan. Bagi saya, selaku anak negeri, rasa-rasanya telah diterungku oleh ranah dan ruang yang penuh dengan racun, seronah racun jiwa, yang bakal memangsa jiwa.

Menarik saya kemukakan petikan dari tulisan Limas Sutanto, seorang psikikater, berjudul, “Mengerti Kebencian”, Kompas, 25 November 2016,”Kebencian yang biasanya jadi tabu dan karena itu menjadi tak tampak jelas, bahkan cenderung misterius, kini tampil telanjang, tanpa tedeng aling-aling. Namun, membenci dapat berujung meremukkan, menghancurkan, mematikan, memusnahkan. Maka, tatkala kebencian ingar-bingar di tengah percakapan warga, bangsa sungguh berada di bawah bayang-bayang keremukan.”

Sebagai anak bangsa yang masih memilih bertahan hidup di negeri ini, mestilah meningkatkan kapasitas daya tahan jiwa. Dengan cara, meniru perilaku tanah. Saatnya belajar pada tanah, seperti yang pernah saya tuliskan di buku AirMataDarah, pada judul puisi “Bumi”, yang penggalan syairnya berikut ini : Tinjaku pun ditelannya // Air Kencingku juga diminumnya // Bahkan, ragaku ketika jadi bangkai, kelak akan dimakannya.

Ujar-ujar kebencian, tutur-tutur permusuhan dan ajakan-ajakan pertikaian, yang kesemua itu merupakan racun jiwa, karena terpaksa harus didengar, tertelan masuk ke dalam palung jiwa, mestilah dikelola dengan perangkat intelektual dan spiritual, sama dan sebangun cara tanah mengolah semua kotoran yang ditimpakan kepadanya, mengubahnya menjadi pupuk bagi suburnya tetumbuhan yang menumbuhkan kehidupan. Pendeknya, jiwa yang terbebas dari segala macam racun kebencian, permusuhan dan pertikaian, akan tetap sehat, bila si pemilik jiwa mengolah sekotah racun itu menjadi pupuk hidup buat kehidupan. Akhirnya, dari pada jiwa ditawan racun, lebih elok, racun diterungku jiwa.

 

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.