Entah aku orang kafir atau beriman. Hanya Allah sajalah yang tahu, siapa aku! Tetapi aku yakin, aku adalah hamba Nabi. Yang menjadi penguasa Madinah. (Sir Kishan Prasad Shad)

Kalau saja saya ajukan pertanyaan, siapakah manusia yang paling banyak disebut namanya setiap hari, saban pekan, sepanjang bulan hingga setahun? Tiada lain itulah Muhammad SAW. Bayangkanlah, berapa jumlah umat muslim yang bershalat setiap waktunya, pastilah menyebut namanya. Sebab, bila tidak, persembahan ibadah itu tidak sah. Imajinasikanlah, sekira jumlah mesjid dan sejenisnya, yang setiap lima waktu, melantunkan panggilan shalat, lewat azan plus ikamah, tentulah menabalkan namanya. Karena, bila tidak, sepenggal panggilan itu, tidak mengalamatkan panggilan sembahyang. Bagi saya, ini sejenis kejaiban.

Pun ketika, saya kedepankan ungkapan, siapakah sosok manusia yang begitu banyak ditulis sepak terjang jalan kehidupannya? Saya bisa pastikan, Muhammad SAW, salah seorangnya. Cobalah geledah literatur sejarah tentang seseorang yang berpengaruh atas jalannya peradaban umat manusia, tentulah Muhammad SAW yang paling pertama bertengger namanya, setidaknya, begitulah pendakuan Michael H. Hart, dalam bukunya yang monumental, The 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History. Bagi saya, ini serupa keakbaran pesona dari persona teladan.

Maka tak eloklah, jika setiap hari kelahirannya, manusia suci nan sempurna ini, baik secara jasmani maupun ruhani, terlewatkan begitu saja. Tak pantas pula, bila sosok yang menjadi manusia par execellent, serona insan kamil, secara kejiwaan dan keragaan, pada kenatalannya, berlalu tanpa apresiasi yang begitu beragam, dari para kaum yang mencintainya. Pada konteks inilah, setiap orang punya cara untuk menyatakan kecintaannya, dalam pelbagai bentuk, yang tertuang dalam sajian tradisi, yang telah mewujud menjadi budaya pada setiap pengikut. Tepatlah pembabaran dari Annemarie Schimmel, yang merekam keragaman cara para muslim mengekspresikan kecintaan pada nabinya, Muhammad SAW, dalam buku, And Muhammad is His Messenger. Bagi saya, inilah sebaik-baiknya ungkapan cinta yang tak berbatas.

Selaku pengikut,  sekaligus pecinta Muhammad SAW dan keluarganya, saya pun tak luput dari bingkaian tradisi mencintainya. Sejak hadir di dunia ini, tradisi masyarakat saya sudah mengenalkannya sejak dini. Begitu nongol  ke dunai ini, sebagai bentuk pelarian berikut dari alam rahim, ada dua nama yang dibisikkan pada telinga kanan, lewat lantunan azan dan di telinga kiri lewat ikamah, yaitu Allah SWT dan sang kekasih, Muhammad SAW. Dan, begitu saya diakikah, pun syair-syair pujian atas Muhammad SAW ditembangkan, lewat pendarasan sebuah kitab sejarah kenabian, Almaulidan Nabawi,  yang ditulis oleh Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al – Barzanji, yang lebih populer  pada waktu kekinian, Kitab Barzanji. Bagi saya, inilah warisan literasi yang menakjubkan.

Pada pendarasan kitab, saya selalu takjub, bila tiba pada syair-syair, yang ketika disajakkan dalam keadaan berdiri, “Engkau bagaikan matahari // Engkau laksana bulan purnama // Engkau logam yang menjadi emas dan mahal // Engkau pelita di dada.” Selalu saja ada butiran kristal air mata, yang hendak melompat keluar dari kelopak mata, namun berubah menjadi lelehan air saja, karena ada rasa haru bin bahagia, yang terterungku oleh kecintaan pada sang pujaan. Bagi saya, ini adalah seronah wajah Muhammad SAW, wajah tradisinal, yang sejak mula telah dikenalkan.

Di waktu kiwari ini, tersebutlah seorang schoolar berkebangsaan Iran, Ali Syariati, yang menulis buku, yang amat singkat lembaran halamannya, The Visage of Muhammad, yang cukup membetel sisi-sisi intelektual saya. Buku tipis ini, menyajikan wajah Muhammad dengan memperbandingkan dengan wajah-wajah para nabi lainnya, atau sosok-sosok para pengubah sejarah peradaban umat manusia, semisal para kaisar, raja, spiritualis, ilmuwan, filosof dan penyair. Didedahkannya perspektif yang komprehensif melalui metode perbandingan, sehingga melahirkan kesempurnaan sosok, bahwa memang pada sosok Muhammad SAW, terlebur semua bentuk-bentuk kesempurnaan dari para manusia besar. Bagi saya, pendekatan ini menyajikan menu intelektualisme yang menantang.

Wajah Muhammad SAW, dalam paparan Syariati, mendeskripsikan, bahwa Muhammad SAW, bisa lebih keras dari Musa as, namun sanggup pula melebihi kelembutan Isa as. Sabda-sabdanya, melampau argumen para filosof, juga segenap penyair. Garis-garis wajah Muhammad SAW, yang setelah empat belas abad menempati pelupuk mata kita yang lemah, bukan saja ditelaah dan dipandang pada wajahnya sendiri, tetapi di wajah Allah, al-Quran, ahlul baitnya, sahabatnya, pengikutnya yang cemerlang dan tulus. Bagi saya, inilah cermin abadi, tempat melihat wajah-wajah kemanusiaan kita.

Karenanya, sangat wajarlah jikalau seorang Perdana Menteri Hindu dari Negara Bagian Hyderabad, Sir Kishan Prasad Shad, mengungkapkan kekaguman dan sekaligus ketundukan pada sang Nabi, sang penguasa Madinah, sebagaimana saya nukilkan di mula paragraf tulisan ini. Serupa penggambaran wajah kontemporer Muhammad SAW, terhadap wajah terbaik yang pernah dilahirkan jagat raya ini. Bukankah Tuhan sendiri telah menuturkannya, karena dikaulah Muhammad sehingga bumi ini diciptakan? Bagi saya, ini sebentuk perspektif mondial, yang merupakan salah satu wujud representasi pendakuan universal.

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.