Bila saja urita, berupa tulisan, status, gambar, video, dll, di media daring itu, diamsalkan sebagai makanan bagi jiwa, maka dapatlah digolongkan sebagai makanan organik dan anorganik. Dan, sudah jamak dipahami, bahwa makanan organik jauh lebih baik, tinimbang anorganik. Makanan organik, amat menyehatkan, selaras perilaku alam, alamiah sifatnya. Sedangkan makanan anorganik sangat membahayakan. Meski dalam realitasnya, cukup banyak yang menikmati dengan rakus makanan-makanan anorganik itu. Persis seperti halnya, makanan anorganik buat raga, lebih diburu, karena murah meriah dan instan sifatnya. Waima akibatnya membahayakan tubuh, sebab selaksa racun yang berbahan kimiawi, semisal  pengawet, pewarna dan pengenak, yang dikandungnya.

Belakangan ini, jagat media sosial dijejali oleh informasi yang tidak sehat. Saling benci, caci, hujat dan tuduh, seolah merupakan santapan yang enak dikonsumsi. Berita tipuan, warta palsu, kabar disnformasi dan pesan bohong, sepertinya bukan soal serius, yang bakal merusak tatanan jiwa, yang mengaduk-aduk suasana kebatinan anak negeri. Padahal, urita negatif tersebut, sama dan sebangun makanan anorganik, tidak menyehatkan jiwa, malah bisa membunuhnya.

Saya coba runut ke waktu silam, tepatnya sejak bangsa ini terlibat dalam perhelatan pemilihan presiden, yang buntutnya hingga kini masih terasa. Bahkan, makin menajam sayatannya, terpatri dalam pilkada DKI Jakarta dan Aksi Bela Islam 1,2 dan 3, serta Parade Bhineka Tunggal Ika. Belum lagi, Muslim Rohingya, ledakan bom, terorisme dan yang paling kiwari, Aleppo. Sekotah urita yang terkait dengan momentum tersebut, diracik sedemikian menggiurkannya, sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara kesunyatan dan kebohongan. Berita, gambar dan video hoax dikonsumsi dengan amat khusyuk. Hanya insan yang punya piranti literasi media, yang mampu menyeleksi, mana yang organik dan anorganik, mana yang menghidupkan dan mana yang mematikan jiwa.

Rupanya, kegaduhan urita anorganik itu, bukan saja melanda negeri ini. Di belahan bumi yang lain pun mengalami nasib yang sama. Ini berarti, sudah menjadi fakta global. Betapa tidak, orang sekelas Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, harus ikut bersuara, melakukan klarifikasi atas urita hoax tentang dirinya, tatkala namanya dicatut dalam perhelatan pilpres di Amerika Serikat. Oleh media tertentu yang menyebarkan kebohongan, Paus dianggap mendukung salah satu calon, Donald Trump.

Karenannya, Paus pun bersuara lantang. Saya kutipkan saja, sebagaimana Kompas, Jumat, 9/12/2016 menuliskan, “Menggunakan disinformasi dan memanfaatkan sarana komunikasi bukan untuk mengedukasi pembaca, sama beratnya dengan dosa.” Sembari meminta maaf, Paus menggunakan kata bermain “kotoran” buat media, yang menurutnya,”Saya rasa media harus sangat-sangat jernih, sangat transparan dan tidak terjebak dalam kegilaan koprofilia (istilah untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kegemaran tak wajar terhadap kotoran) yang selalu menginginkan liputan skandal, liputan hal-hal yang kotor, meski mungkin itu benar.” Ditegaskannya, “Tak seorang pun yang memiliki hak untuk melakukan ini. Ini adalah dosa dan sangat menyakitkan.”

Saya lalu membayangkan, betapa getirnya kehidupan di buana ini, sekiranya rakyat banyak lebih senang memakan urita anorganik, lalu bermain-main sembari menikmati kotorannya. Segeralah tertayang, bayang-bayang seorang anak kecil, yang memasukkan apa saja ke mulutnya, lalu mempermainkan tainya sendiri. Pun, teringat pula akan cerita seorang kawan, yang bertutur tentang sosok-sosok manula, kakek nenek, yang dalam kepikunannya, sulit membedakan mana makanan basi dan mana makanan segar, yang dengan santainya meremas-remas tinjanya. Dan, yang lebih mengerikan, angan saya melambung pada seorang yang kehilangan warasnya, mengais-ngais sampah, mencari makanan buat santapannya, yang begitu santai menyantap beraknya.

Bila saja saya meringkaskan maksud tulisan ini, sesunguhnya, saya hanya ingin menyatakan, bahwa kalau saja masih membenamkan diri dalam kenikmatan kubangan urita anorganik, berarti telah mengantarkan diri menjelma menjadi sosok koprofilia. Atau lebih gampangnya, semisal anak kecil yang tak berakal itu, kakek nenek yang sudah pikun dan sosok yang memensiunkan kewarasannya, memilih menjadi gila, yang kesemuanya terkumpul dalam jamaah pemakan sampah dan penikmat kotoran. Maka jiwa pun meradang, sekarat, lalu mati. Pada jiwa yang matilah, urita hoax tumbuh subur, mengeksiskan lelaku dan lelakon koprofilia.

 

Sumber gambar: http://www.deviantart.com/

 

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.