Ilmu Astronomi dan Lem yang Aku Hirup

Aku pernah menguasai sedikit ilmu falaq. Sedikit sekali. Sehingga aku menjangakui masa depanku hanya untuk  satu tahun saja. Setahun setelah aku berhenti bergelut dengab ilmu falaq,  malah kehidupanku melambat.  Sangat lambat.  Ada apa,  bisa disimak lebih seksama tulisanku kali ini.

Keberuntunganku mengalahkan logika terhebat saat itu. Jika teman SMA mengatakan aku orang yang mempunyai ilmu cukup mapan dalam bidang perhitungan maka ianya salah besar. Malah teramat salah mengalahkan kesalahnya memilih media yang sarat dengan pemberitaan hoax seperti yang sedang marak sekarang.

Sampai sekarang kemampuan perkalian sebagai dasar perhitungan pun tak bisa aku hafal tuntas. Apalagi menggabungkannya dengan rumus yang penuh simbol-simbol kuno dan berbagai istilah lainnya untuk dapat terbang ke luar angkasa.

Apa karena aku pernah bergelut dengan dunia hitam masa persekolahan. Saking hitamnya ada kelompok di sekolah kami saat itu menamakannya blackheart. Ya, hati hitam. Inilah penyebabnya sampai kulitku pun ikut hitam. Kalian tau lem? Aku salah satu dari sekian banyak pencandunya dulu. Kini aku insaf.

Tidaklah pula tujuan tulisan ini untuk mengkampanyekan kalau lem punya hasil yang positif setelah dihirup. Tidak sama sekali. Melainkan ia meninggalkan kesan negatif. Salah satu efeknya aku menderita kanker (kantong kering) saat mengkonsumsi lem secara rutin. Itu salah satunya.

Migrain dan kantuk yang berlebihan saat belajar dalam ruang kelas juga merupakan efek paling negatif. Khususnya mata pelajaran matematika kantukku tak terbendung. Kalian tau kalau aku sangat kurang senang dengan matematika. Malah mungkin aku bisa digolongkan diskalkulia.  Itu masih asumsi pribadi.

Tapi kalau disebabkan pengakuanku ini kalian akan menghujatku.  Aku tahu, kalian semua suci sedangkan aku penuh dosa. Penuh dosa. Pengakuan ini membantu merawat keawarasanku agar tetap terpelihara dan tidak melakukan kesalahan yang sama.

Namun di balik itu, Lem yang kuhirup rasanya bisa mempercepat imajinasiku menjangkau ruang-ruang di semesta itu. Bahkan sangat cepat dibandingkan kecepatan cahaya. Bahkan bulan pun bisa aku lihat dekat. Sangat dekat. Sehingga diameter, volume,  massa jenis yang ada di bulan bisa aku amati dan pelajari secara baik dan detail. Walau hanya sebatas delusi efek lem. Berkat lem pula aku bisa belajar astronomi dengan baik.

Hubungan antara Ilmu astronomi dan kemampuanku di bidang matematika yang lemah pastilah sangat tak masuk akal, melainkan aku membutuhkan lem. Kalian tahukan yang aku maksud?

Betapa lem itu membantu akselerasi sistem kerja otakku. Membantuku mendekati sembilan planet yang ada di galaksi Bima Sakti sebelum planet Pluto dikeluarkan. Aku juga pernah merasakan berpergian dengan kecepatan cahaya. Semua berkat lem yang aku hirup. Malah aku pernah melihat diriku dijemput ajal. Semua berlaku dengan cepat  di depan mataku di kamar kos. Aku melihat semuanya terjadi. Rohku terangkat dari ragaku. Semua berkat lem yang aku hirup sendirian atau bersama teman kos saat SMA dulu.

Kalian percayakan kalau aku pernah menjadi pencandu lem? Selama satu tahun. Aku siap diwawancarai.

Aku hanya ingin menjelaskan secara tegas kalau lem membantuku melampaui realitas yang terbentuk di ide,  dan lem juga membantuku melampaui rumus matematika dan fisika, sehingga aku bisa bergelar juara Olimpiade Sains Nasional bidang Astronomi tingkat Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

 

Sumber gambar: https://id.pinterest.com

The following two tabs change content below.

Abdul Salman

Alumni UNM. Anggota Front Mahasiswa Nasional (FMN). Sekarang aktif di kelompok tani.

Abdul Salman

Alumni UNM. Anggota Front Mahasiswa Nasional (FMN). Sekarang aktif di kelompok tani.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *