Intelektual dan Pimpinan Profetik

Tuhan pemeliharaku, janganlah Engkau menyerahkan aku, kepada diriku sendiri, walau hanya sekejap (Rasul SAW)

Nah, beri dia sedekah! Semakin sedikit engkau dibebani oleh rasa memiliki, semakin ringan beban nafsumu yang selalu minta dipuaskan (Irving Karchmar)

***

Tertera dalam sejarah seorang bernama Ibnu Sina. Pria yang hidup dalam geliat kekuasaan istana: pongah, mewah sekaligus mencekam. Walau keunggulanya dalam berbagai bidang ilmu menorehkan keharuman, tapi kekuasaan mencekik kebebasan intelektualnya. Pinangan kekuasaan telah membawanya berada dalam kehidupan penuh tragedi: diangkat sebagai teknokrat, dituduh bersekongkol hingga berada dalam status buron. Ibnu Sina yang memahami segala cabang ilmu dasar: logika, filasafat hingga medis-mengajarkan apa yang sampai sekarang jadi bahan debat-hubungan ilmuwan dengan penguasa.

Mirip Antonio Gramsci, kekuasaan merasa bahwa isi pikiranya lebih berbahaya ketimbang batang tubuhnya. Sejarah mencatat, keberanianya menanggung derita dan kekerasan sikapnya untuk tidak kompromi: telah mengekalkan apa yang selama ini jadi idaman seorang intelektual: ketangguhan dan keyakinan. Pernah ditanya dirinya oleh seorang putra mahkota tentang kudeta: Ibnu Sina menjawab dengan lembut dan bersayap:

‘..sampai kapanpun mencintai kemegahan dunia tidak bernilai jika dibandingkan dengan nyawa manusia. Seorang filsuf pernah mengatakan bahwa ketika kebodohan menguasai kesadaran maka kesadaran memiliki hak untuk berbuat hal yang paling bodoh…[1]

Kekuasaan selalu dianggap sebagai kemegahan dunia yang nilainya seperti sampah. Khas intelektual yang meyakini bahwa pengetahuan harus bersih dari motif-motif kerakusan. Ibnu Sina prototipe ilmuwan yang berada dalam pusaran konflik istana. Pernah menjabat sebagai dokter istana hingga hulubalang: tahu seluk-beluk kelicikan dan akal busuk para penghuninya. Meski kecintaanya pada karya intelektual membakar hari-harinya, tapi Ibnu Sina tak bisa berkelit dari pengaruh intrik istana. Dirinya ditempa oleh tragedi sekaligus belajar darinya. Maka moralitasnya kemudian bergerak dalam dataran yang pasti, lugas dan literer.

Mirip dengan para ulama pada masa-masa kerajaan yang meyakini bahwa pengetahuan itu tidak dipertautkan dengan kepentingan pragmatis kekuasaan melainkan sumbanganya pada peradaban. Mungkin karena itulah dasar etik yang jadi pedoman adalah memberi dan membagi. Di sisi ini pengetahuan terpaut dengan ruh bukan motif dangkal seperti penguasaan. Salah satu sufi dengan indah melukiskan jiwa intelektual seperti itu dengan kalimat lembut

Wahai Ishaq, hati yang dermawan senantiasa punya sesuatu untuk diberikan. Orang yang merasa tidak punya sesuatu yang bisa diberikan adalah orang yang ruhnya menderita. Bukan kekurangan materi yang menyebabkan kemiskinan spiritual, juga bukan doa dan puasa saja. Yang membuatmu fakir adalah keterlenaan pada pemuasan diri sendiri[2]

Penguasaan yang jadi ambisi modernitas telah memakan akal sehat dan roh. Maka utopia sebagai buah dari kehendak ideal pupus secara perlahan. Intelektual terpasung pada status keterpelajaran dengan identitas simbolik. Gelar di mana-mana dirayakan dengan ritual yang naif. Seolah pada gelar itulah seorang intelektual itu diwisuda dan pada gelar itulah digenapkan semua proses jadi cendekiawan. Maka intelektual kini memagari diri, jika dulu dengan spesialisasi, kini ambisi untuk merengkuh semuanya.

Gejala ini tidak didasarkan semata-mata pada kobaran keingin-tahuan, tapi daya pikat kapital yang menerjemahkan apa yang dulu jadi misteri menjadi komoditas. Bagaimana kita bisa memahami debat hukum yang dilakukan oleh para pelaksana dengan motif yang saling bertubrukan. Antara kesalahan dan sikap naif saling menyalip. Untuk sebuah pencurian bisa dimaklumi sebagai kekhilafan; pada sebuah kegiatan suap maka semua pihak merasa tidak pernah melakukanya. Hampir semua tragedi kemanusiaan itu diawali dari pengkhianatan atas suara kebenaran yang terang dan lugas.

Intelektual laksana sosok yang sebenarnya mampu mencium kecurangan itu. Tan Malaka pernah menyebutnya dengan seruan untuk tidak kompromi. Kemerdekaan itu 100% tanpa beban untuk dirundingkan apalagi disesuaikan dengan kekuatan para penjajah. Luapan gagasanya itu mendarat dalam peta yang sunyi: Soekarno lebih memilih untuk tidak mengikuti arus radikal, Sjahrir menyukai untuk tetap menegaskan diplomasi dan Hatta jauh lebih tidak menginginkan revolusi yang dipimpin oleh kaum kiri.

Yang tersisa kemudian adalah barisan intelektual yang memiliki utopia tentang sosialisme hingga nasionalisme, tapi tanpa punya kemauan untuk menghidupkanya dalam perjuangan. Mereka tak mau bersilat dengan risiko. Gramsci selalu saja merasa itu sebagai aib yang melekat dalam diri seorang yang tak mampu ‘merasa’. Posisi kelas dan watak borjuisnya membuat tiap jalan perubahan diukur dari kepentingan dan orientasi praktis. Di antara yang paling menyolok ada pada ilmu-ilmu sosial yang dikerahkan pada watak teknokratis. Hukum melahirkan pengacara, ekonom pegawai keuangan dan ilmu politik memunculkan para politisi. Dengan mengibarkan status fungsional maka ilmuwan menjadi apa yang dikuatirkan oleh Pramoedya, tanpa keberpihakan, tanpa rasa kemanusiaan dan nyali!

…….Keadilan sosial dan kemanusiaan: itulah esensi ideologi pemuda. Apakah pemuda akan menang? Semua terletak pada kemauan dan keberanian mereka sendiri…….

Bentangan jarak itulah yang selama ini jadi jurang kaum intelektual. Kesedihan dan ketidak-adilan telah berganti rupa dengan adegan dramatis yang ditayangkan oleh televisi. Kisah tentang bencana hanya berujung pada kotak sumbangan dan nyanyian para biduan. Seolah-olah tiap musibah adalah hukuman dan selalu diberi hikmah. Maka mencekamlah keinginan kita untuk memastikan bahwa ada kehidupan setelah dunia. Pesona akhirat telah menimbun keinginan untuk mengurus segala hal duniawiah. Tampillah para pimpinan demagog yang bersemboyan palsu dengan ambisi untuk merengkuh segala yang tidak bisa dibuktikan secara empiris.

Kibaran dari semua itu adalah subur dan meluasnya komplotan fasis yang hanya mengandalkan popularitas, semangat untuk membunuhi yang berbeda dan yang paling tak masuk akal, mengajarkan manusia untuk tunduk pada dogma ketimbang konstitusi. Padamlah kesadaran kritis para intelektual karena kebanaran ditaklukkan oleh keinginan untuk merajai akal sehat. Kesangsian dikalahkan oleh kepastian akan nubuat akhirat. Maka proposal kehidupan kebangsaan seperti tangga untuk menuju alam baka. Krisis itulah yang membuat kita berpaling pada sebuah keyakinan untuk melahirkan pimpinan dari kasta intelektual.

 

Aku tidak mengajarkan kekerasan, tapi kalau kau injak kakiku; maka aku wajib membalasnya

(Malcolm X)

Maka rindulah kita dengan kepemimpinan alternatif, yang tidak sekedar memastikan kesejahteraan PNS, tapi juga mengangkat kewibawaan sebagai bangsa berdaulat. Meraih kehormatan itu dilakukan pertama-tama dengan, apa yang dikatakan Tan Malaka, keberanian dan kemauan keras. Kristalisasi dari sikap ini ada pada organisasi yang secara sadar memilih garis perjuangan yang menancapkan ‘tiadanya’ jarak antara massa dan pimpinan. PNI dulu memulai kader dengan memberikan pertanyaan dan Masyumi mengawali rekruitmen melalui kegiatan sosial dan pendidikan. Lebih dramatis lagi PKI yang kader-kadernya tangguh melalui ikatan persekutuan aktif dengan massa miskin. Pemimpin dilatih tidak melalui jalur karir, tapi rintisan perjuangan yang aktif si garis massa. Ini tentu saja bukan jalan organisasi semata tapi pendidikan yang melatih kematangan, harapan dan solidaritas.

Etika kaum muda seperti itulah yang dapat ditumbuhkan lewat pendidikan dan pengasuhan pada organisasi. Bersaing dengan rekruitmen para ‘pewarta akhirat’, maka organisasi anak muda yang melahirkan pemimpin tak bisa menanggalkan prinsip normal –nya: proses untuk tumbuh dalam kematangan, kegigihan dalam menaklukkan rasa putus asa dan kemauan keras untuk melahirkan karya-karya.

Restorasi kaum muda yang dibesarkan oleh cita-cita idealnya itu menemukan landasan yang ideal: pada sistem politik yang terbuka, walau bercampur dengan uang; kompetisi politik yang berbaur dengan watak oligarki; sekaligus proletarisasi yang memayungi mayoritas kehidupan rakyat. Luapan krisis itulah yang jadi titik awal untuk mendobrak peta imajinasi politik yang beku: konservatisme, oligarkii hingga watak feodal. Pada cermin kusam kehidupan sosial yang padat dengan belenggu itulah, maka anak-anak muda sebaiknya lahir untuk membawa utopia yang selama ini tak mampu dibuktikan. Keberanian untuk membawa bukti bahwa keadilan itu palsu dan kemakmuran hanya jamuan retorika dalam rapat para pejabat.

Ajak rakyat tidak hanya memaklumi tapi melawan kondisi zalim ini, sembari memberi peta masa depan yang mau diraih: Tan Malaka membawa sosialisme dalam mimpi masa depan, Hatta mengusung ide Republik dan Moh Natsir mewartakan etika kebangsaan. Kini pertanyaan paling ujung adalah, peta macam apa yang mau dibentangkan dan bersediakah kita semua memperjuangkan bentuk nyata dari peta itu?

Mengetahui apa yang baik, tetapi tidak melakukannya adalah sikap pengecut yang paling buruk (Kong Hu Cu)

Catatan Kaki

[1] Lih Husasyn Fattahi, Tawanan Benteng Lapis Tujuh, Zaman, 2010

[2] Lih Irving Karchmar, Sang Raja Jin: Novel tentang Cinta, Doa dan Impian, Kayla Pustaka, 2010

The following two tabs change content below.

Eko Prasetyo

Penulis, peneliti dan aktivis. Telah menulis banyak buku di antaranya: Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modern (2002), Islam Kiri: Jalan Menuju Revolusi Sosial, Orang Miskin Dilarang Sekolah (2004), dan Bangkitlah Gerakan Mahasiswa! (2014) dan yang terbaru Kitab Pembebasan (2016).

Latest posts by Eko Prasetyo (see all)

Eko Prasetyo

Penulis, peneliti dan aktivis. Telah menulis banyak buku di antaranya: Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modern (2002), Islam Kiri: Jalan Menuju Revolusi Sosial, Orang Miskin Dilarang Sekolah (2004), dan Bangkitlah Gerakan Mahasiswa! (2014) dan yang terbaru Kitab Pembebasan (2016).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *