Narcisius dan Nasehat Danau

Masih dapat saya petik kenangan bersamamu Tetta. Malam itu saya tidak bisa tenang, tidak juga mampu untuk tertidur padahal malam sudah larut. Ammah sudah berpesan kepadaku untuk membasuh muka dengan air wudu agar diri terjauhkan dari gangguan jin seraya malafalkan ayat Kursi dan tiga surah Kul hua Allah sebanyak tiga kali sebelum tidur agar terhindar dari sihir dan mendapati mimpi yang indah.

Rukun itu sudah saya laksanakan tetapi kepala dan bantal tidak juga mau berdamai. Sedangkan Ammah sudah pulas sejak tadi. saya masih terjaga sambil memandang cahaya bulan lewat jendela kamar. Bukan karena gangguan jin atau kekuatan mistik hitam yang membuatku gelisah. Tapi kepulangan Tetta yang belum juga ada tanda.

Adalah karena Tetta ahli bersyair dan berroyong saya tidak mau tertidur sebelum mendengar Tetta berkisah. Dan sekarang sudah hampir tengah malam. Ammah bilang kalau Tetta akan pulang di waktu yang sama. Jadilah saya begadang menunggu Tetta.

“Tok, tok tok. Assalamu alaikum.”

Benar pulalah apa kata Ammah. Tetta pulang pas tengah malam. Aku bangkit menyalakan lampu kamar mendengar suara berat Tetta di luar rumah. Aku lepas landas berlari ke depan pintu tapi karena terburu-buru, aku jadi lupa dengan kuncinya.

“Walaikum salam, sabar Tetta, kuambilkan dulu kuncinya.”

Kunci pintu itu tergantung di atas TV yang letaknya semeter saja dari meja makan. Aku meraihnya dan kembali ke depan pintu. Dan aku buka pintu itu sehingga terdengar bunyi meyeringit ulah engsel pintu yang mesti diminyaki.

“ Astagfirullah. Kenapa belum tidur Nak?”

“Saya menunggu Tetta.”

“Apa yang membuatmu menunggu Tetta?”

“Malam-malam yang lalu, Tetta berkisah soal perjalanan para burung. Tentang cerita cinta Batara Guru. Juga hikayat Hayy bin Yaqzan. Dan tidak bisalah saya terlelap tanpa mendengar kisah dari Tetta sebagaimana biasanya.”

“Kalau begitu berangkatlah ke tempat tidurmu, tunggulah Tetta di sana, Tetta hendak dulu berganti pakaian.”

Aku menurut perkataan Tetta. Kembali berjalan ke tempat tidur dan duduk diam di atas Kasur memasang wajah penasaran laksana kucing yang sedang menunggu makan.

Ada kiranya lima menit Tetta berganti pakaian. Dan menemuiku di kamar. Dan Tetta berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Kamu ingin Tetta ber kisah apa?”

“Apa saja Tetta, selama itu mampu saya tangkap.”

“Baiklah kalau begitu. Menurutkan keinginanmu. Tetta akan berkisah. Tapi janganlah kiranya meminta lebih karena malam telah larut. Sedang esok kamu mesti ke sekolah.”

“Baiklah Tetta.”

“Rebahkanlah tubuhmu Nak. Sandarkan kepalamu ke bantal seraya dengarkanlah Tetta bercerita. Mudah-mudahan jadi berkah untukmu.

Bismillahi rahmani Rahim. Dahulu kala hiduplah seorang lelaki tampan rupawan yang menjadi buah bibir para perempuan di negerinya. Ke manalah ia menginjakkan kaki di situlah perempuan berbisik-bisik soal ketampanannya. Lelaki itu bernama Narcisius. Amat masyhurlah wajahnya, Konon katanya dialah lelaki paling tampan seantero negeri.

“Jadi orang pada saat itu menjadikan wajah Narcisius sebagai pelipur lara di kala orang mendapati nasib kejelekan. Wajah eloknya jadilah pusat untuk memuja syukur kepada Allah Ta’ala. Sedang ada pula perempuan hamil di negeri itu tidaklah lagi mengidam buah cempedak atau jeruk purut. Tapi para suami haruslah menemani sang istri untuk memandang Narcisius walau sesaat. Para istri itu lalu akan melafalkan doa semoga anaknya akan dapat wajah yang elok nan rupawan macam Narcisius.

“Tapi apa yang dinilai orang ke pada Narcisius tidaklah sebagaimana adanya. Narcisius amatlah tampan luar tapi di dalam hatinya ia lemah. Ia tiada berkawan dengan lelaki lain. Karena laki-laki lain pastilah terganggu dengan Narcisius karena jadi pujaan para wanita. Tidak pula ia akan berkawan dengan perempuan, kalau pun ia berani berkawan dengan salah satu perempuan, jadilah perempuan lain iri. Dan mereka akhirnya saling menyambak rambut sehingga hanya mendatangkan keributan.

“Hiduplah Narcisius menyendiri tiada berkawan. Tiada pula saling mengadu kasih. Hidupnya sebagai musafir tak bisa membuatnya mengeluarkan isi hati kepada sanak-saudara. Karena tinggal jauh dari rumah orangtua.

“Hanyalah tinggal sebuah danau di belakang bukit desa tempatnya mengadu dan menyendiri. Saat malam tiba ke sanalah ia melangkahkan kaki sembunyi-sembunyi. Karena takut orang melihat dan mengikutinya hingga ke danau. Dan jika orang sudah tahu, tidak ada lagilah tempat untuk Narcisius mengeluarkan isi hatinya.”

“Malang kian nasib Narcisius itu tetta.”

“ Benar Nak. Banyak orang hendak mempercantik diri tapi rupanya jikalau cantik itu juga kelewat batas. Hanya mendatangkan masalah jua. Sebagaimana tertulis bagi hidup Narcisius.”

“Benar Tetta. Saya teringat Tetta pernah mengutip Aristoteles yang berkata untuk hidup moderat.”

“ Betul Nak, tapi apa yang dihadapi Narcisius tidak bisa serta merta di pertautkan dengan hidup moderat Aristoteles. Karena rupa Narcisius adalah bikinan Allah Ta’la dari lahir.”

“Saya mengerti Tetta, lanjutkanlah. Amatlah saya penasaran apa yang diperbuat Narcisius di danau.”

“Di sanalah ia bercermin Nak, di tenang permukaan air yang memancarkan pantulan cahaya bulan. Sehingga di sanalah ia memandang wajahnya sendiri. Dan tahukah engkau Nak. Narcisius menangisi dirinya di sana. Menyesali akan berkah berwajah tampan rupawan. Saban hari, seperti itu juga. Narcisius menyayat hatinya sendiri karena ingin hidup sederhana saja tanpa puja-puji dari orang-orang di desa. Karena rupanya puja-puji itu amat dekat dengan persangkaan buruk orang-orang yang merasa ingin juga dipuji. Jadilah hidup Narcisius diikuti oleh keresahan hati akan ada saja ancaman dari orang yang tidak menyukai keberadaannya.

“Tapi rupanya kesedihan Narcisius disaksikan oleh para malaikat. Dan di antara berjutaan malaikat di langit, malaikat yang mengatur danaulah yang menyimpan perhatian kepada Narcisius. Ia bermohon kepada Allah Ta’ala. Karena tak tahan dengan hidup nestapa yang di tempuh oleh Narcisius. Ia bermohon agar diberilah danau itu lidah tempat Narcisius bercermin. Allah Ta’ala mengabulkannya.

“‘Hey Narcisius, mengapa engkau terus saja menangis di hadapanku,’ begitulah danau itu berucap.

“Narcisius kaget mendengar suara di tempat yang sepi orang yang punya mulut.

“‘Siapa gerangan yang bersuara di sana.’

“‘Akulah Danau, tempat kau bercermin.’

“Semakin bingunglah Narcisius mendapati keajaiban ini, ia lantas bertanya. ‘Mengapa engkau bisa berbicara. Atau aku baru saja tergigit serangga yang punya sengat bikin mabuk, sehingga hilanglah fungsi daun telingaku.’

“‘Tidak, engaku tidak tertipu oleh telingamu. Dikehendakilah saya untuk bertutur biar dapat saya sampaikan nasehat buat kau barangkali dapat berberkah untuk hidupmu.’

“‘Nasehat apakah itu. Sungguh amat saya perlu nasehat agar bisa jalani hidup yang berat ini. Sudah saya naik turunkan niat ingin bunuh diri. Tapi pesan orangtua lebih kuat saya pegangi.’

“‘Janganlah engkau bunuh diri. Tuhan sudah gariskan apa yang mesti kau lewati. Jalanilah hidup. Akan saya berikan engkau nasehat sebagai keluasan petunjuk dari Allah Ta’ala. Tapi sebelum itu, berilah saya kesempatan untuk bertanya padamu Narcisius.’

“‘Bertanyalah. Saya persilakan.’

“‘Apakah dikau tak mensyukuri nikmat Tuhan berwajahkan keindahan sehingga jadilah orang suka memandang dirimu?’

“‘Apalah artinya wajah yang tampan ini jika hidup sendiri menjadi kesialan?’

“‘Mengapa tidak saja kau berbuat baik kepada tetanggamu. Barangkali itu dapat menyenangkan dirimu seraya orang lain dapat pula senang hatinya.’

“‘Apalah yang mesti saya bantukan. Kalaupun saya mau, orang lain jadilah ingin pula di bantu.’

“‘Mengapa tidak kau cobakan saja?’

“‘Sekali dicoba hanya akan datang masalah lagi makin buruklah garis takdirku.’

“‘Bagaimanakah engkau memandang mereka yang memuja memuji ketampananmu, tiadakah engkau berterima kasih kepada mereka?’

“‘Mengapa perlu saya berterima kasih. Karena nafsu mereka jadilah saya orang yang terpenjara. Hendak minum teh di pekarangan rumah, adalah orang pula datang menjerit ke arahku. Selain itu ada pula yang menyimpan benci di hatinya lantaran saya di tuduh menganggu istri orang. Padahal tiadalah saya pernah menyebut satu pun nama perempuan di desa ini.’

“‘Kalau begitu izinkanlah saya menyampaikan sepatah kata nasehat agar bisa kiranya jadi petuah hidupmu agar tidak berkalang airmata. Dan bercermin ke padaku dengan rupa putus asa. Padahal Allah Ta’ala tiada menyukai hambanya yang putus asa.’

“‘Apa nasehat itu wahai Danau”

“‘Letak kesialan hidupmu bukanlah karena ketampanan wajahmu. Rupanya itu ujian kepada engkau sebagaimana Tuhan menguji hamba yang lainnya. Tiadalah engkau terpenjara lantaran orang lain. Tetapi dirimulah sendiri yang memasang jeruji di hatimu. Orang lain adalah cerminan dirimu sebagaimana engkau bercermin di permukaan air ini. Kau dapati wajahmu yang sial sehingga engkau memandang segalanya menjadi sial. Padahal sendainya engkau bijak memandang dan mencintai dirimu akan turut pula cintamu kepada orang lain. Maka terimalah ketampananmu seraya engkau bersolek juga untuk hatimu. Jagalah dirimu dan jagalah tetanggamu. Cintailah orang-orang di desamu sebagai mana engkau mencintai dirimu sendiri. Berkawanlah engkau kepada kawan yang berhati luhur. Jauhilah orang yang menjerumuskanmu dari ingat kepada Tuhan. Janganlah engkau takut dipermusuh. Karena perbuatan baik akan selalu dihalangi oleh syaitan.’

“Narcisius tersentuh hatinya dengan nasihat dari Danau. Ia jadi insaf dengan dirinya sendiri. Bersujudlah ia memohon Tobat Kepada Allah Ta’ala. Seraya berikhtiar untuk memperbaiki diri dan memupuk cinta kepada sesama.

“Pada saat Narcisius bersujud. Dicabutlah lisan danau itu. Ia mungkin akan berbicara lagi jika Tuhan menghendaki.

“Jadi seperti itulah kisah Narcisius. Ambillah buah kebijaksanaan dari cerita ini anakku. Karena sesungguhnya amat merugi orang yang tinggi diri. Sebagaimana danau itu berpesan. Jikalau kau benci kepada seseorang karena wataknya. Tengoklah kembali dirimu. Barangkali dirimu yang sesungguhnya engkau benci. Jangan pernah engkau ucapkan caci maki kepada orang lain karena barangkali engkau lebih hina dari dirinya. Jika engkau melihat sesuatu dan engkau tidak menyukaianya. Lafalkan Astagfirullah, karena timbul cinta orang lantaran cinta kepada dirinya. Timbul pula kebencian kepada orang lain lantaran bencinya ia kepada diri sendiri. Begitulah simpulan kisah ini. aku harap engkau bisa tidur lelap anakku.”

“Terima kasih Tetta”.

Seingatku malam itu hanya kata terima kasih itu yang sempat ku ingat karena setelah itu. Ingatan yang masih dapat saya gambarkan bahwa Terbangunlah aku Karena bunyi orang mengaji dari toak Masjid. Dan Tetta datang membangunkanku.

Catatan: Kisah Narcisius dan Danau dalam cerpen ini terinspirasi dari mitologi Yunani antik tentang Hikayat Narcissus. Maka dari nama tokoh dan sebagian sudut pandang cerita sudah diubah penulisnya sesuai kebutuhan cerita pendek.

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/307159637068315440/

The following two tabs change content below.

Ma'ruf Nurhalis

Lahir di Makassar, 5 Mei 1996. Mahasiswa Jurusan Akidah filsafat UIN Alauddin Makassar

Latest posts by Ma'ruf Nurhalis (see all)

Ma'ruf Nurhalis

Lahir di Makassar, 5 Mei 1996. Mahasiswa Jurusan Akidah filsafat UIN Alauddin Makassar

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *