Sekolah Kejujuran dan Keguruan

Salah satu program wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa adalah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Untuk mahasiswa keguruan, medan latihnya adalah sekolah. Mahasiswa keguruan akan di tempatkan sebagai pengajar di beberapa sekolah selama beberapa bulan. Boleh dikata, program ini merupakan ujian untuk mengasah kompetensi dan profesionalitas mahasiswa dalam mengajar, sebelum benar-benar dilepas ke masyarakat.

Lalu, apa yang ada dipikiran kita ketika mendengar kata sekolah? “Mendengar kata ‘sekolah’, pada umumnya seseorang akan membayangkan suatu tempat di mana orang-orang melewatkan sebagian masa hidupnya untuk belajar atau mengaji sesuatu”, ujar Roem Topatimasang, dalam bukunya, Sekolah itu Candu. Sekolah adalah tempat di mana terdapat ruang kelas, kurikulum, guru dan siswa. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal, di mana terjadi proses guru mengajar dan siswa belajar.

Pada mulanya, sekolah yang berasal dari bahasa Latin scola atau scolae, berarti mengisi waktu luang. Hal ini, berhubungan dengan kebiasaan orang-orang pada masa Yunani kuno. Mereka menitipkan anaknya pada seseorang, untuk mengisi waktu senggang – semacam tempat penitipan anak, kala mereka sedang bekerja. Maka seiring dengan perjalanan waktu, sekolah terus beralih fungsi. Dari sekadar kebiasaan untuk mengisi waktu luang, hingga menjadi sebuah sistem lembaga pendidikan, tempat proses belajar dan mengajar seperti saat sekarang ini.

Maka sebagai seorang mahasiswa keguruan, mengajar menjadi rutinitas baru yang saya lakoni. Setidaknya dua kali dalam sepekan, harus berperan dan hidup selayaknya guru. Artinya, segala tata aturan keguruan dan sekolah di mana saya di tempatkan, harus diikuti. Disiplin dan integritas tinggi, harus menjadi modal utama. Sebab, menjadi seorang guru berarti menjadi pendidik, dan mendidik bukan hanya di dalam tapi juga di luar kelas.

Oleh karena itu, untuk menjadi pendidik yang baik, terlebih dahulu mendidik diri sendiri. Menyitir apa yang dikatakan oleh Munif Chatib dalam bukunya, Sekolahnya Manusia, bahwa “di setiap sekolah manapun dengan kualitas apapun, para siswanya adalah amanah yang perlu dijaga. Dan orang yang paling bertanggung jawab adalah para guru. Sekolah unggul adalah sekolah yang memiliki guru profesional.”

Guru harus menyadari bahwa pendidikan bukanlah proses pemberangusan kebebasan berekspresi. Sebagaimana yang sering digaungkan Paulo Freire, bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Olehnya, sistem belajar mengajar yang selama ini terpusat pada guru harus ditanggalkan. Guru yang baik, selayaknya mampu menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswanya. Guru dan siswa merupakan salah satu elemen penting dalam institusi sekolah. Karena proses transformasi pengetahuan, akan berlangsung ketika terjadi interaksi yang baik antara keduanya.

Terdapat 3 aspek yang coba dibangun dalam institusi bernama sekolah, yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ketiga aspek ini dalam dunia pendidikan dikenal sebagai Taksonomi Bloom, yang dirumuskan oleh Benjamin S. Bloom. Kognitif berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek pengetahuan (knowledge). Psikomotorik berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek motorik seperti persepsi, kesiapan, dan lain-lain. Sedangkan, afektif berisi tentang perilaku yang menekankan aspek perasaan/emosi seperti sikap, apresiasi, dan lain-lain.

Dengan demikian, ketiga domain inilah yang menjadi aspek penilaian setiap guru kepada siswa. Begitu pun saya, yang sedang melakoni sebuah drama pendidikan dan berperan menjadi guru. Maka dalam sebuah adegan, untuk mengasah aspek afektif siswa, saya memberikan sebuah pekerjaan rumah. Saya meminta mereka, untuk mengerjakan tugas tersebut di tempat di mana tidak ada siapa pun yang melihat. Sebuah skenario yang terinspirasi dari kisah yang pernah disampaikan oleh seorang penceramah di kampung. Kegiatan ini untuk menumbuhkan kesadaran siswa, bahwa setiap laku kita senantiasa dilihat oleh Tuhan. Sikap ini akan menghantarkan siswa agar senantiasa berlaku jujur dalam segala hal. Mengingat saat ini, kejujuran menjadi nilai yang mulai langka di bangsa kita.

Jadi dalam mengajar, bukan hanya kemampuan kognitif siswa yang harus menjadi fokus perhatian setiap guru, tapi juga aspek psikomotorik dan afektif. Nilai-nilai moralitas juga harus dan wajib ditanamkan kepada siswa. Hal lain yang harus dipahami oleh setiap guru dan orang-orang yang menjadi seperti guru macam saya, bahwa mengajar merupakan ibadah. Maka ikhlas menjadi kata kunci yang harus ditumbuhkembangkan dalam sanubari kita.

Hal ini, senada dengan tutur Ibn Atha’illah as-Sakandari dalam bukunya yang berjudul Al-Hikam, bahwa “Amal perbuataan adalah bentuk-bentuk lahiriah yang tegak, sedangkan ruh amal perbuatan itu ialah ikhlas”. Oleh karena itu, keikhlasan merupakan sesuatu yang niscaya dilibatkan dalam dalam proses mengajar dan belajar, bukan hanya guru tapi siswa pun harus ikhlas dalam mengikuti setiap pelajaran.

Ilustrasi: http://www.huffingtonpost.com/2013/06/26/nea-master-teacher-project_n_3500332.html

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *