Ada masa ketika kebutuhan hakiki adalah perhatian, pengakuan, dan pengukuhan. Namun itu tak kan lama. Karena sesungguhnya setiap manusia akan menuju pada titik ikhlas. Di mana pujian, sanjungan, dan pengakuan tak lagi sepenting dulu. Mereka berbuat karena ada rasa senang dan bahagia melakukannya. Mereka berbagi karena mereka tahu ada hak-hak orang lain di dalamnya. Dan mereka berbuat karena semata mengharap rida Sang Kekasih. (Mauliah Mulkin)

Sehari sebelum esai ini saya bikin, terpenuhilah hasrat saya menulis status di akun facebook, gegara pertanyaan rutinnya mesti dijawab, “Apa yang anda pikirkan sekarang?”  Dan, saya pun menjawabnya dengan tutur, “Hari ini, pasangan saya,Mauliah Mulkin, sudah bergabung di angkatan 45. Maksudnya, berulang tahun yang ke-45. Dianya lahir tanggal 14 Januari, 45 tahun yang lalu. Jamaah facebook, marilah melantunkan doa, dan peneguhan harapan, agar sehat bin bahagia di kemelataan hari-hari berikutnya.” Kontan saja sepanjang hari, para jamaah di facebook melantunkan sahutan doa, harapan, dan ucapan selamat, yang jumlahnya 359 (jempol, super dan wow). Plus, komentar yang begitu apresiatif sebanyak 79.

Sesarinya, Mauliah Mulkin, tidaklah pernah meminta untuk saya buatkan status, bahkan cenderung cuek. Namun kali ini, sepertinya tidak, sebab dia harus menjawab sederetan komentar yang ada di akun saya. Seharian telah dicobanya, waima belum semuanya dibalas. Karena membalas komentar, baginya mestilah sepadan. Maklum saja, dia seorang perpeksionis dalam berkata-kata, apatah lagi ketika menuliskannya.

Sesungguhnya, Mauliah Mulkin, bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang sering saya panggil sejak dulu, baik sebelum menjadi pasangan saya, maupun saat ini, dengan sebutan Uli. Dan, untuk keperluan tulisan ini, sekaligus memenuhi rasa penasaran, maka saya bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) v1.1, termaktublah penjelasan bahwa Uli adalah, “Peganan yang dibuat dari ketan dan parutan kelapa (sering dimakan bersama dengan tape ketan).” Arti berikutnya, bisa pula, “Baik, elok (untuk nama timang-timangan).”  Lalu, saya pun membatin, pantaslah enak berpasangan dengan Uli, baik akhlaknya nan elok rupanya.

Sedasarnya, Mauliah Mulkin, yang sudah menjadi “angkatan 45” itu, berupalah sosok penjaga toko buku, yang oleh para konsumennya sering disapa Bu Uli. Selain itu, dia juga seorang guru mengaji dan les pribadi bahasa Inggris, yang bagi santri dan muridnya dipanggil Ustazah Uli. Sering juga digoda oleh saudara-saudarinya dengan menamainya Empok Uli. Terkadang jua, segenap kawan aktifisnya merapalkan Ukhti Uli. Oleh sekaum ponakannya, meruahkan ungkap Umi Uli. Dan, bagi adik-adiknya di seantero kampus, yang berinteraksi dengannya, dalam pelbagai organisasi kemahasiswaan, terlebih lagi di Kelas literasi Paradigma Institute, sekotahnya menyeru Kak Uli.

Sebentuknya, Mauliah Mulkin, di era kiwari ini, pun telah mengada pada pengukuhan diri selaku pegiat literasi dan parenting. Dialah yang menggawangi Kelas Literasi Paradigma Institute setiap hari Ahad, yang dibantu oleh beberapa pegiat lainnya. Soalnya, kelas ini memang berlangsung di rumah yang bergandengan dengan toko bukunya. Dan, sekali sebulan, pun ada Kelas Parenting yang diasuhnya bersama sejawatnya. Lebih dari itu, membaca dan menulis adalah aktivitas rutinnya. Sehingga tulisan-tulisannya, sering nangkring di media daring maupun luring.

Sejatinya, Mauliah Mulkin, yang mewujud Uli ini, pada setiap hari jadinya, mendapatkan limpahan hadiah, baik yang bersifat material, terlebih lagi yang spiritual. Saya sendiri, telah memberikan pendakuan, saban momen berharga ini tiba. Teringatlah saya kembali, pada sejumput puisi, yang saya dedikasikan buatnya, pada usianya yang ke-41, yang terabadikan dalam buku sehimpunan puisi, AirMataDarah, dengan judul “Per-Empuan-an”.

Baiklah, saya copotkan penggalannya, “Mengempu bermakna menjadilah Empu. Sosok Empu, keberadaannya ada pada pesonanya, yang memesona lalu semesta terpesona. Sehingga, ke-Empu-anmu menjadi nyata. Sebab, dikau telah menghormati, memuliakan, mengasuh, dan membimbing di kisaran…Per-Empu-an, menurutku adalah tempat kembali kala semesta mengusik pikir dan menggundah hati. Dan itu dikau telah nyatakan, lewat laku, sikap dan tindakan.”

Bagi saya, selaku pasangannya, walau lebih banyak bertindak sebagai kawannya, anaknya, adiknya, kakaknya dan berbagai elemen kesepadanan interaksi kemakhlukan lainnya, telah mendapuknya selaku perempuan yang telah menjadi empu. Dan, rupanya pendakuan saya ini, ibarat umpan yang saya lemparkan, langsung pula disambar dengan pendakuanya, senampak yang telah dibentangkannya, lewat status di akun facebooknya, seperti yang saya nukilkan dalam pendahuluan esai ini. Demikianlah, pada batas waktu yang telah dijalaninya, empat puluh lima tahun, saya menabalkannya kembali selaku empu. Yah… empu Uli.

 

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *