Tiga hari sebelum esai ini saya tulis, yang bertepatan dengan hari Ahad, 5 Februari 2017, sebagai Dies Natalis HMI ke- 70, seorang senior di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kak Abdul Rasyid Idris, lewat pasangannya, Kak Rusnawati Tahir, menembus derasnya hujan, yang sudah berhari-hari menggempur Kota Makassar, menyambangi saya di tempat kerja, guna menyerahkan hadiah, berupa buku. Sebuah buku yang berjudul Anging Mammiri, hasil anggitan Kak Rasyid. Sejangkau ingatan saya, buku ini merupakan bukunya yang ke-5. Dan, buku yang ditulis kali ini, bermuatan penggalan-penggalan ingatannya seputar tahun 70-80an, pada kota yang sangat dicintainya, Kota Makassar.

Selain dari isi buku yang garib, yang tak kalah menariknya adalah secarik pengantar lantip dari seorang budayawan, penulis dan akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), dan guru bagi sekaum aktivis muda, Alwy Rachman. Dari sajian pracitra yang didedahkan, Alwy memperkenalkan seorang penulis berkebangsaan Perancis Pierre Nora, lewat karyanya,”Di antara Ingatan dan Sejarah” bahwa ingatan tak pernah dikenali melebihi dua bentuk legitimasinya: ingatan sebagai sejarah dan ingatan sebagai literasi.

Lebih khusyuk Alwy mendaku, di ingatan terpatri sekumpulan “tugu ingatan” yang dibentuk oleh lokus, momen dan sosok aktor. Ketiganya menunjukkan bekas, persis seperti pendakuan Pierre Nora, “Ingatan bersifat absolut, sejarah bersifat relatif”. Pun, lebih dalam ia bilang, “no spontaneous memory”, tak akan ada ingatan yang terpatri secara spontan. “Tugu ingatan” hanya bisa dibentuk dengan cara memerdekakan masa lalu, meriwayatkannya, merayakannya, dan menghormatinya. Dan, dari alas pikir inilah, saya ingin meneladani senior saya itu, untuk memadatkan sepenggal ingatan, pada sebuah tempat persinggahan jalan juang, di HMI, bertahun-tahun lalu, semirip adaptasi judul film, Once Upon a Time in…, yang objeknya, HMI. Serupa dengan maksud terjemahan, pada suatu ketika di HMI.

***

Sebagai anak yang lahir dan bertumbuh di kampung, berhasil menembus pendidikan tinggi, menjadi mahasiswa merupakan kesempatan yang garib, khususnya dalam lingkaran keluarga saya. Betapa tidak, saya anak ke-6 dari delapan bersaudara, mendapatkan kesempatan masuk di perguruan tinggi, lewat jalur bebas tes – istilahnya waktu itu, PMDK – di IKIP Ujung Pandang. Kala itu, hanya anak-anak yang lantip secara akademiklah yang memperoleh jalur itu, guna menjadi mahasiswa. Meskipun jadinya, selama menjadi mahasiswa, saya tergolong mahasiswa yang telat selesai. Lebih dari tujuh tahun, waktu yang harus saya mangsa untuk menjadi sarjana. Nyaris DO.

Selaku anak yang berkembang dalam didikan pola keagamaan tradisional, yang secara kelembagaan ditujukan pada Nahdatul Ulama (NU), saya tergolong anak yang atraktif dalam mengawal bentuk keagamaan di kampung. Menjadi aktivis remaja mesjid, ikut pula  ber-IPNU, dan kelak ber-Ansor, setidaknya, saat di Makassar, didapuk untuk mewakili Latihan Kader Tinggi Ansor. Singkatnya, seluruh jati diri keberagamaan haruslah merujuk pada tradisi keberagamaan ala NU, mulai dari yang paling kulit, hingga yang paling inti. Sering saya menabalkan, bahwa agama keluarga saya adalah NU, jauh sebelum Ahmad Baso menuliskan bukunya, Agama NU.

Selayaknya, sebagai konsekuensi dari pola keberagamaan NU itu, saya mestinya ketika menjadi mahasiswa, melanjutkannya ke organisasi kemahasiswaan ekstra universiter, yang punya afiliasi model keberagamaan NU, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tapi apa lacur, sejak tahun pertama, 1985, setelah menempuh semester pertama, saya ikut Basic Training (Bastra) di HMI, dan tahun berikutnya, saya masuk Darul Arkam Dasar (DAD), lalu lanjut Darul Arkam Menengah (DAM) di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Begitu ketahuan saya masuk organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi ke Muhammadiyah, kontan saja Abba (baca:bapak) saya, merasa terganggu ke-NU-annya. Maka saya pun “diadili” olehnya. Dan, ada kalimatnya yang masih saya ingat hingga di usia jelang setengah abad ini, “Kamu disuruh pergi kuliah, bukan untuk menjadi Muhammadiyah.”

***

Seiring dengan bergulirnya waktu, tahun-tahun berikutnya, saya kembali masuk Intermediete Training (Intra) HMI. Dari pintu training jenjang kedua inilah, sesungguhnya yang paling banyak menghidu perjalanan kemahasiswaan, dan juga keberagamaan saya. Training yang berlangsung selama sepuluh hari, yang rata-rata tiga materi kajian setiap harinya, yang dari setiap materi itu ada penugasan makalah, boleh saya nyatakan sebagai tonggak pembentukan vision lamonde saya dalam keberislaman dan keberindonesiaan, sebagai bagian dari umat dan bangsa.

Betapa tidak, di forum Intra inilah, segala macam jenis pemikiran disajikan. Istilah pemikiran kanan, tengah dan kiri, sekotahnya saya dapat nikmati dengan leluasa. Bahkan, sebelum masuk Intra, saat dites wawancara, seorang senior penguji bertanya, “Sudah berapa buku yang kau baca?” Dari pertanyaan ini saja, saya sudah bisa membayangkan bahwa forum nantinya, amat berbau intelektual, sangat beraroma buku. Dan, memang kenyataannya, di forum Intra ini, semua perbincangan selalu disandarkan referensi, yang dominannya adalah buku. Saya sendiri, sewaktu ikut Intra ini, membawa perbekalan buku yang lumayan, di atas 50an judul.

Pasca Intra, makin akrablah saya dengan berbagai pemikir dan pemikirannya, dari berbagai penjuru mata angin. Nama-nama semisal: Imam Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Yusuf Qardhawi, Abu A’la Al-Maududi, Taqiuddin An-Nabhani, Abolhasan Bani Sadr, Baqir Sadr, Imam Khomaeni, Ali Syariati, Murtadha Mutahhari, Muhammad Arkoun, Abed Al-Jabiri, Asghar Ali Engineer hanyalah sekadar contoh yang bisa saya sebutkan. Para pemikir dan pemikiran non-muslim pun saya lahap, mulai dari yang kiri, hingga kanan. Nama-nama seperti: Gandhi, Habermas, Derrida, Focoult, Camus, dan Fukuyama. Karya-karya sastra pun, saya santap dengan rakus.

Bahkan, pemikir dan penyair yang lebih jauh ke masa silam pun, seumpama: Marx, dkk. serta para pengeritiknya,  saya daras pula. Hafiz Syirazi, Omar Khayam, Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal, serta Kahlil Gibran, tidak luput dari bacaan saya. Tentu saja, kaum intelektual tanah air pun, dari berbagai aliran pemikiran ikut menghiasi sedapnya bacaan. Tjokro, Soekarno, Tan malaka, Natsir, Kuntowijoyo, Gus Dur, Nurcholis Madjid, Jalaluddin Rakhmat, Emha Ainun Najib, Dawam Raharjo, Mansour Faqih, Amin Rais, Syafii Maarif, dll. adalah  senyatanya rujukan pikiran. Penerbit buku terdepan yang menjadi buruan saya, diantaranya: LP3ES, Gema Insani Pres, dan Mizan, serta penerbit yang lebih belakangan. Sekotah pemikir dan pemikirannya, penerbit dan terbitannya, hingga kini masih tersimpan di ruang baca saya, berupa buku dan jurnal, yang ribuan jumlahnya.

***

Hingga tibalah pada satu kondisi, yang membadaikan HMI secara internal, gegara peristiwa pemaksaan Asas Tunggal Pancasila, bagi semua orsospol dan ormas. HMI terbelah, yang menerima Azas Tunggal dikenal kemudian dengan sebutan HMI-Dipo (Diponegoro), sementara yang tetap mempertahankan azas Islamnya, ditabalkan panggilan MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). Saya pun selaku kader HMI, yang ikut mewarisi keterbelahannya. Lebih dari itu, dalam konteks Cabang Makassar, yang “terombang-ambing” kondisinya, sampai era 90an, melibatkan diri untuk membentuk kepengurusan formal HMI MPO, yang kemudian tahun kepengurusan 1992-1993, saya didapuk menjadi Ketua Umum HMI MPO Cabang Makassar.

Memilih dan mengurus HMI MPO, bukanlah tanpa resiko. Rezim Orba yang otoriter dan repressif terhadap segala yang menentangnya, menemukan begitu banyak resiko. Dan, hingga saya mengikuti Advanced Training di Yogyakarta, sampai menjadi salah seorang Ketua Bidang Intelektual dan Budaya PB HMI, periode 1994-1996, selanjutya, menjadi anggota Majelis Syuro Organisasi (MSO) HMI MPO, periode 1996-1998, cukup memadai pergulatan pemikiran yang saya hadapi, plus pergumulan sosial politik di bawah hegemoni rezim Orba. Ringkasnya, menurut Abdul Aziz Kahar Muzakkar, yang juga senior di HMI, bilang “menjadi aktivis HMI MPO, bisa bermuara pada resiko, satu kaki di penjara, dan satunya lagi di kuburan.”

Pergumulan pemikiran yang begitu sedap, menuai resiko turunan. Karena luasnya pengembaraan, keraplah saya didapuk sebagai orang sesat dan menyesatkan. Bahkan, tatkala saya mendirikan sejenis tempat berkumpul, sebentuk komunitas pengkajian pemikiran buat kaum muda, kerap kali dituding sebagai sarang pengembangbiakan kesesatan. Soalnya, apa yang dipersoalkan oleh kebanyakan orang saya tidak lagi mempermasalahkannya. Itulah sebabnya, saya terbiasa berbeda pendapat dengan siapa pun, yang mungkin saja amat tabu bagi kebanyakan orang.

Bagi saya, di era paling kiwari ini, saya telah terlahir sebagai generasi anak bangsa, yang pemikirannya sudah post NU-Muhammadiyah dan pasca mazhab Sunni-Syiah, serta kiri-kanan oke. Saya sering mengedepankan diri, sebagai sosok generasi Nuhammadiyah (NU-Muhammadiyah) dan penganut mazhab Susi (Sunni-Syiah), serta penikmat wacana Kika (Kiri-Kanan). Satu-satunya tempat bersandar dari pelipur lara tudingan adalah pada Gus Dur, yang tuturnya mengademkan, “NU itu ada di mana-mana, tapi tidak ke mana-mana.” Tengkiyu Gus.

 

 

 

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.