Seperti biasa, di akhir pekan saya nimbrung di sebuah persamuhan yang menyajikan makanan bernutrisi bagi jiwa. Tentunya lengan baju kemalasan mestilah disisihkan. Hasrat berlibur haruslah digulung lalu disimpan rapi dalam lemari. Dan rasa kantuk yang menggoda harus dibenam dalam bantal. Semua itu nampak sederhana dan siapa pun bisa melakukannya. Entah sejak kapan hal ini terasa mudah, bahkan saya sangat menikmatinya. Padahal tahun-tahun kemarin teramat sulit melepaskan diri dari terungku kemalasan. Mungkin saja Tuhan memberi hidayah, dan membuka mata hati yang terlelap agar dapat melihat kebenaran. Dengan menghancurkan rantai kemalasan yang membelenggu, Tuhan seakan berkata “selamat tersesat di jalan yang benar.”

Pada mulanya, hanya coba-coba saja mengikuti seruan sesepuh sekaligus imam tempat ibadah tersebut. Tapi iman – dalam arti ketetapan hati – tumbuh dan saya merasa terpanggil. Akhirnya, menjadi keseringan berkunjung guna beribadah. Dari luar tempatnya nampak sederhana, hanya terdiri dari beberapa petak ruang saja. Tapi kala berada di dalam, kita akan menemukan dunia yang luas. Seolah berada di hutan lebat nan sejuk dengan buah-buahan bergizi bagi jiwa, yang di dalamnya mengalir sungai bening menjernihkan nalar. Atau berada di tengah hamparan ilalang dengan hembusan angin sepoi-sepoi memanjakan jiwa.

Berbagai macam pikiran baik sekuler, moderat, liberal, nasionalis, ekstrem, dan pikiran berbau religius – syiah atau sunni – hidup damai tanpa pernah berdebat sama sekali. Intinya, kiri kanan oke.  Amat berbeda jauh dengan watak manusia yang suka berdebat, tapi enggan membuka ruang dialog yang sehat. Sehingga sipakala’biri (baca: saling menghormati) sebagai nilai-nilai moral warisan tau rioloa (baca: orang dulu), tidak bisa dimanifestasikan dalam kehidupan sosial kita. Dan akhirnya mewujud dalam berbagai macam konflik. Gus Dur pernah bertitah bahwa “faktor penyebab terjadinya konflik adalah mau menang sendiri tanpa batas, sehingga tidak ada toleransi.”

Lihatlah, buntut semua itu adalah saling ngadu pada pak polisi. Jadilah kantor polisi sebagai tempat curhat. Polisi yang tidak mampu membuat pihak-pihak bersalaman dan saling merangkul, juga ngadu sama pak hakim. Maka meja hijau menjadi gelanggang dan bui sebagai hadiahnya. Mungkin saja kita lupa atau mungkin pura-pura lupa nasihat Rasulullah SAW di Mina, pada khotbah bersejarah haji wada’. “Kita adalah saudara! Bapak kita adalah Adam yang tercipta dari tanah, yang membedakan adalah tingkat ketakwaan kita,” sabda Rasulullah. Peristiwa haji wada’ atau haji perpisahan merupakan tanda berakhirnya tugas kenabian Muhammad SAW. Dengan diturunkannya wahyu terakhir alyauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu alaikum ni’matii wa radiitu lakumul islama diina. Yang artinya kira-kira begini, “Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan Aku cukupkan nikmatku untukmu, dan telah kusempurnakan Islam sebagai agamamu.”

Jikalau sudah ingat, kita kembali ke Makassar. Jaraknya beribu-ribu kilometer dari Mina, tempat saya beribadah. Dindingnya dijejali ribuan makanan jiwa kaya nutrisi. Aromanya mungkin tidak sesedap aroma coto Makassar atau mie soto sekalipun. Karena memang wanginya tidak tercium kala menggunakan hidung jasmani. Tapi harus dengan potensi ruhani, yakni akal dan jiwa. Dengan begitu aroma pengetahuan, yang menjadi bangunan dasar tempat ini akan terasa.

Makanan jiwa yang saya maksud adalah buku-buku. Karena memang adalah toko buku dan perpustakaan pribadi guru Han alias Sulhan Yusuf. Tidak mudah membangun surga seperti ini. Karena “membangun perpustakaan berarti membangun kehidupan”, ujar Carlos Maria Dominguez dalam Rumah Kertas. Maklumlah kalau maha guru – guru Han – sering menyebutnya sebagai gua tempat bermiditasi.

Di gua meditasi guru Han ini, ritual ibadah literasi saya lakoni. Tempat ibadah ini sangat menjunjung tinggi pluralisme dan kebebasan berpendapat. Dan di tempat ini pula, berbagai macam laku literasi digalakkan untuk negeri. Mulai dari kelas menulis, kelas logika dan epistemologi, kelas parenting, dan masih banyak ritual-ritual literasi lainnya. Hal yang semestinya menjadi tugas bersama masyarakat dan elemen pemerintah.

Saya ingatkan kembali borok negeri kita – bukan maksud membuka luka lama – yang saya tuang dalam esai Kopi dan Pahitnya Literasi, bahwa tingkat literasi bangsa Indonesia berada pada titik terendah. Why? Ketika melacak perjalanan kelampauan negeri bernama Nusantara, budaya literasi senantiasa mengawal sejarahnya. Padahal saat itu, membaca dan menulis merupakan pengetahuan langka yang hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Sedang era digital ini, membaca dan menulis sudah menjadi sebuah keniscayaan. Anehnya, saat semua orang pandai baca tulis, membaca buku menjadi laku yang langka.

Di masa lalu banyak karya besar lahir dari tangan dingin para empu, tulisan yang menembus ruang dan waktu. Tersebutlah Negarakertagama, karangan empu Prapanca yang banyak berkisah tentang Majapahit. Atau epos La Galigo yang bercerita tentan Sawerigading, yang konon lebih panjang ceritanya dari epos Ramayana di India. Berkat buah spiritual dari ibadah literasi para empu-empu penulis di masa lampau, kita punya bayangan akan peristiwa sejarah dan sederet dinamikanya. Benarlah apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer bahwa “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Maka ibadah literasi mesti terus digalakkan di negeri ini. Hingga “getaran-getaran gerakan literasi itu makin hari makin terasa, dan akan bergerak menjadi gelombang literasi, yang akan menghasilkan akumulasi: Gempa Literasi.” Begitulah ujar Sulhan Yusuf pada puisi berjudul Literasi dalam sehimpun puisi Air Mata Darah. Penggalan puisi ini merupakan pengobar api semangat, untuk orang-orang dengan kesadaran penuh menceburkan diri dalam kubangan gerakan literasi. Akhirnya melalui puisi yang sama, guru Han mengajak manusia sejagad untuk menunaikan ibadah literasi. “Marilah satukan potensi, timbulkan getaran-getaran, guna menyongsong gempa literasi, agar negeri ini tercerahkan pikirannya dan tersingkap ruhaninya.”

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.