Somba Opu, Museum, dan Golongan Merah Putih

Benteng Somba Opu merupakan salah satu kawasan wisata sejarah di Sulawesi Selatan. Benteng Somba Opu memiliki eksotismenya sendiri. Hampir setiap hari, benteng ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal. Di dalam benteng terdapat rumah-rumah adat dari berbagai daerah. Selain itu, terdapat museum dan meriam peninggalan kolonialisme sebagai sarana edukasi. Rimbunnya pepohonan yang menawarkan kesejukan, juga menjadi magnet pemikat untuk sekadar bersantai, ber-selfie ria atau beradu romantisme.

Benteng Somba Opu, melukiskan keragaman suku, ras, dan adat di Sulawesi Selatan. Bangunan-bangunan khas suku Bugis, suku Makassar, suku Toraja, dan Mandar berdiri dengan elegan. Saya pernah berpikir, seharusnya setiap tahun diadakan festival adat di tempat ini. Pesta akan dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing daerah dari 4 etnis yang berbeda, lengkap dengan pakaian adatnya masing-masing. Kemudian di tanah lapang depan museum, panggung ditata untuk pementasan tarian tradisional dan nyanyian khas daerah. Sedang di sudut lain, tempat kuliner asli Sulawesi selatan dijajakan. Sungguh pemandangan yang indah, seindah tarian empat etnis yang biasa dimainkan oleh penari-penari. Barangkali ini bisa menjadi salah satu cara mengedukasi masyarakat dalam membumikan budaya Sulawesi Selatan.

Selama tujuh hari 7 malam berada di tengah-tengah benteng Somba Opu, menjadi semacam semedi sejarah yang saya lakoni. Terbayang sudah, bagaimana kebesaran kerajaan maritim Gowa-Tallo kala itu. Kerajaan terbesar di Indonesia bagian timur ini, bahkan tercatat dalam Negarakertagama era Majapahit. Sedang benteng Somba Opu sendiri merupakan benteng utama kerajaan Gowa, yang didirikan oleh raja Gowa ke 9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna sekitar abad ke 16. Benteng yang baru mampu ditaklukkan oleh VOC tahun 1669 merupakan warisan sejarah yang mesti dilestarikan. Seandainya benteng ini serupa video, maka akan menampilkan banyak rekam jejak raja-raja Gowa-Tallo.

Tetapi, hal yang paling menarik perhatian saya adalah museum yang terdapat di dalam benteng. Nama Karaeng Pattingalloang, disematkan sebagai nama museum. Walaupun namanya tidak setenar Sultan Alauddin atau Sultan Hasanuddin, Karaeng Pattingalloang adalah sosok yang penting dari kerajaan Gowa-Tallo. Karaeng Pattingalloang yang sering disebut Galileo of Macassar, merupakan mangkubumi kerajaan Gowa. Putra dari raja Tallo yang pertama memeluk agama Islam, I Mallingkaang Daeng Manyonri atau Sultan Abdullah Awalul Islam. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, dan konon menguasai banyak bahasa asing. Maka pantaslah jika namanya diabadikan.

Saya melihat museum Karaeng Pattingalloang banyak dikunjungi pelajar, semacam – atau mungkin memang – study tour. Sembari berkisah, pemandu mengajak siswa berkeliling benteng dan melihat benda-benda bersejarah di dalam museum. Proses belajar yang demikian biasanya akan sangat bermakna bagi siswa. Ahmad Baedowi, dalam Calak Edu 1, mengatakan bahwa “inisiatif untuk memperkenalkan museum kepada sekolah perlu dilakukan para guru dan para pengelola museum sekaligus, sehingga museum juga tidak dipahami oleh para siswa seperti para guru memahaminya, yaitu sebagai tempat penyimpanan benda/koleksi purbakala semata.”

Ahmad Baedowi kembali mendedahkan bahwa “kebutuhan kita terhadap guru yang peduli terhadap manfaat museum untuk kebutuhan belajar mengajar, sebenarnya sejalan dengan dengan karakter birokrasi kita yang juga lalai dalam membina dan membangun museum bagi kebutuhan riset dan konservasi yang dibutuhkan para siswa.” Model pembelajaran di ruang-ruang terbuka merupakan model yang menarik untuk diterapkan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan siswa suasana baru dalam belajar. Karena sebagian siswa memiliki kecenderungan cepat bosan. Berada di ruang kelas selama 7 sampai 8 jam per hari, akan mengubah stereotip siswa terhadap ruang kelas. Ruang kelas yang bermakna ruang belajar akan menjadi ruang tahanan. Siswa akan merasa diterungku dan merasa jauh dari realitas.

***

Masih tentang pendidikan dan siswa. Benteng Somba Opu yang memiliki nilai wisata sekaligus edukasi, ternyata melahirkan dua golongan siswa. Pertama adalah golongan putih yang diisi oleh kelompok pelajar yang menjadikan benteng Somba Opu sebagai sarana edukasi. Dan golongan merah yang diisi oleh kelompok pelajar yang menjadikan benteng Somba Opu, hanya sebagai tempat pelarian saat bolos sekolah, sekaligus panggung beradu romantisme.

Setidaknya pemandangan seperti itulah yang kerap kali saya lihat. Hampir setiap hari pada jam-jam belajar hingga senja menjadi sepuh. Anak muda nangkring di tikungan-tikungan sepanjang jalan setapak dalam benteng, apatah lagi terdapat pohon rindang nan sejuk. Mereka kebanyakan dari kaum pelajar SMP dan SMA – karena memang mengenakan seragam sekolah – mempertontonkan kisah-kisah romannya. Sebagian yang lain, seperti merayakan kebebasan berada di luar benteng bernama sekolah. Mungkin mereka melihat sekolah serupa penjara. Sebuah potret pendidikan yang membuat hati saya bergidik.

Realitas yang demikian mesti segera disikapi secara bijak dan bajik, sebelum pelajar golongan merah lebih dominan dari golongan putih. Dan menjadikan benteng Somba Opu sebagai tempat bersejarah bagi pasangan-pasangan muda tersebut. Selain pengetahuan agama dan sains, sekolah harus banyak menceritakan kisah tokoh lokal seperti Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, Karaeng Pattingalloang, Arung Palakka, Colliq Pujie, Tenri Bali, dan lain-lain. Serta mengajarkan pasang-pasang to rioloa untuk mereka refleksikan ke dalam kehidupan sosialnya.

Walhasil, membentuk generasi muda menjadi pribadi yang bertaqwa kepada Allah, luhur budinya, berilmu, dan bertanggung jawab adalah tugas kita bersama. Soekarno dengan berapi-api pernah bertitah bagaimanapun hebatnya angkatan tua, masa depan bangsa ada ditangan angkatan muda.

Jadi, Langere’ baji-bajiki anne ana’, pantamai ri atinnu, nanu gaukangi: Su’juki teai ulunna bawang, pasu’juki atinnu siagang akkala’nu. Tena ruanna, tena singkammanna Karaeng Allah Ta’ala. Nu angkaki limannu nanu lappassang anne cinnanu rilino. Saba’ niami Karaeng Allah Ta’ala antayangko, nanu sa’bumi kalompoanna. (Dengar baik-baik wahai anak, masukkan dalam hatimu dan laksanakan: Engkai bersujud bukan hanya kepala saja, sujudkan hati dan akalmu. Tidak ada duanya, dan tidak ada yang serupa dengan Allah SWT. Angkat tanganmu dan lepaskan kecintaanmu terhadap dunia. Karena Allah sudah menunggumu, dan sebutlah kebesaran-Nya).

Ilustrasi: http://yunankhilmi.blogspot.co.id/

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *