Luruh dan Puisi-puisi Lainnya

Luruh

Telentang pada hamparan pasir

Teriakan ombak tak lagi sama

Kau lihat dia di bibir pantai

Rinduku dahulu

Seperti alunan hempasan air laut mencumbu tepian karang

Menjauh lalu mendekap lebih erat

Gelora ombak luruh saat air surut

Apa kau yakin air yang pergi meninggalkan

Serupa pada yang kembali?

 

Reyot

Ukirannya telah lapuk diterkam waktu

Terurai; lepas pada bentuknya

Pelitur kusam tampak usang

Bau dan noda; membuatnya tak menarik

Kubawa langkahku (lagi) menujunya

Lelah berdiri; Aku duduk bertumpu tungkainya

Ada yang menepuk; jangan di situ (katanya)

Tapi tak terlihat yang lain

Aku (masih) mampu menikmati

Dia datang menawarkan kursi baru

Coklat basah; mengkilap. Kokoh; lebih indah

Kemarilah! Ini untukmu;

Menopang kau mengukir cerita

Tidak! Kursi ini (tetap) sama

Kenanganlah yang memikat seperti waktu pertama kulihat

Ketika dihantar menuju rumahku

Kusambutnya penuh bahagia

Aku hanya perlu sedikit merawat dan memolesnya

Dia menarikku, coba kau rasakan!

Nyamannya membuatku terlelap di atas kursi baru

Terjaga dalam mimpi,

Kubuka mata; cerita telah menua bersama kursi reyot

 

 

Kelor

Ranting daun kelor kupatah berkali-kali

Sekiranya berhenti di sini untuk menggugurkannya

Harus kucabuti satu-persatu dari tangkai yang halus

Untuk meraih dedaunan yang utuh tanpa tulang

Rangkaian kecil lebih sulit diretas

Serupa menyatukan

Rimbun di rekat pohon

Dia bisa lepas dengan mudah

Ketika saatnya dia harus jatuh

Pula telah menyingsing makna

 

The following two tabs change content below.

Naf M. Dira

Seorang penggembira di tim hore dunia anak-anak. Perempuan yang menyukai bau pepohonan lembab dan gemar bertualang di samudera dongeng.

Latest posts by Naf M. Dira (see all)

Naf M. Dira

Seorang penggembira di tim hore dunia anak-anak. Perempuan yang menyukai bau pepohonan lembab dan gemar bertualang di samudera dongeng.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *