Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Cahaya Malam dan Puisi-puisi Lainnya

 Cahaya Malam

 

Seperti kunang-kunang di malam hari

perempuan itu berteman ajal kala anaknya tertidur sendiri

disibakkannya tirai labirin pembakar mimpi

Menjelma begitu abadi dalam sepi

 

Ia menggerutu akan pilu yang semakin menggebu

demi sekolah putrinya, ia menjadi mayat yang terasing bisu

Menguyupi jalanan,  menderakkan cumbu satu persatu

Mengutuki kaum berdasi yang sedang riuh

Sesak seolah tak mau menepi dari tubuh

 

Perempuan itu seringkali mengeluh

mengobarkan luka sendiri lalu pulang sehabis subuh

potret ketika yang halal seolah menjauh

meninggalkan ruh yang sebentar lagi kian runtuh

 

Bagaimana ia rela menjejal tubuh ?

dicibir tetangga yang seolah menyimpan isyarat prahara beku

Tak dipedulikannya satu persatu

toh inilah fakta perihal kelabu

 

Kiamat nafasnya seolah remuk pada segala arah

melontarkan tangis yang kian amarah

pada diri yang hina

Jejaknya ditumbuk pada sebuah gairah

Meski sesekali penyesalan datang menyapa

 

Berulang kali ia berdoa

agar putrinya hidup dalam aljabar atau logaritma saja

Tak peduli betapapun peluh atau nyeri yang ia rasa

meski pekik dan umpatan melingkar dimana-mana

 

 

Perempuan Senja

 

Percik gelisah pada sebuah semburat di jingga merah.

Berdiri ia pada jejak sebuah prasasti mengenai opera sang alam semesta.

Lalu membenamkan imaji pada nuansa langit bersahaja.

 

Seperti senja kali ini …

Ia tak sengaja membaluri tubuh masih dengan setapak arah masa lalu.

Melangitkan elegi, beraroma misteri pada kitab seorang hamba.

Melayang ia bersama burung yang kian bersorak.

Seolah menikmati pulang ke tempat rindang bagai singgasana sang Tuan.

 

Adakah ia kian remuk oleh asa yang memintal ?

Adakah ia memaksa tubuhnya berkawan langit binal ?

Adakah ia masih menyeru ego di sepia usia yang nakal ?

 

Rupanya ia terlupa,

Pedih telah menggerogoti jiwanya sedari tadi

Mengotori mimpi tanpa peduli akan sebuah teriakan rasa yang tersemai.

Pecah, berpendar menanti sebuah perjumpaan yang dinanti.

 

Pun pada akhirnya ia harus kembali jua , sebab senja telah hilang ditelan malam, seakan tak peduli akan kisah yang semakin ramai oleh renjana yang harusnya kian padam.

 

 

Mengenang lewat stasiun kereta

 

Ada yang terus menggaris pada sebuah stasiun.

Cuaca yang menghadirkan semesta yang terburu berembun

Disapanya aku lewat peron yang gelisah tertuju

Berganti rupa dari kesepian yang tak terkira

 

Pernahkah kau menjejak diruang tunggu stasiun kereta?

Yang menyimpan pekik bagaimana aku menggeram merindu rupa

Seolah rahasia dalam hati makin nyeri terasa

meremuk dipikat jarak nostalgia

 

Lalu dibalik rel-rel kereta yang melengkung

Mengguratkan kepedihan yang sebentar lagi di larung

Ada bekumu sudah bagaikan patung

yang sebentar lagi dinamakan berkabung

 

Bagaimana lagi aku menafsir matamu yang kaku?

Sedangkan sudut-sudut besi tua di stasiun yang penuh cerita tak mau tahu

Lampu kristal disudut pemberhentian seolah menjelma batu

Ruang-ruang liar tak lagi mengadu

Hanya menyisakan kata-kata rancu

 

Sebentar lagi ruhku akan pergi

dalam ruang kereta yang melaju dengan mimpi

redamkan amarahmu kasih

Matamu yang surga tak dapat kunikmati lagi.

 

 

Perihal Sore dan Mimpi

 

Disuatu sore yang teduh

Seorang perempuan merebah tubuh

Ingin membisikkan pada langit yang semakin syahdu

Mengenai lekukan mimpi pada altar yang membatu

 

Berceloteh ia sungguh parau pada semesta

Menyapa ngilu bagai kutukan yang sama

Mencoba memancarkan cahaya seribu warna

Pada sesat jalan gemerincing fana

 

Dan pengharapan pada gandrung yang kian rekah

Mengolok cerita pada karisma pucuk rasa

Menyusun kesuma sakral pada puncak suara basi akan nada

Bergegas mengelok, meletup imaji putra surya

Lalu haruskah ia berpekik mencium aroma mesiu ?

Yang menyimpan meta si Fulan di tanah haru biru

Haruskah ia memejam beku dipelukan sang ibu ?

Menjatuhkan tangis pada telapak tangan yang kaku.

 

Maka biarkan ia layu ,

Sebab hanya kelu yang kini menyeruak la

The following two tabs change content below.

Rainy Senja

Dwi Aulia Anggraini (Rainy Senja) lahir di Kab. Kep. Selayar 22 Juli 1995, mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Bahasa Sastra Inggris dan menjadi salah satu penggiat di Rumah Belajar Tanadoang. Karyanya pernah dibukukan pada beberapa antologi puisi. Antologi puisi “Bukan Kita” (2016), “101 Bait Kata Himpunan Doa” (2016), “Bayangan” (2016), “Religi” (2017), “Si Fulan” diikutsertakan pada ajang Literasi Mataram Islamic Book Writers dan Festival Sajak Islami (Mataram Islamic Lombok Writers) dengan judul buku “Merindukan Surgamu” (2017) “Fatamorgana” (2017) yang juga pernah dimuat di SKH Go Cakrawala Gowa.

Latest posts by Rainy Senja (see all)