Kota ini semakin sumpek saja. Sebagian besar jalan tak diteduhi pohon-pohon penyimpan angin yang dapat menyejukkan orang-orang di sekitarnya, khususnya para pejalan kaki ataukah para penunggu angkot yang super sibuk lalu-lalang. Sebagai kota yang telah masuk kategori kota metropolitan, tentu disesaki berbagai masalah sosial dan ekonomi, penataan jalan-jalan agar tidak semrawut dan mengundang macet yang akut, menata taman-taman sebagai ruang hijau terbuka yang dapat menyergarkan paru-paru penghuninya, dan juga dapat mengimbangi polusi kendaraan yang inheren untuk sebuah kota besar yang penduduknya padat. Semua mesti dihitung dengan cermat dan diupayakan untuk diwujudkan oleh pemerintah kotanya.

Alya menggerutu seturun dari angkot hendak menuju kampusnya, tempatnya dulu menimba ilmu yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan. Nampaknya kotaku tak banyak berubah, masih gersang, berdebu, dan lalu lintas yang kurang tertata sehingga kerap membuahkan kemacetan yang panjang, ketusnya dalam hati. Pagi itu, Alya mengunjungi kampusnya hendak bernostalgia dengan beberapa kawannya yang telah jadi dosen dan bekerja di tempat yang lain di kota kelahirannya ini.

Alya, baru dua hari tiba di kotanya setelah bertahun-tahun meninggalkannya sejak lulus dari kampusnya dan diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor nasional, kemudian ditempatkan di salah satu kota di Kalimantan Timur. Kala kuliah dulu, Alya cukup dikenal sebagai aktivis yang rajin mengelola event-event yang terkait dengan penulisan dan perbukuan, hingga melahirkan sebuah komunitas literasi di kampusnya. Ia pun dikenal gemar menulis cerpen (cerita pendek) dan puisi yang kerap menghiasi koran kampus dan media lokal lainnya.

Pertemuan reunian dan nostalgia kecil-kecilan itu berujung pada buka puasa bersama di sebuah café kelas mahasiswa yang kerap mereka tempati berkumpul dahulu, kala mereka masih berstatus sebagai mahasiswa dan aktivis di kampusnya. Canda tawa tak hentinya menggelinding menghiasi waktu-demi waktu yang singkat itu. mereka bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari pekerjaan sehari-harinya, kini. Bernostalgia akan hal-hal yang menggelikan yang ia lakukan kala masih aktif di kampus, serta rencana-rencana kedepannya.

Ya, begitu, Alya disapa. Si Muis yang pernah naksir kamu itu, yang dari fakultas Sospol, telah terpilih dan duduk sebagai anggota legislatif di kampung kelahirannya pada pemelihan umum yang lalu. Oh ya, berarti dia melanjutkan dinasti kerajaan politik keluarganya yang memang sejak kakeknya, ayahnya, dan kerabatnya yang lain, sejak dahulu kala sudah mengenyam nikmatnya mengais nafkah di ranah politik, tukas, Alya kemudian.

Uga, pernah ketemu dia, tanya, Alya. Iya lah. Kan dia menikah dengan adik sepupuku yang ditaksirnya kala aku bertemu tiga tahun lalu di sebuah pertunjukan, trio Lestari, Glenn Fredly, Tompi, dan Sandhy Sondoro. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama, hehehe… Rugayya yang disapa Uga, Alya, dan teman-teman lainnya tergelak. Habis, Alya menolak cintanya sih.. tukas Rukka masih tergelak. Kamu nyaris dipanggil, ibu dewan, Ya, sambung Cici yang juga masih tergelak. Seandainya jadi kamu menerima cintanya, mungkin kita sudah menyaksikan ibu dewan bersama suaminya di baliho-baliho menyambut Ramadan dan ucapan Idul Fitri timpal, Mardi, hahaha.. suasana semakin riuh di kering keronkongannya masing-masing.

Sembari mencicipi penganan berbuka puasa yang mereka pesan masing-masing, Pallawarukka Andi Palogai yang akrab disapa, Rukka, mengusulkan sebuah rencana untuk berbuka puasa bersama anak jalanan yang mangkal di sebuah perempatan jalan protokol di kotanya itu. Kala mereka mahasiswa dulu pernah menggagas program pembelajaran membaca dan menghitung bagi anak-anak yang kurang beruntung tersebut, kemudian mendirikannya rumah baca untuk mereka. Konon , dari upayanya itu sebagian dari anak-anak binaannya, ada yang jadi polisi, kerja di salon, sebagai sopir, dan lain sebagainya. Mereka terangkat dari jalanan yang berdebu menjadi pekerja yang cukup terhormat tanpa menengadahkan tangannya dan belas kasih dari para pejalan dan pelintas.

Hari Sabtu pagi, Alya yang bernama lengkap, Alyanti Bunga Lestari, telah menghubungi kawan-kawannya via telepon genggam, untuk merealisasikan rencana yang mereka sepakati dua hari lalu. Mereka berkumpul di rumah, Riskya Damayanty yang akrab disapa, Cici. Rumahnya tak terlampau jauh dari kampus sebab orangtuanya dulu dosen yang kemudian disusulnya jadi dosen pula di kampus yang sama.

Aku sudah memesan 100 paket buka puasa dan makan malam, kawan-kawan setelah mereka berkumpul. Kita akan mengambilnya pada jam jelang buka puasa sebab cateringnya tak jauh dari lokasi anak-anak jalanan di simpang jalan yang akan kita tuju. Oke mantap, memang soal ‘memenej’ sesuatu jagonya adalah ibu dosen ini, tukas Mardi yang hari itu membawa kendaraan mobil Toyota Kijang Kapsul keluaran tahun dua ribuan. Rugayya Daeng Intang yang akrab disapa Uga, juga membawa kendaraan Avanza.

Jadilah mereka menelusuri jalan-jalan kotanya sebelum memenuhi hajatnya berbuka puasa dengan anak-anak jalanan, di mana, Alya dan Rukka lama tak menyusurinya, sebab mereka berdua mengais nafkah di tempat yang jauh. Alya di Kalimantan sedang Rukka, di kota kembang Bandung. Kala melintasi jalan Cokroaminoto di depan dealer mobil Royota, Rukka menggelengkan kepala, kenapa jalan dan pasar ini menjadi sangat kumuh dan berantakan seperti ini, walikotanya kerja apa sih. Masa pasar di tengah kota yang dulu sangat sohor dibiarkannya terbengkalai tak terurus, ketusnya.

Di sebuah jalan agak di pinggiran utara kota, mereka menyaksikan baliho seorang lelaki parubaya tersenyum, dengan tulisan ‘Selamat Merayakan Idul Fitri’ dan beberapa tulisan sebagai pengumuman akan membagikan sembako gratis di rumahnya jelang Idul Fitri ini. Bapak itu adalah seorang pengusaha sukses di bidang perikanan yang juga politisi. Beliau duduk sebagai ketua komisi di DPRD kota. Pegumuman-pengumuman berbagi sedekah kerap ia sampaikan lewat baliho di daerah pemilihannya. Tapi kan bukan hanya dia yang berlaku seperti itu tapi hampir semua politisi, selalu mengumbar senyum di baliho-baliho yang mereka pajang, imbuh, Cici. Iya dan cenderung pemasangan balihonya tidak estetik mengotori kota saja. Senyumnya tidak seindah warna aslinya, sambung, Alya di riuhi tawa mereka sepanjang jalan yang mereka lintasi.

Senja di musim kering ini cerlang tempiaskan kemilau merah saga di langit-langit kota yang sangat riuh ini. Para pekerja telah bergegas kembali ke rumah menyambut buka puasa bersama keluarga. Banyak pula warga yang meraya buka puasa di berbagai restoran, café, kedai kopi, dan warung-warung lainnya. Mal-mal telah mulai disesaki pengunjung di hari minus delapan lebaran. Para anak jalanan yang mengais nafkan dengan mengharap belas kasih dari para pejalan dan pelintas, tentu sangat jarang merasakan hal seperti itu. di antara mereka pun ada yang tak sanggup berpuasa karena bergelut dengan polusi kendaraan yang panas dan gerah terik matahari yang menyengatnya.

Kala beduk berbuka telah ditabuh, loudspeaker di masjid-masjid bersahut-sahutan mengumandankan azan Magrib, Alya dan sahabat-sahabatnya telah selesai meggelar tikar di sepotong trotoar yang kerap dijadikan tempat ngasoh anak-anak jalanan itu. Iwan, ayoo pimpin doa berbuka puasa, seloroh, Mardi pada seorang anak yang usianya telah beranjak remaja. Mereka menyudahi puasa dan berbuka bersama dengan khidmat. Senyum-senyum tulus mengembang dari bibir mungil anak-anak jalanan dan dari, Alya bersahabat. Mereka menikmatinya di riuh jalan yang seolah tak pernah menemui sepi.

Sementara di pojok pojok jalan itu beberapa baliho tersenyum pula menyaksikannya berbagi cinta dan kasih dengan senyum tanpa mengharap imbalan apapun. Mereka sama-sama tersenyum di keriuhan kota yang belum bersahabat dengan anak-anak jalanan yang meriuhinya.

 

ditulis oleh

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).