Sore jelang senja tak ada kabut seperti biasanya menyelimuti kampung tempatku berdomisili mengais nafkah. Aku berkemas hendak melakukan perjalanan cukup jauh beratus kilometer jelang pekan keempat ramadan ini. Dalam kaidah fikih yang kupahami, perjalanan ini lazim disebut safar atau orang yang melakukan perjalanan jauh disebut juga musafir. Ada ahli fikih yang tidak membolehkan berpuasa bagi orang-orang yang melakukan safar, ada pula yang beranggapan boleh saja tetapi tidak wajib tergantung kekuatan sang musafir, dan ada juga yang berpendapat boleh tapi perjalanannya diawali sejak matahari berada di posisi tegak lurus lebih condong ke barat atau setelah salat Zuhur ditunai. Betapa dinamis dan bervariasinya fikih dalam Islam, para ulama fikih menguras pikiran menafsir berbagai rujukan yang ada, dan dari sudut pandang yang berbeda melahirkan kesimpulan yang berbeda pula. Setelah masing-masing berupaya maksimal. Inilah mungkin yang disebut “perbedaan itu adalah rahmat”.

Manusia secara sosiologis selalu saja melakukan perjalanan di dalam hidupnya karena tidak ada yang hidup statis. Sebab bila hidup statis itu pertanda kematian pertanda kehidupan telah raib dari hidupnya sebelum ia mangkat. Perjalanan yang ditempuh sangatlah beragam. Ada perjalanan fisik yang melelahkan raga dan mungkin juga batin, ada pula perjalanan fisik, dan rohani ikut menari-menari maraup segala keindahan di sepanjang jalan yang ditempuhnya. Perjalanan ini oleh para pejalan dibilangkannya perjalanan cinta.

Sang Penghulu Kebajikan telah mencotohkannya. Sejak belia, beliau telah melakukan perjalanan. Ingatkah kita tatkala beliau melakukan perjalanan sangat jauh membawa misi moralitas Al Aminnya sebagai orang yang terpercaya. Beliau menapaki jalan-jalan tandus padang pasir yang membara hingga ke negeri Syam di Suriah saat ini. Mempertontonkan laku dagang yang jujur terpermanai, sehingga mengundang rasa kagum oleh siapa saja yang menemuinya di sepanjang jejaknya kala itu. cerita kebajikannya melanglang ke negeri-negeri super power seperti Persia, Bizaintyum Turki, dan sebagainga, hingga pandita Kashva, El, dan Buhairah tidak henti-hentinya mendiskusikannya melalui surat menyurat mereka.

Mereka menemukan kemuliaan di jejak rekamnya yang termaktub di dalam papirus-papirus yang selama ini mereka baca, kaji, dan merenungkannya. Buhairah membilangkannya Sang Pencerah telah tiba membawa cahaya dari langit. Tidak saja wajahnya yang bermandikan cahaya tetapi juga seluruh gestur tubuhnya dan kalimat-kalimat yang teruntai darinya menyemai cahaya bagi semesta. Hingga Bahira meyakininya, dialah Sang Revolusioner, dialah Sang Pembawa Cinta, dialah Sang Pembawa Cahaya menyinari semesta, dialah Sang Nabi Penyempurna.

Puncak dari perjalanan cinta yang beliau jejakkan adalah tatkala diperjalankan olehNya hingga ke Sidratul Muntaha bersimpuh di sajadah cinta yang maha cinta. Menerima segala konsekuensi dari kebajikan yang selama ini ia semai. Banyak yang tak mempercainya tapi tak sedikit yang menyerapnya sebab perjalanan cinta hanya bisa diserap oleh hati yang dipenuhi cinta pula, hati yang bening tidak menyimpan noda-noda yang ruah. Padahal yang menolaknya adalah yang selama ini, sejak Sang Nabi masih berusia belia memberinya gelar Al Amin, orang yang terpercaya, manusia yang tidak pernah ia temukan berbohong sekalipun, manusia yang tuturnya selalu memesona, manusia yang gerak gestur tubuhnya selalu mengundang decak kagum. Moralitas dan akhlaknya adalah hakikat misi yang dibawahnya. Engkaulah cahaya, engkaulah pelipur lara, egkaulah penolong, engkaulah kebajikan.

Hingga berabad abad kemudian perjalanan cintanya tak menepi tapi meriuhi semesta dalam kebeningan. Di jalan-jalan panjang ada saja yang mengaku pengikutnya mengibarkan bendera yang sesungguhnya berlawanan dengan jejak-jejak jalan cinta yang ia telah semai hingga di akhir zaman. Mengumandankan jalan cinta dengan jejak darah yang tumpah ruah. Ingatkah engkau, bila Sang Pencinta itu berpesan, di jalan perang sekalipun karena terpaksa, tak boleh menebang pohon, cabang, dan rantingnya, pun daunnya tak boleh engkau gugurkan ke tanah bila bukan untuk peruntukan kelangsungan hidup manusia. Apatah lagi menghardik, menciderai, bahkan membunuh manusia yang tidak jelas alasannya, itu adalah antitesa dari jalan-jalan cinta yang Ia titahkan. Jadi, tetaplah di jalan cinta menyemai cinta, seperti Maulana Rumi menari dalam pusaran cinta tiada henti, sebab hanya jalan-jalan cinta yang bisa menyinari cahaya semesta ini, yang bisa merimbuni kebajikan hamparan bumi ini.

Dalam perjalanan safarku hari ini, aku menemukan cinta disepanjang jalan. Aku melihat senyum indah nan tulus para warga menuju masjid-masjid, menemui Tuhannya mengikuti jalan cinta Sang Panutan. Kala beduk di masjid-masjid mulai di tabuh ragaku mulai kuluruhkan bersama batinku yang masih berjalan mencari cinta. Di ruang-ruang berbuka puasa kutemui orang-orang berwajah bahagia menjemput keindahan berbagi pada sesama. Mereka menaburiku senyum penuh cinta. Menyuguhkan penganan dengan ketulusan tak terperi. Dahagaku pun tergerus oleh bening-bening air cinta dari berkah ramadhan. Perjalanan indah penuh cinta sua dengan manusia-manusia pejalan di jalan cinta.

Aku masih berjalan ingin menemui kekasih-kekasihku yang menunggu di rumah cinta. Telah berpuluh tahun aku berbilang megais nafkah mencari seuntai berkah atas doa-doa para kekasih yang kutinggal. Kerap ragu menyambangiku, inikah jalan cinta itu? lalu teringat sabdanya, berjalan mengais nafkah di bumi untuk kemaslahatan keluarga adalah “Jihad”. Jihad adalah jalan-jalan cinta yang di hampar olehNya. Kata Sang Nabi, Jihad yang paling agung adalah Jihad melawan hawa nafsu. Melawan hawa nafsu hanya boleh membumi dengan jalan-jalan cinta. Ah, aku merindukanmu ya Nabi, aku merindukan keluarga kecilku yang memberiku alasan berjalan jauh mengais nafkah. Semoga jalan pulang ini adalah jalan Cinta.

ditulis oleh

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).