Angka Nol yang Fitrah

Bentuknya bulat seperti kue donat atau ban motor tukang bentor yang kerap nangkring di pangkalan. Dan masih banyak lagi benda-benda yang serupa dengannya. Ia memang menginspirasi banyak orang di dunia dalam banyak hal. Inspirator itu, si angka 0 (nol).

Nol atau kosong merupakan angka yang unik. Ia kalau berdiri di angka sebelum satu, maka ia akan bernilai kecil atau terendah dalam urutan bilangan. Akan tetapi kalau berada pada posisi setelah satu atau angka lainnya, ia akan mempengaruhi seluruh kehidupan angka satu dan angka lainnya . Satu akan jadi sepuluh. Satu akan jadi seratus, seribu, satu juta, sepuluh juta, seratus juta dan seterusnya. Kalau satu sudah berwujud seratus juta, bisalah si lajang melamar gadisnya dengan total uang panai yang fantastis.

Dalam ilmu matematika khususnya sistem bilangan bulat, angka nol merupakan angka netral. Ia bukan negatif, bukan juga positif. Tapi, nol ketika dijumlahkan dengan bilangan lain akan menjadikan angka tersebut tidak berubah. Kalau dikurangkan juga demikian. Menjadi negatif positifnya sebuah bilangan tergantung posisi nol dalam penjumlahan dan pengurangan. Misalnya 3 + 0 atau 3 – 0, hasilnya tetap sama dengan 3. Tapi 0 + 3 dan 0 – 3 akan memiliki hasil yang berbeda. 3 + 0 tetapa sama dengan 3, sedangkan 0 – 3 akan menjadi -3 .

Nol dalam matematika merupakan titik tengah. Ia bukan bilangan genap juga bukan bulangan ganjil. Ia mendua dalam ketunggalannya sebagai angka. Tidak heran kalau nol kerap di hubungkan sebagai angka Tuhan. Kosong, tiada, tapi ada. Angka ini menjadi sangat populer di tangan Al-Khawarizm. Keberadaannya menjadi sangat penting dan bermakna. Konsep angka nol, zero (Inggris), dan Sifr (Arab) ini diperkenalkan oleh Al-Khawarizm, ilmuwan muslim yang hidup pada masa khalifah Al-Makmun.

Nol adalah angka yang memulai kehidupan baru angka-angka yang lain. Masa sebelum angka nol dilahirkan, menjadi masa kegalauan angka lain di bawah sembilan. Pasalnya 9 menjadi angka terbesar kala itu. Tapi sejak nol dilahirkan, semua angka bisa berlomba-lomba menjadi banyak dan tinggi. Tergantung dengan siapa nol hendak berkoalisi. Terbitlah terang dalam kehidupan angka-angka yang lain setelah menyadari eksistensi angka nol sebagai angka utusan tuhan. Mereka sadar keberadaan angka nol menjadikan setiap angka harus memandang sama keberadaan angka yang lain. Derajat mereka sama. Kesombongan menjadi angka yang lebih besar dan bernilai banyak harus dihapuskan dalam diri setiap angka.

Perumpamaan di atas sama seperti manusia. Kesadaran pertama yang timbul adalah kesadaran akan eksistensinya sebagai makhluk di dunia. Sebagai subjek yang berpikir manusia sadar bahwa keberadaannnya dan keberdaan alam semesta bermula dari sesuatu yang kosong. Ada Dzat yang kuasa dibalik setiap fenomena-fenomena yang terjadi. Kesadaran inilah yang harusnya bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa derajat setiap manusia sama dihadapan Pencipta. Laa haula wala quwwata illa billah.

Nol dan Hari Raya

Pada bulan Ramadan, masjid-masjid yang kerap kosong menjadi penuh. Karena janji Allah akan berkah bulan suci ini, sehingga umat muslim berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah. Pada bulan ramadan, Al-Quran yang menjadi kitab suci umat Muhammad SAW diturunkan. Dan pada bulan ini pula, terdapat satu malam yang lebih mulai dari 1000 malam yakni malam lailatul qadr. Ramadan juga menjadi bulan pengampunan bagi umat muslim. Semua perbuatan buruk manusia di luar bulan Ramadan akan dikali nol. Karena dalam matematika suatu bilangan, berapapun jumlahnya ketika dikalikan dengan angka nol akan menjadi nol. Ternyata malaikat di kiri kita menggunakan rumus matematika yang sederhana.

Puasa juga bisa berarti menahan atau mengosongkan (0) jasmani kita dari makan dan minuman, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Bukan hanya yang bersifat jasmani, selama puasa kita dituntut mengali nol semua sifat dengki, iri hati, marah, ghibah (gosip), riya, dan sifat-sifat tercela lainnya. Tujuannya agar jiwa kita mendapat pembagi nol. Karena semua bilangan yang dibagi nol hasilnya tak terhingga. Maka jiwa kita diharapkan berada pada kondisi spiritual yang nikmatnya tidak terhingga.

Setelah melakukan ibadah puasa selama 30 hari, kita akan bermuara pada hari kemenangan atau Idul Fitri. Manusia akan kembali ke titik 0. Kembali ke fitrahnya yang suci seperti bayi baru lahir. “Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/suci),” (HR. Bukhari).

Walhasil, momentum hari raya Idul Fitri harus menjadi momen introspeksi diri dan saling memaafkan satu sama lain. Pada titik nol kehidupan kita ini, harus menjadi awal kita mengikat simpul persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sesama bangsa Indonesia, dan persaudaraan dalam bingkai kemanusiaan. Akhirnya, penulis berharap semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-Nya yang menang melawan hawa nafsu. Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibdah kita semua.

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *