Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Puisi Membunuhmu

Aku tersedak kala sedang mengunyah ubi goreng sebelum menyesap kopi hitam pasangannya. Kala tiba pada paragraf, Sam Suharto mendekati Hapsah, mantan Istri Chairil, yang datang membawa Evawani anak perempuan semata wayang Chairil Anwar. Hapsah menangis saja sepanjang pemakaman itu. Wajahnya bersimbah air mata. Kepada Hapsah, Sam Suharto menyampaikan harta yang ditinggalkan Chairil: 1 ons gula merah, sepasang sepatu dan kaus kaki hitam, juga selembar uang rupiahan, dan satu map berisi kertas tulisan tangan sajak-sajaknya. Pakaian terakhir dia pakai sudah dibuang petugas rumah sakit. Demikianlah Hasan Aspahani menuliskan dalam novelnya, yang berjudul, Chairil.

Tak terasa mataku berkaca-kaca. Bagaimana tidak seorang lelaki cerdas dan idealis wafat dalam keadaan “tragis” terlunta didera kemiskinan, seolah Chairil ingin memperlihatkan sebuah gagasan dan cara menggeluti dengan eksis dalam sebuah profesi yang diyakininya. Sebab bila melihat usianya yang relatif muda dengan karya yang dihasilkan memang sangat monumental. Apatah lagi bila kita ingin memotretnya dari sisi kondisi saat itu dengan relevansi karyanya.

Chairil Anwar, bukanlah seorang pemuda yang tumbuh kembang dari keluarga biasa. Tapi, dia dari serumpun keluarga berada dan cerdas. Ayahnya Toeloes, adalah seorang pejabat penting di sebuah company milik Belanda. Pamannya, Sutan Syahrir salah seorang arsitek dan fouding fathers kemerdekaan negeri ini. Syahrir, adalah tiga tokoh bersama Soekarno dan Hatta sebagai Presiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri, walaupun usia jabatannya terbilang cepat ia tinggalkan. Chairil mengagumi Syahrir dan sebaliknya, Syahrir pun mengagumi Chairil.

Chairil kecil menetap di sebuah rumah di Pangkalan Brandan, Kesultanan Langkat, Sumatera. Sebuah kota keci lberjarak sekira 80 kilometer dari Medan. Rumahnya beratap tinggi, berjendela lebar dengan kusen dan kayu yang kuat, berdinding beton yang kokoh, dan berhalaman sangat luas. Berdampingan di kompleks perumahan elit Belanda kala itu. Tentu ruang-ruang bermainnya pun di seputar kompleks tempatnya bermukim. Walaupun, dalam riwayat hidupnya, Chairil sejak belia dikenal senangbergaul dengan siapa saja apatah lagi bila hal itu berkenaan dengan hobbinya, nonton dan membaca buku, serta menulis sajak di usianya yang masih belia.

Di usia belia, Chairil sudah menguasai beberapa bahasa selain bahasa Ibunya. Dia disenangi keluarga dan kawan-kawannya. Pembaca yang aktif. Tengoklah sepenggal kisah, suatu waktu di tangga rumahnya sembari bersandar di pagar membaca sambil  sesekali mencuri pandang keteras tempat seorang noni Belanda melakukan hal serupa kepadanya. Chairil tanpa menyadari, ibunya tiba-tiba telah berdiri di dekatnya, sembari menanyakan bacaan apa yang sedang ia baca. Dengan lugas dijawabnya “layarTerkembang” karangan Sutan Takdir. Mamanya heran, dan menukasnya. Kenapa Chairil kali ini membaca buku berbahasa Melayu, biasanya membaca buku-buku berbahasa Belanda. Kemudian Chairil menjelaskannya bila buku tersebut lagi ramai dibincang dan didiskusikan oleh kawan-kawan sekolahnya dan di Batavia pun buku tersebut sedang menjadi bahan diskusi yang ramai.

Kala mamanya meminta dibacakan. Chairil membacakan dengan suara keras hingga tetangganya yang Belanda mendengarnya. Tak lama kemudian, Chairil ditangkap polisi. Itu pengalaman pertama Chairil bersentuhan dengan polisi di usia belianya karena sebuah buku yang dibacanya keras untuk ia perdengar kanpada Ibunya. Polisi Belanda khawatir bila bacaan yang dibaca Chairil bisa mempengaruhinya untuk memberontak melakukan perlawanan. Dan peristiwa tersebut tertanam dalam jiwanya yang mengikuti perjalanan hidupnya, bahwa pesa nlewat tulisan bisa mempengaruhi masyarakat dan kebijakan sebuah kekuasaan.

Selain ulet dan cermat, Chairil juga dikenal sangat urakan dan cenderung kurang ajar. Tapi, uniknya dia sangat di sukai dan disayangi oleh teman-temannya. Debat dan polemic dengan senior dan juniornya mewarnai hidupnya. Apatah lagi bila berkenaan dengan sajak atau puisi dia dengan mudah menyerang dengan argumentasi bernas namun dengan laku yang kerap kasar. Saking urakan dan kurang ajarnya hingga ia pernah ditonjok oleh sahabatnya sendiri, HB Jassin, yang sangat perhatian hingga membela puisi-puisinya sejak awal hingga wafatnya.

Penyair besar ini, pun pernah dituduh sebagai plagiat karya seorang penyair yang dikaguminya dan ia terjemahkan karya-karyanya. Dan sempat menjadi polemik di zamannya dan dibela oleh kawan-kawannya yang melihat talenta dan kepedulian pada sajak atau puisi yang sangat besar dan intens. Hampir tak ada jeda dalam umurnya yang terbilang singkat bergelut dengan sajak-sajak yang akhirnya disematkan sebagai pembaharu persajakan dan peletak bahasa Indonesia dalam sastra yang baik, dan sebagai penyair angkatan 45.

Dalam berbagai kelemahan dan kekurangannya melakoni hidupnya. Hidup terlunta, tak beraturan secara fisik, tak berpikir materi sebagai pendukung kehidupan. Walaupun ada suatu episode, Chairil berdagang dengan teman-temannya untuk mempertahankan hidup. Namun, Chairil bak anak panah berapi yang lepas dari busurnya menerangi segala yang di lintas pada substansi sajak-sajaknya. Dia menghabiskan waktunya di usianya yang pendek melakukan pencerahan, perlawanan pada imperialis, memerdekakan bangsanya, penyebaran kebajikan, pada bait-bait sajaknya yang selalu menghentak. Pun pada romantisme yang dijalin dengan lawan jenis yang dikaguminya.

Zamannya adalah zaman mencekam di mana jepang menjajah dengan sangat kejam dalam berbagai aspeknya termasuk membatasi bahan pangan beredar di masyarakat, hingga kelaparan dan penyakit mewabah di mana-mana. Walaupun cengkraman jajahnya sangat singkat namun dampak negatifnya sangat membuncah dalam waktu lama. Di zaman inilah Chairil mengambil peran yang cukup signifikan dalam proses menyejarah kemerdekaan negeri ini. Sajak-sajaknya yang menggugah patriotisme menyebar kemana-mana baik lewat media resmi maupun melalui catatan-catatan tulisan tangannya ke berbagai komunitas khusunya para pelajar, mahasiswa dan aktivis.

Chairil menggadaikan dirinya pada sajak-sajak yang dicintainya. Pada akhir kisah hidupnya. Tubuhnya yang ringkih digerogoti penyakit dan virus mematikan dari  atas-bawah mengeluarkan darah merenggut nyawanya. Sebelumnya, beberapa kali mengisahkan dirinya bak hippies dan terlunta. Bila tak sesen pun duitnya ia akan ke rumah kawannya yang terjangkau meminta duit untuk makan dan kadang untuk berobat di mantri kesehatan atau dokter. “Massam atau Mas Jassin, beri aku uangmu untuk makan dan berobat, aku lapar”. Katanya beberapa kali pada dua orang sahabatnya itu, atau pada sahabat-sahabatnya yang lain.

Kerap kali pula, Chairil berjalan dengan kawannya dari Salemba ke Senen atau ke Pasar Baru atau ke Mangga Besar sembari berdiskusi soal puisi dan politik yang kadang riuh dengan suara keras mereka di trotoar.Sedang asyik-asyiknya berbincang, Chairil berseloroh pada teman diskusinya, minta duitnya aku lapar. Dan tahukah, bahwa tak satu pun kawannya yang menolak walaupun kawannya sendiri berutang pada setiap kedai tempat mereka makan atau minum    kopi. Padahal baru saja mereka diskusi dengan panas dan tegang tentang berbagai hal. Ya tentu terkait dengan puisi. Dari hampir semua kesempatan, Chairil selalu nampak mengepit map yang berisi lembaran-lembaran kertas berisi puisi dengan tulisan tangan yang sudah tercoret-moret berbagai catatan atau revisi dari puisi yang ditulisnya.

Demikianlah hingga jelang ajalnya sebelum dibawa ke rumah sakit, Chairil masih dengan map lusuhnya berisi lembaran-lembaran puisi. Penampilan raganya pun tak diacuhkannya. Hingga penyakit kronis datang menggerogotinya hingga wafat, dan tak meninggalkan selembar baju kecuali yang lengket di tubuhnya. Apatah lagi harta, kecuali harta gagasan besar tentang Indonesia merdeka. Gagasan besar tentang kehidupan yang harus dilakoni. Tentang gagasan besar kehidupan semesta yang mesti diraya dengan hikmat dan bajik bersama puisi dan puisi. Dan diakhir hidupnya kala jelang hembus nafas terakhirnya, Ia berseru. “Ya Tuhan, maafkan aku, yaTuhan, ampuni aku”.

Chairil Anwar, ah… puisi membunuhmu.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)