Berguru pada Tembok

Tembok adalah guru yang amat jujur dan tampil apa adanya. Tanpa rekayasa. Mengajarkan tentang apa saja. Tentang kehidupan dan juga kematian. Baik kehidupan sehari-hari maupun kehidupan dunia kontemplasi yang suci, indah dan agung. Secara kasat mata, tembok bukanlah apa-apa. Ia hanyalah benda keras yang berdiri kukuh, tergeletak atau bahkan tertanam dalam perut bumi.

Tembok menjadi penanda kemajuan peradaban manusia. Ia tersusun rapi nan asri dan banyak membantu aktivitas manusia. Sebagai tempat tinggal, perkantoran, areal bisnis dan lain sebagainya. Namun juga kehadiran tembok bisa bermakna memperkosa bumi. Tembok memancang keras, menusuk-nusuk, tanpa ampun menembus keelokan Bumi. Kemolekan Bumi menumbuhkan gairah pancang beton untuk menyetubuhinya akibat pancaran nafsu manusia yang berkobar tanpa kendali. Dan, bumi pun tampaknya pasrah dengan perlakuan itu. Atau mungkin menikmatinya. Seolah-olah membiarkan begitu saja kehadiran hutan beton bahkan lautan tembok di mana-mana membalut pemukiman manusia.

Bagaimanapun juga, tembok sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam peradaban manusia, baik kuno maupun modern. Yang membedakannya adalah, dalam peradaban kuno tembok terbuat dari batu alami yang tersedia secara natural, sedangkan peradaban modern menciptakan tembok dengan sengaja melalui adonan berbagai bahan dasar seperti pasir, semen, besi, air, kapur dan kerikil.

Dalam peradaban kuno tembok telah mempersembahkan kedigdayaannya dengan menampilkan Piramida Mesir, Tembok Raksasa Cina, Candi Borobudur, Prambanan dan lain sebagainya. Begitupun dalam peradaban modern tembok telah menyihir setiap mata yang memandang dengan menampilkan pelbagai bangunan yang megah nan indah, bahkan laksana ingin mencakar-cakar langit biru. Tampaknya, manusia nyaman hidup dalam tembok dan dikelilingi oleh tembok. Bahkan mati pun kuburannya tetap bertembok-ria. Kalau sudah seperti ini, tampaknya amat susah memisahkan manusia dengan tembok.

Sebelum lanjut mengurai berguru pada tembok, mari sedikit menilik kemampuan unik manusia dalam belajar. Karena sejak lahir telah built-in akal-intelek dalam diri manusia, sehingga memudahkannya untuk belajar dan mengajar. Dengan modal dasar ini manusia dapat belajar dan belajar sepanjang hayatnya. Apa pun yang menyentuh indera dan akalnya, diolah sedemikian rupa menjadi pengetahuan yang pada akhirnya untuk menciptakan kebijakan dan kebajikan.

Dengan tertanamnya secara otomatis sejak lahir akal-intelek pada manusia, hal ini telah mendaulat manusia menjadi guru bagi dirinya sendiri, sehingga ia layak untuk mengangkat apa dan siapa pun menjadi gurunya. Manusia merdeka dalam urusan belajar dan mengajar dengan kemampuan dasar ini. Bisa dikatakan bahwa pembelajar sejati adalah orang yang gila berguru. Berguru pada apa dan siapa pun dengan jumlah guru yang tak berbilang angka. Itulah pembelajar sejati.

Bagi pembelajar sejati, apa dan siapa pun yang ia cerap melalui akal atau indera, akan diolahnya sedemikian rupa untuk menghasilkan kebijakan dan kebajikan. Yang mereka cerap itu senantiasa mengajarkan sesuatu. Oleh karena itu segala yang maujud bagi mereka adalah guru. Yaitu, guru yang jujur senantiasa mengajarkan kebijakan dan kebajikan. Guru manusia sesungguhnya adalah diri sendiri, sehingga ia bebas mengangkat guru-guru lain, termasuk tembok.

Berguru pada tembok. Ada banyak hal yang diajarkan oleh tembok. Tembok tak mudah bercerai-berai mengajarkan tentang kekerasan dan kekukuhan. Tembok senantiasa solid mengajarkan kekompakan dan keutuhan. Tembok tak lekang oleh zaman dan cuaca mengajarkan tentang keabadian dan ketegaran. Tembok menjadi tempat beraktivitas manusia mengajarkan tentang pelayanan dan kesabaran. Tembok sangat sulit berubah-ubah mengajarkan tentang kesetiaan dan keistiqomahan. Dan masih banyak lagi hal-hal mulia yang dapat diajarkan oleh tembok. Guru terbaik menghadirkan guru yang baik. Diri dan tembok sama-sama guru.

Dari sekian banyak yang diajarkan oleh tembok, yang paling menarik adalah relasinya dengan air. Bila kita menatap tembok, baik tembok kuno ataupun modern sangat tidak tampak jejak-jekak air. Seolah-olah keberadaan tembok sama sekali tidak ada hubung-kaitnya dengan air. Padahal, jika dicermati proses pembentukannya, peranan air sangat besar. Air membangun tembok bersama dengan pasir, semen, kerikil, kapur, besi, dan mungkin bahan lainnya, namun semua bahan dasar itu akan menetap bersama tembok secara fisik, kecuali air.

Air hanya datang menemani unsur lainnya untuk menghadirkan tembok. Setelah selesai prosesnya, unsur-unsur lain tetap kukuh bersama mengutuhkan tembok, dan air pergi begitu saja. Air datang menyatukan unsur-unsur yang berbeda dan bercerai-berai kemudian pergi. Air datang menyempurnakan penyatuan kemudian menghilang. Bahkan jejaknya pun tak tampak. Itulah air yang hadir dengan keikhlasan dan pergi pun dengan keikhlasan.

Pada tembok bangunan: semen, pasir, besi, kerikil, kapur dan lainnya menduduki posisi masing-masing, ada yang tampak dari luar dan ada yang tersembunyi, namun tetap menyatu dengan tembok bangunan tersebut. Tidak ada yang lebih hebat antara satu unsur dari yang lainnya karena masing memiliki kontribusi pada porsinya. Dalam tembok bangunan kehidupan, masing-masing wujud menduduki posisinya dan juga memberikan kontribusinya. Karena kehadiran masing-masing yang unik, tak tergantikan oleh yang lain, maka secara keberadaan tidak ada yang lebih tinggi antara satu dengan yang lainnya.

Sebagai wujud, kemiskinan berkontribusi pada kekayaan, meniscayakan kekayaan bermurah hati pada kemiskinan. Ketaksempurnaan berkontribusi pada kesempurnaan meniscayakan kesempurnaan bertanggung jawab untuk menitiskan dirinya pada ketaksempurnaan. Begitupun dengan hal-hal lainnya. Unsur-unsur pembangun tembok menyatukan diri membangun keutuhan tembok kehidupan.

Berkaitan dengan pembentukan tembok, air mengajarkan tentang ketulusan dan keikhlasan. Air menghilang setelah setelah tembok terbentuk kukuh. Terkadang kita harus tampil berperan sebagai air dalam membangun tembok kehidupan, bahkan harus senantiasa tampil sebagai air. Ikhlas.

Aktivitas yang terbaik adalah yang mengatasnamakan Tuhan, bukan mengatasnamakan diri. Sebab perwujudan kita dari-Nya. Hanya Dia yang maujud, selain-Nya tiada. Oleh karena itu keikhlasan yang sesungguhnya adalah keikhlasan yang berbasis pada-Nya, bukan pada diri. Dengan cara ini, segala aktivitas membangun tembok kehidupan adalah Pancaran-Nya, bukan pancaran diri. Begitu ikhlasnya Tuhan membangun tembok kehidupan, hingga seola-olah Ia tak tampak dalam kehidupan dan prosesnya.

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Latest posts by Herman Pabau (see all)

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *