Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Mengeja Cahaya

Diskusi ringan tanpa rencana di pelataran Papirus, sebuah toko buku dan komunitas, di bilangan Tamalanrea, Makassar. Sempat terungkap bahwa kegiatan literasi, literate, itu tanggung jawab peradaban. Secara leksikal, literate berarti melek huruf. Melek huruf ini berkaitan erat dengan kemampuan membaca. Kemampuan membaca berkaitan dengan aktivitas memahami. Memahami itu sendiri bermakna yang sebelumnya tidak diketahui, tidak dipahami, menjadi diketahui dan dipahami. Sesuatu yang sebelumnya gelap-gulita menjadi terang-benderang secara intelek. Tidak ada yang mampu mengubah gelap menjadi terang kecuali cahaya. Aktivitas literasi merupakan tanggung jawab peradaban yang mengubah kegelapan kehidupan menjadi peradaban yang bersinar dengan pancaran cahaya logika, etika dan estetika dalam bentuk tampilan seperti ilmu pengetahuan, filsafat, sains dan lain sebagainya. Kerja literasi adalah kerja menyinari kehidupan.

Scientific curiosity, keingintahuan secara ilmiah, senantiasa lekat dalam diri manusia, termasuk keingintahuan hakikat asal semua benda-benda dalam hidup ini. Sekitar tahun 1976, berkumpul para ilmuan untuk mencari tahu asal- muasal benda-benda di Stanford University. Mereka melakukan eksperimen untuk menjawab keingintahuan itu. Sebagaimana diketahui secara umum, semua benda tersusun atas molekul-molekul dan molekul terdiri atas atom-atom. Atom merupakan bagian terkecil suatu benda dan tidak dapat dipecah lagi, walaupun telah ditemukan bagian-bagiannya: elektron, proton dan neutron.  Dalam eksperimen itu dibuatlah perangkat sedemikian rupa untuk mengurai atom dan unsur pembangunnya. Dalam eksperimen itu upaya mengurai elektron, proton dan neutron menghasilkan sinar alfa, beta dan gamma. Riset ini mentok pada kesimpulan bahwa benda-benda yang dipandang gelap ini berasal dari cahaya. Setidaknya sinar alfa, beta dan gamma. Benda-benda yang selama ini dipandang gelap ternyata bergelimang cahaya di dalam dirinya. Benda-benda itu dipandang gelap bukan karena hakikat mereka adalah kegelapan, akan tetapi ketidakmampuan manusia melihat cahaya di dalamnya secara kasat mata. Hanya kebutaan manusia yang menjadikan mereka dipandang benda gelap. Manusia tidak literate terhadap huruf-huruf yang ditampilkan benda-benda itu.

Kaitan bentuk fisik otak manusia dan cahaya juga menarik. Penelitian ilmiah tentang otak telah menemukan bahwa ada titik pada  bagian tengah otak manusia yang bercahaya. Titik bercahaya ini dinamakan god spot. Titik tuhan. Mungkin otak manusia bekerja atas sinaran lembut nan bijak titik ini walaupun jari-jemari ilmu pengetahuan belum menyentuhnya secara eksak. Otak manusia yang jelas-jelas fisik itu bekerja tak lepas dari cahaya, bukan sekedar karena di dalamnya ada god spot akan tetapi ia juga terdiri atas atom-atom yang bergelimang cahaya. Otak manusia yang canggih itu pun beroperasi dengan cahaya.

Dalam tradisi sufi, kehadiran cahaya adalah wajib. Ada beberapa titik pusaran cahaya yang disebut lathifah. Lathifah-lathifah ini ada yang terletak di ubun-ubun, anatara kedua alis, pangkal tenggorokan, tengah dada atau seputaran letak jantung, pusar, seputar tulang kelamin dan tulang ekor. Ada juga yang menyebutkan lathifah-lathifah itu menyebar ke seluruh tubuh dengan jumlah tanpa batas. Semua lathifah itu berpendar-pendar cahaya. Latihan spiritual berfokus pada menatap secara batin cahaya-cahaya tersebut hingga kehadirannya merembes pada dunia fisik. Cahaya yang non-fisik menyinari kehidupan fisik. Bahkan para pesuluk terkadang melihat dirinya sendiri berupa tubuh-cahaya yang sulit dibedakan apakan ia melihat duplikat diri tersebut dengan mata batin atau mata fisik. Batas-batas mata batin dan mata fisik menjadi lumer saat memandang cahaya spiritual tersebut. Mungkin karena bergelimang cahaya, para sufi lebih bijak mengarungi kehidupan karena mereka lebih bisa memandang kehidupan ini secara detail baik nuansa lahir maupun batin. Para sufi itu literate secara terperinci. Mereka lebih melek secara terperinci terhadap setiap huruf-huruf kehidupan.

Cahaya bertugas menerangi. Bukan karena ia ingin menerangi, akan tetapi karena bawaan azali cahaya memang senantiasa menerangi. Pada esensi cahaya tertitip langsung eksistensinya yang berefek menerangi. Cahaya dan menerangi sama sekali tak dapat dipisahkan. Setiap aktivitas yang berkaitan dengan membuat sesuatu menjadi lebih terang, menjadi lebih jelas adalah aktivitas cahaya. Belajar untuk mengetahui adalah kerja cahaya. Fokus memahami apa yang diungkap oleh lawan bicara adalah aktivitas cahaya. Berkontemplasi merenungi diri agar lebih kenal diri adalah aktivitas cahaya. Mengamati benda-benda fisik maupun non-fisik melahirkan pahaman dan pengetahuan baru adalah aktivitas cahaya. Ilmu pengetahuan berupa matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi dan semua disiplin ilmu adalah pancaran-pancaran cahaya. Dan semua itu tidak bisa lepas dari literate, melek dari setiap detail huruf-huruf kehidupan.

Kehidupan ini, baik yang tampak maupun tak tampak berunsurkan cahaya. Benda-benda gelap berintikan cahaya. Otak manusia beroperasi dengan cahaya. Jiwa manusia berbuntat cahaya. Pergerakan dan perpindahan adalah perubahan cahaya. Tampilan dan proses kehidupan ini adalah permainan cahaya yang begitu mengagumkan. Bahkan peradaban pun merupakan kado indah kehidupan hasil dari proses cahaya. Tak pernah ada peradaban tanpa literate, tanpa melek pada setiap huruf-huruf kehidupan yang begitu menggoda libido pengetahuan untuk diketahui dengan bantuan cahaya, kekuatan untuk menjadikan terang yang sebelumnya gelap-gulita.

Tuhan, Dialah Cahaya langit dan bumi. Cahaya yang meliputi segala sesuatu, baik yang tampak maupun tak tampak. Tiada sumber cahaya kecuali dari-Nya, karena tak mungkin cahaya hadir tanpa asal. Maka, Ia-lah Cahaya Yang Mahacahaya yang menerangi seluruh kehidupan tanpa batas. Sadar atau tanpa sadar, setiap kali mengeja cahaya, maka kita mengeja Dia, untuk lebih mafhum tentang Dia, karena tiada cahaya yang lepas-bebas dari Cahaya-Nya. Betapa bijaknya, saat literate, saat melek terhadap huruf-huruf kehidupan yang berintikan cahaya, kita literate pula tentang Dia Yang Mahacaya sumber dari segala cahaya. Literasi adalah pancaran cahaya yang membangun peradaban dan kita adala cahaya-Nya.

 

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Latest posts by Herman Pabau (see all)