“Seandainya saja saya dulu begitu, mungkin saja sekarang saya tidak akan begini. Andai dulu saya….,mungkin sekarang saya sudah….”

Baik, saya maupun Anda pernah mengungkapkan kalimat seperti di atas. Terkadang ada  waktu di mana manusia menjadi makhluk tiga dimensi yang hidup di masa lalu, sekarang dan yang akan datang dalam waktu yang bersamaan. Kondisi seperti demikian menghampiri tatkala kita dilanda ‘duren runtuh’. Tidak, bukan itu. Maksud saya kalimat-kalimat itu sering terucap tatkala kita ada pada kondisi penyesalan.

Biasanya di setiap awal sesi diskusi, kita selalu diperhadapkan pada definisi untuk menyamakan persepsi. Tapi saya berpikir bahwa pada kesempatan ini kita tidak perlu mendefinisikan kata penyesalan, karena kita sudah sama-sama memahami bahwa definisi dari penyesalan adalah ketika kamu kehilangan aku dan aku kehilangan kamu. Maaf, maksud saya penyesalan adalah sesuatu yang terjadi di masa sekarang akibat adanya keputusan-keputusan keliru di masa lalu.

Karena mungkin Anda sudah mulai bosan mendengarkan saya berceloteh, langsung saja saya ingin mengajak kembali ke masa-masa kecil Anda. Sekarang silakan Anda pejamkan mata, dan tarik nafas dalam-dalam lewat hidung, hembuskan secara perlahan lewat mulut. Lakukan secara teratur dan rasakan di setiap tarikan nafas, Anda semakin merasa rileks dan jauh lebih santai. Kita akan sama-sama berhitung mulai dari tiga sampai dengan satu, dan di setiap hitungan Anda akan semakin merasa jauh lebih santai. Tiga, tubuh Anda semakin terasa nyaman. Dua, Anda mulai memasuki alam bawah sadar dan satu, nikmati tidur pulas Anda.

Sekarang, bayangkan ketika kembali ke masa-masa kecil Anda. Tepatnya ketika Anda kelas dua SD. Lihat diri dan teman Anda yang sedang duduk di dalam kelas. Anda telihat begitu asyik mendengarkan pelajaran dari ibu guru. Kemudian terlihat di sana ibu guru mengajak Anda dan teman-teman sekelas untuk bernyanyi.

Anak-anak ayo kita menyanyi sama-sama. Sudah tahu lagu dari Alama Sea-sea ?

Belum Bu…

Baik, Ibu akan menuliskan di papan yah. Kalian juga catat yah di bukunya.

Terlihat ibu guru sedang mencatatkan lirik lagunya di blackboard, dan lihat diri Anda yang tidak menuliskan apa-apa karena ternyata hari itu Anda lupa membawa peralatan menulis.

Bagaimana anak-anak, sudah ditulis liriknya ?

Sudah Bu…

Sekarang dengarkan ibu yah, dan setelah itu kita menyanyi sama-sama.

 

Alama sea-sea mua

Tau naompori sesse’ kale

Nasaba riwettu baiccu’na

De’memeng naengka nagguru

 

Baiccu’ta mitu nawedding siseng

Narekko matoani masussani

Nasaba maraja nawa-nawani

Enrengnge pole toni kuttue

***

Lagu di atas adalah lagu yang pertama kali saya dengarkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Lagu ini adalah salah satu lagu yang berasal dari daerah Bugis (daerah pastinya saya tidak tahu), dan begitupun dengan penciptanya yang belum terungkap identitasnya sampai sekarang.  Agar lebih mudah memahami makna dari liriknya, berikut terjemahannya.

Alangkah sia-sianya

Hidup manusia yang dilanda penyesalan

Karena di masa kecilnya

Tidak pernah belajar

 

Waktu kecillah belajar itu diperlukan

Kalau sudah besar, akan susah

Karena sudah banyak yang dipikirkan

Dan kemalasan juga menghampiri

 

Lirik lagu di atas bercerita tentang penyesalan seseorang yang tidak pernah belajar di masa kecilnya. Tatkala sudah ada keinginan untuk belajar, pelajaran sudah susah untuk dimengerti karena pikiran telah bercabang dan rasa malas juga telah melanda.

Jika kita mencermati, lagu ini menyampaikan sebuah pappaseng (pesan) tentang pentingnya pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses yang mesti dijalani mulai dari proses kecil hingga kita meninggalkan dunia yang fana ini. Tentu kita masih ingat dengan salah satu hadis Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lihat.

Lirik baiccu’ta mitu nawedding siseng menyampaikan kepada kita bahwa masa yang paling bagus untuk menuntut ilmu pengetahuan adalah masa kecil. Karena anak kecil laksana kertas kosong yang siap dihujani dengan tinta-tinta pengetahuan. Anak yang berusia 0-15 tahun, frekuensi gelombang otaknya masih terletak pada kisaran gelombang otak alfa atau tetha.

Gelombang otak alfa adalah gelombang otak yang frekuensinya berkisar antara 8-12 hz. Pada titik ini orang akan selalu merasa rileks dan santai, sehingga orang akan dengan mudah menerima sugesti. Sementara gelombang otak tetha adalah gelombang otak yang frekuensinya pada kisaran 4-8 hz. Pada frekuensi ini, orang akan begitu merasa radde’ nyawana (khusyu). Jika seseorang berada pada kedua gelombang otak ini, maka Raticular Activiting System (RAS) atau yang dikenal sebagai area kritik manusia akan terbuka sehingga informasi yang masuk akan tertanam ke bawah sadar.

Narekko matoani masussani, lirik ini menyampaikan kepada kita bahwa ketika dewasa baru kita hendak memulai maka akan susah. Karena orang dewasa sudah memikirkan banyak hal seperti masalah karir, ekonomi dan bagi yang sudah menikah pasti memikirkan anak dan isterinya. Bagi Anda yang belum menikah, cukup memikirkan saja dulu bagaimana caranya mendapatkan pendamping hidup. Nantipi kita pikir yang lain.

Secara ilmiah, frekuensi gelombang otak orang dewasa kebanyakan berada pada frekuensi betha (12-20hz) di mana seseorang akan berada pada kondisi kesadaran penuh. Lebih banyak tegangnya daripada santainya. Orang yang berada pada frekuensi gelombang otak ini, area kritiknya akan menebal sehingga informasi yang diterima tidak menembus bawah sadar. Alhasil, informasi akan cepat terlupakan. Makanya jangan heran ketika Anda terlalu banyak mengkritik penampilan dosen atau guru, pelajarannya susah dipahami, karena area kritik Anda terlalu tebal.

Jadi pendidikan di usia dini bukanlah suatu program yang lahir dari Kementrian atau Pemerintah. Ia bukanlah sesuatu yang baru ada ketika program wajib belajar 9 tahun digaungkan. Akan tetapi tomatoatta’ riolo (orangtua dulu) telah menyampaikan urgensi pendidikan melalui pappaseng entah itu lewat tutur maupun melalui lagu.

Meski lagu ini menekankan bahwa belajar di masa tua sudah susah laksana mengukir di atas air, bukan berarti kita harus  berhenti belajar dan hanya terjebak pada penyesalan yang dalam hingga tak tau arah jalan pulang (seperti butiran debu). Namun kelalaian di masa lalu mesti menjadi pembelajaran untuk perbaikan hidup di masa depan.

Ilustrasi: http://kapsulkecerdasan.com/mengatasi-anak-malas-belajar/

ditulis oleh

A. Achmad Fauzi Rafsanjani

Sekarang masih berstatus sebagai mahasiswa semester VI di Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Ujung Pandang. Selama mahasiswa, aktif di lembaga kemahasiswaan Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Komisariat Politeknik Negeri Ujung Pandang. Sekarang sedang diamanahkan sebagai Ketua Umum Rumpun Pemuda Wajo periode 2017-2019 yang merupakan salah satu organisasi kepemudaan resmi di Kabupaten Wajo.