Sepotong biskuit cokelat berbentuk persegi tipis dengan taburan kristal gula di sekujur tubuhnya lahir begitu saja di suatu petang yang ganjil. Tanpa Bapak, tanpa Ibu. Lantas begitu saja terhidang di atas meja, duduk manis dalam plat porselen yang indah.

Joy, Nona Biskuit bertabur gula itu adalah biskuit pengembara. Ia bertualang ke seluruh negeri, mengikuti berbagai sayembara, ikut serta dalam kerja bakti, dan berkhidmat menjadi warga negara yang baik. Setiap gula di tubuhnya adalah piagam penghargaan dari seluruh sayembara yang ia serta, maupun dari orang-orang yang sempat ia bantu. Joy adalah biskuit paling berbahagia di kota itu. Seluruh kebahagiaan ditaburkan ke seluruh tubuhnya.

Namun petang ini lain, terasa ganjil bagi Nona Manis itu. Baru saja ia mengobrol dengan matahari yang nyaris terbenam. Bagaimanakah caranya agar ia bisa mendapatkan gula kebahagiaan darinya?

‘Wahai Nona Biskuit bertabur gula, akan kau apakan seluruh kebahagiaan yang melekat di seluruh tubuhmu?” Matahari bertanya.

Aku ingin lebih bahagia.

“Gula kebahagiaanku punya batas waktu, Nona. Pagi hari mungkin kau merasa seperti biskuit paling bahagia di dunia. Tapi menjelang petang kebahagiaan itu diangkat dari tubuhmu tanpa sisa. Tidak mengapa, aku akan memberitahumu di mana kau bisa mendapatkan kebahagiaan abadi.”

Joy penasaran, ia sangat penasaran.

“Pergilah ke kota minuman. Carilah seseorang yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan. Ikuti dia, kemanapaun dia pergi.”

Jingga adalah warna terakhir yang disaksikan Joy dari matahari. Malam itu juga Joy berangkat ke kota yang dimaksud. Melewati beberapa bukit dan hutan berpohon jarang. Sampai di sebuah ladang, terlihatlah gerbang kota minuman. Dari jauh kota itu bercahaya, seluruh gerbangnya dipenuhi lampu-lampu aneka warna.

Kota minuman mirip pasar malam. Ramai sekali. Sepanjang jalan utama berjejer toko-toko minuman, ada jus, anggur, sirup, minuman herbal. Ah.. Joy mendadak merasa haus.

Joy memasuki salah satu toko jus. Memesan segelas jus mangga. Ia begitu haus setelah berjalan jauh.

Setelah menandaskan jus mangganya, Joy lantas ingat tujuannya kemari. Mencari minuman yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan.

“Oh.. pergilah ke toko minuman herbal, nyaris semua minuman di sana pahit bukan main.” Sahut pemilik toko.

Joy berangkat ke toko yang dimaksud, di sana ia menemukan bau wangi rempah yang legit dan eksotik. Bertanya pada pemilik toko. Adakah minuman yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan?

Si pemilik toko bingung.

***

Joy lesu, gula di seluruh tubuhnya meredup satu-satu. Tanda kebahagiaan sedang diangkat demi sedikit darinya. Aduh! Minuman seperti apakah yang dimaksud Matahari. Keluhnya.

“Malam begini dingin, tidakkah tubuh tipismu akan membeku, Nona Biskuit?” Sebuah sapaan. Seseorang sedang mendekat ke kursi taman yang Joy duduki.

Tidak ada siapa-siapa, mata Joy nanar mencari-cari. Bangku tempatnya duduk demikian terang, lampu taman sebesar bola bersinar. Tapi Joy tidak melihat asal suara barusan.

“Oh.. aku memang sulit terlihat, apalagi di gelap malam. Tubuh hitamku yang malang..” Keluh suara itu pilu.

Joy bertanya ragu-ragu.

“Aku Robi, minuman paling pahit di kota ini. Dan seolah kepahitan itu belum cukup, tubuhku juga hitam bagai jelaga. Aku minuman paling tidak diminati di kota ini.” Sahut Tuan Kopi mengenalkan diri, sambil tidak lupa mengeluh.

Joy terhenyak. Tuan inikah yang dimaksud oleh Matahari? Seseorang yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan.

Apakah seluruh hidupmu dilumuri kepahitan?

“Tidak ada yang lebih pahit daripada hidupku, aku lahir dengan seluruh kepahitan yang ada. Mungkin juga akan mati dengan cara yang sama. Ngomong-ngomong siapa kau, Nona Biskuit? Kau punya banyak sekali gula kebahagiaan di seluruh tubuhmu.”

Aku Joy, Tuan Kopi. Dan kaulah yang kucari untuk mendapatkan gula kebahagiaan abadi.

Tuan Kopi heran. Di malam yang ganjil itu pertama kali ada seseorang yang mengatakan hal seindah itu tentang dirinya. Nona biskuit yang seluruh tubuhnya dipenuhi kebahagiaan, malah mencari kebahagiaan abadi pada seseorang yang dilumuri kepahitan macam dirinya. Wahai.. tidak cukupkah kebahagiaan yang diberikan padanya?

“Aku tidak memiliki satu pun gula kebahagiaan.”

Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi. Sekujur tubuh Joy kembali bersinar.

Sepanjang hidupnya Robi hanya menginginkan satu hal. Menemukan seseorang yang bersedia meminumnya tanpa mengernyitkan dahi, menghidunya dengan penuh perasaan tanpa memiliki niat memuntahkannya ke tanah.

“Maukah kau menemaniku menemukan seseorang itu?”

Joy mengangguk tanpa pikir panjang.

***

Sepotong biskuit cokelat bertabur gula terhidang di meja, di atas plat porselen yang indah. Di sampingnya tersaji dengan sederhana secangkir kopi hitam pekat yang mengepul.

Seorang lelaki datang dengan tempias hujan di rambutnya, kuyup di bahunya. Memeluk cangkir Tuan Kopi. Menghidunya dengan khidmat dan meminumnya dengan penuh rasa terimakasih. Dan sepotong biskuit coklat bertabur gula dicelup ke dalamnya.

Di luar hujan sedang turun.

 

Makassar, 04 Agustus 2017

*Sepotong biskuit dan

cerita tentang kamu..

ditulis oleh

Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.