Kita Semua adalah Pembunuh Zoya!

Mungkin terlalu ekstrim jika kita mengatakan “kita semua adalah pembunuh Zoya”. Betul, lebih baik kita menyebut pembakar manusia hidup-hidup itu dengan oknum yakni seseorang yang tidak memiliki identitas yang jelas atau seseorang yang mewakili tindakan kriminal itu atas nama dirinya sendiri, tak mewakili keyakinan atau kepercayaan tertentu.

Apalagi dengan adanya oknum berarti menegaskan bahwa kita bukan pelaku keberingasan dan kekejaman itu. Tangan-tangan kita masih suci. Fitrah kita masih hidup. Nurani dan kemanusiaan kita masih tegak. Terutama karena menegaskan bahwa kita masih bisa dianggap sebagai orang-orang yang beragama dan bermoral.

Tapi kita harus mengakui, dilihat dari aspek budaya, kita semua adalah pembunuh Zoya. Karena betapa banyak kasus seperti Zoya di tanah air ini, tentang pembunuhan keji atas orang-orang yang tak bersalah. Namun mengapa baru kali ini kita tersentak dengan kasus Zoya? Mengapa kita tak pernah belajar dari kasus sebelumnya?

Tentu kisah sebelumnya tak persis sama dengan kisah tragis Zoya namun ada titik kesamaan dalam kisah-kisah itu yaitu; tentang main hakim sendiri atas nama kebenaran dan Tuhan, tentang menghardik manusia dan kemanusiaan dengan cara-cara yang begitu keji atas nama Tuhan Yang Mahasuci, tentang menafikan fitrah dan nurani atas nama Tuhan Yang Mahaadil dan Mahabijaksana.

Namun pertanyaannya adalah mengapa baru kasus Zoya mampu membuat seluruh hati manusia bergerak? Mengapa baru kali ini semua orang mengutuk pembunuh Zoya dan mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan pejabat? Benar, karena Zoya adalah martir kesadaran dan martir budaya dan peradaban kita.

Baru kali ini kita menyadari bahwa ternyata orang-orang Indonesia yang dikenal oleh dunia dengan keramahan dan kelembutan bisa berubah seketika menjadi manusia yang keji dan barbar. Baru kali ini kita menyadari bahwa ternyata apa yang kita ajarkan selama ini tak mampu lagi menjadi penopang nurani dan kemanusiaan, apakah kebencian lebih utama daripada cinta kasih?

Rahmatan lil’alamin hanya menjadi penghias bacaan kita tapi pada saat yang sama kita telah kehilangan maknanya. Kita tak lagi memahami bagaimana seharusnya memaknai “rahmat bagi seluruh alam semesta” sebab kita lebih memilih menghancurkan peradaban dan budaya kita sendiri. Kita lebih memilih penafsiran yang sesuai dengan kelompok kita meskipun penafsiran itu bertentangan dengan nurani dan fitrah kemanusiaan kita. Meskipun Tuhan telah menyampaikan di dalam Quran, barang siapa yang membunuh manusia tak bersalah maka seolah-olah dia membunuh seluruh manusia. Namun lagi-lagi seolah kita tak pernah peduli.

Zoya adalah martir kesadaran, budaya, dan peradaban kita. Bahkan lebih dari itu, Zoya adalah martir penafsiran manusia terhadap teks suci yang lebih memilih kebencian daripada cinta kasih sesama manusia. Zoya hadir di jantung budaya dan peradaban kita dan berusaha menggoncang kesadaran dengan tubuhnya yang terpanggang dengan api. Dan selanjutnya berteriak kepada kita semua dengan suara yang perih, “seolah-olah hanya dengan tubuh terpanggang kesadaran kemanusiaan kita akan kembali”.

Tafakur sudah lama mati dalam konteks keberislaman kita sebab para penafsir agama mulai menjauhkan ummat dari tafakur. Itulah penyebab mengapa kita lebih mudah menilai dan menuduh seseorang sebelum mendengarkannya, penyebab mengapa kita lebih memilih main hakim sendiri, dan juga penyebab mengapa kita cendrung mengabaikan aspek nurani dan fitrah kemanusiaan kita. Itu semua karena tafakur sudah tercerabut dari keberislaman kita.

Para Nabi datang dengan membawa tiga tugas utama; mengajarkan kitab, tazkiyah (ajaran mensucikan diri), dan mengajarkan hikmah sebagaimana dalam surah Al-Jumuah : 2, surah Al-Baqarah : 129, 151, 231, surah Al-Imran : 164.

Namun yang amat disayangkan, para pengaku penerus ajaran kenabian hanya mengajarkan kitab tapi meninggalkan aspek lainnya sebab tak lagi mengajarkan hikmah dan menuntun manusia mensucikan dirinya. Dan jika kita hanya mampu mengajarkan kitab namun tak disertai dengan ajaran hikmah, berarti kita telah meninggalkan aspek lainnya dalam keberislaman kita yaitu tafakur. Sementara dalam tafakur itulah akan nampak hikmah dan kebijaksaan serta arif dalam menimbang dan memutuskan suatu persoalan.

Selamat jalan Zoya. Terima kasih telah menyadarkan budaya kita yang sedang bergerak menuju masyarakat zombie yang hanya tahu memangsa sebab setiap saat kehausan darah. Tapi apakah mereka akan mengubah ujaran kebenciannya dengan ujaran cinta kasih dengan kesyahidanmu? Wallahualam, kecuali mereka benar-benar sedang bergerak menuju masyarakat zombie yang hanya tahu memangsa dan tak pernah memikirkan bagaimana membangun sebuah peradaban.

 


sumber gambar: Vebma.com

The following two tabs change content below.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *