Pilpres (pemilihan presiden) 2014 di negeri ini adalah Pilpres yang paling melelahkan, paling anarkis, paling meruakkan kebencian antar pendukung. Tidak hanya jelang dan setelahnya sejenak. Tapi, berkelindan hingga ke waktu yang sangat panjang. Mempengaruhi hingga ke alam bawa sadar para peseteru. Sehingga dalam perkembangannya kemudian setelah pemerintahan berjalan hingga pertengahan durasi waktu pemerintahan berlangsung, kita begitu sulit membedakan sebuah keritik atawa fitnah. Ruang-ruang media sosial di ruahi ujaran-ujaran kebencian yang sengaja dicari-cari alasannya.

Orang-orang saling menghardik, saling membunuh karakter, saling melecehkan, hingga ke penghinaan fisik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kinerja dan intelektualitas yang mestinya mempengaruhi jejak rekam seorang pribadi. Gonjang ganjing di dunia maya bak mengantar hari kiamatd alam waktu yang tak terlalu panjang. Fitnah bersileweran di mana-mana bak cendawan di musim hujan.Yang menyayat adalah karena fitnah dikawal oleh “argumentasi” agama dari orang-orang yang selalu merasa paling benar menjalankan agamanya.

Suatu waktu, aku sua dengan seorang sahabat yang lama di rantau. Pertemuanku kembali setelah lebih sepuluh tahun berpisah ruang dan waktu. Dia bertandang ke kota tempatku sama-sama dilahirkan, setelah secara ekonomi dia sukses di rantau. Kami bersepakat untuk meraya pertemuan kami di sebuah kedai kopi yang selalu diriuhi pengunjung. Setelah panjang lebar bercengkrama dan bernostalgia masa-masa gelora gairah kami kala aktif di sebuah oraganisasi kemahasiswaan. Kemudian berpindah tema pada isu-isu sosial, politik, dan ekonomi. Dengan berapi-api ia menjelaskanku betapa rezim yang berkuasa sekarang telah menelantarkan rakyatnya, mengabaikan rakyatnya bahkan lebih jauh ia menengarai bila pemerintahan yang baru seumur jagung ini telah disusupi doktrin PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sangat membahayakan negeri ini. Banyak hal lagi yang ia ceritakannya dengan bersemangat dan berapi-api.

Aku tertegun dengan penjelasan yang baru saja kudenagr dari sahabatku yang lama baru sua ini. Aku membatin, nampaknya sahabatku ini sudah terserang virus “logika fallacy” terjerumus pada kesalahan logika yang akut. Coba dibayangkan, pemerintahan yang baru dikelola sekira satu tahun lebih, telah digugat sebagai rezim yang menelantarkan rakyatnya, mengabaikan rakyatnya, memiskinkan rakyatnya. Bukankah ini sebuah kesakitan logika yang sangat akut? Pemrintahan yang baru berlangsung setahun lebih yang kira-kira baru saja tahap penyesuaian person-person yang bergabung dalam satu gerbong. Program kerja baru saja usai disusun yang tentu juga masih menimbang tahapan-tahapan implementasinya, walaupun pemimpinnya tak sabar lagi untuk memacu dengan cepat gerbong yang dinahkodainya.

Fenomena perseteruan dengan menguar kebencian secara intens, menurutku sangat membahayakan sebab ia bak menyuluh bara di rerimbun jerami yang telah disiram bensin. Merambah tak saja di pusat-pusat kekuasaan tapi hingga ke hilir pedesaan terpencil. Kebencian menjadi tren dan mewabah. Filsafat binatang buas atau kebencian awalnya dirumuskan oleh, Lunatsarky, ideolog komunis yang menyimpang, dia menyerukan kebencian sebagai filosofi perjuanannya dengan sinis berujar “Jauhkan cinta sejauh-jauhnya. Apa yang kita butuhkan adalah kebencian. Hanya dengan kebencian kita akan berhasil menguasai dunia”.

Padahal, telah disepakati bahwa proses politik yang kita tempuh adalah proses demokrasi yang bertumpu pada Pancasila sebagai dasar Negara kita. Bahwa proses demokrasi kita mesti berketuhanan, berkemanusiaan, berkeadilan, dalam artian jalan-jalan demokrasi yang kita tempuh seyogiayanya bermuara pada kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, mempraktekkan hokum secara adil kepada seluruh rakyat negeri ini tanpa memandang kelas dan strata social, agama, dan ras. Dan yang tak kalah pentingnya adalah masyarakat hidup aman dan damai di negerinya sendiri, tanpa tekanan-tekanan dalam bentuk apa pun dan atas nama apa pun. Dan untuk semua itu pemerintah mesti mengawalnya dengan baik.

Prihal kritik, sesungguhnya dalam mengawal kehidupan majemuk di bumi fana ini, adalah sesuatu yang niscaya. Sejak manusia mengenal peradaban sejak itu pula sesungguhnya, kritik menjadi sebuah keniscayaan. Sebab, bagaimana mungkin sebuah peradaban mampu berdiri kokoh dan bekualitas bila kritik ditiadakan. Namun, kritik juga mesti proporsional. Mengkritik adalah memberikan tanggapan yang disertai dengan uraian ataup ertimbangan baik buruk terhadap suatu hal. Kritik muncul karena seseorang atau sekelompok orang tidak setuju atau tidak suka terhadap sesuatu. Selain memberikan kritikan, anda juga dapat memberikan dukungan terhadap suatu pendapat. Dukungan yang baik disertai dengan alasan yang berupa uraian.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengungkapkan kritik diantaranya memiliki alasan yang tepat dengan data-data pendukung yang memadai sebagai back up atas keritikan yang dilancarkan. Jangan Asbun (asal bunyi) tanpa alasan yang tepat menyertainya, apatah lagi bila hanya fitnah berupa rumor-rumor yang saling bergelinding dan paut di dunia Medsos (media social) yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, bila fitnah yang kita sebarkan kemudian kita klaim sebagai kritik untuk menegakkan kebenaran, dan fitnah karena kelewat sering disebarkan dan jelma seolah kebenaran di tengah masyarakat maka tunggulah datangnya kehancuran yang akan membinasakan semuanya. Imam Ali k.w. pernah berpesan, “Ketika dalam (kondisi) fitnah jadilah seperti anak unta. Punggungnya belum mampu ditunggangi dan susunya belum bisa diperah”.

Dalam hal mengantisipasi fitnah kita mesti memiliki perpektif, yaitu pandangan yang dalam saat menghadapi informasi. Bukan hanya melihat zahirnya dan langsung percayai. Tetapi, juga pandangan yang amat hati-hati dan detail. Berupaya untuk mencari informasi lain untuk mencari kebenaran sebenarnya. Karena di balik informasi itu bisa terselip fitnah untuk merusak keharmonisan berbangsa dan bernegara. Nah.. fenomena itulah yang mengemuka di masyarakat kita saat ini. Sehingga banyak di antara kita nampaknya senang bermain-main dengan fitnah dan menganggapnya sebagai permainan senda gurau belaka. Dan perkembangannya kemudian antara kritik dan fitnah beriring sejalan sehingga kerap sulit memisahkannya. Wallahualam.

Sumber gambar: http://sebarr.com/uploads/content/.thumb/large-ilustrasimedia.png

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *