Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Mengapa Mesti ada Pertanyaan Filosofi?

Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kalangan filosof dianggap menakutkan atau mereka menganggap, pertanyaan-pertanyaan filsafat adalah pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan dan bahkan sia-sia. Bukankah sia-sia jika kita bertanya sesuatu yang ada padahal kita telah meyakini bahwa sesuatu itu benar-benar ada?

Jadi tentu tidak mengherankan jika pertanyaan dari filsuf hanya akan membuat dirinya bermasalah bahkan membuat jiwanya terancam. Boleh jadi terbunuhnya Sokrates justru disebabkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya sebab pertanyaan-pertanyaan Sokrates adalah pertanyaan-pertanyaan yang menakutkan, melelahkan, dan bahkan sia-sia. Jika pada saat itu Sokrates tidak memaparkan pertanyaan-pertanyaan filosofi, tentu tak akan membuat dirinya terpenjara, tak akan mengusik keyakinan mayoritas masyarakat pada waktu itu, dan bahkan tidak akan membuat dirinya terbunuh.

Jika memang demikian, pertanyaannya, mengapa mesti ada pertanyaan-pertanyaan filsafat? Bukankah pertanyaan filsafat hanya akan membuat kita tidak tenang dan hanya memberikan kebingungan-kebingungan? Tidakkah lebih baik jika orang-orang hidup dengan tenang dan tak perlu dicemaskan dengan pertanyaan-pertanyaan itu sehingga mereka lebih leluasa menjalani kehidupan keseharian mereka? Bukankah lebih baik jika kita menjauhkan diri dari pertanyaan-pertanyaan mendalam dan melelahkan? Lebih baik kita meninggalkan segala jenis bentuk pertanyaan yang mengajak kita tafakkur dan merenung?

Padahal pertanyaan-pertanyaan seperti itu telah ada sejak dahulu, saat pemikiran filsafat sudah mulai dituliskan. Jadi lari dari persoalan filsafat tidak terjadi pada saat ini saja. Pada setiap masa sejarah pemikiran selalu ada orang-orang yang ingin lari dari persoalan filsafat. Jadi kita tak perlu heran atas fenomena seperti ini. Namun anehnya, sebagian pertanyaan-pertanyaan yang menakutkan itu pernah diutarakan oleh anak-anak kita, bahkan boleh jadi pertanyaan-pertanyaan itu pernah kita paparkan sendiri, entah saat kita masih kanak-kanak atau setelah kita beranjak dewasa.

Namun benar, tidak setiap orang mampu meluangkan waktunya untuk bertanya lebih dalam. Setiap orang memiliki standar sendiri dalam memaknai sesuatu. Dan kita mesti memaklumi jika ada orang yang sudah terpuaskan dari jawaban-jawaban yang telah ada dan tak perlu bertanya lebih dalam lagi. Begitu pun sebaliknya, kita pun harus memaklumi jika ada orang yang mempertanyakan segala hal dan berusaha berfikir lebih dalam lagi. Sebab mereka mencari makna-makna yang tak tersingkap dan dengan makna-makna itulah mereka memperoleh nafas dan kehidupan yang baru.

Filsafat senantiasa berbicara dalam konteks kekinian dan hari ini. Dan hal yang menarik karena sejarah ditulis dengan bahasa filsafat; yakni menjelaskan dan menguak kebenaran-kebenaran yang tersembunyi di balik sejarah tersebut. Karena sejarah tak pernah puas pada peristiwa yang terjadi namun mencoba menerangkan rahasia-rahasia yang ada di balik peristiwa tersebut. Jadi tugas filsafat adalah mencoba mengeluarkan kita dari rumah-rumah kejumudan sehingga kita berani membuka pintu rumah tafakkur di dalam diri kita.

Namun salah satu karakteristik penting dalam persoalan filsafat adalah mencoba menghubungkan antara awal dan akhir, antara bab pertama dan bab-bab selanjutnya, dan atau menghubungkan di antara episode-episode kehidupan kita. Apalagi tak ada seorang pun yang tidak memikirkan relasi atau keterhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Walau demikian, kebanyakan orang hanya mampu memikirkan apa yang orang-orang pada umumnya pikirkan dan tak mampu memikirkan apa yang orang-orang umumnya tidak pikirkan dan bahkan mereka sama sekali tak memiliki ketertarikan. Orang-orang seperti ini asing dan terasing dari persoalan filsafat dan akan menentang orang-orang yang berpikir dalam persoalan eksistensi.

Tapi perlu diketahui, manusia tak pernah kenyang dengan penglihatan sebagaimana nalar kita tak pernah puas dengan pendengaran. Nalar manusia tak pernah berhenti untuk bertanya sebagaimana telinga kita tak pernah bosan untuk mendengar. Mental atau benak kita selalu bertanya terhadap konsep-konsep atau pemahaman-pemahaman yang selalu kita jaga di benak kita. Persoalannya adalah seberapa jauh kita mengijinkan kepada diri kita sendiri untuk bertanya lebih jauh dan apakah kita benar-benar berani dan jujur untuk bertanya tentang realitas?

sumber gambar: pixabay.com

The following two tabs change content below.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.