“Apa yang harus kita lakukan Karaeng setelah perjanjian Bungaya diteken?” Tanya salah seorang bangsawan Kerajaan Gowa pada satu senja di benteng Somba Opu.

“Entahlah, yang pasti perjanjian ini merugikan kita. Bahkan banyak bangsawan kerajaan yang berberat hati menerima perjanjian ini. Anakku sendiri memilih meninggalkan tanah leluhurnya demi menegakkan siri’ yang bersemayam dalam jiwanya. Baginya, Perjanjian Bungayya telah merebahkan harkat dan martabat anakku. Tetapi apa mau dikata. Perang ini hanya menggoreskan luka di hati rakyat Gowa-Tallo dan di hati saudara kita.”

Lantas, Sombayya I Mallombassi Daeng Mattawang berjalan menuju biliknya. Membuka jendela lalu menatap cahaya di sebelah utara. Sebuah cahaya yang berasal dari sulo yang terbakar dari benteng berdiri megah, yang baru saja beralih kepemilikan.

Begitulah imajinasi saya ketika menatap lukisan Sultan Hasanuddin dan Cornelius Jancoon Speelman yang dipajang pada salah satu ruangan di Gedung M, Fort Rotterdam. Bangunan yang difungsikan sebagai Museum La Galigo. Walaupun lukisan itu hanya menampakkan wajah dari dua lakon sejarah Perang Makassar, namun itu sudah cukup membuat ingatan saya melang-lang buana menyusuri dimensi waktu. Menukil kembali narasi sejarah perjalanan benteng Ujung Pandang. Ditambah lagi kaki dan sepasang bola mata ini tak jemu-jemu menjejali tiap sudut benteng yang sekarang dikenal sebagai Fort Rotterdam.

Sesarinya, Fort Rotterdam merupakan salah satu benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang masih bisa disaksikan hingga sekarang—selain bekas reruntuhan Benteng Somba Opu. Sebelum bernama Fort Rotterdam, dahulu benteng ini dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang atau Jumpandang. Dinamakan demikian karena di bagian depan benteng dahulunya dipenuhi pepohonan nanas dan pandan. Nanas dalam bahasa Makassar disebut pandang.

Benteng ini sendiri berdiri sekitar tahun 1545 pada masa pemerintahan Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Setidaknya, informasi ini saya dapatkan ketika membaca bukunya Darwas Rasyid yang berjudul Beberapa Catatan Tentang Benteng-Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa terbitan Balai Kajian Sejarah (sekarang Balai Pelestarian Nilai Budaya).

Selain buku tersebut, informasi ini juga ditemukan dalam kumpulan tulisan Udhin Palisuri, dkk., Makassar Doele, Makassar Kini, Makassar Nanti terbitan Yayasan Losari Makassar. Pun Aminah Pabittei dalam bukunya berjudul Benteng Ujung Pandang, terbitan Kantor Cabang II Lembaga Sejarah dan Antropologi Ujung Pandang juga meyebutkan hal demikian. Bahwa benteng Ujung Pandang didirikan sekitar tahun 1545 pada zaman Raja Gowa ke-X. Karaeng Tunipallangga Ulaweng.

Sebagaimana fungsinya, benteng ini didirkan untuk melindungi negeri Kerajaan Gowa-Tallo dari ancaman luar. Sekadar catatan, menurut Darwas Rasyid setidaknya Kerajaan Gowa-Tallo pada kurun Abad XVI-XVII memiliki 13 benteng—yang membentang dari selatan hingga utara—yakni benteng : Ujung Tanah, Tallo, Baro’boso, Mariso, Garassi, Panakkukang, Barombong, Galesong, Sanrobone, Ana’ Goa, Kalegoa, Somba Opu, dan Ujung Pandang—Fort Rotterdam sekarang.

Dari segi bentuk, benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam memiliki keunikan tersendiri. Jika dilihat dari atas atau ketinggian, sisian tembok benteng membentuk pola seperti seekor penyu yang sedang merangkak ke laut. Nampaknya, bentuk benteng yang menyerupai penyu ini memiliki makna filosofis tersendiri. Menurut Darwas Rasyid dalam bukunya disebutkan bahwa:

Latar belakang dari bentuk benteng yang menyerupai penyu ini, menimbulkan beberapa penafsiran. Antara lain:

  • Penyu hidup dan mencari penghidupan di laut, dan bertelur di darat. Ditafsirkan akan keberanian dan kepahlawanan orang-orang Gowa di laut dan kejayaannya di darat. Juga ditafsirkan pula bahwa orang-orang Gowa hidup di darat dan mencari nafkah di laut.
  • Penyu bertelur banyak tetapi secara diam-diam. Ditafsirkan bahwa orang-orang Gowa banyak berkarya dengan tidak banyak bicara untuk kepentingan orang banyak.
  • Penyu berkulit keras lagi kuat untuk melindungi dirinya. Ditafsirkan bahwa benteng Ujung Pandang adalah merupakan tembok yang dapat melindungi Kerajaan Gowa

 

Selain pada bentuk, terdapat kisah yang beredar tentang proses pembangunan benteng ini. Salah satunya berkenaan dengan bahan pembangunan benteng. Konon katanya! Bebatuan yang menjadi bahan pembangunan benteng ini didatangkan dari Maros dengan cara dibawa dari satu tangan ke tangan lainnya. Artinya, raja saat itu memerintahkan rakyatnya berbaris dari Maros hingga Makassar. Selain itu, dipercaya bahwa bahan perekat bebatuan benteng menggunakan putih telur. Yah namanya juga konon! Bisa dipercaya bisa juga tidak. Tetapi cerita tersebut sedikit banyak menambah daya tarik Fort Rotterdam.

Untuk memperkokoh kedudukan. Benteng ini juga dilengkapi lima bastion, di tempat tersebut dahulunya dipercaya bertengger manis meriam-meriam buatan Portugis yang berfungsi untuk menghalau atau menghadang musuh.

Ketika pecah Perang Makassar pada abad ke XVII, benteng ini menjadi salah satu pusat pertahanan Kerajaan Gowa-Tallo dalam menghadang laju peneterasi V.O.C. Atawa kompeni Belanda. Tetapi, ketika Kerajaan Gowa-Tallo terdesak, benteng ini akhirnya berhasil direbut—berdasar pada salah satu pasal Perjanjian Bungaya yang diteken pada 18 Nopember 1667. Praktis benteng Ujung Pandang beralih kepemilikan dan diserahkan kepada V.O.C. Melalui Cornelius Jancoon Speelman. Lalu Speelman mengubah nama benteng ini menjadi Fort Rotterdam. Fort dalam bahasa Belanda berarti benteng, sedangkan Rotterdam merupakan salah satu kota bersejarah di Belanda. Dipilihnya nama Rotterdam sebagai bentuk penghormatan Speelman terhadap tempat kelahirannya—sumber lain mengatakan Rotterdam adalah tempat kelahiran kekasih Speelman yang bernama Petronella.

Setelah penyerahan, bangunan-bangunan yang terdapat di dalam benteng dihancurkan dan digantikan dengan bangunan beraksitektur kolonial. Menurut penuturan pemandu wisata, menyatakan bahwa bangunan yang pertama kali dibangun oleh V.O.C adalah gedung di sebelah utara, yakni Gedung M. Di bangunan tersebut nampak angka 686. Terdapat juga angka 1 yang terlihat samar-samar (aus) di bagian depan angka 6. Dapat dipastikan bahwa bangunan M sekarang dibangun tahun 1686 (terdapat sebuah kebiasaan bagi bangsa Belanda ketika membangun sebuah gedung atau tangsi militer selalu menyematkan angka tahun pendirian). Lalu secara berangsur-angsur dibangun gedung di bagian timur, utara, selatan, barat, dan terakhir di bagian tengah yang merupakan gereja—sekarang difungsikan sebagai aula.

Ketika Jepang berhasil menguasai Makassar dan Hindia-Belanda pada umumnya, Fort Rotterdam menjadi sasaran pengeboman tentara Kekaisaran Jepang. Bekas pengeboman itu masih nampak pada bagian bastion Bone dan bagian selatan benteng. Di masa Jepang juga dibangun sebuah gedung yang terletak di bagian timur benteng, bangunan itu kini difungsikan sebagai Musalla.

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang kiwari ini dapat disamakan sebagai suatu lukisan sisa kemaharajaan Kerajaan Gowa-Tallo. Di dalamnya banyak tersimpan sejarah perjalanan bangsa Indonesia, terkhusus perjalanan Kerajaan Gowa-Tallo. Pun menjadi saksi bisu drama Perang Makassar di paruh pertengahan abad ke XVII.

Selain sebagai tempat wisata maupun tempat bersejarah. Fort Rotterdam juga berfungsi sebagai taman budaya dan tempat asyik untuk mengadakan pagelaran-pagelaran berskala lokal, nasional, bahkan internasional. Beberapa kegiatan pernah diadakan di tempat ini, seperti: Festival Taman Musik, Makassar International Writers Festival, Kongres Sepeda Tua Indonesia, Makassar Jazz Festival, Pekan Komunitas Makassar, dan lain sebagainya.

Jadi! Apakah Tuan dan Puan hendak berkunjung ke tempat bersejarah ini? Kiranya tulisan ini membuat Tuan dan Puan tertarik mengunjungi tempat ini.

Adapun saya mengakhiri petualanganku dengan berjalan menuju bastion Bone—bagian barat benteng. Kemudian menikmati senja dengan bersenandung ria sembari merasakan desiran anging mammiri yang berhembus dari Selat Makassar.

/E Aule/ /Namangngukrangi/ /Tutenayya/ /Tutenayya Pakrisikna/

 


sumber gambar: Toriolo.com

ditulis oleh

Ilyas Ibrahim Husain

Pernah mengajar di SMAN 1 Gowa dan SMA 3 Makassar. Kini menjadi anggota AGSI Sulawesi Selatan serta mengajar di SMPN 3 Palangga.