Api dan cinta sama-sama meniadakan sekaligus mengabadikan. Api membakar, membuat obyek yang dibakar meniada. Hasil akhir pembakaran pada umumnya adalah arang dan abu. Pembakaran yang menghasilkan arang dipandang sebagai pembakaran yang tak sempurna. Sementara itu, pembakaran yang menghasilkan abu adalah pembakaran yang sempurna. Demikianlah urusan bakar-membakar dimaknai secara jamak.

Jika direnungkan secara logis, pembakaran yang menghasilkan abu sama tak sempurnanya dengan pembakaran yang menghasilkan arang, sebab masih menyisakan sesuatu, yaitu abu. Semestinya, pembakaran sejati adalah yang sempurna, yaitu pembakaran yang meniadakan obyek yang terbakar atau yang dibakar.

Tugas api adalah membakar dan membakar tanpa batas, maka pembakaran oleh api yang sempurna adalah lenyapnya obyek yang dibakar pasca pembakaran. Api meniadakan obyek bakarnya. Hasil akhirnya adalah semua obyek bakar lenyap, yang tersisa hanya subyek bakar, yaitu api. Api adalah pemain tunggal yang sama sekali tak mengizinkan eksis selain dirinya sendiri. Begitu dahsyat keberadaannya, api meniadakan semua obyek bakarnya, pada saat yang sama mengabadikan dirinya sendiri. Demikianlah pembakaran yang sempurna.

Sementara itu, cinta adalah peluruhan sekaligus pengukuhan. Peniadaan sekaligus pengabadian. Cinta meluruhkan subyek yang mencinta, pada saat bersamaan mengukuhkan keberadaan obyek yang dicinta. Cinta sejati adalah peluruhan sejati sekaligus pengukuhan sejati. Cinta sejati adalah proses panjang peluruhan diri subyek pencinta kepada obyek yang dicinta, hingga akhirnya yang tersisa hanya obyek yang dicinta. Pencinta telah sirna tergantikan oleh yang dicinta yang mengabadi.

Sebagaimana api yang hanya mengizinkan satu pemain tunggal yaitu dirinya sendiri, cinta pun hanya membolehkan satu yang eksis, yaitu yang dicinta. Api dan cinta pada akhirnya hanya membolehkan satu pemain tunggal dalam kehidupan. Perbedaan dari keduanya adalah, api meniadakan obyek bakar dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai subyek pembakar, sementara itu cinta meniadakan subyek pencinta dan mengabadikan obyek yang dicinta. Api meniadakan obyek, mengukuhkan subyek, sementara itu cinta meniadakan subyek, mengabadikan obyek.

Api yang membakar yang masih menyisakan arang atau abu adalah pembakaran yang tak sempurna, begitupun aktivitas cinta yang masih menyisakan keberadaan pencinta adalah cinta yang tak sempurna. Pencinta sejati itu senantiasa memberi dan memberi tanpa harap pada obyek yang dicinta sebagaimana mentari senantiasa memancarkan sinarnya yang sama sekali tanpa mengharap imbalan. Pancaran pencinta yang berharap imbalan dari yang dicinta adalah cinta yang cacat, karena ia mengukuhkan keberadaan subyek pencinta dan meluruhkan yang dicinta. Cinta yang bernuansa semacam ini adalah pseudo-cinta, cinta palsu. Cinta semacam ini tidak layak disebut cinta, namun lebih tepat disebut kolonialisasi, dominasi atau pun juga hegemoni. Bukan cinta, tapi penjajahan!

Pencinta yang berharap imbalan bukanlah pencinta, akan tetapi pekerja. Bisa juga dikatakan serakah. Ia bekerja untuk memenuhi keinginannya. Ia menguras yang ia cintai untuk memenuhi keinginannya, yang berarti melemahkan yang dia cintai pada saat bersamaan mengukuhkan dirinya. Proses cinta yang semacam ini, pada akhirnya, bukan sekadar melemahkan yang dicinta, akan tetapi pelenyapan diri yang dicinta, karena ia terkuras oleh hegemoni pencinta. Ini adalah praktek genosida cinta, yang membantai komunitas yang dicinta di mana pun berada.

Praktik cinta yang berorientasi pada diri-pencinta telah merusak konstalasi dunia percintaan. Karena hal ini sebenarnya bukanlah praktik cinta, akan tetapi merupakan ajang praktik penjajahan subyek terhadap obyek. Praktik penjajahan yang dilakukan oleh pencinta kepada yang dicinta. Praktik ini adalah sumber bagi keserakahan untuk mendominasi kehidupan. Cinta yang sejatinya laksana cahaya yang senantiasa memancar, memberi dan melayani berubah menjadi praktik menyerap, meminta dan menjadi tuan. Cinta yang bukan melahirkan tuan, tetapi melahirkan budak. Yang dicinta menjadi budak pencinta dan pencinta jadi budak keinginannya.

Cinta an-sich, cinta apa adanya yang dipahami umumnya, yang diterapkan kepada makhluk sangatlah berbahaya. Ia hanya menghasilkan penjajahan dan perbudakan. Cinta yang tulus kepada yang dicinta melahirkan pencinta sebagai budak, sementara itu cinta yang berpamrih menjadikan yang dicinta sebagai budak. Baik cinta tulus maupun pamrih sama- sama melahirkan perbudakan makhluk oleh makhluk. Perbudakan manusia terhadap sesama manusia. Praktik cinta semacam ini merekomendasikan kolonialisme, dominasi dan hegemoni untuk merajai dunia yang pada akhirnya menjadikan perbudakan menguasai kehidupan. Perbudakan, hasil salah terap cinta! Sejatinya, cinta melahirkan kemerdekaan sejati.

Cinta self-oriented, orientasi-diri adalah cinta yang destruktif. Sebab ia memfosilkan keakuan, bukan mencairkan atau bahkan mungkin melenyapkan keakuan. Justru keakuan inilah yang mengkrangkeng cinta sehingga ia tak dapat beroperasi dengan baik  melayani kehidupan. Cinta orientasi-diri inilah yang harus dibakar karena ia merusak konstalasi dunia percintaan dalam hidup ini. Tanpa membakar habis cinta orientasi-diri ini, maka yang ada hanyalah pseudo-cinta, cinta palsu.

Sekaliber apapun hebatnya sang pencinta tidak akan pernah mampu membakar cinta orientasi-diri-nya oleh dirinya sendiri, karena keberadaan dan kehebatannya itulah yang mengakibatkan ia kehilangan api. Keberadaan dan kehebatan diri adalah kegelapan yang hanya dibakar dengan api ia meniada kemudian yang hadir adalah cahaya.

Hanya Api Cinta-Nya yang mampu membakar melenyapkan cinta orientasi-diri, sehingga yang tersisa dan maujud adalah hanya Cinta-Nya yang senantiasa memancar menghidupkan kehidupan. Kita tak memiliki cinta sehingga tak layak memanfaatkan cinta untuk orientasi-diri. Kita hanya membagikan Cinta-Nya kepada satu dengan yang lainnya untuk saling merindu dan menyatu dalam keharmonisan-Nya Yang Agung.

Api tak mampu membakar Ibrahim, karena Cinta dengan Cinta adalah satu, tak mungkin saling membakar. Ismail tak mungkin tersembelih, karena Cinta dengan Cinta adalah satu,  tak mungkin saling menyembelih. Penyembelihan Ismail tidak membunuhnya akan tetapi menghadirkan daging kehidupan untuk seantero ummat manusia.  Ibrahim dan Ismail telah terbakar kehilangan cinta orientasi-diri, namun telah mewujud menjadi ejawantah Cinta-Nya. Berharap, demikianpun kita semua.

 

Sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/5uUXjCgJt1w/maxresdefault.jpg

 

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Latest posts by Herman Pabau (see all)

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *