Mengapa harus ada rindu dalam hidup ini? Bukankah rindu itu sangat menyakitkan? Betapa banyak rindu yang berubah menjadi benci. Betapa banyak rindu yang menjelma menjadi putus asa. Betapa banyak rindu yang disiksa oleh cemburu. Betapa banyak rindu yang berakhir pada kegilaan. Betapa banyak rindu yang berujung pada pembunuhan dan kematian. Pada satu sisi, rindu adalah kekuatan yang sangat destruktif dalam diri manusia jika tidak dikelola dengan baik dan sepatutnya, namun ia akan menjadi tenaga dahsyat luar biasa jika ditangani dengan semestinya.

Rindu merupakan penanda adanya jarak. Rindu adalah penanda bagi adanya keterpisahan. Rindu juga mengisyaratkan pernah bersatu sekaligus ingin   kembali. Rindu adalah waktu jeda, dari bersatu, kemudian berpisah, selanjutnya untuk bersatu kembali. Rindu adalah perjalanan panjang sekaligus perjalanan singkat. Ia menjadi perjalanan panjang jika dipandang dari bersatu kemudian berpisah, namun rindu menjadi lintasan singkat jika ditilik dari sudut pandang dari bersatu untuk bersatu kembali.

Rindu menjadi perjalanan panjang yang sangat menyiksa  dan melelahkan jika dilihat dari sudut pandang keterpisahan yang tak kunjung menemukan jalan untuk kembali menyatu. Sebab, perpisahan itu sendiri adalah luka yang menganga yang tak akan pernah ada obatnya kecuali bersatu, dikarenakan keterpisahan dijadikan pandangan dunia. Selama dalam keterpisahan, selama itu pula hidup dalam duka lara luka. Semakin kabur dan tak menemukan jalan kembali untuk menyatu, rindu mengundang kehadiran putus asa dan dendam serta segenap ketersiksaan lainnya. Dalam sudut pandang ini, semakin kuat rasa rindu, semakin menganga jurang keterpisahan.

Sebaliknya, jika sudut pandang dari menyatu untuk kembali menyatu dijadikan pegangan, maka rindu adalah perjalanan singkat dan mengasyikkan, keterpisahan telah berubah menjadi amunisi dengan daya ledak dahsyat untuk menyatu, karena ketunggalan adalah pandangan dunianya. Bagi sudut pandang ketunggalan ini, keterpisahan hanya bayangan semata dan kemenyatuan adalah kenyataan sesungguhnya. Bayangan pasti sirna, kemenyatuan akan menyata dan menyata, oleh karena itu rindu adalah energi pemusnah bayangan, kekuatan yang melenyapkan jarak. Semakin kuat rasa rindu, semakin lenyap jarak, semakin hadir kemenyatuan.

Karena pada dasarnya wujud itu tunggal dan nyata, maka kejamakan hanya  perspektif berbeda dari ketunggalan. Oleh karena itu semua yang jamak berasal dari tunggal dan bukan kejamakan menghasilkan ketunggalan. Ada daya yang senantiasa bekerja untuk tetap menyatu dalam ketunggalan. Rindu adalah kekuatan dan gerak ketunggalan untuk tetap merangkul kejamakan dan juga gerak kejamakan untuk kembali pada ketunggalan. Gerak inilah yang mewujud pada setiap sesuatu sehingga semuanya tertitiskan dan tertitipkan rasa rindu untuk menyatu. Semua wujud, pada dasarnya ingin kembali dan menyatu dengan inangnya, dengan sumbernya. Rasa rindu telah menyatu dalam diri wujud itu sendiri.

Rasa rindu bekerja begitu nyata dalam hidup ini. Jeritan seruling adalah ekspresi kerinduan buluh pada rumpunnya untuk menyatu. Bebatuan terpecah-pecah menjadi pasir, hanyut menyusuri alur sungai, lalu tertambatkan di muara membentuk sedimen membatu, adalah kerinduan batu untuk menjadi batu kembali. Tanah adalah hasil akhir dari pelapukan bebatuan, kemudian ditumbuhi oleh pepohonan, pepohonan menjadi fosil, adalah hasil kerinduan batu untuk jadi batu kembali. Laut yang diterpa panas menguapkan air ke angkasa, menjadi awan, menjadi hujan, air jatuh di lautan dan daratan, menyusuri sungai-sungai mengalir ke laut, adalah kerinduan air untuk tetap kembali menyatu dengan laut. Seorang pria ingin menyatu dengan seorang wanita dan seorang wanita ingin menyatu dengan seorang pria adalah wujud kerinduan sel telur dan sperma untuk kembali menyatu dalam rahim kehidupan. Kekuatan rasa rindu begitu dahsyat, melenyapkan keterpisahan pada saat yang sama mewujudkan kemenyatuan. Demikianlah kerja nyata rindu.

Rasa rindu adalah kekuatan yang nyata dan dahsyat yang menjadikan satu antara perindu dengan yang dirindu. Hasil akhir dari proses rindu adalah menyatu, ketunggalan. Dalam ketunggalan tidak ada dominasi atau penguasaan yang satu terhadap yang lainnya, karena yang demikian mensyaratkan adanya kejamakan, sementara dalam ketunggalan, kejamakan telah tiada. Hasil akhir dari proses rindu adalah kemerdekaan sejati bagi perindu dan yang dirindu dalam bingkai ketunggalan dan kemenyatuan yang abadi. Dalam ketunggalan, tidak ada selainnya, sehingga jika hadir kemerdekaan, maka kemerdekaan itu tak berbanding.

Rasa rindu antar makhluk adalah kerinduan hamba-Tuhan yang berserak. Rasa rindu hamba-Tuhan yang menyebar, merembes ke dalam setiap wujud. Oleh karena itu, setiap makhluk telah memiliki modal besar dalam dirinya untuk kembali ke asalnya, yaitu rindu. Rasa rindu semestinya meringkus setiap makhluk, meringkus setiap kejamakan, untuk dilemparkan menyatu ke dalam naungan Tuhan-nya, menyatu masuk ke dalam ketunggalan wujud.

Semestinya antara hamba dan Tuhan tanpa jarak, akibat dari beroperasinya rindu-Nya Tuhan dan rindunya hamba. Semestinya antara hamba dan Tuhan tiada antara, namun dalam ketunggalan. Rasa rindu adalah pembakar jarak antara hamba dengan Tuhan dalam shalat, dalam puasa, dalam sedekah, dalam dzikir, dalam semedi, dalam meditasi, serta dalam segenap lelakon kebaikan. Pada akhirnya rasa rindu adalah pembakar segenap jarak dalam kehidupan untuk menyatu dalam keharmonisan hidup, dalam rindu-Nya, sehingga setiap lelakon dan pelakon menjadi wujud dari kebaikan-Nya, menjadi pemancar kesempurnaan-Nya.

 

Sumber gambar: https://juallukisanasli.files.wordpress.com/2013/05/potret-urban-dalam-kerinduan.
The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Latest posts by Herman Pabau (see all)

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *