Analisa Fenomenologi Jean Baudrillard atas Dunia Digital

“Analisa Fenomenologi Jean Baudrillard atas Dunia Digital”

Akhir-akhir ini kita tengah menghadapi dan disibukkan dengan persoalan hoax. Apa yang kita ributkan, sebenarnya bukan lagi soal hoax akan tetapi sesuatu yang melampaui hoax. Bukan lagi tentang berita benar atau salah namun tentang suatu berita yang sengaja disuguhkan agar kita tak mudah memahami di mana letak kesalahannya. Suatu usaha dalam memanipulasi fakta sedemikian rupa agar suatu kebenaran nampak salah atau suatu kesalahan akan nampak benar.

Berita hoax bisa berasal dari mana saja dan dari siapa saja namun pembuat berita hoax umumnya berasal dari orang-orang yang mengecap pendidikan yang rendah. Berbeda dengan berita yang sengaja disuguhkan agar kita sulit menilai di mana letak kesalahannya, pembuat berita ini tentu bukan dari kalangan biasa akan tetapi dari orang-orang terdidik sebab mampu membangun justifikasi dan argumentasi, seperti yang telah dikemukakan oleh Wittgenstein, “semakin banyak Anda tahu, semakin mudah Anda berbohong”.

Abad 21 bisa disebut sebagai abad revolusi informasi digital. Di abad ini manusia tak lagi bersandar kepada fakta-fakta yang terjadi di sekitarnya namun mencukupkan dirinya pada fakta imajinatif, bahkan percaya pada fakta yang telah diselewengkan.

Benar apa kata Jean Baudrillard bahwa media berperan besar dalam mengerdilkan fakta. Baudrillard melanjutkan penjelasannya tentang tahapan-tahapan yang mungkin dilakukan oleh media dalam merubah fakta; tahap pertama menggambarkan fakta sebagai cermin fakta. Lalu tahap kedua berubah menjadi topeng fakta. Pada tahap ketiga media berusaha menjelaskan fenomena sebagai ketidakhadiran fakta. Dan tahap terakhir memutuskan relasi dengan fakta. Bagi Baudrillard, tahap akhir adalah tahap para-faktual atau fakta-akut.

Sebagian ahli menambahkan tahap selanjutnya sebagai tahap  tanda imajinasi-manipulatif. Pada tahap ini kita diperhadapkan dengan gambar-gambar palsu yang tak lagi menggambarkan fakta konkrit realitas eksternal. Bahkan kita diperhadapkan dengan sebuah gambar di mana gambar tersebut berasal dari gambar lainnya. Tahap ini adalah rangkaian matarantai gambar di mana gambar pertama adalah kurban pertama dari fakta realitas.

Pada tahapan ini setiap gambar hanya menunjukkan atau hanya penanda atas gambar lainnya. Manusia berada di antara tumpukan-tumpukan gambar dan tanda-tanda yang akan membuat fakta konkrit kehilangan dirinya dan bahkan tak lagi memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Bisa dikatakan periode ini adalah periode matinya fakta atau matinya realitas. Gambar-gambar dan tanda-tanda hanya cermin atas gambar-gambar lainnya. Realitas eksternal sudah tidak memiliki lagi pijakan yang nyata.

Jean Baudrillard menampilkan dunia digital sebagai pencapaian puncak keterasingan manusia atas dirinya. Sebab meskipun manusia dalam keramaian tapi seolah-olah sedang berada di dalam kamarnya menikmati segala bentuk serangan informasi dari berbagai arah. Media dan informasi berhasil mengikat tangan dan kakinya sehingga menerima begitu saja dan tanpa tanya atas para-faktual media dan informasi. Para-faktual berhasil nampak lebih nyata dari fakta itu sendiri. Ditambah lagi para konsumen media tidak memiliki kemampuan dalam menganalisa data dan informasi.

Memang ironi sebab satu sisi revolusi teknologi informasi mempermudah seseorang dalam memalsukan data dan fakta sementara sisi lainnya para pengguna media tak punya kemampuan dalam menganalisis data dan fakta. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi sebab mereka telah menentukan media mana yang harus dibaca dan media mana yang mesti ditolak. Dan pada akhirnya, menerima atau menolak berita tak lagi ditentukan oleh diri mereka sendiri. Penentunya adalah orang-orang yang merasa paling berhak memutuskan kebenaran. Tafakkur telah dipasung hingga ke akar-akarnya.

“Periode kini adalah periode memenjarakan tafakkur dan nalar dan sebaliknya membebaskan segala bentuk kepalsuan dan kebohongan”.

 


sumber gambar: Google

The following two tabs change content below.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *