Kata sabar merupakan obat penenang bagi kehidupan. Betapa banyak peristiwa yang semestinya menjadi ledakan besar, namun tampil apa adanya tanpa gejolak karena pengaruh sabar. Betapa banyak gerakan yang semestinya menjadi gerakan yang begitu cepat, bahkan tanpa kendali, namun ia mengalir begitu saja apa adanya karena kekuatan sabar. Dengan sabar, gelegar kehidupan bisa berubah menjadi kesenyapan dan kedamaian. Sabar dihadirkan seolah menjadi rem istimewa bagi kehidupan, agar kehidupan bisa mengatur irama kecepatan demi menciptakan kenyamanan sekaligus memasuki jalur keselamatan. Sabar adalah rem pengontrol irama kehidupan. Sabar adalah energi positif yang memiliki kekuatan mumpuni  untuk membangun kehidupan agar kehidupan terbangun sesuai dengan urutan-urutan yang semestinya.

Pada sisi lain, kesabaran dapat diidentikkan dengan ketertindasan. Pada konteks ini, kesabaran bermakna sebagai pengungkungan pihak tertentu kepada pihaknya lainnya. Ada yang menindas dan ada yang ditindas. Kesabaran semacam ini merupakan tabungan mesiu yang memiliki daya ledak tinggi jika tiba masanya. Kesabaran yang semestinya merupakan energi positif, telah berubah menjadi dendam kesumat yang dapat meluluh-lantakkan kehidupan. Kesabaran semacam ini hanyalah penundaan bagi terciptanya ledakan besar dan bukan sebagai proses pematangan atas hadirnya sesuatu secara alami.

Sabar merupakan energi yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan, namun kehadirannya mengambil bentuk dua mata pisau sekaligus. Pada satu sisi kesabaran merupakan energi posisif yang sangat dibutuhkan untuk menyusun batu bata agar tercipta istana kehidupan yang megah dan indah, namun pada sisi lain kesabaran bisa tiba-tiba menjelma menjadi buldoser yang tanpa kendali meluluh-lantakkan istana megah tersebut. Sangat dibutuhkan pengelolaan yang bijak bagi kesabaran, agar kesabaran tetap dalam lajur rel positifnya sehingga bisa diambil manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan.

Sejak Adam terlempar ke dunia, sejak itu pula manusia bergumul dengan badai kehidupan. Sejak ini pula kehadiran kesabaran begitu penting agar pergumulan tersebut menghasilkan keselamatan sejati. Badai adalah badai, kesabaran adalah kesabaran. Pergumulan keduanya dapat mematangkan sekaligus menghancurkan diri anak-cucu Adam. Juga, pergumulan antara sabar dan badai dapat menata kehidupan dengan rapi sekaligus juga dapat memporak-porandakannya. Keselamatan mengisyaratkan hadirnya pengelolaan kesabaran dalam badai, juga pengelolaan badai dalam kesabaran dengan baik.

Untuk menciptakan suasana surgawi dalam kodisi berbadai, lazim didengar ungkapan:”Orang sabar kekasih Tuhan” atau “Orang sabar bersama Tuhan.” Ungkapan ini mengisyaratkan adanya hubungan erat antara Tuhan dengan kesabaran. Untuk merealisasikan kesabaran yang sesungguhnya dibutuhkan kehadiran Tuhan atau juga bisa dimaknai penghadiran kesabaran berdampak pada kebersamaan dengan Tuhan. Pada lakon sabar dalam kehidupan antara Tuhan dan kesabaran sama sekali tidak dapat dipisahkan, agar sabar tetap dalam relnya dan memberi sumbangsih positif terbesar bagi bangunan kehidupan. Lalu, apa yang terjadi dengan lelakon sabar yang kehilangan Tuhan?

Sebagai satu sifat dan sikap yang tak terelakkan dalam menghadapi badai kehidupan, kesabaran butuh pijakan, butuh sandaran agar ia tetap berdiri kukuh dan tegar. Kesabaran yang kehilangan pijakan atau sandaran adalah sifat dan sikap anarkis tanpa kendali, oleh karena itu ia telah berubah menjadi sesuatu yang lain, bukan kesabaran lagi. Kesabaran tetap menjadi sabar jika ia memiliki sandaran, tanpa sandaran dan pijakan, kesabaran kehilangan jati dirinya. Jadi, jauh lebih penting kehadiran sandaran bagi kesabaran dibandingkan sabar itu sendiri, sebab sandaran itulah yang mentukan keberadaan seperti apa sabar yang sesungguhnya.

Setidaknya secara umum ada tiga tempat menyandarkan praktik kesabaran. Pertama, kesabaran yang dilakukan berpangkal pada diri sendiri. Kedua, kesabaran yang dilakonkan demi Tuhan. Ketiga, kesabaran yang dipraktikkan bukan demi diri dan bukan demi Tuhan. Ketiga jenis sandaran ini sangat menentukan sifat dan praktik kesabaran, dan tentu juga sangat berpengaruh bagi ketangguhannya dalam mengelola badai kehidupan.

Jika disederhanakan, sandaran praktik kesabaran hanya dua, yaitu Tuhan dan bukan Tuhan, dan yang bukan Tuhan adalah diri. Jadi sandaran bagi praktik sabar hanya Tuhan dan diri. Kesabaran yang dilakukan atas nama diri adalah kesabaran yang berpangkal pada diri. Diri pribadilah sebagai sumber dan pelaku kesabaran. Kesabaran semacam ini adalah kesabaran yang berbatas, karena kemampuan diri memang sangat terbatas. Oleh karena itu, kemampuannya pun untuk mengelola badai juga sangat terbatas. Kesabaran semacam ini mengandalkan diri untuk menghadapi segala kesulitan, sementara badai kehidupan jauh lebih besar dan lebih kuat dari diri sebagai tempat sandaran bagi kesabaran tersebut. Pada jenis kesabaran semacam ini, kesabaran sangat rawan tetiba berubah menjadi dendam tersembunyi, pada saat itu ambruk pula diri yang sejak awal jadi tumpuan bagi kesabaran. Jargon bagi kesabaran jenis ini adalah: “Kesabaran ada batasnya.”

Kesabaran berikutnya adalah kesabaran yang dinisbahkan pada Tuhan. Badai yang sesungguhnya adalah terpisahnya antara hamba dengan Tuhan. Selama Tuhan dengan hamba berjarak, terpisah, selama itu pula badai bekerja, sebab badai adalah salah satu menifestasi dari kejamakan wujud. Semakin jauh jarak, semakin terpisah dengan Tuhan semakin besar pula badai yang menerpa. Oleh karena itu untuk mengurangi dan menghilangkan badai kehidupan dilakukan dengan cara merapat kepada-Nya. Kesabaran di sini sudah bermakna menjadi peleburan diri pada Tuhan. Kesabaran bukan lagi bermakna sebagai pertahanan diri dalam menghadapi badai, akan tetapi telah menjelma menjadi peleburan diri dan badai ke dalam Tuhan. Kesabaran semacam ini bukan saja sangat tangguh dalam mengelola dan menyelesaikan badai kehidupan akan tetapi sekaligus merupakan perjalanan cinta yang indah menuju Dia Yang Mahasabar. Jargon utama kesabaran jenis ini adalah: “Kesabaran tidak ada batasnya,” karena Dia sebagai sumber kesabaran juga Maha Tak Terbatas.

 

Sumber gambar:http://affandipreneur.com/blog_img/bn_l_4573-2693-sabar-dalam-menjalani-proses.jpg

 

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Latest posts by Herman Pabau (see all)

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *