Seorang teman sering bilang bahwa dia kadang mengalami kebingungan (aporia) ketika teman dan keluarganya bertanya “kapan kamu nikah? “. Sebuah pertanyaan abadi nan klasik dalam kabut modernitas kemanusiaan saat ini. Apatah lagi ketika musim nikah seperti saat sekarang ini. Pertanyaan itu akan selalu berhembus seperti angin sepoi-sepoi melalui telinga kita. Tapi justru kita menganggapnya badai yang tak punya akhir cerita.

Dan saya hanya bisa tersenyum sebagai tanda menghibur kepada teman saya dan tentu saja tidak bisa berkomentar banyak. Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang paling dihindari oleh beberapa orang. Saya tidak tahu persis alasannya. Mungkin karena pertanyaan itu menghadirkan sebuah ‘kekosongan’ yang menakutkan dan mencemaskan. Kita dibuat terhenyak. Diam.

Seorang lelaki tua yang hidup di Yunani pada tahun 470-399 SM justru sangat senang dan berbahagia pada pertanyaan-pertanyaan. Namanya Socrates, seorang yang bertubuh pendek, brewokan, dan botak. Dia tidak begitu populer. Namun lelaki tua ini sangat berbahagia dengan pertanyaan-pertanyaan. Baginya, lewat pertanyaan, kita bisa menunjukkan ‘ketidaktahuan’ manusia.

Ketidaktahuan mungkin adalah sebuah kemewahan pada sebuah zaman informasi  yang cepat saat sekarang ini. Dari sana, kita sesaat terhenti dan sadar, bahwa tidak semua pertanyaan dapat (harus) kita jawab. Kebijaksanaan bukanlah tentang mengetahui segala sesuatu. Seperti Socrates, kebijaksanaan adalah ketika kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa.

Saya kira, kebijaksanaan Socrates penting dihadirkan pada zaman ‘serba tahu’ sekarang ini. Tidak hanya digunakan untuk mengahadapi pertanyaan ‘kapan nikah?’ tapi juga penting dalam cara kita beragama. Ketidaktahuan ini akan menjadi sebuah  ‘berkah’, semacam kondisi terbaik dalam hidup.

Karen Armstrong dalam Twelve Steps to a Campassionate Life menyebutnya sebagai langkah ke 7 menuju hidup berbelas kasih. Menurutnya, agama berada pada kondisi terbaiknya ketika membantu kita untuk ‘bertanya dan menjaga rasa takjub’ kita (pada tuhan), dan bisa berada pada keadaan paling buruk ketika mencoba menjawab pertanyaan itu secara otoritatif dan dogmatis.

Hal yang disampaikan Armstrong akan muncul dalam pertanyaan yang mencoba mencari jawab tentang Tuhan yang transenden. Sebuah jawaban entah. Jawaban yang tidak punya ukuran defenitif yang pasti. Karenanya, mereka yang memaksakan jawab akan jatuh pada dogmatisme kaku hingga pada berhala palsu.

Mistikus China, Zhuangzi (370-311 SM), seorang guru zaman Aksial percaya bahwa satu-satunya yang bernilai untuk dikatakan adalah sebuah tanya yang membenamkan pendengarnya ke dalam keraguan dan ketidakpastian numinus. Armstrong menyebutnya sebagai ‘sains kasih sayang’, semacam sikap ‘melupakan’ atau ‘mengosongkan’ diri dan memberikan ruang pada yang lain.

Konon, pada saat itu, kita tak akan melihat segala sesuatu (harus selalu) dengan ego pengetahuan atau tafsir kita. Memaksakan kehendak dan keyakinan kita pada yang lain. Tetapi kita akan melihat dan menganggap orang lain sebagai ‘aku’ dalam interaksi sosial. Dengan demikian, kita akan merasakan derita mereka sebagai derita kita, tangis mereka sebagai tangis kita. Semacam prinsip kesatuan dalam semesta.

Memang tak mudah. Merawat laku kemanusiaan dan spiritual semacam itu sama saja dengan meniadakan diri di tengah gemuruh badai eksistensi saat ini. Semua orang ingin bicara, semua kawan ingin didengar dan menyumbangkan buah pikiran dan ide-ide mereka. Tapi tentu saja tidak harus dengan sikap memaksa dan ‘menghegemoni’ suara-suara lain, hingga melakukan tindak dan aksi kekerasan.

Jika sikap ‘mengosongkan’ dan ‘melupakan’ diri menjadi salah satu prinsip hidup bermasyarakat, maka tidak mustahil akan tumbuh sikap saling menghargai, berbelas kasih, dan mencintai antar sesama manusia tanpa kebencian dan sikap memaksakan kehendak dan keyakinan. Sebuah laku menghargai antar sesama. Menghargai segala yang beda. Dan bukan sikap yang ingin menguasai dengan intensi yang ngeri. Intensi yang kadang melebihi batas-batas kemanusiaan.

 

Syahrul Alfarabi

Pernah Aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah Takalar. Laki-laki penyuka kopi dan buku.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *