Bulan Muharam, Bulan Panas

“Bulang muharrang , bulang bambang.”  Apa maksudnya? Begitu memasuki bulan Muharam, kalender  Islam, tahun Hijriah, perkataan itu, amat lazim diucapkan oleh orang-orang  Makassar. Ucapan itu sangat sering terdengar bagi masyarakat Makassar. Secara sederhana makna ucapan itu, menyatakan bahwa bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam, adalah bulan panas. Bukan karena cuaca yang panas, karena rinai hujan sudah mulai menyapa. Panasnya Muharam lebih berkonotasi pada tradisi, yang terakumulasi dalam budaya Makassar.

Begitu bulan Muharam tiba, bagi masyarakat Makassar, tentu yang masih mempercayainya sebagai bulan panas, akan segera menunda beberapa hajatan. Misalnya, perkawinan, khitanan, pindah rumah, dan lainnya. Maka , hanya bulan Ramadan yang menandingi tertundanya beberapa hajatan. Meski dengan motif yang berbeda. Satunya karena dianggap bulan panas, lainnya dipahami sebagai penghargaan terhadap ibadah puasa. Pastinya, pengusaha hiburan, terutama electone, mulai dari yang mirip qasidahan sampai yang candoleng-doleng (mengandung porno aksi), mengalami musim paceklik. Bagi pengusaha hiburan, nyatalah panasnya Muharam.

Anehnya, manakala sampai pada tanggal 10 Muharam, orang-orang yang bersangkutan melakukan ritus yang cukup atraktif. Mereka berbelanja peralatan dapur. Mulai dari panci, kompor, sendok, piring, timba, tudung saji, dll. Mungkin ada juga yang beli palu dan arit. Mereka percaya, bahwa berbelanja peralatan rumah tangga di hari itu, akan penuh berkah, rejeki meningkat, dan ketetntraman mencari nafkah meruah. Berjayalah pengusaha atau penjual alat keperluan rumah tangga. Mulai dari yang modern sistem transaksinya, sampai penjual yang bercokol di pasar tradisional. Bagi para pebisnis alat-alat rumah tangga, momen ini menjadi limpahan keuntungan. Dan, tentulah  Muharam, khususnya 10 Muharram adalah hari yang dinanti.

Sebagi orang yang lahir dan tumbuh, serta mukim di lingkungan etnik Makassar, hingga detik ini, saya masih belum punya pengetahuan memadai akan laku tradisi itu. Meski selaku pegiat literasi, ikut bertanggung jawab menelusuri tradisi ini. Sependek pemahaman saya , ini sejenis akultrasi budaya, yang dipengaruhi oleh ajaran Islam, yang menubuhkan banyak peristiwa-peristiwa spektakuler pada bulan Muharam, kususnya 10 Muharram. Para dai telah banyak menjelaskan, mulai dari kisah para nabi, sampai terbunuhnya salah satu cucu tercinta Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali bin Abi Thalib. Saya menduga, muasalnya kebiasaan orang-orang tersebut bermula dari sini. Barulah satu yang pasti, adanya sekaum muslim lainnya, mendapuk tradisi ini, selaku perbuatan bid’ah.

Lalu, bagaimana  nasib bulan Muharam di bagian lain bumi Nusantara? Beragam ritus dan tradisi dalam menjalaninya. Ada perayaan malam Syuro, penyajian  makanan bubur yang penuh makna simbolik, sampai perayaan Tabuk. Ritus-ritus ini , ada yang melacaknya sebagai pengaruh ajaran Islam Syiah di Nusantara. Dan, tahulah kita semua, tatkala bicara  Islam Syiah di kekinian, maka akan panas suasananya. Sebab, kelompok anti Syiah akan menambah panasnya bulan Muharam, dengan aksi-aksi provokatif yang melakukan penolakan, sekaligus penyesatan ajaran Syiah.

Entah kenapa tahun 2017 ini, bulan Muharam benar-benar panas, membara lagi. Sebab, khususnya 10 Muharam beririsan dengan tanggal 30 September. Sebuah tanggal, yang angkanya menyisakan perdebatan panas, akan sebuah tragedi bagi bangsa Indonesia, yang dikaitkan dengan PKI. Akhir-akhir ini, perdebatan, aksi-aksi, perang sejarah, amat panas suhunya. Jadi, bulan Muharam kali ini, semakin panas, karena ada dua yang menjadi tungku pembakarnya, tragedi 65-isu hantu PKI yang akan bangkit, dan  anggapan bahaya Syiah. Maka tak heranlah, bilamana saat ini telah beredar  tulisan-tulisan propaganda, meme dan gambar-gambar yang menghasut, akan kedua soal ini, PKI dan Syiah, yang minta diviralkan. Sehingga, saya ingin mengikatnya dalam satu makna, habis PKI terbitlah Syiah.

Kedua topik ini, PKI dan Syiah, bakal menari-nari  di atas bumi Indonesia. Apatah lagi, para penabuh gendangnya cukup mahir menentukan irama dan jenis tariannya. Bukankah tarian itu amat bergantung pada irama pukulan gendangnya?  Dan, kita sudah bisa saksikan hari-hari belakangan ini. Jagat bumi pertiwi dihiasi dengan isu kebangkitan PKI, yang konon jumlahnya sudah sampai 15 juta orang, ditambah lagi struktur kepartaian, mulai dari tingkat pusat sampai ke desa. Hebatnya lagi, siapa pun yang mencoba bersikap kritis terhadap tragedi  65 ini dan hantu PKI, bakal dicap sebagai  pendukung PKI, setidaknya  simpatisan PKI. Percayalayah, panasnya topik ini akan mencapai puncaknya pada 30 September, lalu masuk bulan Oktober. Bulan September-Oktober, dijepit oleh bulan Muharam. Panas bukan?

Pun, nasib yang sama dialami oleh topik Syiah, yang bakal ikut memanaskan situasi. Puncaknya akan teraktual pada 10 Muharram, tepat bersetuju dengan peristiwa terbantainya cucu kinasih Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali. Yang oleh kalangan muslim Syiah diperingati sebagai hari duka lara, hari berkabung sedalam-dalamnya. Padahal sesungguhnya, fakta sejarah pembantaian ini, juga dicatat oleh buku-buku Islam Sunni. Yang membedakannya adalah apresiasi kultural, tradisi yang menyertainya. Dan, itu semua berbeda, disebabkan karena perbedaan persepsi dan penghayatan pada tragedi  keterbunuhan itu. Ada yang memandangnya sebagai peristiwa perebutan kekuasaan politik semata, sementara lainnya, menabalkan sebagai peristiwa penentuan tegaknya tiang agama Islam.

Karenannya, tidaklah mengherankan, jika hari-hari  terakhir ini, jelang 10 Muharram, tulisan-tulisan  yang menyesatkan Islam Syiah sudah mulai bermunculan, video-video , gambar-gambar, dan meme yang mendiskreditkan ajaran Syiah mulai tersebar. Waima, semua yang diuarkan itu, sifatnya daur ulang saja. Apa yang disajikan pada kiwari ini, sejenis masakan yang lama disimpan di kulkas, lalu dipanasi lagi. Tapi, tetaplah panas, setidaknya hangat, bukan? Syiah pun menjadi serupa tarian, yang amat bergantung pada irama pukulan gendang, yang ditabuh oleh penabuhnya. Dan, pastilah bakal panas situasinya. Sebab, siapa saja yang bersikap kritis terhadap penyesatan itu, akan didapuk sebagai orang Syiah, pendukung, penyebar, dan simpatisan. Bahkan, tidak  sedikit ada yang mendapat stigma berlapis, sudah PKI, Syiah pula.

Pada  bambangna  bulang muharrang, di panasnya bulan Muharram, saya teringat pada seorang scholar, Vedi  Hadis, Deputi Direktur Asia Institute di Universitas Melbourne, tentang ulasannya pada sebuah topik  elit oligarki, yang mengaduk-aduk situasi ke-Indonesia-an berdasarkan kepentingannya masing-masing. Lebih dalam Vedi berpendapat bahwa  gerakan konservatisme Islam, yang ingin membuat arus utama Islam di Indonesia, dikendalikan oleh elit oligarki, yang direspon oleh Presiden Jokowi dengan hiper-nasionalisme, ala Orde Baru. Keduanya, sama-sama jatuh dalam kemunduran. Dari pertarungan ini, bisa merebak ke mana saja. Tergantung apa yang diagendakan.

Dalam imaji saya, dua topik ini, PKI dan Syiah,merupakan sasaran utama kaum konservatisme Islam, gayung bersambut dengan ulah elit oligarki,  tidak lagi sebatas perdebatan  di ranah pikiran, benturan di ruang publik. Tapi, akan lebih dahsyat  jika tariannya, amat bergantung pada irama pukulan  gendang para  elit oligarki, yang mempertarungkan kepentingannya.  Seorang kawan berkata, “kedua isu ini, PKI dan Syiah, bakal digoreng, bahkan hingga gosong.”  Kalau saja PKI dan Syiah ini sudah jadi gorengan, maka pastilah laku. Kisanak suka gorengan?

 


Sumber gambar: http://cdn2.tstatic.net/pekanbaru/foto/bank/images/ilustrasi-orang-terbakar.jpg

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *