Saya tak tahu apa makna ‘lupa eksistensi atau lalai eksistensi’. Namun sepertinya, saat ini sudah tak menarik lagi membicarakan persoalan eksistensi. Mungkin karena eksistensi tak bisa dikomersialkan atau sulit dikomersialkan. Apalagi, bukankah makna eksistensi itu sama dengan ada atau wujud? Iya Kan! Lalu apa menariknya berbicara tentang ada?

Tapi kalimat ‘lupa eksistensi atau lalai eksistensi’ sangat mengganggu walaupun sebagian orang menganggap remeh kalimat tersebut bahkan tak bermakna. Bukankah mudah memahami ‘ada’ dan juga ‘ada’ mudah ditemukan? Sebab hampir setiap hari kita menggunakan kata ‘ada’ dalam percakapan keseharian kita. Apa ‘ada’ orang di dalam? Di sana ‘ada’ sungai, di sini ‘ada’ makanannya, bahkan tak jarang kita mengatakan, “saya ‘ada’ Lho?”.

Lalu bagaimana memaknainya? Mungkin benar kata mereka, mencari ada itu gila! Bukankah hanya orang-orang gila yang menanyakan persoalan-persoalan yang sudah pasti? Pertanyaan ini bisa dipermudah dan bisa juga dipersulit. Namun sebagian besar tak ingin diganggu dari persoalan tafakkur, mereka lebih memilih lari dari pertanyaan yang rumit. Kata mereka, “hidup sudah rumit, mengapa mesti dipersulit lagi dengan pertanyaan-pertanyaan konyol dan tak tahu apa makna dan tujuannya”.

Benar! Sebagian besar memilih lari dari kedalaman makna. Namun disini kita tidak sedang membicarakan hal-hal sederhana yang menurut sebagian orang sederhana. Kita sedang membicarakan sesuatu yang berawal dari konsep sederhana menuju rahasia-rahasia yang ada di balik konsep sederhana, atau menuju batin-batin realitas yang ada dibalik setiap konsep.

Tak perlu menyalahkan atau mengunggulkan siapa pun. Setiap orang berhak memilih pengetahuan sederhana atau derita pengetahuan. Boleh jadi, berada dalam derita pengetahuan hanya sebatas hobi, atau mungkin juga sebagian orang tak pernah membiarkan pertanyaannya membisu atau pergi begitu saja sebab mereka lebih memilih dan memelihara dahaga pengetahuan. Apakah ini yang dimaksud philosophia atau cinta kebijaksanaan? Hanya filsuf yang berhak menjawabnya.

Apakah kita pernah menyaksikan seperti yang dijelaskan oleh Will Durrant? Bahwa seseorang yang mencintai pengetahuan akan lebih memilih lapar daripada tak mampu memenuhi hasrat pengetahuannya! Kita sering mendengar kisah orang-orang yang memilih derita pengetahuan. Bahkan bisa dipastikan orang seperti itu ada. Terkadang apa yang orang lain rasakan amat sulit dimengerti. Tak perlu terlalu gegabah menilai seseorang apalagi menyalahkan.

Kegelisahan terkadang lebih indah daripada menu restoran dan bahkan tawaran jabatan di sebuah perusahaan sekalipun. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kegilaan. Apa ada orang yang siap menukarkan kegelisahan dengan tawaran kerja sebuah peruahaan? Namun kita sedang berbicara tentang makna hidup dan kehidupan. Bahwa kehidupan tak sekedar menjalaninya namun bagaimana menjalaninya dengan indah dan penuh khidmat.

Namun kita sedang berbicara mengenai lalai dari eksistensi. Sebab itu pertanyaannya, yang manakah yang dimaksud dengan lalai dari eksistensi, apakah kegelisahan atau menolak tawaran perusahaan? Mungkin tak ada hubungannya sama sekali sebab lalai atau lupa eksistensi berarti kita pernah merasakannya tanpa pernah merasakan eksistensi. Dan dalam hal ini, lalai eksistensi tentu tak lagi bermakna.

Tapi kapankah kita merasakan eksistensi dan kapankah kita terjebak di dalam eksistensi? Sejak kapan kita terikat dengan eksistensi? Dan intinya, eksistensi itu apa? Apa ada jalan memahami eksistensi? Sebagian pertanyaan mungkin saja gila dan menggilakan. Namun tugas kita hanya merasakan persoalannya dan mengurai relung-relung batin eksistensi diri. Eksistensi bukan ditebak dan bukan pula dipahami, akan tetapi eksistensi mesti dirasakan kehadirannya.

 


sumber gambar: psicoativo.com

The following two tabs change content below.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Luar biasa dan sallut.. Mengutip kembali “bahwa eksistensi mesti dirasakan kehadirannya”. Begitu sangat menggugah dan penuh esensi makna yg terkandung didalamnya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *