Seperti biasa, setelah bekerja selama empat pekan di kampung seberang aku field break atawa cuti berkala selama dua pekan. Sepertinya ini menjadi jadwal rutin bila off dari pekerjaan maka agenda yang tidak bisa ditawar-tawar adalah melakukan silaturrahim dengan teman-teman dan keluarga di samping tentunya refresh dan cengkrama dengan orang-orang terkasih di rumah mewujudkan pesan Nabi “rumahmu adalah sorgamu”. Sebab, menurutku semua kehidupan yang kita jejak mesti kebajikan bermula dari rumah.

Sedang refresh di rumah sebuah inbox di FB-ku masuk. Setelah menengoknya sejenak ternyata undangan menghadiri launching buku dan fundraising. Momen yang sangat menarik untuk silaturrahim gumamku dalam hati. Inbox langsung kubalas “inshaAllah hadir.

Tetamu atawa undangan disambut dengan kesok-kesok dan perkusi, alat musik etnik Bugis-Makassar. Para pemainnya senandungkan lagu-lagu Makassar, Bugis, dan Luwu. Tetamu sudah memenuhi lebih dari setengah ruang yang cukup luas itu, ruang yang setengah terbuka sebab ruangnya tidak berdinding namun beratap. Mungkin pertimbangannya gedung ini dipilih di samping untuk menciptakan kesan sederhana juga suasana yang informal dan nuansa kesenian yang dominan. Sebab, memang gedung ini adalah gedung kesenian Society De Harmonie, Makassar.

Di antara tetamu yang nampak hadir adalah, Datu Luwu Andi Maradang Makkulau, Prof DR Qasim Mhatar, Mubil Handaling, Asmin Amin, M.Nur Alfatah, dan tokoh masyarakat Sulsel lainnya dari pelbagai profesi. Semua lebur larut dalam silaturrahim yang nampaknya menjadi salah satu pemantik kehadiran para tokoh masyarakat dan mahasiswa ini. Aku menikmatinya sebab yang hadir di momen ini guru, sahabat, dan kawan lama yang ada baru kusua setelah puluhan tahun silam. Kala kami masih mahasiswa bersama, aktif di ruang-ruang ekstra kampus.

Desain acara dan ruang semi terbuka cukup klop bershaja. Hingga beberapa tokoh menyampaikan sambutan dan dilanjutkan dengan menyampaikan pidato atawa sejenis orasi mengurai isi buku, yang sesungguhnya adalah program-program atau gagasan-gagasan yang sedianya akan diimplementasikan sekiranya nanti Tuhan dan masyarakat menghendaki kawan saya ini, Bachrianto Bachtiar terpilih menjadi kepala daerah atawa Bupati di Kabupaten Luwu.

“Buku ini sebagai pengingat bahwa setiap karya besar selalu dimulai dengan langkah-langkah kaki kecil. Pada setiap langkah kaki itu ada harapan dan keyakinan untuk berbuat yang terbaik. Di setiap lembar buku ini ada janji yang ditebar. Di situ ada pula pertanggung jawaban yang kelak akan ditagih oleh publik ketika saya terpilih. Upaya untuk membumikan janji ini tak mudah. Tapi bukan berarti kita berhenti menanam harapan. Pada titik tertentu janji dan harapan amat penting untuk melihat sejauh mana kompas komitmen, bekerja keras, serta gambaran tentang apa yang akan dilakukan seorang kepala daerah. Kelak, sejarah akan mencatat kiprah dan jejak para pemimpin.”

Kemudian, buku yang bertajuk, Menggapai Keemasan Luwu, Senarai Program dan Strategi Untuk Luwu 2018 – 2023. Mengurai Visi dan Misi, menjadi beberapa program strategis dan unggulan, di antaranya adalah, Membangun Desa Mandiri dan Lestari, Membangun Agropolitan dan Agro-forestry, Pengembangan Minapolitan, Pembangunan Infrastruktur dan Sarana/Prasarana, Penguatan Sumber Daya Manusia, Pengembangan Sektor Pariwisata. Melihat plan program yang detail dan berbasis data, tentu hal yang sangat menarik sebagai pertanggungjawaban politik dan gagasan yang diruangkan dalam sebuah buku.

Tentu yang sangat menarik buatku, bukanlah pada isi buku yang juga memang menarik, tapi tak kalah pentingnya adalah memulai sebuah proses-proses politik yang bersahaja dan elegan. Jauh dari proses yang secara simultan berlangsung terus menerus dengan berbagai manipulasi yang terjadi hingga proses politik menuai kemenangan dengan cara-cara yang culas dan buruk. Membayar “mahar” saat diusung oleh partai-partai yang ada. Membuat kesepakatan di bawah tangan dengan para pengusaha menyumbangkan sejumlah dana untuk membiayai proses politik dan bila kelak menang ongkos politiknya dikembalikan dengan jalan berbagi jatah proyek. Serangan fajar jelang dilangsunkannya pemilihan, dan lain sebagainya. Proses-proses inilah yang banyak melahirkan korupsi diantara pemimpin eksekutif dan legislatif.

Dalam perhelatan launching buku ini dilakukan fundraising dengan jalan melelang buku kandidat bupati Luwu yang berisi gagasan-gagasannya kelak bila terpilih menjadi kepala daerah atawa bupati. Dalam waktu tidak lebih dari satu jam, dana hasil lelang terkumpul lebih dari 300 juta menghimpiri 400 juta rupiah. Menurutku, cara dan strategi ini adalah baru dan cemerlang.

Proses ini kubilangkan sebagai proses politik menjual gagasan atawa politik gagasan yang mungkin hanya dilakukan oleh para aktivis politik dan calon pemimpin di negara-negara maju yang secara politik dan ekonominya telah mapan. Biaya politik tidak diraih dengan cara-cara patgulipat yang mendegradasi proses demokrasi yang mestinya baik, mengantar manusia menjadi pemegang suara Tuhan, yang diberikan kepada para pemimpinnya untuk menjalankan amanah sesuai gagasan-gagasannya dengan baik. itulah sesungguhnya kontrak politik yang saling memberdayakan.

Haclav Havel, secara subtansi pernah menggagas dan melakunya kala ia menjadi presiden pertama Ceko-Slovakia yang juga seorang seniman. Menurutnya “demokrasi dan politik seharusnya merupakan suatu pernyataan terhadap kerinduan untuk mendukung kebahagiaan dan kepentingan umum. Politik sama sekali bukan keharusan untuk menipu atau memperkosa hak-hak rakyat. Politik bukanlah suatu seni tentang kemungkinan yang di dalamnya terdapat sepekulasi, pemikiran, agitasi, perjanjian rahasia, dan sikap toleran yang pragmatis. Politik juga berarti seni tentang ketidakmungkinan, yakni bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik.

Demikian itu, Haclav Havel, menyusun strategi politiknya dalam sebuah buku bertajuk Menata Negeri Dari Kehancuran dan mengimplementasikannya dari seluruh proses politik hingga ia terpilih menjadi presiden dan menjadi acuan dalam menjalankan pemerintahannya.

 

 

 

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *