Entahlah. Belakangan ini, sudah lebih dari lima jari tangan saya, jumlah kisanak yang menandangi mukim saya, guna berbagi kepusingan soal politik. Padahal, sesarinya, saya bukanlah pengamat politik, tidak pula konsultan politik, apatah lagi dukun politik. Bahkan, oleh banyak kawan, saya didapuk sebagai persona, yang apolitik. Soalnya, sejak pasca reformasi, sempat pula singgah di partai politik, menjadi elit partai, selaku ketua harian pelaksana partai, waima,  partainya tergolong partai gurem. Dan, tidak lolos dalam perhelatan pemilu berikutnya. Kini, partai itu sudah almarhum.

Tapi, menurut kisanak-kisanakyang datang itu, justru di sinilah letak pentingnya saya diajak berbincang. Pasalnya, bila pengamat politik, apalagi konsultan politik, sangat sulit didapatkan objektivitasnya, sebab mereka ikut bermain politik, baik sebagai pemasok kata-kata, maupun selaku pelaksana tugas pemenangan aktor politik. “Kami butuh orang yang tidak berpolitik praktis, yang kami butuhkan adalah orang yang punya rasa politik”, katanya.

Tidak sedikit di antara mereka yang menyambangi saya itu, membawa rasanya. Tepatnya, kepusingan mereka melihat perhelatan politik, yang tidak lama lagi digelar. Pilkada serentak, untuk memilih gubernur dan bupati, di beberapa wilayah akan digelar. Kebingunan yang nyaris merata dari mereka, tertuju pada partai politik yang dalam mengusung pemaiannya, maksudnya menetapkan calon gubernur dan bupati, tidak konsisten pada setiap wilayah pemilihan.

Padahal, tidak sedikit dari mereka, telah terlanjur mematenkan permusuhan antar partai. Dan, mula paling terdepan adalah kasus pilkada gubernur di DKI Jakarta, yang ingin diimpor ke daerah lain. Nyatanya, di pilkada Jakarta partai bermusuhan, sampai membawa urusan agama segala, di tempat lain, bersenggama laiknya burung jalak di rimbunan pohon kersen, atau setidaknya, malah berpelukan, seperti boneka-boneka Teletubis.

Nah, agar rasa politik mereka tidak menjalar pada kemarahan, maka saya pun mengajak untuk hadir pada persamuhan di akhir pekan. Saya mengajak mereka nonton bareng. Tapi bukan nonton film, melainkan nonton sepak bola. Wajah-wajah keriangan menghidu mereka. Maka pilihan pun jatuh untuk menonton Liga Primer Inggris, sebagai liga paling dinamis di dunia. Tentulah sebagai fans salah satu kesebelasan, Arsenal, saya mau supaya mereka menonton perlagaannya. Pasal siapa yang menang, itu soal lain. Walau, saya khawatir juga, jangan sampai Arsenal kalah di depan fansnya panatiknya, dan juga calon fans. Bukankah sebagai fans klub sepak bola, sering pula saling bajak pemuja klub?

Setelah nonton bersama, mulailah saya membuka ruang percakapan. Saya memberi pengantar perbincangan, tentag bagaimana perlagaan sepak bola, bisa kita jadikan sebagai cara memahami dan menyikapi permainan politik. Bicaralah saya seluas mungkin, tentang bagaimana klub sepak bola sekelas Arsenal, dalam mengikuti setiap kompetisi, di berbagai ajang perburuan piala. Saya dedahkan saja dengan gamblang, bahwa Arsenal setiap musim pertandingan, selalu mengikuti empat  ajang kompetisi. Mulai dari Piala Liga, Piala FA, Liga Primer, dan Liga Champion. Bila dalam politik, setaralah partai politik itu berlaga di ajang pemilihan bupati, gubernur, legislatif, dan Presiden.

Pada setiap perlagaan, tentulah dibutuhkan strategi untuk pertandingan, agar di ujungnya piala dapat diraih. Dan, ingat, sebelum kompetisi di berbagai ajang itu, setiap klub sepak bola, akan melakukan pembelian dan penjualan pemain. Istilah kerennya, transfer pemain. Pada momen ini, seluruh energi klub dikerahkan untuk memenuhi harapan klub agar terbentuk tim yang solid, guna menghadapi ajang perebutan piala. Perpindahan pemaian, apalagi pemaian bintang yang bayarannya selangit, menjadi keniscayaan. Pemain yang pindah dari klub seteru, itu biasa dalam sepak bola. Apalagi, pergantian manejer dan pelatih amat lumrah. Para pemuja klub, fans, boleh setuju, boleh protes. Tapi, keputusan ada di tangan elit dan pemilik klub. Terkadang ada pemain pujaan fans, tapi tidak berkenan di pemilik.

Ilustrasi permainan sepak bola itu, serupalah dengan perlagaan politik. Pada partai politik, bisa diamsalkan sebagai klub sepak bola. Ada elit pengurus, pelatih, manejer, ofisial, pemain, pemegang saham, dan pemilik. Fans juga ada, tapi otoritas tertinggi untuk menentukan mekanisme klub, ada di tangan para elit klub. Demikian pula dengan partai politik. Di dalamnya ada elit pengurus partai, staf ahli, pendiri merangkap pemilik, dan para anggota partai. Perubahan kepengurusan, pergantian atau pindahnya anggota partai, sama saja dengan apa yang terjadi pada sepak bola.

Jadi, jangan terlalu seriuslah memandang persoalan politik ini. Ini sebentuk permainan. Dalam permainan yang bakal menghasilkan pemenang,  mekanisme tempuhannya dengan berbagai macam cara. Mulai dari cara yang mengikuti peraturan pertandingan, sampai pada yang ugal-ugalan dalam memperlakukan mekanisme semuanya ada. Jika klub menang dan juara, maka pesta digelar. Kalau klub kalah, maka ratapan tangis menguar. Perkelahian antara pemaian, apalagi fans, itu semuanya pernak-pernik pertandingan. Tawa karena menang, sedih sebab kalah, itu bagian dari dinamisasi pertandingan.

Meski begitu, pertandingan sepak bola yang sepadan dengan perhelatan politik ini, haruslah dipandang pula sebagai kerja-kerja industri modern. Kapaitalisasi terhadapnya, telah menjadi jati diri. Maka sekotah bidang kehidupan, dikapitalisasi untuk mendukung kesuksesan perlagaan sepak bola, pun, permainan politik. Anasir-anasir  budaya, psikologi, ekonomi, dan agama, dikerahkan demi sepak bola, eh…, politik juga. Demi kebesaran klub. Demi kejayaan politik.

Maka benarlah apa yang dinubuatkan  Emha Ainun Najib, dalam bukunya, Bola-Bola Kultural, bahwa energi, emosi, uang, militansi, fanatisme, tekad hidup atau mati, serta segala yang mendasar , dipersembahkan untuk sepakbola.  Dengan begitu, berlapikkan pada Emha, saya pun menggiring alam pikiran ke alam perpolitikan. Bahwasanya, tidak bisa dimungkiri, masih ada pula yang memandang ajang perhelatan politik, adalah arena mengaktualkan segala yang mendasar pada diri. Namun, biasanya dianut oleh orang-orang yang melihat dinamika politik sebagai ajang memperjuangkan semangat ideologis.

Adakah kisanak-kisanak masih bingung bin pusing , terhadap perhelatan politik, yang melibatkan partai politik, yang tak jelas kelamin ideologisnya, dengan segenap perangkatnya? Bila masih dalam kegalauan, maka saya ajak kembali, untuk menghadiri persamuhan di mukim saya. Mari nonton bareng sepak bola, sembari mempercakapkan politik. Entahlah.

 

Sumber gambar: http://majalahpeluang.com/wp-content/uploads/2014/09/121soccer.jpg

 

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.