Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Perjalanan Literasi dan Kopi

Cutiku kali ini sangat spesial. Cuti tahunan yang tidak pernah kuambil secara khusus sejak bertahun-tahun aku bekerja. Kali ini kuambil khusus untuk menghadiri perhelatan Wisuda putri keempatku di sebuah perguruan tinggi di kota sejuk Malang. Rute perjalananku cukup panjang kali ini dari bandara Internasional Sam Ratulangi menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Kemudian jeda sejenak sua istri dan putri ketigaku di ruang tunggu yang akan menyertaiku dalam perjalanan selanjutnya. Kami berbincang ringan tentang keluarga dan persiapan putri ketigaku dalam wisuda yang akan kami hadiri membawa suka cita membuncah.

Tak begitu lama kami berbincang setelahnya pengumuman berulang-ulang memanggil penumpang pemberangkatan tujuan Surabaya. Kami bergegas menuju pesawat dengan perasaan riang membayangkan prosesi wisuda seperti telah berkali-kali kami hadiri dari ketiga putriku sebelumnya di perguruan tinggi yang berbeda-beda.

Kami dijemput gerimis sendu jelang sore hari serasa sejukkan hati membawa bahagia berlipat-lipat. Di ruang kedatangan kulihat putra bungsuku yang juga menuntut ilmu di kota sejuk itu melambaikan tangan di kejauhan memberi isyarat arah yang mesti kami tuju. Bersama temannya sengaja datang menjemputku sebagai bentuk perhatian yang tinggi pada orang tuanya.

Seperti biasa bila aku mengunjungi kota ini ada tiga hal yang seolah wajib kukunjungi selain tujuan utama kedatangan kami. Yakni, memburu tempat-tempat ngopi yang berinterior eksotik dengan sajian kopi yang enak, mencari buku-buku langka di Gerai Buku Wilis, dan mengunjungi destinasi wisata yang terdekat dari kota sejuk itu.

Hari kedua setelah istirah semalaman meluruhkan letih kami mengunjungi Java Cancer coffee di kawasan jalan Jakarta, Malang. Bangunannya didominasi dari bahan kayu dengan model joglo khas rumah jawa serupa pendopo betingkat dua. Ruang-ruangnya terdiri dari indoor dan outdoor sehingga pengunjung dapat memilih sesuai selera hati. Dari spot-spotnya aku melihat beragam laku dari pengunjung. Ada yang sibuk berfoto-foto dan berswafoto, ada yang berdiskusi dengan serius pula dan ada pula yang sangat rileks sesekali tertawa lepas hampir bersamaan. Ada yang serius di depan laptopnya entah apa yang dibuat, dan yang serius membaca buku dalam kesendiriannya. Sempat terlintas dipikiranku dan kudiskusikan dengan istriku, sekiranya coffee shop ini menyediakan reading corner atawa reading room tentu lengkaplah sudah kebutuhan pengunjung, sebab ruang-ruangnya sangat nyaman sebagai tempat baca dan menulis.

Setelah itu, kami bergegas ke sebuah pusat penjualan buku yang oleh mahasiswa dan masyarakat Malang menyebutnya “Wilis” yang sekaligus nama jalannya sendiri. Baru saja putra bungsuku memarkir motornya, kawasan itu diguyur hujan yang cukup deras. Suasana hujan itu kumanfaatkan mengelilingi hampir semua gerai buku yang ada di kawasan tersebut. Konon buku yang dijajakan oleh gerai buku di Wilis ini tujuh puluh persen adalah bajakan dan hanya selebihnya sekira tiga puluh persen yang original.

Dalam jelajahku kali ini aku membeli buku lima buah, tiga original dan duanya bajakan. Seperti yang kusampaikan di atas bahwa buku-buku yang saya hunting kala ke tempat ini biasanya buku-buku langka yang tidak ditemukan di toko buku biasa termasuk di Gramedia, di antaranya : Cinta Abadi Nabi Muhammad oleh Prof. DR. Aisya Abdurrahman binti Asy Syathi dkk, Kisah Para Kekasih Allah oleh Syaikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani, Hoakiau di Indonesai oleh Pramoedia Ananta Toer, Fatwa Tukang Becak (kumpulan esai), dan The Process of Parenting oleh Jane Brooks.

Setelah prosesi wisuda usai dihelat tentu di luar ruangan perhelatan berlangsung pula perayaan kelompok-kelompok dengan penuh keriangan baik dihelat oleh keluarga wisudawan dan wisudawati maupun teman-teman se fakultasnya. Di tengah-tengah perhelatan yang gembira itu tiga orang aktivis dan pengurus IKAMI (Ikatan Keluarga Mahasiswa Indonesia) Sulawesi Selatan Cabang Malang yang diketuai putri keempatku yang baru saja diwisuda itu mendatangiku dan menyampaikan hajatnya untuk mengundangku nanti malam sebagai narasumber dalam diskusi dengan tema “budaya Literasi”.

Sore hari setelah beberapa lama kami istirah, kota Malang diguyur hujan lebat. Sembari menunggu hujan reda aku menyeberang dari tempatku menginap ke sebuah café berinterior antik, aku memesan kopi yang diolah dengan ice cream mencoba bereksperimen dengan rasa baru yang baru kali ini kucecap. Hhmmm rasanya lumayan juga, rasa ice cream tak melunturkan rasa kopi Kalosi Toraja sebagai bahan dasarnya. Ah.. kota ini banyak menyajikan eksperimental racikan kopi oleh para baristanya dengan citarasa eksotis.

Usai Magrib hujan mulai reda dua orang pengurus IKAMI menjeputku dengan motor. Bersama istriku kami bergegas ke Sekretariat IKAMI Cabang Malang. Di secretariat yang sekaligus asrama, nampaknya secara pisik kurang terurus walau sesungguhnya bagunan dan lokasinya cukup strategis. Rupanya anak-anak asrama malam itu menyajikan penganan “barebbo” khas Bugis sebagai sajian dalam diskusi itu.

Dalam diskusi itu ada tiga hal yang mengemuka, yakni ; keinginan menulis teman-teman mahasiswa khususnya anak-anak IKAMI yang sesungguhnya cukup tinggi hanya butuh dukungan secara psikologis agar berkelanjutan dan tak mudah patah semangat, sebab seniornya telah ada yang membuktikan berkat ketekunannya membaca dan menulis melahirkan dua buah buku. Kemudian perlu menggalakkan budaya baca dikalangan anggota IKAMI dengan melakukan berbagai kegiatan yang bekenaan dengan hal tersebut, diantaranya melakukan pelatihan-pelatihan kepenulisan secara berkala, menambah koleksi buku di asrama atawa sekretariat. Membentuk perpustakaan atawa taman baca di desa terdekat tapi kurang terjangkau dan menjadikannya sebagai binaan IKAMI. Harapannya, dengan kegiatan-kegiatan tersebut secara umum IKAMI dapat mengambil peran dalam penggalakan budaya literasi.

Sebelum kembali ke kampung halaman kusempatkan mengunjungi perpustakaan kota. Di tempat ini cemburuku meluap-luap, membandingkan perpustakaan di sini dengan perpustakaan di kotaku. Walaupun belum bisa menandingi perpustakaan perguruan tinggi di kampus-kampus yang ada di Malang, namun cukup lengkap dan representatiflah. Sebab, ruang-runagnya telah menyediakan berbagai jenis buku. Dan yang membuatku bahagia karena ada satu bilik yang lumayan luas secara khusus menyediakan buku-buku sastra dengan berbagai genre. Penulis dalam dan luar negeri. Di perpustakaan ini terdapat ruang untuk menulis dengan suasana yang didesain hening, nyaman, dan tentu jaringan internet yang sangat bagus. Terdapat ruang bermain, belajar, dan membaca untuk anak-anak, dengan suasana yang membuat anak betah di dalamnya.

Dalam perjalanan pulang aku membayangkan kotaku yang katanya kota dunia bertagline smart city, memiliki perpustakaan yang jauh lebih besar dan representatif dari berbagai aspek dari perpustakaan ini. Walikota Makassar yang sedang menjabat saat ini di awal kepemimpinannya dalam sebuah seminar pernah berjanji untuk membangun perpustakaan yang sesuai dengan gelar yang disematkannya sebagai kota dunia. Tentu, sebagai warga yang sedikit gemar membaca dan menulis menyambutnya riang. Walaupun jelang di ujung pemerintahannya janji itu tak kunjung tiba. Semoga, di masa kampanye nanti perpustakaan sebagai salah satu komponen penting dari gerakan literasi tetap beliau usung dalam kampanyenya nanti.

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)