Perjalanan Bahagia

Cuaca dingin selimuti tempatku bekerja di ketinggian kurang lebih seribu meter dari permukaan laut. Cuaca dan suasana setiap hari dari pagi hingga petang dan pagi lagi seolah kabut adalah karib kami. Hingga suatu siang di penghujung bulan Desember, aku sedang beristirahat siang. Di ujung doa Zuhurku kalimat pendek dari nun jauh di seberang, tempat tinggalku, istriku mengirim berita bahagia bahwa cucu pertamamu lahir dengan selamat. Seorang perempuan mungil dengan berat hampir tiga kilogram dan panjang sekira empat puluh senti meter. Alhamdulillah gumamku dalam hati. Jauh-jauh hari sebelumnya kami telah bersepakat bila yang lahir adalah putri maka kami beri nama “Qirani Zainab Kininnawa” Qirani, bermakna cahaya dan berkah. Zainab, bermakna seorang perempuan pecinta kebajikan yang teguh pendirian pada kebenaran dan juga nama cucu Rosulullah SAW. Kininnawa adalah dari bahasa Bugis yang bermakna secara harfia, berhati baik, selalu berprasangka baik, berhati bening. Memberi nama yang baik pada anak adalah salah satu perintah Tuhan dan Nabinya.

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Karim disebutkan :

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan . Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (tidak dikenal) oleh masyarakat.

Para ulama memandang pentingnya pemberian nama, sehingga wajib hukumnya. Pemberian nama baik itu pada anak laki-laki dan perempuan hukumnya wajib, sehingga tidak ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang tidak memiliki nama.

Pepatah Arab mengatakan,

“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”

Intinya, nama begitu berpengaruh dalam diri orang yang diberi nama. Coba bayangkan bagaimana jika seorang anak diberi nama dengan Hazn (sedih), pasti ia akan jadi orang yang terus-terusan bersedih karena mengingat namanya tersebut. Itulah urgensi penting dalam pemberian nama bagi si buah hati.

***

Hanya beberapa hari berselang, datang lagi kabar baik dari seberang nun jauh dari rumah kami yang senantiasa kami penuhi kasih sayang di dalamnya. Menciptakan suasana surga, sebagaimana sabda Nabi Agung Muhammad SAW, bahwa “rumahmu adalah surgamu.” Kami menafsirkan dan menjabarkannya  secara sederhana bahwa rumah mesti meramu suasana cinta kasih di dalamnya. Terjadi proses belajar mengajar sepanjang hayat. Menghindari kekerasan dalam berbagai perspektif, dan saling memuliakan. Dari rumah itulah terkabar bila putri ketigaku hendak dipersunting seorang perjaka yang mengasihinya. Alhamdulillah, bahagiaku meluap membuncah tak terkira.

Berkenan dengan anak dan pertumbuhannya tentu berkenan pula dengan pola pengasuhan yang bahasa kerennya dibilangkan “Parenting”. Jane Brooks, dalam The Process of Parenting, menjelaskan bahwa siapapun yang ingin memberikan perhatian dan usaha untuk menjadi orang tua yang kompeten bisa mewujudkannya dengan caranya sendiri. Prasyarat tunggalnya ialah keinginan untuk berhasil seiring dengan kesediaan untuk memberikan waktu dan energi. Jadi, setiap orang tua punya kekhasannya sendiri.

Sebagai ahli klinis dalam penelitian panjangnya beliau juga mendaku, bahwa dalam proses pengasuhannya anak-anak akan menghadapi situasi sulit dalam kehidupan. Tapi, dengan pola pengasuhan yang mengasihi dan mencintai serta mendukung sang anak, maka ia akan tumbuh dan hidup bahagia meski banyak hambatan yang kerap menderanya di lingkungan terdekatnya.

Kemudian hubungan simbiosis mutualistic antara orang tua (pengasuh) dan anak dalam proses pengasuhannya, bukan hanya anak yang mendapatkan manfaat tapi juga orang tua atawa orang dewasa yang mengasuhnya. Membantu anak untuk tumbuh merupakan pengalaman yang kuat dan menarik yang memunculkan penghargaan khusus kepada kita sebagai orang tua. Stamina fisik, kegesitan, dan kecepatan kita akan meningkat saat kita mengasuh bayi dan balita. Stamina emosional kita tumbuh saat kita menghadapi perasaan kita yang kuat terhadap anak dan membantu anak belajar cara mengekspresikan dan mengatur perasaan mereka. Kemampuan intelektual kita tumbuh saat kita menjawab pertanyaan anak dan kemudian membantu mereka mempelajari mata pelajaran di sekolah. Dalam membantu anak untuk bertumbuh, kta mendapatkan semangat di dalam diri dan kekayaan  yang memengaruhi semua hubungan kita.

Dalam perspektif agama Islam bahkan lebih jauh menjelaskan bahwa, anak-anak mesti dididik sejak ia masih dalam kandungan bahkan ada ulama yang berpendapat bahwa mendidik anak adalah mendidik prilaku kita sebelum membuahka keturunan. Dan perspektif ini sejalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan. Di kota-kota besar sejak beberapa decade lalu sudah mulai bermunculan konsultan ibu-ibu yang sedang hamil untuk kelak melahirkan anak yang mampu menfungsikan dengan baik otak kiri dan kenannya. Salah satu yang paling popular adalah memperdengarkan jabangbayi dengan music klasik dan sejenisnya secara rutin.

Waktu cuti saya kali ini yang sengaja kuambil panjang dari biasanya, kumanfaatkan lebih banyak “berkomunikasi” dengan cucu dan putri ketigaku dalam persiapan pernikahannya.

Dengan cucuku, setiap pagi kuperkenalkan dan kuperdengarkan nama orang yang sangat kucintai, yakni Muhammad Bin Abdullah SAW, dengan senandung shalawat. Harapanku, kelak ia dapat mencintainya lebih dari yang lain, termasuk diriku.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *