“Walaupun esok langit akan runtuh, hukum harus tetap ditegakkan”

(Baharuddin Lopa, 27 Agustus 1935 – 3 Juli 2001)

 

Dalam sebuah waktu jedah di kantor, kawan-kawan sejawat sedang ramai mendiskusikan fenomena korupsi yang semakin meriuhi jagad media, sembari santap siang bersama. Mereka masing-masing aktivis di masa kuliah di kampus dulu, dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dalam diskusi santai itu di antaranya ada yang nyeletuk, tuh Pak Rasyid sekampung dengan Pak Bahruddin Lopa. Sebab, dalam perbincangan santai itu mereka mencari sosok penegak hukum yang cerdas dan tangguh serta menafikkan semua rasa takutnya. Mereka setuju bahwa hingga kini setelah bertahun-tahun lembaga rasua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) itu berdiri dan mengejar para koruptor, ternyata kita belum menemukan sosok seperti, Pak Baharuddin Lopa yang kapasitas dan keberaniannya berimbang.

Maka, aku bercerita sedikit pada kawan-kawanku itu tentang Bapak Baharuddin Lopa yang saya ketahui, sebab malu juga bila aku didaulat sebagai orang sekampung dengannya tapi taktahu sedikitpun tentang beliau.

Pertengahan tahun delapan puluhan, kala itu aku masih duduk di semester empat. Aku diberi undangan seminar tentang hukum dan pelaksanaan proyek di pemerintahan oleh seorang senior. Aku lupa waktu tepatnya, tapi seminar itu dilaksanakan di fakultas teknik kampus baraya Unhas. Dengan suaranya yang berat aku mengikuti pembicaraannya yang tak sedikit pun terdengar gentar dan roman muka yang ragu atawa takut kala beliau menyampaikan kritik pedas pada penguasa tentang penegakan hukum kala itu, ketika rezim orde baru dalam posisi kuat-kuatnya dan sangat represif. Salah satu kalimat yang tak bisa kulupakan adalah, bila penegakan hukum pada koruptor ingin ditegakkan tanpa pandang bulu di negeri ini maka pesiapkanlah LP (Lembaga Pemasyarakatan) seratus kali lipat dari yang ada sekarang ini, itupun belum tentu tertampung semuanya. Artinya, Baharuddin Lopa yang kerap di pendekkan namanya menjadi Barlop, sudah memahami betapa kronis dan menyedihkannya kondisi negeri ini berkenaan dengan perlakuan korupsi warganya. Dari hulu hingga ke hilir, dari pungli dan gratifikasi skala kecil hingga para garong berdasi di level-level elit.

Di zaman beliau menjabat kepala kejaksaan tinggi Sulawesi Selatan, para koruptor dibuatnya ketar-ketir di daerahnya. Beliau memenjarakan seorang pengusaha kakap di Makassar yang di kenal sangat dekat dengan penguasa termasuk istana kala itu. kala pendukungnya khawatir, beliau tetap tegar setegar karang yang kokoh tak terusik dengan prinsip yang senantiasa ia dengungkan pada khalayak “kendati kapal akan karam, tetap tegakkan hukum dan keadilan.”

Dalam mengawal penegakan hukum, Barlop nyaris tak punya rasa takut kecuali kepada Allah yang mendasari keberaniannya. Dirinya telah ia gadaikan pada hal penegakan hukum dan keadilan di negerinya. Hingga kini, ia menjadi teladan bagi orang-orang yang berani melawan arus kebobrokan serta pengaruh kapitalisme dan neoliberalisme dalam hukum. Ia mewariskan sikap mulia bagi penegakan hukum dan keadilan tanpa pandang bulu bagi bangsanya.

Perlahan tapi pasti sinyalemen yang pernah disampaikan oleh almarhum Barlop semakin terkuak kebenarannya. Korupsi semakin menggurita, hampir setiap saat kita menyaksikan para pejabat negara silih berganti memakai rompi oranye dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Menurut data dari kantor KPK, hingga tahun 2016 saja para pejabat daerah sudah 18 Gubernur dan 343 Bupati/Walikota telah dibui karena kasus korupsi. Di tahun 2017 hingga bulan September terjerat hukum kasus korupsi, 1 Gubernur dan 4 Bupati/Walikota menjadi tersangka. Dan yang lebih mengagetkan, mengawali tahun 2018, terjerat lagi gubernur Jambi dan bupati Jombang. Semua ini belum terhitung para menteri, Dirjen dan setingkatnya, Sekda dan para kepala dinas dan setingkatnya, hingga sampai ke bawah-bawahnya. Pun para pengusaha serakah yang selalu memenangkan tender dengan cara pat gulipat bersama para politisi dan oknum pemerintah.

Menurut Ranu Wiharja, deputi pengawasan internal dan pengaduan KPK, bahwa fenomena korupsi yang berlangsung dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Telah bermetamorfosa, yang pada awalnya korupsi hanya dilakukan oleh ASN (Aparat Sipil Negara) secara massif dengan alasan untuk mempertahankan hidup karena gaji mereka kecil maka pungli atau sejenis korupsi lainnya dilakukan untuk menambah biaya hidup yang minim. Kemudian berkembang ke pelaku usaha atawa pebisnis yang bukan untuk mempertahankan hidup tetapi karena serakah. Lalu merambah pula ke para politisi, korupsi berkembang biak dan massif untuk mempertahankan jabatan dan posisinya. Maka, lengkaplah sudah setelah bemetamorfosa dari hulu hingga ke hilir. Bila melihat fenomena dan realitasnya, bangsa ini telah menghampiri titik nadir, semua tak terkatakan lagi.

Bila melihat kembali tapak tilas para tokoh dan elit di kekinian, nampaknya bangsa ini krisis keteladanan. Di hampir semua segmen kehidupan mengalami krisis yang akut apatah lagi di level elit. Para elit asyik memperkaya diri dengan jalan tak lazim, menggerogoti negerinya bak tikus pemangsa tak jera. Harta, kuasa, dan mungkin syahwat membusukinya.

Keteladanan Barlop nyaris tak ditemukan lagi. Suatu waktu, Goenawan Mohamad, sebagai pendiri dan pengasuh majalah mingguan tempo yang sohor itu, bercerita tentang dirinya. Barlop menelponnya, bila ia ingin mengirim tulisan artikel ke majalahnya, tapi Barlop minta dibayar duluan honornya, sebab ia ada keperluan mendadak untuk dibayar, padahal kala itu beliau telah menjabat Dirjen Lembaga Pemasyarakatan yang berarti orang kedua setelah menteri di sebuah departemen kementerian. Konon, Goenawan Mohamad kala itu tak bisa menahan rasa harunya dan langsung mengiyakan dan takmau bicara lebih lama lagi. Padahal, media yang diasuhnya sangat ketat menerima sebuah artikel dari mana pun juga. Dan selanjutnya, diketahui artikel tersebut diedit langsung oleh GM sapaan akrab Goenawan Mohamad untuk dapat lolos di dewan redaksi. Ketika menjabat Dirjen, beliau tak mau menggati kendaraan dinasnya walaupun telah dipaksa oleh menteri, ia enjoy saja dengan mobil dinas kijang bututnya buatan tahun delapan puluhan. Bahkan di rumah pribadinya, istri yang ia kasihi juga membuka usaha kecil-kecilan berupa warung telepon (Wartel) untuk menambah biaya hidup keluarganya.

Jelang pukul satu waktu kantor kami, obrolan ringan kami sudahi. Kami masing-masing kembali ke meja kerja melanjutkan tanggung jawab yang kami emban. Sembari berdoa, semoga negeri tercinta ini menemukan orang-orang yang dapat diteladani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kata, Plato, keadilan, kebenaran, dan kebebasan, itulah pangkal dari kebahagiaan. Rawatlah ketiga unsur itu untuk kebahagianmu dan kebahagiaan kita.

 

sumber gambar: tirto.id

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *