Bekerja dengan Hati

Sepanjang jalan, senyap tidak seperti  biasanya bila aku melintas di jalan sekira dua ratus kiloan hingga tiba di kota Manado. Kali ini hujan pun sejenak jedah temani kami. Biasanya jalan-jalan ini cukup riuh oleh pengendara dengan berbagai jenis kendaraan dan dari berbagai arah.

Kami berempat menembus malam setelah menyudahi kerja-kerja di kantor, hingga senja dan sore datang menyambangi kami. Sepanjang jalan sembari menikmati suara emas Vina Panduwinata dan kawan-kawan, diskusi kami terus berlangsung, dan kali ini sedikit fokus dengan rencana kemitraan kantor kami dengan BP2LHK (Balai Peneltian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Manado. Berdasarkan proposal yang kami terima, kami akan support beberapa item pengadaan material  dan kegiatan pengembangan anoa yang untuk kantor BP2LHk Manado telah berjalan beberapa tahun lalu dengan sub unit kegiatan, Anoa Breeding Centre (ABC).

Anoa adalah mamalia terbesar dan endemik yang hanya hidup di pulau Sulawesi dan pulau Buton. Anoa merupakan satwa liar yang langka dan dilindungi undang-undang di Indonesia sejak tahun 1931 dan dipertegas dengan undang-undang No. 5 tahun 1990 dengan peraturan pemerintah No. 7 tahun 1999. Ada dua spesies anoa, yaitu: anoa pegunungan (bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (bubalus depressicornis). Kedua jenis ini tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Keduanya juga termasuk jenis yang agresif dan sulit dijinakkan untuk dijadikan hewan ternak (domestikasi). Kedua jenis ini dibedakan berdasarkan bentuk tanduk dan ukuran tubuh. Anoa dataran rendah relatif lebih kecil, ekor lebih pendek dan lembut, serta memiliki tanduk melingkar. Sementara anoa pegunungan lebih besar, ekor panjang, berkaki putih, dan memiliki tanduk kasar dengan penampang segitiga. Penampilan mereka mirip dengan kerbau, dengan berat tubuh 150-300 kilogram dan tinggi 75 centimeter. Saat ini konservasi anoa difokuskan pada perlindungan terhadap kawasan hutan dan penangkaran. Banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kerdil.

Sejak tahun 1986 hingga 2007, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan anoa sebagai satwa terancam punah (endangered species). Populasi anoa diperkirakan kurang dari 2.500 individu dewasa dengan perkiraan laju penurunan populasinya di alam selama kurang lebih 14-18 tahun terakhir mencapai 20%. Berdasarkan peta sebaran anoa ditambah dengan fakta populasinya saat ini di alam, distribusi anoa di Sulawesi khususnya bagian utara, cenderung mengalami penurunan populasi dengan laju yang sedikit lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lainnya di Sulawesi. Hal ini dibuktikan di beberapa kawasan konservasi di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang dan CA. Manembo-nembo, anoa telah dinyatakan punah lokal. Hal ini dibuktikan di beberapa kawasan konservasi di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang dan CA. Manembo-nembo, anoa telah dinyatakan punah lokal. Dalam lima tahun terakhir populasi anoa menurun secara drastis. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulit, tanduk dan dagingnya. (Sumber : Wikipedia dan buletin ABC).

***

Dalam obrolan kami di sepanjang jalan, sesekali jedah karena kami tertidur mengikuti ritme alam yang mengantar malam semakin larut. Hingga setelah menempuh perjalanan sekira empat jam lamanya kami tiba di mess kantor jelang dinihari. Kami bergegas menemui peraduan sua mimpi masing-masing.

Keesokan harinya bahan-bahan telah kami siapkan untuk pertemuan pertama hari ini dengan tim Anoa Breeding Centre (ABC). Sekira setengah jam kemudian kami tiba di kantor BP2LHK yang sekaligus satu kompleks dengan secretariat ABC. Kami disambut dan diterima dengan ramah oleh kepala balai dan tim ABC. Pertemuan berlangsung santai dengan suasana informal. Kepala balai menjelaskan secara umum fungsi dan peran balai dan dilanjutkan penjelasan tentang penangkaran anoa yang telah mulai punah oleh beberapa orang dari tim ABC yang expert di bidang masing-masing. Setelah meeting dan ramah tamah sejenak kami pun diajak berkeliling di area penangkaran anoa.

Dari tim ABC ini, empat orang diantaranya mendampingi kami mengelilingi kantor dan sekretariat yang luasnya lebih dari sembilan hektar. Penangkaran dibagi menjadi enam tempat dengan fungsi masing-masing dari lokasi mengawinkan mamalia liar ini hingga area persiapan melahirkan. Dari tim itu ada yang menjelaskan menejemen pengelolaan penangkaran hingga penangkaran secara teknis yang diketuai oleh seorang dokter hewan. Kurang lebih satu jam kami mengelilingi area penangkaran ini. Dari komunikasi dan diskusi yang sangat intens itu, aku sesekali membatin menikmati keahlian di bidangnya masing-masing. Dari empat orang anak muda yang mengantar kami, inilah mungkin yang kerap dibilangkan oleh para pakar motivator di bidang manajemen bahwa bila ingin sukses dan melebihi kerja-kerja orang lain dalam menekuni sebuah tanggung jawab yang diberikan kepada kita maka libatkanlah hatimu dalam bekerja. Sepanjang jalan mengelilingi area penangkaran itu, di samping suasana adem dari rerimbun pohon yang meneduhkan, mereka juga nampak bekerja dengan sangat expert dan melayani kami dengan sangat baik.

Adven Simamora, demikian nama seorang perempuan muda nan cantik berkulit putih, dengan suara lembut memanggil-manggil nama induk dan anak anoa yang seolah memanggil sahabatnya. Anoa itu keluar dari rerimbun semak dan pohon lalu mendekati, Adven dokter Hewan yang masih berusia muda itu. Kala mendekat Anna dan Anni (nama induk dan anak Anoa) dielus-elusnya kepalanya dan seolah dua mamalia yang agresif ini tunduk dan menunggu perintah dari sahabatnya untuk mengerjakana apa saja. Menyaksi dua mahluk yang berbeda berkomunikasi dengan apik, aku sedikit terhenyak, pemandangan ini hanya kerap aku saksikan dalam pertunjukan sirkus.

Dalam diskusi kami selanjutnya, lebih detail dokter hewan Adven Simamora menjelaskan bahwa hewan-hewan liar dan agresif itu memang kuperlakukan sebagai keluargaku sendiri. Pra melahirkan hingga lahiran akulah yang merawatnya sepenuh hati, bila tak seperti itu mustahil kami bisa sukses mengembangbiakkan mamalia liar dan agresif ini. Kami di sini di tim ABC, harus bekerja dengan hati sebab yang kami pelihara dan rawat adalah mamalia liar dan agresif.

Menurut, Agus Hermawan, Memenej hati dalam bekerja, dia adalah sebuah proses kegiatan seseorang untuk mengelola, reconditioning dan mengatur hati sehingga dapat mencapai kesempurnaan manusiawi (insan kamil) dan berusaha merealisasikan dalam pekerjaan untuk kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat sesuai tuntunan spiritualitas agama.

Cukup lama kami berbincang sepanjang jalan mengelilingi area penangkaran anoa ini, hingga jelang sore barulah kami berpamitan hendak bergegas kembali ke tempat tugas. Hanya sekira beberapa jam bersama mereka namun serasa kami telah akrab seperti kawan yang telah lama berteman. Itu mungkin karena kami datang dengan hati dan mereka menyambut kami dengan hati pula.

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *