Don’t be sad, la tahzan, jangan bersedih. Sesarinya, kata-kata itulah yang berusaha saya desakkan ke jiwa. Mestinya saya bersedih, untuk apa? Betapa tidak, saya telah mengalami tragedi diri. Seharusnya saya marah. Pada siapa? Bukankah sedih dan marah, hanyalah semacam jembatan ruhani — bila terkendali — menuju kebeningan jiwa?

Deretan pertanyaan dan gugatan di atas mengada, sebab beberapa hari yang lalu, mukim saya diserbu luapan air. Banjir. Air begitu melimpah, menggenangi segenap lingkungan rumah saya, dan tetangga. Laiknya segerombolan penjahat yang masuk di perkampungan, menebarkan teror pada sekaum pemukim. Banjir kali ini, lebih tinggi debit airnya. Bila biasanya, saya dan seisi mukim, cenderung bershabat dengan desakan air, kini, membikin perkara yang tidak sedikit bekas pahatan akibatnya.

Betapa tidak, perpustakaan keluarga saya disetubuhinya. Bahkan diperkosa tanpa ampun. Ratusan buku, jurnal, klipping koran, majalah, dan berkas-berkas berharga dilumat penuh gairah. Seolah air yang menggumpalkan diri menjadi serupa banjir, ingin menegaskan kedigdayaannya. Padahal, tanpa penabalan semacam itu, saya sudah amat paham akan kekuatan air. Batu cadas saja ia bisa lubangi, manakala tetes demi tetes ditetesi secara telaten. Celakanya, yang digasak adalah pojok surga saya, ruang baca, ranah peradaban. Sebab, di areal inilah, aktivitas literasi menemukan bentuk tereloknya.

Pojok surga, ruang baca, ruang belajar, atau perpustakaan keluarga yang bisa diakses olek publik, sebagai wujud aktualisasi dukungan penuh pada gerakan literasi, saya dan keluarga hadirkan dengan spirit biblioism. Ya, biblioisme, dari keluarga yang mendefenisikan diri sejak mula sebagai sekawanan biblioholik. Lalau apakah gerangan itu biblioisme dan biblioholik?

Seorang penulis, Tom Raabe, lewat bukunya, Bibliolism The Literary Addiction, mendedahkan dua wajah bibliolisme. Pertama, bibliomania, gila buku. Kedua, bibliofil, cinta buku. Perupaan dua model itu menunjukkan perbedaan. Jika seorang penggila buku, mengoleksi buku hanya untuk menumpuknya, menjadikan pajangan,  maka pecinta buku mengumpulkan buku untuk didaras. Mengambil pengetahuan sebanyak mungkin dari buku-buku itu.

Jadi, biblioisme dapat dipahami sebagai gairah mengumpulkan buku, mengoleksi, dengan cara membeli atau cara lainnya, lalu mengagumi buku melebihi dari orang kebanyakan. Sedangkan pelakonnya disebut selaku biblioholik. Sepanjang sejarah umat manusia, sejak ada persentuhan dengan buku, tidak sedikit sosok-sosok yang menampakkan diri sebagai biblioholik. Meskipun ada turunan peristilahan yang mendapuknya, karena adanya keunikan, atau bahkan kegilaan yang lebih meyerupai keanehan prilaku.

Sebagai misal, bibliotaf, suatu tindakan mengubur buku agar buku lebih aman. Ada lagi semacam bibliokas, sebentuk aktivitas melakukan penghancuran buku. Dan, ini yang paling aneh, bibliofagi, serupa perbuatan memakan buku. Satu lagi, biblionarsis, memperlakukan buku sebagai sarana agar mengagumi diri sendiri. Maksudnya, menjadikan buku sebagai tunggangan buat pamer, riya, dan bermewah. Ingin dipuji sebagai kolektor buku.

Berlapik pada paparan sosok biblioholik, saya berani memastikan diri, bahwa saya tergolong salah seorangnya. Saya penggila buku, sekaligus pecinta buku. Waima, saya bukanlah pengubur buku. Tiada pula melakukan penghancuran buku. Apatah lagi pemakan buku, tapi mencari makan lewat bisnis buku. Pun, jauh dari ingin pamer koleksi doang, meski sesekali unjuk diri, memamerkan koleksi buku bila ada kisanak datang ke mukim saya, lalu bicara tentang kemegahan hidup.

Nah, cobalah bayangkan. Seorang biblioholik, yang menjadikan perpustakaannya sebagai pojok surganya, tetiba ada yang mengusiknya. Bisa terjadi perang dunia dalam diri. Semesta diri bisa terguncang, untuk tidak mengatakan akan berujung pada kemarahan yang meluap-luap, dan kesedihan yang bertubi-tubi. Karenanya, bagi sosok biblioholik, setidaknya dalam menjaga bukunya, ada tiga musuh utama; rayap, api, dan air. Manakala ketiga makluk ini menghampiri buku, tindakan membikin pertahanan berlapis, pasti akan dilakukan.

Tetiba saja saya teringat dengan seorang biblioholik, yang harus takluk di hadapan pasukan rayap. Dialah almarhum Asdar Muis RMS, seorang penyair, penulis, dan budayawan. Suatu ketika bukunya dimakan rayap. Puncak pembalasan Asdar, sebagai wujud ketidakpuasan pada rayap, ia membakar buku-buku sisa rayap itu di tempat terbuka. Seolah ia mengatakan, sekalian saja api, musnahkanlah buku-buku ini bersama rayapnya. Memang, sejatinya, menurut Fernando Baez, dalam buku Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa, setidaknya, mendaftar ada sembilan rayap penghancur buku, sebagai musuh alami.

Pada kali lain, seorang sahabat saya, masih mahasiswa tahap akhir, telah berhasil mengumpulkan ratusan buku. Saya anggap dia seinsan biblioholik. Tetiba saja api membakar rumah kosnya. Kebakaran melanda pemukiman tempat tinggalnya. Kala ia datang ke mukim saya, melaporkan bahwa semua bukunya tak satu pun yang bisa diselamatkan. Sebab, selain dilalap api, pun air semprotan pemadam kebakaran, menuntaskan nasib sisa buku-buku yang terbakar. Mungkin ada buku yang selamat dari api, tapi musnah pada semprotan air.

Dan, kali ini. Di kekinian dan kedisinian. Pada kala kiwari, giliran saya yang disambangi oleh musuh buku lainnya, air. Banjir yang menerobos mukim saya telah berhasil merendam ratusan buku, dan bahan bacaan lainnya. Saya ingin marah, tapi pada siapa? Saya mau sedih, tapi buat apa? Saya tetap menjerit atas peristiwa tragis yang menimpa ini. Walau tetap dalam bingkaian, jeritan seorang biblioholik, atas rusaknya buku-buku, sebagai hukuman, atas kelalaian saya menjaga benteng pertahanan dari serbuan banjir. Satu jeritan kekalahan seorang biblioholik, dari perkasanya air, unsur semesta yang gagal dikelola dengan baik.

 

 

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.