Saya sama sekali tidak tahu menahu,  mengapa tulisan ini mesti saya tulis. Saya bingung. Berada di antara. Mau melanjutkan ke kata selanjutnya,  atau berhenti saja di paragraph pertama. Paragraph awal yang sekaligus menjadi penutup. Namun tidak. Demi memenuhi tujuan, saya akan meneruskan ini. Bacalah.

Tulisan ini saya namai cermin karena memang mau. Kemarin saya berniat menamainya buntung. Tapi tidak jadi. Kau juga akan tahu sendiri jawaban kenapanya. Mungkin karena kata ‘buntung’ terdengar riskan. Juga karena saya,  yang sedang menulis ini tidak punya ide apa-apa untuk  melanjutkan. Atau juga karena saya sedang memandangi seorang yang buntung di olok-olok massa berjarak 20 meter dihadapan. Atau bisa juga karena saya bingung dengan isi kepala sendiri.

Tulisan ini juga hampir saya beri nama ‘hamil’. Kadang saya merasa bahwa ada sesuatu di perut yang menendang ketika mulai memainkan jari untuk menyambung tulisan ini. Juga karena kemarin saya mulai berpikiran bahwa saya hamil karena seseorang. Dan mungkin juga karena saya bingung siapa yang telah melakukan itu. Sebelumnya aku tak hamil. Semua ini menyakitkan,  aku berharap Tuhan mengambil isi perutku.

Seperti biasa,  diri digunduli bingung. Diri yang malang.

Tentang diri yang malang. Kau tahu ada sebuah tempat di Indonesia bernama Malang? Dengan sebuah apel kecil sebagai maskotnya. Pernah kucicipi sendiri buah Apel tersebut. Buahnya kecil-kecil berwarna hijau muda,  tidak cukup sekepal jika ku genggam. Dan habis wajahku terlipat-lipat karena menggigitnya. Setelah kutahu bahwa yang kumakan adalah apel Malang remaja-yang masih membutuhkan hari untuk dinikmati-sangat besar tekadku menemukan yang dewasa.

Kucari kesana-sini,  kutemukan yang baru. Sebuah Apel yang berwarna hijau,  tapi agak besar dari Apel remaja tadi. Ku teliti,  dan kuputuskan untuk mencabutnya dari salah satu ranting. Sensasinya, uuuh. Bulu kudukku berdiri semua. Hal yang paling aku suka lakukan adalah memanen buah,   kali ini akan kupastikan Apel yang kuambil adalah yang dewasa. Kusimpulkan itu karena ada beberapa kemerah-merahan di kulit buahnya.

Aku mengambil buah yang tepat rupanya. Meskipun tidak kecut,  buah Apel yang kupetik kali ini gagal disebut manis. Atasnya kuucap beribu terima kasih,  karena paling tidak,  telah menemukan yang meskipun tidak tepat,  tapi ia mencukupi.

Cerita ini selesai? Nyatanya belum. Kau jangan terlalu gegabah. Masih banyak yang harus kau baca.

Tentang apel Malang tadi maksudku. Kau kira hal itu kuceritakan tanpa makna? Padahal bukan. Menurutmu mungkin itu hal sepele yang tidak perlu mengambil 2 paragraf dalam cerita ini. Tapi kita-manusia-sangat sering lupa mementingkan hal sepele. Banyak hal besar yang tejadi karena  hal-hal kecil yang mendahului. Kau akan tahu maksudku setelah terus membaca ini.

Begini,  aku senang karena telah mendapatkan apel Malang yang kumau. Maksud hati ingin memanen apel Malang yang kedua,  lalu hal yang kemudian menjadi soal itu terjadi. Kadang aku berpikir seandainya aku tak terlalu serakah dan mencukupkan diri dengan satu apel Malang saja. Pasti hal tersebut tidak akan mengambil ruang-ruang otakku. Aku lelah. Sungguh

Aku mencurinya. Buah apel Malang itu yang kumaksud. Tak puas hanya memakan yang kumau di kebun agrowisata ini,  aku akhirnya menginginkan beberapa yang bisa ku ambil untuk ku bawa ke rumah. Aku ingin membuat jus,  pie apel, juga selai. Ingin ku buat semua makanan yang ada dibenakku dengan mengambil semua buah apel di kebun ini. Dan itu curang. Aku tak suka ini. Ku harap Tuhan mengambil pikiranku.

Aku akhirnya pulang. Tertatih. Ku pikul apel curian ini juga di pikiranku.

Di perjalanan pulang-sambil mengurai jarak-aku memikirkan suatu cara. Tahukah kau? dua minggu yang lalu aku dihinggapi masalah. Di tempat kerjaku,  sebuah sekolah. Aku, yang seorang guru-yang seharusnya menghidupkan jiwa kreativitas anak-anak-dengan sangat menyesal tidak berhasil melakukannya dengan baik. Bukannya malah kuhidupkan,  kreativitas anak-anakku justru semakin mati dari hari ke hari.

Aku,  dengan sangat sadar tahu itu. Sifat dan pembawaan yang diberikan Tuhan ini juga adalah boomerang. Menjadi guru yang galak,  siapa yang bisa memilih itu?

Di satu sisi aku sangat senang karena mendapat ke”segan”an dari berbagai pihak. Tak perlu ku banyak-banyak melakukan perintah,  sekali saja titah ku keluarkan,  mereka anak-anakku akan langsung meaksanakan tanpa ba-bi-bu. Tapi di sisi lain aku sedih. Mereka akan sesegera mungkin merubah garis tawa di wajahnya itu menjadi murung ketika melihat aku datang di ujung gerbang. Jangankan untuk bertanya hal-hal yang aneh tentang dunia,  mendengan namaku disebutkan saja,  mereka akan pergi menjauh.

Bantu aku memikirkannya. Jika seperti itu sikap mereka padaku,  bukankah krativitas mereka yang seharusnya kubangun dari sekarang perlahan-lahan akan terkikis? Bahkan untuk muncul ke permukaan,  hal itu akan sangat mustahil.

Aku,  adalah monster yang tidak seharusnya menjadi guru-teladan,  panutan-bagi mereka. Kau yang membaca ini ingatkan ini untukku jika kita bertemu,  banyak hal yang dapat mematikan kreativitas dan guru yang galak adalah salah satunya.

Duhai kau Tuhan yang maha lembut,  berikan aku kelembutanMu. Aku bersungguh-sungguh dalam doaku. Aamiin

Sekarang aku berada tepat di kaki bola-bola senja. Cahayanya yang merah membuat nyaliku  merosot. Aku tak tahan lagi. Semua angan tentang masa depan hanya seperti kesusahan bagiku. Ku ambil belati di bawah kasur yang tak lagi empuk. Di bawah kasur tempat lelahku meluruh itu,  sekarang hanya tertinggal hal yang buruk. Aku berniat mengakhirinya saja. Hidupku ini. Kuharap sang maha Kekal mengabulkan doaku.

Meskipun oleh diri sendiri,  setidaknya aku adalah orang yang teraniaya yang doanya makbul.

“Seorang pemuda yang karena ditinggal mati istrinya 2 minggu yang lalu, akhirya nekad mengakhiri hidupnya dengan mengiris urat nadinya sendiri dengan sebuah belati.  Salah satu warga yang menemukannya mengatakan bahwa sepertinya dia frustasi  karena tidak bisa lagi menemukan istrinya di tempat tidur” suara  pembaca berita dari tv itu membuat bibirku berkerut dengan sempurna.

Hari ini aku terlalu lelah. Semua orang-yang kubaca-hari ini telah mendarah daging. Aku menjadi sakit,  harga diriku terluka. Aku akan berhenti membaca buku Rumi mulai detik ini. Aku menggerutu.

“…jika kamu melihat aib pada diri saudaramu,  maka sejatinya aib yang kamu lihat itu adalah aibmu juga. Sufi sejati itu seperti sebuah cermin di mana di dalamnya kamu melihat gambarmu sendiri,  karena seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Jauhkanlah aib itu darimu,  karena sesuatu yang menyakitkan dalam diri mereka,  juga akan menyakitkan dirimu. “ ( buku Fihi Ma Fihi hal 72-73)

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh mukmin yang kukenal atau yang tidak kukenal di luar sana seperti kulakukan sendiri. aku sakit karena telah menjadi massa yang mengejek seorang yang buntung,  juga sedih karena melihat seseorang menjadi korban perzinahan. Aku takut karena menjadi pencuri Apel,  juga was-was telah menjadi guru yang galak. Terakhir,  aku tak mau menjadi dia yang bunuh diri hanya karena istrinya duluan pergi dari dunia.

Bagaimana mungkin orang-orang mukmin itu menjadi cermin bagi tiap-tiapnya? Bagaimana mungkin aku bisa merasakan sakit ketika sahabat-sahabatku melakukan ketamakan,  kebencian, kezaliman dan juga kesombongan?

Atau mungkin aku yang perlu bercermin. Ketika perbuatan buruk seperti itu juga kulakukan dengan tanganku,  mengapa aku tidak merasakan apa-apa? Tidak itu sakit. Tidak itu merasa berdosa. Bahkan menjadi luka.  Tuhan, maukah kau ganti hatiku dengan yang baru?

ditulis oleh

Wahyu Hardiani

Asal Tana Toraja. Masih berusaha menyelesaikan segalanya di Universitas Negeri Makassar. Menulis, kuanggap sebagai sarana pengungkapan cinta