Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Melihat Orang Gila dari Dekat

Erich Fromm, dalam hidupnya, pernah menyimpan sebuah pertanyaan besar. Pertanyaan itu kira-kira berbunyi, bagaimana mungkin? Perjumpaan dia dengan pertanyaan itu berasal dari sebuah peristiwa yang pertama kali mengguncang rasa kemanusiaan Fromm sendiri. Erich Fromm saat itu berusia dua belas tahun. Di usia seperti itu, dia mengenal seorang perempuan muda, teman keluarganya.

Si perempuan itu cantik, menarik, dan terlebih lagi, ia juga seorang pelukis. Sayangnya, perempuan muda itu sudah bertunangan. Dalam ingatan Fromm, perempuan itu hampir selalu menemani ayahnya yang telah menduda. Seorang laki-laki tua yang tidak menarik, yang juga tidak berpenampilan menarik. Fromm mengakui penilaian ini dilandasi dengan rasa cemburu.

Kemudian pada suatu hari, Fromm mendengar kabar yang mengejutkan, ayah perempuan itu meninggal dunia, dan beberapa saat kemudian perempuan itu bunuh diri dengan meninggalkan surat wasiat yang mengatakan bahwa ia ingin dikubur bersama ayahnya. Kabar itu adalah kabar kematian, orang yang bunuh diri pertama yang didengar oleh Erich Fromm. Pertanyaan besar itu lahir dari peristiwa itu. Fromm diliputi pikiran, “Bagaimana mungkin?”

Bagaimana mungkin seorang perempuan muda yang cantik sangat mencintai ayahnya, memutuskan untuk melakukan perkawinan sedarah, sehingga ia lebih memilih dikubur bersamanya dibanding menikmati kebahagiaan? Membaca sepenggal cerita Erich Fromm melalui buku Beyond the Chains of Illusions akan mengajak kita meminjam pertanyaan beliau. Pertanyaan “Bagaimana mungkin” ini sejatinya kita ucap saat bertemu dengan berbagai peristiwa irrasional yang bisa terjadi, tidak sengaja kita temui melalui orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Gangguan kejiwaan hari ini disikapi dengan berbagai reaksi. Kadang ada yang mengamuk. Katanya mendengar suara yang cuman didengar oleh dirinya sendiri, menyuruh untuk mengamuk. Suatu waktu ada yang tertawa-tawa sambil meludahi, katanya disuruh oleh roh wujud malaikat. Satu lagi, ada yang datang diikat layaknya hewan kurban. Dia diantarkan ke rumah sakit jiwa sebab amukkan mengganggu kenormalan manusia-manusia di sekelilingnya.

Cerita lain juga datang saat berada di luar rumah sakit jiwa. Saya bertemu dengan seorang perempuan yang tampil dengan air muka tegar, tidak ada masalah, dan normal baik-baik saja. Itu semua runtuh saat dia mengeluarkan sebungkus kantong plastik bening dari dalam tas. Isinya adalah semua obat untuk meredakan sakit lambung.

Dia menuturkan sudah berkunjung ke semua dokter spesialis untuk mengobati, tetapi sampai sekarang belum juga hilang deritannya. Lain cerita dengan seorang ibu dalam kurun empat bulan menghirup bau busuk. Awalnya, dia mendapati sendiri seorang teman baik tewas gantung di dalam kamar. Mereka berdua sering bersama-sama pergi ke gereja. Walaupun sudah menyeprot parum di semua ruangan rumah, tetapi tetap saja bau busuk itu tidak pernah pergi meninggalkannya.

Ke semua kisah ini berujung pada sebuah cerita manusia yang ditinggalkan. Orang-orang yang kehilangan. Orang-orang, kata Hamdan Esa dalam Kuntum Sepatu Dea, yang tidak sadar memutuskan untuk merasa tidak sakit dan beranjak menuju ke ruang jiwa yang berbeda, yang tidak biasa, yang mungkin pelik dan jauh. Justru dari ruang sejauh itu dia dapat menjangkau rindu dan sayang seseorang lebih dari apa yang ia rasakan.

Sejatinya, manusia memerlukan keterhubungan dengan manusia lain untuk melakukan interaksi emosional. Interaksi emosional ini merupakan penyaluran kebutuhan emosional ini untuk menyalurkan daya tahan manusia menghadapi perubahan-perubahan realitas. Sayangnya, manusia hari ini tidak berada pada peran ini. Hari ini manusia satu satu per satu saling meninggalkan. Tidak ada lagi penyaluran emosional antar manusia.

Ruang-ruang bersama mengekspresikan emosional diganti menjadi ruang individu mengekspresikan emosionalnya. Tidak jarang, bullying terjadi, orang-orang teralienasi lahir, dan tidak jarang orang yang merasa normal menjustifikasi dengan berlebihan ekspresi emosional individu.

Jika dicermati secara sadar, ruang-ruang ekspresi itu akan melahirkan jutaan dengan gangguan kejiwaan. Nampaknya, ruang ekspresi itu melarang manusia untuk sedih ataupun gembira. Kita diliputi dengan berbagai macam komentar. Kadang benar juga, telinga kita hari ini seperti tersumbat. Lebih peka mendengar dentuman keras dibanding mendengar bisik-bisik kecil dari dalam nurani orang lain.

Kita pada akhirnya akan memilih pilihan-pilihan memperlakukan manusia lain. Menjadi pendengar atau malah menjadi pengeras suara. Memandang manusia lain sebagai human robotic. Atau memilih menjadi seorang pendengar agar manusia tetap menjadi manusia, bukan human robotic. Agar dia tetap berada di sini, bukan memutuskan beranjak ke ruang jiwa yang jauh dan berbeda untuk menjangkau rasa sayang lebih dari apa yang ia rasakan.

Ilustrasi: https://gobekasi.pojoksatu.id/2016/11/30/tampung-ratusan-pasien-gangguan-jiwa-dinsos-kota-bekasi-stres-akibat-tekanan-hidup/

The following two tabs change content below.

William Gunawan

Lahir di Makassar, pada 16 Februari 1991. Terlibat dalam Komunitas Literasi Makassar, ia mengaku banyak mendapatkan kejutan-kejutan dan manusia cerdas. Setelah selesai sekolah medis selama 7 tahun, sekarang sudah jadi dokter. Mondar-mandir di koridor rumah sakit kayak kain pel. Telah menulis buku berjudul: "Sekolah Medis dan Bikini Bottom" (2019). Dapat dihubungi melalui Email: wwdableyu@gmail.com.

Latest posts by William Gunawan (see all)